Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Total
1
Shares

Sungguh hingga hari ini saya masih ingat betul betapa Bu Johana, guru matematika kami waktu SMA memaksa kami satu kelas untuk mengerjakan soal matematika dari buku yang menjadi pegangan waktu itu.

Tidak peduli kami suka atau tidak dengan matematika, semua diperlakukan sama oleh beliau. Setiap anak harus menyediakan buku tersendiri untuk mengerjakan semua tugas matematika. Sehingga selain dari rumus-rumus matematika, kami harus pula mengingat buku tugas dan catatan yang sewaktu-waktu akan diperiksa oleh beliau.

Akhirnya saat itu pun tiba, ketika Bu Johana harus memeriksa setiap catatan dan buku tugas. Tegas, disiplin dan tanpa kompromistis, adalah tiga kata yang demikian melekat untuk menjelaskan bagaimana seorang Bu Johana sebagai guru matematika.

Disediakannya waktu satu jam pelajaran penuh, untuk memeriksa buku catatan dan tugas siswa. Setiap anak akan dipanggil berdasarkan nomor absensi masing-masing, untuk mempertanggung jawabkan tugasnya.

Seperti seorang jaksa yang sedang memeriksa, dengan teliti beliau memeriksa lembar demi lembar buku tugas kami. Jangan harap ada yang terlewat saat buku tugas diperiksa Bu Johana, urut tidaknya nomor soal yang dikerjakan, benar atau salah pekerjaan siswa hingga nama kode soal dan jumlah soal yang ada dibuku dengan apa yang ada dibuku tugas siswa tidak akan ada yang luput untuk diperiksa.

Jika ternyata ada yang tidak lengkap, cubitan yang keras dibagian perut pasti tidak lupa dihadiahkan oleh Bu Johana. Namun entah mengapa kami semua bersedia bertahan tanpa syarat dalam pembelajaran beliau selama 1 tahun. Satu hal yang membanggakan saat itu adalah untuk pelajaran sesulit matematika, nyaris tidak ada satupun dari kami yang mendapat nilai jelek.

Hari ini kami memahami bahwa pelajaran berharga yang sebenarnya ingin diajarkan oleh Bu Johana pada kami adalah tentang pentingnya pendisiplinan diri. Pemaksaan untuk mengerjakan setiap tugas matematika yang tidak jarang jumlahnya puluhan, ternyata mampu membuat kami lebih mudah memahami.

Konsep “learning by doing” memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja bagi para guru. Terlebih bagi mereka yang mengajarkan pelajaran ilmu pasti yang sarat dengan deretan rumus-rumus. Tanpa latihan yang teratur deretan rumus itu akan mudah lenyap bergitu saja ditengah rekaman kognitif yang harus diingat siswa sehari-hari.

Membiasakan diri

Pepatah jawa pernah mengatakan bahwa “witing tresno jalaran soko kulino”, betapa rasa suka atau minat seseorang akan muncul dengan sendirinya melalui sebuah pembiasaan. Prinsip inilah hari ini yang jarang sekali kita temukan diterapkan oleh guru-guru kita pada pembelajaran dikelas. Padahal manifestasi falsafah ini lahir dan telah teruji beratus juta tahun sebelum guru-guru itu lahir.

Seorang anak akan cinta dengan buku saat dia dikenalkan dengan buku sejak dini. Karena sudah terbiasa maka seorang petani akan dengan rela bangun dipagi yang dingin untuk berangkat ke sawah bersua dengan padi yang ditanamnya.

Tentunya membangkitkan minat siswa pada hal yang bersifat kongkret lebih mudah dari pada kita mengenalkan konsep materi yang cenderung bersifat abstrak. Betapa kita tahu bahwa dengan mudahnya anak kita memintai video game hingga terkadang lupa waktu, hingga beralamat pada turunnya prestasi belajar si anak di sekolah.

Sungguh kita menyaksikan betapa persaingan dunia sekolah dengan dunia televisi, yang selalu mengalahkan dunia sekolah lantaran dunia sekolah yang membosankan. Anak-anak kita pun akan menyatakan hal yang sama saat ditanya lebih membosankan mana antara sekolah dan televisi.

Dalam era seperti ini terasa penting sekali membangkitkan pembelajaran seperti yang diterapkan Bu Johana diatas. Disini guru tidak perlu memaksa siswa untuk menerima mentah-mentah materi pelajaran.

Tetapi lebih merupakan upaya guru untuk membiasakan siswa pada kondisi yang dapat menstimulus potensi yang dimilikinya. Melalui pembelajaran yang diterapkan oleh Bu Johana kita dapat peroleh sebuah pelajaran berharga bahwa tanpa pemaksaan kedisiplinan tidak akan lahir.

Setelah kedisiplinan terbentuk maka akan terbentuk kebiasaan dan pada akhirnya kebiasaan akan melahirkan kebutuhan. Membentuk siswa-siswa yang “butuh” pelajaran bukankah itu tujuan setiap guru, agar siswa menjadi pribadi yang senantiasa “haus” akan pengetahuan.

Pembiasaan (habituation) yang dilakukan oleh guru merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang. Menurut Champbell dan Champbell selain bertujuan mengubah perilaku negatif menjadi positif, pola pembelajaran ini mampu melahirkan perilaku yang semula tidak dimiliki oleh seseorang.

Disinilah guru berperan untuk memberikan penguatan-penguatan (reinforcement) kepada siswa melalui sebuah keteladanan. Sebuah penelitian membuktikan bahwa, 25% anak memperhatikan nasihat, 18% melakukan yang sebaliknya, dan 57% tidak melakukan apa pun.

Dari penelitian itu hanya 1 dari 4 anak yang memperhatikan nasihat orangtua dan guru. Sungguh disini menjadi demikian jelas betapa arti keteladan seorang guru berperan besar dalam pembentukan kepribadian siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Cara Penulisan Footnote yang Benar

Edukasi – Di dalam karya tulis yang berjenis ilmiah ataupun non-ilmiah, mengandung referensi dari buku, majalah, internet, surat kabar, jurnal, dan lain-lain sudah sepatutnya dicantumkan catatan kaki atau footnote. Hal…
View Post