Mengenal Teori Big Bang (Penciptaan Jagat Raya)

Teori Big Bang

Pernahkah Anda mendengar proses penciptaan jagat raya? ya, ada banyak sekali teori yang menjelaskan proses terbentuknya jagat raya. setiap teori memiliki kelebihan dan kekurangan dalam proses penyampaian informasi.

Adapun salah satu teori penciptaan jagat raya yang paling terkenal adalah Teori Big Bang. Teori ini terkenal karena informasi yang tersampaikan masuk akal dan dapat diterima terutama dalam proses pembentukan jagat raya.

Teori ini juga dilakukan sesuai dengan penelitian ilmiah yang dibuktikan dengan bukti yang masuk akal secara ilmiah. Sehingga sampai saat ini Teori Big Bang menjadi teori penciptaan jagat raya yang paling benar.

Berdasarkan pemilihan katanya sendiri, “Big Bang” memiliki arti ledakan yang dahsyat atau ledakan yang amat besar. di dalam teori ini, proses penciptaan jagat raya ini terjadi karena sebuah ledakan yang sangat besar pada 13,7 milyar tahun yang lalu.

Pada saat terjadi proses ledakan, material yang dihasilkan sangatlah banyak sehingga menyebar ke seluruh alam semesta. Material-material hasil ledakan ini berbentuk partikel elektron, proton dan neutron yang terbentuk dalam kurun waktu 10-4 detik.

Sedangkan untuk membentuk intinya dibutuhkan waktu 3 menit untuk jenis inti yang sangat kecil. Nah, pada saat proses terjadinya ledakan diperkirakan suhu yang terjadi di sana 70 kali lipat dibandingkan dengan suhu matahari.

Sehingga, untuk mendinginkan elektron dan intinya dibutuhkan waktu 500.000 tahun. Hingga pada akhirnya, material-material ini bersatu sehingga membentuk planet, debu kosmik, asteroid, satelit, meteor dna partikel luar angkasa lainnya.

Sejarah Teori Big Bang

Bigbang

Sejarah Awal

Sejarah teori ini diawali pada tahun 1912 dimana saat itu dilakukan pengukuran pada nebula spiral pertama kalinya dengan menggunakan efek doppler yang dilakukan oleh Vesto Slipher. Nebula spiral sendiri merupakan sebuah nama dari galaksi spiral.

Berdasarkan pengukuran ini mengundang penasaran bagi para ahli untuk mulai meneliti tentang alam semesta. Dalam selang waktu kurang lebih 10 tahun, ada seorang kosmologis dan juga matematikawan yang berasal dari Rusia bernama Alexander Frienman yang mengatakan bahwa alam semesta akan selalu mengalami pengembangan yang berlawanan dengan alam semesta yang dikatakan oleh Einstein.

Di tahun 1924, Edwin Hubble juga melakukan sebuah penelitian yang lebih lanjut mengenai bentuk dari nebula tersebut. Saat itu juga, Georges Lamaitre juga menemukan persamaan teori  Frienman dan mengatakan resensi nebula dalam persamaan ini disebabkan oleh alam semesta yang berkembang.

Adapun Teori Big Bang sendiri dikemukakan pertama kali oleh Abbe Georges Lamaitre yang merupakan seorang kosmolog dari Beligia di tahun 1927. Menurut Georges, alam semesta pada mulanya berasal dari gumpalan super atom yang berbentuk bola api dengan ukuran yang sangat kecil.

Meskipun kecil, namun gumpalan bola api ini mempunyai massa jenis yang sangat tinggi serta memiliki suhu kurang dari 1 triliun derajat celcius. Sebelum terjadinya ledakan, gumpalan bola api ini menjadi lebih besar yakni 1,75 cm dimana ukurannya bertambah sangat cepat pada detik 0.

Hingga akhirnya gumpalan bola api ini meledak dan menumpahkan segala isinya ke alam semesta. Adapun ledakan ini terjadi pada waktu 15 milyar tahun yang lalu. Pada saat ledakan besar ini terjadi menghasilkan sebuah energi yang sangat besar di alam semesta.

Selain itu, atom hidrogen juga ikut terlempar ke luar. lambat laun membentuk satu dan jadilah nebula. Nebula semakin lama semakin memadat dan memiliki suhu yang mencapai jutaan derajat celcius. Adanya nebula inilah yang menjadi bintang-bintang.

Bintang-bintang ini juga akan berkelompok menjadi sebuah galaksi seperti galaksi bima sakti, galaksi triagulum, galaksi andromeda. Dari galaksi inilah membentuk milyaran tata surya. dalam tata surya terdapat planet – planet, salah satunya adalah Bumi yang kita tinggali.

Disimpulkan

Hingga saat ini, kekuatan dari Teori Big Bang masih sangat terasa. Hal ini dibuktikan dengan luas alam semesta yang semakin meluas. Bahkan beberapa galaksi semakin menjauh dengan galaksi lainnya. Adapun gerakan ini akan terus terjadi hingga mencapai batas maksimal yang dimiliki. Jika sudah mencapai batas maksimal maka ia akan tertarik lagi oleh gravitasi universal untuk membentuk ledakan.

Pembuktian Kebenaran Dari Teori Big Bang

Ledakan Big Bang

Pembuktian Para Ahli

Di tahun 1948 George Gamov melakukan pengembangan perhitungan yang dahulunya dibuat oleh Georges Lamaitre. Dari perhitungan tersebut ia juga menyatakan teori baru yang sesuai dengan Teori Big Bang.

Menurut George Gamov alam semesta terjadi akibat suatu ledakan yang besar dimana seharusnya terdapat sisa-sisa radiasi dari ledakan. Ditambah lagi sisa radiasi yang berada di seluruh alam semesta juga memiliki perbandingan yang sama.

Di tahun 1950, Ralph Alpher dan Robert Herman menyatakan hal yang sama dengan Gamov jika seharusnya ada radiasi setelah terjadinya sebuah ledakan besar. di tahun 1965, ada lagi dua orang peneliti yang bernama Robert Wildon dan Arno Penzias yang membuktikan serta menemukan adanya gelombang radiasi di alam semesta.

Radiasi ini dikenal dengan nama radiasi gelombang mikrokosmik. Meskipun sama-sama radiasi, namun radiasi gelombang mikrokosmik memiliki perbedaan dengan radiasi lain yang berasal dari luar angkasa. Radiasi ini berada di alam semesta dan tidak memiliki sumber yang pasti dari mana datangnya.

Adapun awal mula terjadinya alam semesta sebenarnya alam semesta berada pada kondisi yang seimbang. Dari keadaan yang seimbang ini membuat foton berhasil diserap dan dipancarkan secara seimbang pula. Dari hal inilah tercipta radiasi spektrum benda hitam.

Setelah terjadinya ledakan. Temperatur dari alam semesta mengalami penurunan. Oleh sebab itu, foton tersebut terus memantulkan diri ke elektron-elektron bebas. Hingga hal ini berakibat pada masa awal pembentukan alam semesta dimana alam semesta terlihat buram oleh cahaya.

Adapun bukti lain dari Teori Big Bang juga dilakukan sebuah pengamatan pada galaksi dimana di sana menunjukkan bahwa terdapat sebuah objek yang bergeser dan mengeluarkan warna merah. Pada saat proses pergeseran terjadi, maka akan terjadi pula pemerataan warna yang terlihat secara isotropis.

Adapun pergeseran yang terjadi ini disebut dengan pergeseran merah hubble dimana hukum hubble sendiri memiliki dua buah penjelasan seperti berikut:

  1. Hukum hubble menyatakan bahwa posisi kita atau posisi bumi berada di pusat pengembangan galaksi dimana hukum ini tidak sesuai dengan prinsip kopernikus.
  2. Hukum kedua menyatakan bahwa alam semesta ini terus mengalami perkembangan yang terjadi secara merata dari berbagai arah.

Disimpulkan

Dari berbagai bukti yang sudah disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Big Bang ini memang ada keberadaannya. Bahkan teori ini juga diyakini oleh banyak orang sebagai teori terbentuknya jagat raya.

Bahkan sebelum teori ini muncul, Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat muslim sudah dijelaskan mengenai proses penciptaan alam semesta seperti yang tertera dalam Teori Big Bang. Dari sini bisa dijadikan sebagai pelajaran bahwa setiap kejadian yang ada bisa dipelajari kebenarannya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.

BACA ARTIKEL TERKAIT:

0 Shares:
2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like