Sejarah Idul Adha dan Haji

Total
2
Shares
Sejarah idul adha dan haji

Sejarah Idul Adha – Idul adha merupakan hari raya umat islam yang juga disebut Idul qurban atau lebaran haji. Dimana ummat islam khususnya  melakukan ritual haji dan pemotongan hewan qurban.

Idul qurban jatuh 70 hari setelah hari raya idul fitri yaitu tepat pada tanggal 10 Dzulhijah.Yang dimana hari raya idul qurban juga merupakan hari tasyrik yaitu diharamkannya ummat islam untuk berpuasa.

Karena pada hari tersebut juga merupakan puncak dari ritual haji dimana dahulu nabi Muhammad SAW pada bulan Dzulhijah tanggal 10 beliau melakukan ritual melempar jumrah ‘aqobah yaitu melempar batu ke tiang batu yang berjumlah 3. Tiang tersebut dalam islam dilambangkan sebagai sosok iblis.

Juga merupakan ritual lainnya yang dilaksanakan Rosulullah SAW pada saat tanggal tersebut yaitu menyembelih hadyu, mencukur rambut kepala, dan juga melaksanakan thowaf ifadhoh.

Sejarah Idul Adha

sejarah idhul adha

Membahas tentang sejarah Idul adha tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang sangat penting dalam pandangan islam yaitu Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Keduanya merupakan ayah dan anak yang memiliki tingkat kepatuhan dan ketoatan yang luar bisa terhadap Allah SWT.

Nabi Ibrahim memiliki gelar Khalilullah yaitu kesayangan allah, yang terkenal dengan puteranya yaitu Nabi Ismail sebagai pendiri Baitullah. Beliau termasuk ulul azmi yaitu nabi yang memiliki tingkat ketabahan yang luar biasa kepada Allah. Sebagai nabi yang diutus oleh Allah kepada kaum Khaldan yang berada di negeri Ur.

Nama beliau disebut di Al qur’an disebut sebanyak 69 kali dan juga diabadikan namanya dalam salah satu surrah di Al qur’an. Sejarah Idul adha dan haji merupakan wujud peringatan perayaan kisah pengabadian, berbaktinya Nabi Ibrahim dan Ismail kepada Allah SWT.

Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail

kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail

Dahulu kala Nabi Ibrahim AS memberikan kurbannya kepada Allah SWT yaitu 1000 ekor kambing, 300 ekor lembu dan 100 ekor onta. Para malaikat dan orang-orang merasa kagum atas semua kurban dari nabi Ibrahim AS.

Kemudian Nabi ibrahim berkata: “Semuanya yang telah aku kurbankan tidak ada apa-apanya bagiku, demi allah seandainya aku memiliki seorang anak laki-laki, tentu aku bersedia menyembelihnya demi kepentingan fisabilillah (di jalan Allah) dan akan aku kurbankan untuk Allah SWT.

Nabi Ibrahim sangat mengidam-ngidamkan memiliki seorang putera, Sarah yang merupakan isteri beliau mengetahui akan hal itu sedangkan dirinya mandul. Kemudian Sarah memberikan budaknya kepada wanitanya kepada Nabi Ibrahim agar beliau memiliki keturunan yang di idam-idamkan.

Waktu berjalan begitu saja hingga akhirnya Nabi Ibrahim As pun lupa akan janjinya tersebut kepada Allah SWT. Beliau kemudian datang ke tanah suci (ardhul muqaddasah) setelah itu beliau berdoa kepada Allah agar Allah mengaruniakan seorang anak kepadanya.

Kemudian allah pun mengabulkan doa beliau sembari memberikan kabar gembira yaitu akan terlahirnya putera beliau. Kemudian Siti hajar hamil dan melahirkan seorang putera yang diberi nama Ismail.

Firman Allah: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) Ibrahim.”

Yaitu ketika anak itu dapat berjalan dengan baik, pada usia 7 tahun, ada yang mengatakan usia 13 tahun. Dikatakan oleh Ibnu Abbas ra, bahwasanya pada saat malam Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijah), tatkala Nabi ibrahim sedang tidur pulas, ada seseorang berkata “Penuhilah nadzarmu yang dahulu pernah kamu katakan”.

Setelah Nabi Ibrahim terbangun dari mimpinya kebimbangan pun melanda hati beliau. Apakah mimpi itu dari allah ataukah setan? Itulah asal muasal hari itu dikatan hari Tarwiyah. Dan malam harinya mimpi yang sanma juga terjadi lagi.

Hingga pada pagi harinya beliau mengetahui bahwasannya mimpi itu memang benar dari Allah. Kemudian pada malam ke-3 beliau juga bermimpi yang sama. Maka dikarenakan mimpi yang berulang tersebut beliau telah membulatkan tekadnya untuk menyembelih puteranya. Dan hari itu dinamakan hari penyembelihan (yaumun nahar).

Kemudian Nabi Ibrahim meminta kepada Siti hajar untuk memakaikan pakaian yang paling bagus diantara pakaian-pakaian yang dimiliki Ismail. Ismail pun diajak beliau menuju kearah Mina sambil membawa tali dan sebilah pisau.

Iblis pun melihat kejadian itu merasa gelisah, sementara Ismail kecil itu berlarian didepan ayahnya. Iblis datang kepada ayah Ismail: ” Tidaklah engkau melihat benar-benar melihat kesempurnaaan tubuh, ketampanan wajah, dan kelembutan tingkah lakunya?”

Nabi Ibrahim menjawab: “Ya tapi sudah diperintahkan untuk melakukan penyembelihan itu.” Tak kekurangan cara iblis pun mendatangi Siti hajar sambil berkata: ” Bagaimana kamu enak-enakan duduk sedangkan ibrahim membawa pergi anakmu untuk disembelih.”

Namun upaya iblis pun sia-sia juga. Lalu Iblis juga menghampiri Ismail kecil itu sambil berkta: “Kamu kelihatan sedang bermain-main dan berbahagia, padahal ayahmu membawa pisau hendak menyembelihmu.”

Singakat cerita dari percakapan tersebut Ismail kecil menjawab: “Kami senantiasa patuh dan tunduk pada perintah Tuhanku.” Ketika iblis ingin melanjutkan perkataannya, maka Ismail kecil mengambil batu kerikil dan melemparkannya kearah iblis.

Hingga iblis mengalami kebutaan dimata sebelah kirinya karena lemparan itu. Dan kisah itu digambarkan dari ritual haji yang wajib dilakukan yaitu melempar jumrah. Setelah keduanya sampai di Mina, beliau berkata pada puteranya sesuai firman Allah:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ

Artinya:
“Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka renungkanlah apa pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffaat: 102)

Ismail menjawab,dalam firman Allah:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya:

“Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,insayaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS.Ash-Shaffaat: 102)

Maka beliau bertahmid sebanyak-banyaknya kepada Allah, kemudian Ismail kecil berpesan pada ayahnya:

  1. Ikatlah tanganku supaya aku tidak dapat bergerak keras, agar hatimu tersayat.
  2. Hadapkanlah wajahku ketanah, agar engakau tidak menjadi kasihan kepadaku.
  3. Sisingkan lengan bajumu agar darahku tak mengenainya, sehingga pahalaku tak berkurang, dan ibuku tak bersedih melihatnya.
  4. Tajamkanlah pisaumu dan cepatkanlahmenggerakkannya diatas tenggorokanku, agar mudah dan ringan karena kematian itu terlalu berat.
  5. Bawalah bajuku kepada ibuku agar dapat dijadikan kenangan dariku untuknya.
  6. sampaikanlah salamku untuk ibuku agar tabah dan sabar menerima perintah Allah.
  7. Jangan ceritakan padanya bagaimana engkau mengikatku dan menyembelihku.
  8. Jangan engkau bawa anak-anak pada ibuku agar tidak membangkitkan kesedihannya.
  9. Jika engkau melihat anak-anak seusiaku jangan kau perhatikan agar kau tak gelisah dan sedih karenaku.

Peristiwa dilakukan penyembelihan itu di Mina, ada juga yang mengatakan didekat Mina. Ibrahim meletakkan pisau diatas tenggorokan Ismail. Singkat cerita Allah menyelamatkan Ismail dan menggantikannya dengan binatang sembelihan yang besar.

Yaitu seekor domba yang pernah hidup disorga, yang dahulu kala merupakan domba yang dikurbankan oleh Habil yang telah diterima oleh Allah. Domba itu dibawa malaikat Jibril hingga melihat Nabi Ibrahim menggerakkan pisaunya. Kemudian Nabi Ibrahim mengganti Ismail dengan menyembelih domba tersebut.

Inilah secuil kisah yang penuh hikmah dari para kekasih Allah yang menjadi asal muasal disunnahkannya untuk menyembelih kurban. Dimana terciptanya sebuah aturan dalam syariat yang mengandung nilai history serta banyak sekali pelajaran yang bisa diambil.

Sumber referensi: Usman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir Al Khaubawi, Durrotun Nasikhin

BACA ARTIKEL TERKAIT:

 

3 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
perkembangan bahasa indonesia

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

Sejarah – Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi atau nasional yang digunakan oleh negara Indonesia. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah perkembangan bahasa Indonesia? Pada umumnya, bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa…
View Post