Keseimbangan di Tengah Kesemerawutan

Total
1
Shares

Sesungguhnya, kunci dari semua masalah di muka bumi ini adalah keseimbangan. Sayangnya, menjaga keseimbangan itu saja sangat sulit dilakukan. Keseimbangan apa saja itu?
Strategi untuk mencapai sebuah keinginan bisa disusun atau direncanakan lalu untuk dikerjakan.

Dari rencana yang berskala kecil hingga sampai pada rencana berskala besar. Rencana demi rencana tersebut muncul berderet dan berbaris seiiring tuntutan perkembangan zaman. Kecerdasan otak manusia menghasilkan berbagai alat-alat pendukung seperti komputer dan lain sebagainya, agar daya tampung serta kemampuan otak manusia mengolah data atau mengembangkan persoalan dapat terhindar dari beban yang berlebihan.

Keinginan manusia atau dapat juga disebut sebagai nafsu manusia untuk menguasai persoalan dunia memang tak pernah ada limitnya. Bahkan setelah merasa bisa menjawab persoalan yang ada, manusia cenderung menciptakan ‘pertanyaan’ baru untuk bisa dijawabnya sendiri disuatu saat nanti .

Sungguh manusia adalah mahkluk yang complicated atau gemar mempersulit dirinya sendiri, apapun istilah dan judul kalimat yang hendak dipakai.
Dan alam yang tampak tak bergerak, tampak tak bersuara, tampak tak berbentuk dan terkesan diam, juga seringkali disalahtafsirkan oleh manusia itu sendiri.

Naluri manusia kerapkali menyikapi hal tersebut dan memandangnya sebagai sebuah benda atau zat mati yang tak punya daya apa-apa.
Dia hanya akan menimbulkan sebuah konsekuensi namun manusia juga punya kekuatan dan cara untuk dapat mengendalikan konsekuensi yang ditimbulkannya.

Selebihnya dia menjadi ‘ada’, hanya untuk melengkapi kehidupan manusia di dunia yang perlu bernafas, makan, minum ber-anak dan lain sebagainya. Dan tentu saja Tuhan Yang Maha Esa yang memerintahkan dan menciptakan semua ini.

Karena itu pula kita wajib dan harus selalu mendekatkan diri kepada-Nya, agar kita bisa memohon pertolongan dan terhindar dari konsekuensi yang tak mampu kita atasi sendiri demikian kalimat dari kata-kata yang kerap kita dengar sebagai jawaban dari berbagai soal secara keseluruhan.

Dari sepenggal uraian tersebut diatas, sungguh tampak dengan jelas bahwa manusia adalah mahkluk yang egois. Dia diciptakan untuk bisa menjadi pintar namun sekaligus juga memanfaatkan kepintarannya untuk memanipulasi berbagai kekurangannya.

Dia merasa mampu menghadapi segala akibat dan konsekuensi yang ditimbulkan, dan apabila ternyata hal tersebut meleset dari perkiraannya, maka sungguh terasa teramat mudah jawabannya yakni :

“Sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa” . alias takdir
Padahal jika saja, kita selalu setia kepada ‘keseimbangan’ maka nature mungkin akan selalu berpihak pada manusia dan tak akan menjerumuskan kita.

Di alam realita kita dalam kehidupan menata sebuah bangsa, bagaimanakah bangsa Indonesia menempatkan ‘keseimbangan’ dalam kehidupan bermasyarakatnya?
Mencermati proses belajar dunia pendidikan Indonesia, saat in kita terobsesi menaikkan peringkat kualitas sumber daya manusia yang ada.

Namun apa maknanya bila ternyata hasil yang dicapai semakin berkesenjangan dengan kebutuhan membangun kualitas masyarakatnya sendiri?
Orang juga semakin didorong untuk lebih mengejar sertifikat daripada kenyataan harus menghasilkan generasi yang bisa berinteraksi dengan kondisi riil masyarakatnya sendiri.

Padahal dari merekalah kelak bangsa ini akan belajar untuk menyusun kekuatan bersama agar mampu mandiri .
Di dunia ekonomi, kita tergoda mengejar laju pertumbuhan dengan melakukan berbagai ekspansi dan diversifikasi dari usaha yang sudah ada .

Namun karena sistim distribusi yang terus melemah atau bahkan belum tercipta sama sekali . Maka kenyataan dan akibat yang muncul seperti kalimat sebuah pantun jenaka :

‘Hasrat hati mengundang investasi agar sejahtera cepat kumiliki’
namun…
apa daya tangan tak sampai
akibatnya..sementara..
terpaksa jadi kuli lagi’

Sedikit dari berbagai ilustrasi yang saya tulis di artikel ini untuk sekedar menggambarkan betapa nature atau keseimbangan yang telah kita abaikan begitu lama, sehingga kenyataan yang diakibatkan hingga hari ini, adalah kesemrawutan tatanan kehidupan yang semakin membingungkan kita sendiri.

Kita butuh mimpi untuk memotivasi diri, namun hidup di alam mimpi jelas sesuatu yang lain lagi.

Diedit seperlunya dari www.jsop.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Darimana anak belajar marah ?

Darimana Anak Belajar Marah?

NetSains – Seorang ibu memintaku untuk mencarikan referensi tentang Tantrum. Lalu kutanyalah apa yang dia maksud dengan Tantrum agar persepsi kita sama. Lalu si ibu itu malah bertanya bagaimana mengatasi…
View Post