Haruskah Kebencian Dibalas dengan Kebencian?

Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham, seorang sufi, sedang berjalan kaki untuk menemui seorang kolega. Di tengah jalan, dia bertemu dengan dua orang prajurit. Ternyata, tentara itu dikirim oleh khalifah di Baghdad, untuk mencari seorang kriminal.

Alhasil, salah seorang dari tentara itu bertanya ke Ibrahim,’wahai pengembara, apakah anda melihat si fulan? (sambil menunjukkan lukisan sang kriminal).

Ibrahim menjawab, ‘Oh maaf, saya tidak pernah melihat dia’. Namun, salah satu dari tentara itu curiga, dan menunjuk ke arah Ibrahim, ’Wahai pengembara, pasti anda pendusta, karena berdasarkan informasi yg kami terima, dia pasti lewat jalan ini’.

Kata Ibrahim, ‘Mohon maaf, saya kurang paham maksud anda. Saya benar-benar tidak pernah melihat dia’. Tentara itu menjawab, ’sudah cukup! tidak usah banyak cing cong..Makan ini! (melayangkan bogem mentah ke Ibrahim).

Akhirnya, Ibrahim disiksa oleh kedua tentara itu sampai babak belur, di tengah jalan sepi tersebut. Setelah penyiksaan itu, kedua tentara itu berlalu begitu saja. Namun, ternyata peristiwa penyiksaan itu disaksikan oleh seorang ibu.

Sewaktu kedua tentara itu berpapasan dengan sang ibu, lalu si ibu angkat bicara, ‘Apa yang kalian lakukan dengan orang tua itu? Dia itu Ibrahim bin Adham! Seorang ulama yang sangat alim’. ‘Apa?’ demikian respon kedua prajurit itu.

Dengan seketika kedua prajurit itu pun mengejar Ibrahim di belakang yang sedang jalan terpincang-pincang karena luka yang ia derita. Lalu, mereka membungkuk dalam dalam di depan Ibrahim, dan salah satu dari mereka berkata,’Wahai Ibrahim yang mulia, kami minta maaf atas kezhaliman yang telah terjadi’. Ibrahim menjawab dengan santai,’Anakku, Saya sudah lupakan peristiwa itu, dan saya anggap tidak pernah terjadi’.

Ibrahim bin Adham, dan semua sufi, adalah kelompok yang berkata ‘tidak’ untuk membalas kekerasan dengan kekerasan. Bukan hanya di Islam, namun juga di agama lain, akan kita temui kelompok mistikus yang selalu menjadikan pendekatan tanpa kekerasan.

Contoh yang paling banyak diingat adalah Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Martin Luther King jr. Kalimat ‘Cintailah Musuhmu’, merupakan kutipan dari Bibel yang sangat sering dikutip.

Namun, walaupun para bijak sudah berkata, bahwa kebencian harus dibalas oleh cinta kasih, tetap saja kebencian dan permusuhan masih meraja lela di dunia ini. Sebenarnya, dari manakah asalnya?

Genealogi kebencian

Mengapa kebencian itu muncul? Secara moral, darimanakan asalnya? Dalam satu perspektif, hal ini tidak lepas dari konsep filsafat jerman. Friedrich Nietzche, sang filosof jerman, berpendapat bahwa hanya manusia unggul saja yang pantas menjadi penguasa dan berkuasa atas segala hal.

Dalam bahasa jerman ‘uebermensch’, yang jika diterjemahkan ke bahasa Inggris adalah ‘overman’, merupakan konsepsi moral, dimana keunggulan manusia diukur dengan parameter aristokrasi.

Apa saja parameter tersebut? Mereka adalah pendidikan setinggi mungkin, kekayaan yang berlimpah, dan yang paling penting, adalah mentalitas untuk menjadi pemenang. Dalam kacamata aristokrasi, hanya ada dua jenis manusia.

Yaitu mereka yang menang, dan mereka yang kalah. Mereka yang kalah, disebut Nietzche sebagai ‘moralitas gerombolan’, sebab mereka hanya pantas menerima perintah dari para aristokrat, dan tidak sebaliknya.

Namun, hanya menunggu waktu saja, sebelum gerombolan tersebut mengkudeta konsepsi moral dari para aristokrat. Jika kudeta itu sukses, maka gerombolan itu akan menjadi aristokrat baru, dan nilai-nilai moral yang dianggap salah oleh aristokrat lama, akan menjadi suatu kebenaran oleh aristokrat yang baru.

Ini disebut juga sebagai ‘transvaluasi’, atau penjungkir balikan nilai. Dalam aplikasinya yang paling ekstrim, Adolf Hitler mengadopsi filsafat Nietzche, bersama musik Richard Wagner, sebagai sastra dan seni resmi di Nazi.

Ironis, karena Nietzche sendiri tidak pernah membahas konsep negara bangsa. Aplikasi moralitas aristokrasi dalam spektrum lain adalah penciptaan sekolah unggulan, sekolah internasional, sistim ranking, universitas unggulan, beasiswa unggulan, dan kredit kum dalam penelitian/pengajaran.

Semua sistim pendidikan modern yang kita cerap sekarang, dilandasi oleh moralitas aristokrasi ala Nietzche. Dalam sistim ini, harus ada mereka yang menang, yang menikmati karir bagus, karena keunggulan aristokrasi yang dimiliki.

Sementara yang kalah, sudah jelas. Karir mereka hancur, dan tidak punya masa depan. Dikotomi kalah menang ini, akhirnya melahirkan kebencian, antara yang kalah dengan yang menang, ataupun sebaliknya.

Berikanlah Cinta kasih

Ibrahim bin Adham sudah mengajarkan kepada kita, bahwa kebencian bisa dibalas dengan cinta kasih. Memang, seorang Sufi seperti beliau sudah melakukan latihan spiritual yang sangat berat untuk mencapai tingkat tersebut.

Namun, yang dicapai adalah kedamaian hati dan ketenangan batin. Dikotomi menang-kalah Nietzchean, yang menghasilkan kebencian demi kebencian, hanya membawa kita pada keresahan lahir dan batin.

Berkompetisi dengan orang lain, berarti juga kita harus menghancurkan orang lain, walaupun itu diperhalus hanya pada tataran ‘nilai ulangan’ , ‘ranking’ atau ’sertifikat cum laude’ misalnya. Akhirnya, semua ini hanya menghasilkan serentetan permusuhan, dan tinggal menunggu waktu saja, sebelum mereka yang kalah balas dendam terhadap yang menang, untuk kemudian menjadi pemenang yang baru.

Lingkaran balas dendam itu akan berlangsung terus tanpa akhir, jika tidak dihentikan. Dunia yang sekuler sekarang ini, hanya menghasilkan ‘manusia pembenci’, bukan ‘manusia pencinta’. Mengapa tidak kita rubah semua ini?

Latihan spiritual para sufi sudah menunjukkan, bahwa menghilangkan kebencian dan nafsu untuk menghancurkan orang lain adalah sangat mungkin. Sudah waktunya kita tanggalkan mentalitas aristokrasi, dan kembali pada pesan para bijak bestari dari timur tersebut.

Leave a Reply