Penjelasan Multitasking Menurut Perspektif Neurosains

multitasking

Multitasking adalah kemampuan untuk melakukan banyak kegiatan/aktivitas pada saat yang bersamaan. Misalnya: mengemudikan kendaraan sambil mendengarkan musik dan menjawab SMS.

Multitasking bisa dialami baik oleh pria maupun perempuan. Sehingga asumsi masyarakat yang mengatakan bahwa perempuan lebih berpotensi untuk multitasking adalah tidak didasarkan oleh bukti riset.

Arti Mutitasking

Dalam perspektif neurosains, multitasking ini terkait dengan bagian otak yang bernama korteks prefrontal dan area Brodmann 10.

Bagian otak yang disebut dengan korteks prefrontal (KP) adalah daerah kortikal di anterior lobus frontal terhadap korteks motorik asosiasi dan primer. Bagian otak ini meningkat ukurannya bersama dengan perkembangan filogenetik.

Pada manusia, KP terlibat di dalam perencanaan perilaku kognitif yang kompleks, ekspresi kepribadian, dan perilaku sosial.

Satu fungsi yang dihubungkan dengan KP adalah multitasking, terutama seleksi dan pemeliharaan beragam tujuan internal perintah yang lebih tinggi sementara sub-tujuan lainnya sedang dilakukan.

Pemeliharaan dan pencarian fleksibel dari beragam tujuan perintah yang lebih tinggi memungkinkan kita untuk menyesuaikan perilaku kita terhadap rencana internal, dibandingkan dengan selalu berespon terhadap lingkungan eksternal.

Beragam data dari studi neuroimaging fungsional menunjukkan bahwa gangguan fungsi multitasking dan kekurangan perencanaan ditunjukkan oleh orang dengan kerusakan korteks frontal yang luas.

Area Brodmann 10 (AB10), juga dikenal sebagai kutub frontal (frontopolar cortex) atau korteks prefrontal anterior/rostral, merupakan daerah terbesar dan paling anterior di KP manusia. AB10 memainkan peranan penting di dalam kesadaran manusia.

Beberapa neurosaintis meletakkan AB10 di puncak hirarki (the top of a frontal processing hierarchy). Perannya adalah untuk menjaga tujuan di pikiran (mind) sementara menyelidiki dan menyelesaikan tujuan-tujuan sekunder.

Singkatnya, BA10 berperan penting di dalam working memory dan dual-task performance, yang populer diistilahkan dengan multitasking. Secara spesifik, bagian AB10 lateral penting untuk menjalankan fungsi multitasking saat “keluar dunia” tidaklah cukup.

Dan tujuan internal diperlukan untuk mengatur perilaku; saat kesadaran harus dibimbing oleh pemikiran yang bebas stimulus (stimulus-independent thought). Kerusakan BA10 menyebabkan gangguan “management of multiple goals“.

Riset menunjukkan sekelompok orang dengan lesi frontal, gangguan multitasking berkorelasi dengan tingkat kerusakan AB10. Beberapa riset terbaru menunjukkan relasi antara korteks prefrontal rostral dan memori prospektif (kapasitas untuk melakukan aksi yang diniatkan setelah tertunda beberapa saat), suatu elemen penting dari multitasking.

Studi neuroimaging fungsional juga menghubungkan AB10 dengan kemampuan untuk berempati, menduga emosi, perasaan, dan pemikiran seseorang, menuntut suatu fungsi kompleks yang secara kolektif mengacu ke theory of mind. Faktanya, beberapa studi neuroimaging fungsional berhasil membuktikan aktivasi KP saat kemampuan ini dinilai.

Karakteristik Multitasking

multitasking

Ada dua karakteristik dari situasi multitasking natural yang berbeda dari paradigma multiple-task eksperimental.

Pertama, apa yang merupakan prestasi/perbuatan memadai (adequate performance) tidaklah diisyaratkan secara kuat oleh permintaan/tuntutan eksternal. Partisipan haruslah memutuskan untuk diri mereka sendiri apa yang merupakan target yang dapat diterima, dan dimana mereka telah mencapainya.

Kedua, proses “marker creation” (kreasi dari tujuan untuk melakukan sesuatu di masa mendatang) adalah murni inisiasi pribadi (self-initiated).

Selanjutnya partisipan memutuskan dimana atau dalam keadaan apa mereka akan menyadari dan mencapai tujuan-maksud mereka yang tertunda.

Organ Multitasking

Sistim kerja organ tubuh manusia amatlah kompleks. Beberapa diantaranya saling bersinergi. Beberapa di antaranya juga dapat melakukan fungsi yang multitasking, misalnya angiotensin II dan obscurin.

Angiotensin II (Ang II)

Angiotensin II (Ang II) adalah hormon bersirkulasi perifer yang meregulasi tekanan darah dan homeostasis (keseimbangan) cairan, dikenal pula sebagai “brain neuromodulator” penginduksi intake (asupan) garam dan cairan serta peningkatan tekanan darah.

Obscurin

Obscurin adalah protein raksasa ketiga yang ditemukan di otot striated vertebrate bersama dengan titin dan nebulin. Perannya adalah memodulasi organisasi dan meng-assembly miofibril dan retikulum sarkoplasma.

Obscurin dijumpai di transverse striations di mioplasma serabut otot orang dewasa (adult muscle fibers). Pada penyakit pembesaran/pembengkakan otot jantung (hypertrophic cardiac myocytes), obscurin terlibat sebagai penekan overload dan respon miopatik terhadap mutasi di titin.

Oleh: dr.Dito Anurogo

Dokter Dito Anurogo adalah perintis dokter digital/dokter online di Indonesia, konsultan kesehatan di netsains.com, penulis 15 buku, pemerhati neurosains, berkarya di Comprehensive Herbal Medicine Institute (CHMI), Center for Robotic and Intelligent Machines(CRIM), serta Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.

2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
darah keperawanan
Read More

Apakah Darah Perawan Itu?

Sebelum mengetahui tentang darah perawan atau darah keperawanan, maka alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu tentang suplai perdarahan…