Nasionalisme di Era Informasi

Netsains – Era informasi telah membuka batas negara bangsa. Sejumlah negara, telah membuka perbatasannya, dan berhasil menggerakkan penduduknya untuk melintasi batas negara lain. Semua itu dalam rangka memperbaiki kondisi negara tersebut. Namun, bagaimana dengan Indonesia?

Selama ini, ilmuwan atau tenaga ahli kita yang jadi residen di luar negeri, misalnya, dicap sebagai ‘penghianat bangsa’. Berbeda misalnya dengan ilmuwan China atau ilmuwan Israel yang jadi residen di US atau Eropa, tidak pernah dicap sebagai penghianat.

Justru kedua negara tersebut memanfaatkan jaringan global mereka di luar negeri, untuk memperkuat negara sendiri. Mengapa mental menuduh ‘penghianat bangsa’ itu begitu kental pada kita, namun pada China dan Israel tidak demikian? Mari kita analisa sebab musababnya, dengan membandingkan Indonesia dengan Israel dan China.

Israel: Negara yang didukung oleh lobi zionis sejagad

Bendera israil

Pada 14 Mei 1948, sewaktu David ben Gurion memproklamasikan kemerdekaan Israel, dalam teks proklamasi tersebut tertulis bahwa ‘Israel akan menjadi negara tujuan bagi seluruh kaum Yahudi di seluruh dunia’.

Para bapak bangsa Israel, berhasil memainkan lobi mereka di luar negeri, sehingga banyak negara yang mendukung eksistensi Israel ‘dengan segala biaya’. USA misalnya, selalu memberikan hibah persenjataan dan keuangan secara gratis ke Israel, semua atas bantuan lobi-lobi mereka di kongres.

Seluruh resolusi PBB untuk mengutuk agresi Israel ke Palestina tidak pernah dieksekusi, karena Israel sukses menggunakan sayanim mereka, yaitu orang yang bersimpati dengan Israel, untuk melobi pemerintahan negara anggota tetap dewan keamanan PBB.

Bahwa banyak perusahaan multinasional di negara-negara barat memberikan donasi terhadap Israel, hal itu sudah menjadi rahasia umum.

Kami dalam konteks ini tidak berpretensi menghakimi Israel, misalnya karena agresi mereka ke Palestina. Namun lebih pada melihat efektifitas lobi mereka di luar negeri.

Faktor utama, mengapa Israel bisa bertahan sampai sekarang, ditengah kepungan musuh-musuhnya, seperti Suriah dan Iran, adalah karena bantuan luar negeri yang sangat ekstensif.

Yahudi adalah bangsa yang sudah terbiasa berdiaspora, jadi bagi mereka, untuk membantu Israel, tidak diperlukan kewajiban untuk menjadi warga negara Israel.

Menjadi warga negara US, atau Inggris misalnya, sambil lalu membantu rekan mereka di Israel dengan berbagai cara, misalnya dengan investasi di Israel, adalah opsi yang biasa diambil.

China: Kelompok perantauan Singapura menyokong perekonomian mereka

Bendera cina

Untuk yang satu ini, sudah sangat jelas. Kelompok China perantauan adalah entitas kebangsaan yang paling aktif secara ekonomi di dunia ini. Bersama Kolonial Inggris, kelompok ini berperan sangat kunci dalam membangun Singapura menjadi bandar perdagangan nomor satu di dunia.

Pembangunan di Hong Kong, koloni Inggris yang lain, dilakukan berdasarkan cetak biru pembangunan di Singapura.

Pemerintah RRC, sewaktu masih dibawah Deng Xiaoping, mengundang Lee Kwan Yew, PM Singapura waktu itu, supaya memberikan konsultasi mengenai pembangunan ekonomi di China.

Alhasil, dengan mengikuti saran Lee, RRC dalam waktu kurang dari 30 tahun berhasil menjadi raksasa ekonomi dunia. Sekarang, India pun juga mengadaptasi cetak biru pembangunan ekonomi dari Singapur, dan India mulai menggeliat juga sebagai raksasa perekonomian dunia.

Walaupun berada jauh ribuan kilometer dari tanah air mereka di Tiongkok, para imigran China di Singapura masih tetap aktif membantu tanah leluhur mereka di China.

Bisa berbagai cara, misalnya dengan investasi, kerja sama riset, dll. Naiknya RRC sebagai kekuatan ekonomi dunia, tidak lepas dari bantuan tangan dingin Singapura juga.

Indonesia: Diperlukan memperluas konsep ‘Tanah Tumpah Darahku’

Nasionalisme Indonesia

Selama ini, selalu saja banyak pihak yang menuduh intelektual kita yang bermukim ke luar negeri sebagai penghianat. Dengan alasan apapun, mereka adalah penghianat. Titik.

Pihak yang menuduh tersebut hanya memberikan dua opsi, kembali ke tanah air, atau selamanya di luar negeri menjadi penghianat.

Bagi kacamata ini, nasionalisme hanya dinyatakan pada paspor apa yang kita miliki, atau kita menjadi residen dimana, bukan pada kontribusi nyata intelektual tersebut pada pembangunan bangsa.

Sementara itu, kalangan ini tidak pernah menyebut mereka yang KKN, atau kriminal yang menghuni penjara sebagai penghianat bangsa, namun hanya sebagai sekelompok orang yang ‘khilaf’, ‘perlu direedukasi’, atau ‘berilah kesempatan mereka untuk bertobat’, dan berbagai eufimisme lainnya.

Ironis, orang yang tidak pernah berbuat kriminal dituduh sebagai penghianat bangsa, sementara yang berbuat kriminal malah cenderung dimaafkan. Tenaga ahli kita yang tinggal di LN tersebut, tidak pernah melanggar hukum apapun.

Kepergian mereka meninggalkan Indonesia adalah legal dan menggunakan dokumen yang sah. Sementara mereka yang terbukti KKN tersebut jelas melanggar hukum.

Mengapa mereka harus dituduh penghianat? Itu adalah tuduhan yang sangat serius, dan biasanya diberikan pada teroris, mata-mata, atau pihak lain yang sengaja melakukan sabotase pada negara. Mereka tidak pernah melakukan sabotase apapun kepada kita.

Yang patut kami sayangkan dari sikap seperti ini, sebenarnya menuduh orang yang menjadi residen di luar negeri sebagai penghianat sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Justru tuduh menuduh itu hanya memperumit masalah, dan menyebabkan mereka yang tinggal di LN itu semakin antipati dengan Indonesia. Dalam konteks ini, ada baiknya kita belajar dari Israel dan RRC.

Mereka tidak pernah menuduh warga mereka yang tinggal di LN sebagai penghianat. Namun, mereka justru aktif melobi mereka, supaya membangun negara asalnya, dan membela tanah leluhurnya di dunia internasional. Sejauh ini lobi tersebut berhasil.

Mengapa tidak Indonesia mengadopsi cara tersebut? Mengapa tidak tenaga ahli dan ilmuwan kita yang tinggal di LN, kita lobi untuk membangun bangsa kita? Kehadiran fisik mereka di Indonesia, bukan sesuatu yang mutlak.

Yang paling penting adalah, kita bisa melobi mereka untuk memperkuat jaringan riset kita di dunia internasional (bagi peneliti), dan membantu pembangunan ekonomi kita (bagi investor).

Dalam hal ini, kita perlu memperluas konsep ‘tanah tumpah darahku’, supaya konsep nasionalisme tidak sekedar dibatasi oleh wilayah tertentu saja. Namun juga diperluas kemanapun sang WNI itu berada.

BACA ARTIKEL TERKAIT:

Leave a Reply