Memaknai Kemanusiaan

Ibu Yuli Badawi, seorang guru SMU di Bandung Jawa Barat berbagi kebahagiaan dengan mengasuh lebih dari 50 anak angkat di rumahnya. Ia mengasuh semua anak angkatnya dengan penuh kasih sayang, seperti anak kandungnya sendiri.

Anak asuhnya berasal dari berbagai latar belakang. Ada anak hasil perkosaan, anak yang dibuang oleh orangtuanya, anak yang berasal dari broken home, dan lain-lain. Ibu Yuli Badawi sendiri mempunyai 4 orang anak kandung.

Lahir dari keluarga yang jauh dari berkecukupan ternyata berhasil menempa dua pribadi suami istri ini menjadi sosok yang berkomitmen pada kemanusiaan. Bahkan tanpa sokongan dana dari siapapun dan tanpa harus berkecukupan harta, Yuli dan suaminya telah membuktkan bahwa siapapun bisa menjadi penolong bagi sesamanya.

Kebahagiaan akan lahir dari tindakan nyata, bukan dari kata-kata. Bersabar, bersyukur, dan memberi akan melahirkan kebahagiaan. Dan yang tertinggi yaitu “memberi tanpa mengharap imbalan”.

Komitmen sebagai keteguhan untuk memegang teguh apa yang dipercayai, adalah bentuk sikap yang sekarang jarang sekali kita temui. Terlebih apabila berkaitan dengan kemanusiaan, yang tentu menuntut seseorang untuk bersikap lebih dari sekedar tindakan tetapi juga kepedulian terhadap sesama.

Tanpa melihat latar belakang seseorang, tanpa melihat ada atau tidak balas jasa yang akan diterima hingga waktu dan tenaga yang akan terbuang disinilah komitmen pada kemanusiaan seseorang duji. Perlu tempaan moral sejak dini dan kuat agar seseorang memiliki komitmen terhadap kemanusiaan, sebab ini semua adalah panggilan nurani jauh dari sekedar pilihan hidup semata.

Jauh dari Yulli dan Badawi, komitmen terhadap apa yang diyakini ditunjukkan beberapa orang dipelosok-pelosok negeri ini, seperti mereka berdua pun terpanggil dalam kemanusiaan yang berbeda. Mereka adalah para guru yang harus rela ditempatkan didaerah pelosok dengan semua keterbatasan prasarana.

Tetapi tanpa harus meratapi nasib, mereka lebih memilih untuk melaksanakan kewajibannya lebih dari pada umumnya. Semangat lebih mereka ini, tidak jarang atau bahkan tidak akan pernah mendapat penghargaan dari pemerintah.

Satu-satunya kepuasaan bagi para guru ini adalah melihat perubahan pada siswanya. Ketidakmampuan siswa bukan sesuatu yang harus disesali tetapi malah menjadi pemberi semangat yang tidak pernah padam. Penghalau kegalauan akan semua keterbatasan tempat dimana para guru ini ditempatkan.

Menemukan Arti

Apa yang dilakukan para guru dipelosok-pelosok pedalaman tersebut adalah bentuk dedikasinya terhadap profesi yang dipilih. Dedikasi berasal dari kata Latin dedicatio yang berarti menyatakan atau mengumumkan.

Dedikasi merupakan kunci menuju sebuah keberhasilan dan kesuksesan. Hal tersebut didapat dari keterlibatan patience (kesabaran), persistence (keuletan), dan hard work (kerja keras). Simple case, jika seseorang ini mendedikasikan hidupnya pada pendidikan di daerah pedalaman tapi ia tidak memiliki kesabaran, tidak rajin dan ulet dalam menekuni bidangnya, serta berserah pada apa yang sudah ada tanpa ingin melakukan sebuah inovasi maka nilai dedikasi tersebut tidak akan muncul.

Sejarah Indonesia dan Dunia sudah mencatat banyak tokoh yang dinilai memiliki dedikasi tinggi. Contohnya Albert Einstein, jika beliau menyerah untuk terus bereksperimen dan terus gigih menghadapi rintangan maka sampai detik ini mungkin Teori Relativitas tidak akan dikenal oleh manusia.

Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, jika kedua beliau ini mudah saja menyerah kepada penjajah mungkin Indonesia tidak akan merasakan kemerdekaan sampai tahun ini yang sudah berumur 66 tahun. Dari contoh diatas, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berdedikasilah yang dapat menorehkan tinta emas dalam kehidupan pribadi dan lingkungannya.

Saat ini sudah jarang sekali ditemui tokoh atau figur yang memiliki dedikasi tinggi, manusia sekarang cenderung menggunakan prinsip berkorban sedikit tapi mencapai hal yang besar, tidak terkecuali guru.

Para guru sering lupa apa yang pernah dikatakan oleh Fater Van Kolvenbach bahwa, murid-murid mereka tentu tidak akan mengenang guru-guru mereka hanya sebagai guru biasa. Sebab siswa pada dasarnya tidak akan mengingat apa yang diajarkan gurunya dengan baik, tetapi apa yang telah dilakukan oleh guru mereka itu yang tidak akan hilang dalam ingatan.

Bagi mereka guru-guru mereka adalah guru sejati yang tidak hanya berkomitmen pada profesinya, tetapi juga berkomitmen pada kemanusiaan yang berarti sebuah pengabdian.

Namun seiring demontrasi guru yang menuntut hak-haknya akhir-akhir ini, tampaknya telah terjadi pergeseran pemaknaan guru terhadap profesinya. Guru lebih susah jika tunjangan sertifikasinya tidak turun-turun, tetapi nyaris tidak pernah risau jika siswanya tidak punya buku untuk belajar.

Semua permasalahan seolah hanya bermuara pada Kementrian Pendidikan Nasional yang tidak mampu memberikan semua fasilitas secara merata untuk semua sekolah. Padahal daripada sekedar memperdebatkan siapa yang salah dalam hal ini, sudah waktunya bagi kita semua diluar pemangku kebijakan untuk bertindak nyata.

Dalam kompetensi profesional guru yang ditetapkan oleh BSNP, tentunya sulit sekali mengukur sejauhmana kompetensi afektif atau sikap benar-benar terintegrasi dalam pribadi seorang guru. Bahkan PLPG dengan dosen-dosen bergelar profesor tidak akan menjamin seorang guru akan berkomitmen benar pada profesinya.

Satu hal yang dapat dilakukan guru adalah bertanya pada dirinya apa yang belum dan ingin dilakukan oleh dirinya bersama siswanya. Sesaat bersama siswa dikelas adalah satu kesempatan emas untuk membuat perubahan dan kenangan.

Sekarang tinggal ditangan guru itu sendiri, perubahan dan kenangan seperti apa yang diciptakannya. Untuk itu seorang guru perlu menemukan arti dirinya dan profesi, yang ingin ditampilkannya.

Memang benar murid-murid itu bukanlah anak-anak kita, tetapi sebuah kepercayaan telah menghadirkan mereka dihadapan para guru. Para orang tua percaya bahwa guru disekolah itu, mampu membawa kepercayaan mereka dengan benar, karena para guru mampu berkomitmen seperti Yuli dan Badawi. Orang-orang percaya bahwa seseorang dapat menjadi malaikat, karena mereka mendengarkan panggilan nuraninya.

No Responses

Leave a Reply