Darimana Anak Belajar Marah?

Darimana anak belajar marah ?

NetSains – Seorang ibu memintaku untuk mencarikan referensi tentang Tantrum. Lalu kutanyalah apa yang dia maksud dengan Tantrum agar persepsi kita sama. Lalu si ibu itu malah bertanya bagaimana mengatasi anaknya yang baru berumur satu setengah tahun yang kerap kali marah-marah tidak jelas.

Tiba-tiba marah tanpa ada sebabnya, entah meminta sesuatu atau tidak. Lalu saya amati anaknya yang cukup aktif dan mulai gemar “mengoceh” ini. Ternyata definisi “Tantrum” yang disampaikan oleh si ibu ini sangat jauh merujuk pada perilaku marah pada anak yang luar biasa dan sulit dikendalikan. Si anak hanya sesekali marah tetapi tidak sampai tantrum.

Lalu saya tanyalah si ibu itu tentang perilakunya sehari-hari sekaligus menjawab pertanyaannya. “Apakah ibu sering marah di rumah?” Dijawabnya dengan tertawa dan mengiyakan jika ia sering marah kepada anak pertamanya.

Perilaku inilah yang secara tidak langsung ditiru oleh anak ke duanya. Proses belajar inilah yang dalam ilmu Psikologi dikenal dengan istilah Modelling. Modelling adalah salah satu cara belajar anak dengan meniru perilaku yang ada dari lingkungannya, teman, orangtua, atau siapa saja yang ia lihat.

Cara yang paling mudah untuk mengajari anak kebiasaan baik pun dapat ditempuh dengan cara ini. Mencontohkan shalat lima waktu, gosok gigi sebelum tidur, merapikan tempat tidur, meletakkan kembali sepatu yang telah dipakai pada raknya, atau beberapa kebiasaan baik lainnya.

Namun sayangnya, yang sering melekat pada anak justru hal buruk yang ia tiru dari lingkungannya. Misalnya tiba-tiba anak marah, mengeluarkan kata-kata kotor, meludah, membentak, yang bisa jadi kesemuanya itu tidak memiliki makna layaknya ketika dilakukan orang dewasa.

Lebih parahnya lagi terkadang orangtua tidak menyadari jika hal ini terjadi sebagai proses belajar dari lingkungan, teman sebaya, tayangan di televisi atau bisa jadi dari orang tuanya sendiri.

Mereka hanya mengeluhkan tiba-tiba anaknya selalu memukul temannya ketika meminjam mainan tidak diberi, atau tiba-tiba meludahi ayahnya tanpa sebab. Hal-hal seperti inilah yang kiranya orangtua perlu cermati darimana anak mendapatkan hal-hal ini dari lingkungannya.

Perhatikan lingkungan sekitar anak, dengan siapa ia berinteraksi, dan hal-hal apa saja yang ia lihat. Masih ingat tragedi anak yang menghajar teman sekolahnya akibat ia sering menyaksikan tanyangan “Smack Down”?

Ini juga salah satu contoh dari proses balajar modeling dari lingkungan, lebih spesifik dari tanyangan televisi.

Lalu apakah semudah itu anak meniru semua perilaku yang ia lihat dari lingkungannya? Bandura (dalam Hall & Lindzey, 1995) tokoh yang mengemukakan teori ini menyebutkan beberapa tahapan hingga seseorang bisa meniru sebuah perilaku.

1. Atensi (Perhatian)

Perhatian

Jika kita ingin mempelajari sesuatu, maka kita harus memperhatikannya dengan seksama. Semakin banyak hal yang mengganggu perhatian kita, maka proses belajar akan semakin lambat.

Segala hal yang mudah sekali menarik perhatian kita, maka hal tersebut akan mudah sekali untuk kita perhatikan.

Misalnya: diantara puluhan balon putih, ada sebuah balon merah. Balon merah ini akan lebih menarik perhatian kita dibandingkan balon yang lain.

Seperti halnya ketika anak melihat perilaku baru yang pertama ia lihat, pasti hal ini akan juga menarik perhatiannya.

2. Retensi (Ingatan)

Retensi atau ingatan

Setelah memperhatikan sesuatu, maka seseorang akan menyimpan informasi atau hal yang diperhatikannya ke dalam ingatan.

Informasi yang dipertahankan (diingat), suatu ketika dapat kita “panggil kembali” hal yang kita simpan tadi dalam bentuk perilaku.

Misalnya saat pertama anak melihat ibunya membentak kakaknya, anak menyimpan memori ini, hingga suatu ketika ia akan melakukan hal yang sama.

3. Reproduksi

Reproduksi

Sebuah proses menerjemahkan hal atau informasi yang telah kita simpan ke dalam perilaku aktual. Untuk dapat memproduksi sebuah perilaku tertentu, sebelumnya kita harus pernah melakukan sesuatu perilaku itu sebelumnya. Misalnya, bermain ski.

Meskipun kita menonton seharian lomba ski, namun kita tidak dapat memproduksi perilaku bermain ski seperti yang diperagakan sebab kita tidak dapat bermain ski.

Namun jika kita sebelumnya telah terlatih bermain ski namun belum mahir, maka kita hanya dengan menonton permainan itu dapat mereproduksi gerakan permainan ski yang lebih bagus.

4. Motivasi

Motivasi

Segala hal yang mendorong seseorang untuk melakukan sebuah perilaku tertentu. Kita tidak akan dapat melakukan apapun jika tidak ada motivasi dari dalam diri untuk meniru.

Motivasi dapat timbul dari dalam diri atau dari lingkungan, dari dukungan lingkungan sekitar, atau dari sesuatu yang kita harapkan.

Dari empat tahap di atas, proses Reproduksilah yang kita sebut dengan modeling. Reproduksi hanya bisa dilakukan ketika memang kita mampu melakukan hal tersebut.

Dan hampir bisa dipastikan jika segala hal yang dilihat anak menarik (menimbulkan atensi/ perhatian), memori anak juga sangat bagus.

Sehingga informasi yang ia terima mudah diingat (retensi), sehingga ia akan dengan mudah memproduksi kembali perilaku yang ia lihat dari lingkungan.

Kesimpulannya anak mudah sekali meniru perilaku dari lingkungan. Kuncinya adalah, perhatikan dengan seksama lingkungan sekitar anak.

Upayakan ia melihat hal-hal yang mendukung perkembangannya. Jika ditemukan hal-hal yang negatif, segera direduksi dengan menanamkan nilai-nilai dan makna-makna dari hal yang ia lakukan.

Sebagai contoh bisa jadi anak meniru temannya mengatakan kata-kata kotor yang menurut kita hal ini buruk namun anak tetap saja melakukannya.

Hal yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberikan pemahaman bahwa kata yang ia ucapkan ini tidak baik. Maknanya ini (sebutkan jika memang kita tahu artinya), dan berikan kata pengganti yang lebih baik atau dirasa lebih sopan.

Orangtua juga perlu kiranya berhati-hati ketika menampakkan hal-hal yang kurang tepat yang dapat ditiru oleh anak yang secara kognisi belum berkembang dengan baik.

Misalnya marah di depan anak, membentak, duduk dengan kaki naik ke meja, menaruh barang tidak pada tempatnya, atau hal-hal lain yang dirasa kurang tepat.

REFERENSI

  • Boeree, G. 2005. Personality Theories. Terjemahan: Muzir, dkk. Yogyakarta: Primashopie.
  • Hall, C & Lindzey, G. 1995. Teori Sifat Behavioristik. Editor : A. Supratiknya. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

BACA ARTIKEL TERKAITTeknologi Bikin Pasangan Cepat Putus?

1 Shares:
0 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like