10 Menit Mengenali Nyeri Dada

Total
1
Shares

Nyeri dada seringkali dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum buru-buru membawanya ke dokter, berikut ada beberapa penjelasan dan petunjuk praktis mengenali nyeri dada.

Nyeri dada bisa jadi disebabkan oleh infeksi di selaput pembungkus jantung (pericarditis).

Pada kasus gangguan jantung (misalnya: iskemia miokard), nyeri dada disebabkan karena disharmonisasi (ketidakseimbangan) antara persediaan oksigen yang diperlukan dan oksigen yang tersedia di otot jantung (myocardium).

Kapan Penderita Nyeri Dada Perlu Dibawa ke Rumah Sakit?

Beberapa kondisi nyeri dada berikut ini perlu direkomendasikan ke rumah sakit:

  • Nyeri dada yang disertai sensasi 4D, yaitu: ditindih, ditimpa beban berat, dicekik, ditekan.
  • Nyeri dada yang disertai 4P, yaitu: panas, pusing, penurunan kesadaran, pingsan.
  • Nyeri dada yang disertai 4M, yakni: mual, muntah, merasa lelah, merasakan seolah terbang/melayang.
  • Nyeri dada yang merambat ke bahu, punggung, lengan (satu atau kedua lengan), leher, atau rahang.
  • Sesak nafas yang menetap atau berkelanjutan.

Penderita nyeri dada tidak harus merasakan semua keadaan di atas. Bila salah satu saja terpenuhi, maka segeralah meminta pertolongan dokter atau ke RS terdekat.

NYERI DADA

Nyeri Dada yang Bisa Mengancam Kehidupan

Pada beberapa kasus Anda perlu mewaspadai nyeri pada dada ini:

Diseksi Aort

Yaitu berupa nyeri hebat, seolah tajam menyayat, muncul mendadak di dada depan, sering menjalar ke punggung.

Dapat disertai hipertensi (tekanan darah meningkat) dan sindrom Marfan, yaitu: Gangguan jaringan konektif yang mengganggu perkembangan dan fungsi jantung, mata, pembuluh darah, dan (ke)rangka.

Emboli Paru

Yaitu bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah paru-paru. Nyeri ini memiliki ciri khas: Sesak, nyeri mendadak, nyeri pleuritik (bersifat tajam, dipengaruhi gerakan dan pernafasan), denyut jantung menjadi cepat (takikardi), dan tanda gagal jantung kanan.

Sindrom Koroner Akut (SKA)

Nyeri jenis ini memiliki ciri khas: Nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada yang disertai atau didukung gambaran EKG (elektrokardiogram) dan evaluasi biokimia dari enzim jantung.

SKA terdiri atas angina pektoris tidak stabil, infark miokard akut, gambaran EKG: elevasi segmen ST. SKA ditetapkan sebagai salah satu manifestasi klinis penyakit arteri koroner (disebut juga penyakit jantung koroner).

Penderita SKA dalam 6 jam sejak serangan nyeri dada, maka kadar troponin I meningkat. Namun untuk menegakkan diagnosis SKA, konsentrasi serum troponin harus diukur 12 jam sejak muncul onset gejala.

Bila ternyata diketahui dokter menderita penyakit jantung koroner, maka dapat diberi obat glyceryl trinitrate.

Pemeriksaan troponin jantung bermanfaat untuk mendiagnosis kerusakan otot jantung (miokard), mendeteksi serangan infark miokard akut (IMA) sampai 2 minggu setelah terjadi serangan IMA.

Kelemahannya, kurang sensitif saat awal terjadinya serangan IMA (terutama bila kurang dari 6 jam).

Cara Cerdas Membedakan Angina dengan Angina tak Stabil

Anda juga perlu mengenali perbedaan angina dengan angina tak stabil atau yang biasa disebut dengan infark miokard akut. Berikut adalah beberapa perbedaannya:

Angina (Angina Pektoris)

Angina ini memiliki ciri khas berupa nyeri dada dengan sensasi atau rasa sakit yang bersifat seperti ditindih benda berat, rasa terbakar, seolah ditekan, ditusuk, diperas, atau dipelintir.

Nyeri menjalar ke leher, rahang bawah, epigastrium (bagian perut di atas pusar/udel), bahu atau lengan kiri (bisa juga ke lengan kanan), punggung.

Nyeri dipicu oleh aktivitas atau latihan fisik (misalnya: berolahraga), udara dingin, stres, emosi, setelah makan.

Nyeri membaik bahkan menghilang dengan beristirahat atau mereda dengan pemberian obat (nitrat). Dapat disertai dengan: sulit bernafas, keringat dingin, lemas, mual, muntah.

Angina Tak Stabil

Angina tak stabil memiliki ciri khas yang hampir sama dengan angina pektoris. Namun angina tak stabil lebih berat, timbul mendadak, dapat berlangsung selama lebih dari 20 menit, dapat disertai sesak nafas, mual, dan muntah.

Obat Apa yang Biasa Diberikan Dokter?

Terapi diberikan dokter sesuai indikasi dan etiologi (penyebab yang mendasari). Beberapa obat yang biasa digunakan dokter untuk mengatasi nyeri dada adalah: heparin, morfin, klopidogrel, nitrat, nItrogliserin, aspirin, tiklopidin, diazepam, petIdin, beta bloker, tramadol.

Perlu diketahui, beberapa pilihan obat di atas hanya boleh diresepkan atau diberikan dokter kepada penderita nyeri dada.

Demikian uraian singkat tentang cara cerdas mengenali nyeri dada ini. Semoga bermanfaat.

SUMBER: DR. DITO ANUROGO

Dito Anurogo adalah dokter yang sedang berkarya dan mengabdikan diri di neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like