Tradisi Ilmiah yang Kuat

Seperti biasanya Devi berpamitan dengan kedua orang tunya untuk berangkat sekolah dipagi hari. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lebih memilih bersekolah di SMA sedang Devi lebih memilih bersekolah di SMK, maklum setelah lulus SMP ekonomi keluarga Devi tidak seperti dulu.

Usaha warung pecel yang dikelola orang tuanya sudah tidak seramai dulu, pasar di dekatnya kini sudah pindah ke pinggiran kota, sedang lokasi strategis masih belum dapat juga sampai sekarang.

Besar harapan Devi setelah lulus SMK dia akan langsung bisa bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya.

Tentunya Devi hanya sebagian potret siswa SMK yang rata-rata berangkat dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, tanpa ingin mengkategorikannya miskin. Sebagai wali kelas sering sekali saya jumpai anak-anak seperti itu, namun jarang yang bersemangat seperti Devi.

Umumnya mereka adalah siswa yang tertinggal dalam pelajaran, sering bermasalah dengan guru hinga harus menjadi pelanggan tetap konseling guru BP disekolah. Dan mungkin itulah mengapa beberapa guru menganggap murid miskin sebagai kutukan, sudah bodoh, miskin hidup lagi, atau kata-kata tidak pantas lain yang terkadang terlontar ketika menghadapi mereka.

Anak-anak dari keluarga miskin karena keterbatasannya nyaris tidak memiliki banyak pilihan, jika dibandingkan dengan anak-anak lain yang berasal dari keluarga mampu. Demikian halnya saat mereka memilih sekolah, pilihan akhirnya jatuh pada sekolah miskin, boleh negeri atau swasta tapi tentu dengan kualitas guru dan sarana prasarana yang terbatas pula.

Dibandingkan dengan mereka yang mampu yang sanggup bersekolah dikota, sekolah dengan semua fasilitas dan guru-guru yang bersemangat karena kesejahteraannya tercukupi. Tetapi disekolah-sekolah miskin semua berkebalikan, selain fasilitas yang kurang mendukung hingga guru-guru yang adapun hanya mereka-mereka yang karena keterpaksaan harus terus mengajar.

Dibandingkan kesejahteraan guru-guru dikota para guru ini tentu masih jauh layak, sehingga sisa waktu setelah mengajar selalu mereka manfaatkan dengan maksimal sekedar untuk mempertahan dapur mereka tetap menyala.

Pilihan untuk absen mengajar adalah hal yang lazim oleh para guru-guru ini, untuk sekedar menambah penghasilannya. Inilah yang menyebabkan sekolah-sekolah miskin, kurang prestasi. Suasana pembelajaran yang kering dan monoton adalah hal jamak yang ditemui oleh siswa-siswa mereka setiap hari.

Hanya buku catatan yang mereka punya untuk belajar setiap hari, selebihnya mereka tidak mampu beli dan kalaupun ada buku mereka harus berbagi karena jumlahnya tidak banyak.

Sehingga kita harus maklum apabila mereka tidak memiliki wawasan yang cukup luas. Kehidupan sekolah seperti inilah yang sebagian mereka serap belum lagi kerasnya hidup dengan ekonomi keluarga yang pas-pasan, membuat sekolah hanya menjadi sebuah pelarian dan hiburan daripada bekerja dirumah.

Merek tidak pernah difahamkan tentang arti belajar, dibiasakan dengan latihan-latihan soal yang beraneka ragam, eksperimen-eksperimen yang mengasah semua kecerdasannya. Inilah penyebab mengapa kecerdasan mereka ada dibawah rata-rata, siswa-siswa bagi saya bukanlah anak yang bodoh hanya nasiblah yang menjadikan mereka demikian.

Pembentuk kepribadian
Seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1632-1704) pada akhir abad 17, mengemukakan bahwa faktor pengalaman dan pendidikan merupakan faktor yang paling menentukan dalam perkembangan kepribadian anak, anak digambarkan secarik kertas yang masih bersih.

Jadi coretan yang meninggalkan jejak kertas itu, menentukan bagaimana kertas itu jadinya. John Locke memperkenalkan teori “Tabula rasa” yang mengungkapkan pentingnya pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup terhadap perkembangan anak.

Ketika dilahirkan seorang anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsang-rangsang yang terjadi di lingkungan orang tua dan keluarga yangmenjadi lingkungan terdekat abak menjadi tokoh penting dalam mengisi “secarik kertas” yang bersih itu. Pandangan John locke ini dikenal dengan empirisme (pengalaman) atau Environment (lingkungan).

Atas dasar inilah, kegiatan-kegiatan yang dilakukan disekolah pada hakikatnya diarahkan pada pembentuk kepribadian siswa untuk mengerti akan hak dan kewajibannya dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itulah, kegiatan disekolah selalu bernafaskan pendidikan dan penguasaan.

Setiap siswa dibiasakan untuk melakukan kegiatan secara teratur mulai dari masuk kelas dengan tertib hingga latihan-latihan soal secara continue hingga menempuh ujian yang terstandarkan.

Pembiasaan inilah yang menyebabkan sekolah memiliki peran besar dalam membentuk perilaku ilmiah siswanya. Perilaku ilmiah inilah yang saya sebut sebagai tradisi ilmiah, tradisi untuk bertanya, berfikir sistematis, membaca buku untuk menemukan jawaban dan menarik kesimpulan yang terbaik.

Semua itu tentunya adalah sesuatu yang nyaris tidak dibiasakan terjadi disekolah-sekolah miskin dan tidak berlaku pada anak-anak miskin yang harus bergelut dengan kerasnya hidup setelah sekolah.

Oleh karena itu semua mereka nyaris tidak memiliki tradisi ilmiah yang kokoh yang membentuk pribadinya menjadi pembelajar yang baik. Dan bukannya maklum dengan kondisi ini, para guru lebih sering mengolok-olok mereka karena kesialan yang tidak pernah mereka inginkan.

Para guru selalu membanggakan kebanggaan yang semu, saat siswa-siswa mereka meraih nilai terbaik, padahal untuk itu mereka harus mengikuti bimbingan belajar diluar sekolah. Keberhasilan mereka tidak lahir semata dari guru mereka sendiri, karena mereka pada dasarnya memang anak-anak yang pandai dan memiliki semua fasilitas.

Lalu, dimanakah kebanggaan guru saat dihadapan mereka adalah anak-anak miskin, yang lebih butuh diyakinkan dan mendapat perlakuan yang lebih manusiawi.

Untuk anak-anak seperti Devi seorang guru harus membangun mereka menjadi pribadi yang kuat, dan akrab dengan pengetahuan. Sehingga mereka menjadi sangat percaya diri tanpa lagi merisaukan kemalangan yang mereka alami hingga harus mengalami keterbelakangan pribadi (inferior complex).

Disinilah guru memaksimalkannya sebagai bentuk penelitian tindakan untuk mencari solusi permasalahan yang terjadi. Menanamkan pada diri mereka bahwa tidak semua orang mampu untuk meraih semua mimpinya, tetapi orang yang berhasil bisa lahir dari siapa saja.

Pada gilirannya sekolah akan mampu melakukan fungsinya secara dinamis untuk membangun tradisi pengetahuan yang kuat, sebuah tradisi yang lahir dari para guru yang memaknai profesinya lebih dari profesi itu sendiri.

Sebab pada akhirnya bagi anak-anak miskin sebuah dukungan akan lebih berarti dari pada cacian yang hanya mengingatkan betapa kerasnya hidup yang harus mereka jalani.

Leave a Reply