√ Contoh Cerpen Persahabatan Singkat

Cerpen Persahabatan – Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek. Karya sastra yang satu ini bisa dengan mudah Anda temukan di berbagai buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya.

Salah satu tema yang kerap digarap oleh para penulis adalah persahabatan. Meskipun cerpen merupakan sebuah karangan fiktif, tapi penulisannya tidak boleh asal-asalan.

Setidaknya, ada beberapa hal yang mesti dipahami oleh penulis dalam membuat Cerpen persahabatan Singkat, yaitu; tema, tokoh, penokohan, latar, alur, gaya bahasa, sudut pandang, serta amanat atau pesan moral. 

Berikut adalah beberapa contoh cerpen singkat persahabatan dan ulasannya :

Contoh Cerpen Singkat Persahabatan # 1

cerpen persahabatan

Judul : Secuil Filantropi dari Bani

Murid laki-laki yang ada di pojok kelas itu namanya Bani. Ia cuma menyendiri sepanjang hari. Kerjanya cuma melamun. Sudah puluhan kali dia dilempar kapur sama Bu guru Rina.

Kali ini sama, potongan kapur melayang dan tepat mengenai jidatnya. Salah sendiri, waktu Bu Rina sedang menjelaskan tentang perkalian dan pembagian pada pelajaran Matematika, ia malah asyik melihat burung gereja di ranting-ranting pohon bougenvile.

Tidak jarang dia di-bully, aku salah satu pelakunya. Bagaimana tidak? Kadang di hidungnya masih ada sisa ingus. Dia juga sepertinya jarang mandi.

Mulutnya bau, badannya bau, bajunya nggak putih, tapi krem. Bahkan, ada lubang-lubang di bagian bahunya. Dia tidak pernah jajan. Dia selalu bawa bekal, kadang isinya tahu goreng, kadang tempe, pernah juga sama ikan asin.

Baunya menguar sampai ke seluruh kelas. Tentu saja aku tahu, aku sering mengambil paksa kotak bekal dari bekas es krimnya. Lalu, menjatuhkan isinya dengan sengaja.

Dia memungutinya, ditiup-tiup, lalu dimakan lagi. Ih, jijik! Dan yang membuat aku sebal, dia hanya diam waktu kukerjai. Iya, hal yang membuat penindas merasa semakin benci adalah saat dia hanya diam tanpa melawan.

Kalau dia menantangku berkelahi tentu akan semakin seru. Bu guru pasti akan membelaku. Aku kan, perempuan.

Tapi, hari ini aku tidak ada niat mengerjainya. Aku lapar, aku tidak sarapan tadi pagi. Mama pergi tidak tahu ke mana. Aku tanya pada papa, tapi dia bilang mama ke neraka.

Di meja makan tidak ada makanan. Isi kulkas berantakan dan berceceran di lantai. Aku berangkat sekolah tanpa mandi. Huh, aku pasti bau seperti Bani.

Teman-temanku ke kantin semua. Aku lemas, tidak ada tenaga. Uang juga tidak punya. Setelah bilang mama ke neraka, papa pergi ke kantor.

Dia tidak memberiku uang saku. Aku cuma tiduran di meja. Kelas sepi, cuma ada aku … dan Bani. 

Ya ampun, sejak kapan dia di sampingku? Lalu, memberiku kotak bekalnya. “Kamu nggak jajan, hari ini, ibuku dapat ayam dari kenduri tetangga. Makan aja, aku nggak lapar.” 

Aku pandangi bekal itu, lalu ke arah Bani. Bau ayamnya enak sekali. Tapi, aku malu, selama ini jahat pada Bani.

Dia sebenarnya pandai, hal yang membuat si penindas malu adalah kebaikan yang ditawarkan oleh orang yang ditindas.

“Makan aja, aku udah maafin kamu, Cindy!”

Aku jadi tersenyum padanya. Ah, kamu memang aneh, Bani. Tapi, aku mulai menyukaimu. Kenapa Kamu sebaik itu?

Padahal, bisa saja ia gantian mengerjaiku. Justru dia memilih hal yang berbeda. Aku jadi belajar padanya, untuk melelehkan hati yang beku, yang dibutuhkan adalah kehangatan.

Mungkin, aku harus memberitahukannya pada Papa dan Mama. Supaya tidak kudengar lagi teriakan demi teriakan yang memekakkan telinga atau suara gaduh benda-benda yang dilempar sembarangan.

Aku menyuapkan nasi ke dalam mulut.

Sementara Bani kembali ke mejanya, lalu menatap gumpalan langit yang seperti kapas. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Dia berhasil mengalahkan aku. Huh, menang telak.

Unsur Intrinsik

Tema : kedermawanan

Tokoh : Cindy dan Bani

Alur : Maju

Latar : Tempat; ruangan kelas, waktu; jam istirahat, suasana; bahagia

Gaya bahasa : Bahasa anak-anak yang polos

Amanat : Cara terbaik untuk membuat penindas merasa malu adalah dengan berbuat baik padanya. 

Contoh Cerpen Persahabatan #2

cerpen persahabatan

Judul : Sirius

“Menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh orang tua seorang gadis pada laki-laki yang membawa pergi tepat di H-2 pernikahannya?” Azmi membawa dua cup kopi hitam panas, lalu duduk di sampingku.

“Dipolisikan, atau mungkin … dibunuh!” Aku terkekeh melihatnya mengedikkan bahu. Kusambar satu kopi di tangannya, lalu ku teguk perlahan.

Aku kembali menggarang telapak tangan di atas bara api. Sesekali, kurapatkan jaket gunung yang melekat di badan.

“Pulanglah, Zia!” Azmi menatapku penuh harap.

Aku menggeleng. Aku … tidak mau menikah dengan laki-laki itu!

Azmi membuang napasnya. Berat. Aku tahu, beban baginya mengiyakan permintaan kabur menjelang hari pernikahanku. Meskipun dia sahabatku, keluarga akan berpikir macam-macam tentang kami.

“Kamu tahu, kapan saat terbaik melihat bintang Sirius?” Aku tahu, dia sedang membujukku dengan cara berbeda.

Seketika tatapanku beralih ke angkasa yang penuh dengan hamburan gemintang. Indah! Tak salah kalau orang-orang menamai tempat ini dengan Bromo Milkyway.

Akan sangat menyenangkan melakukan stargazing bersama sahabat terdekatku seandainya tidak dalam keadaan sulit ini.

“Hmm, Desember atau … Januari?” Aku menerka.

“Bukan, tapi saat tengah malam, di mana langit menunjukkan warna pekat sempurna.” Azmi menatapku.

Pekat sempurna, seperti hidupku saat ini. Bagaimana tidak? Harusnya aku tengah bahagia dan memoles diri, justru harus merasa muak dengan calon suami.

Laki-laki yang sejak tiga hari lalu ku catat dalam daftar hitam dan enggan kutemui. 

Masih kuingat betul betapa menjijikkannya rupa laki-laki itu kala kudapati tengah bergandeng mesra dengan seorang perempuan asing. Aku … remuk redam.

Sulit untuk ku jelaskan bagaimana rasanya secara pasti. Dia hanya berkilah, ini adalah kado dari pesta lajang yang dibuat oleh teman-temannya.

Astaga! Sudah bisa dipastikan kalau laki-laki ini dungu! Dan aku … lebih dungu karena pernah mencintainya.

“Kalau begitu, Kamu Siriusku, Mi!” Azmi tersenyum. 

“Kenapa tidak dari dulu mengatakan Kamu mencintaiku? Setidaknya, aku tidak akan mengalami kesakitan ini.” Mataku berembun.

Aku dan Azmi terjebak dalam ikatan persahabatan, sejak lama. Padahal, rasa berbicara hal yang beda. Mendadak air muka Azmi berubah datar. Matanya menerawang bintang-bintang.

“Ayo kita pulang. Setidaknya, Arya sudah minta maaf. Dia benar-benar menyesal, Zia!” Dia menatapku penuh harap.

“Aku … ingin bersamamu, orang yang tidak pernah menyakitiku.” Aku memeluk Azmi. Air mataku tumpah. Bagiku, bahu Azmi yang ternyaman di dunia.

Tapi, ia hanya selalu menjadi bengkel untuk memperbaiki sesuatu yang ada di kedalaman hati. Setelah pulih, aku hanya akan kembali berkelana.

Ia tak pernah jadi rumah bagiku. Saat ini, aku ingin Azmi jadi persinggahan terakhirku.

“Zi, pikirkan juga Mama dan Papa. Bagaimana malunya mereka kalau Kamu tidak ada saat akad nanti. Pernikahan tidak hanya tentang Kamu dan Arya, tapi juga tentang mereka.

Kamu bilang belum mampu membuat mereka bangga, setidaknya jangan buat mereka kecewa. Biarlah aku tetap menjadi Siriusmu.

Meskipun tidak selalu muncul, tapi aku selalu ada. Aku akan selalu menemanimu saat Kamu dalam keadaan tergelap sekalipun.” Ia mengelus rambutku yang berantakan.

“Tolong, pulanglah … demi aku.”

Aku menatap wajah Azmi, ada ketulusan di sana.

Kami duduk bersisian kembali, menatap jajaran gemintang yang bertebaran, membentuk orbit masing-masing. Menunggu hingga saat terbaik melihat Sirius.

Kami saling bergandeng tangan mungkin untuk terakhir kalinya.

Unsur Intrinsik

Tema : Persahabatan

Tokoh : Zia dan Azmi

Alur : Maju mundur

Latar : Tempat;Bromo Milky Way, waktu; malam hari, suasana; sedih

Gaya bahasa : Lugas

Amanat : Seorang sahabat seperti bintang di langit, ia mungkin tak selalu tampak, tapi ia selalu ada.

Contoh Cerpen Singkat Persahabatan #3

cerpen persahabatan

Judul: Anjing dan Restu

Aku duduk di gazebo depan gedung Fakultas Syari’ah dan Hukum Islam Universitas Sains Al-Qur’an. Hawa sejuk kota yang ada di dataran tinggi ini memaksaku mengenakan sweater.

Pun, kerudung burgundy dengan gamis senada. Tanpa penutup kepala dan pakaian syar’i, bisa jadi aku akan dicegah masuk oleh satpam kampus hijau ini.

Kedatanganku bukan tanpa alasan. Hampir seminggu hatiku gundah gulana. Setelah Mahardhika, kekasihku mengajak kawin lari. Ah, tentu saja kutolak.

Meski restu dari orang tuaku belum berhasil tersebut, setidaknya aku tidak akan melakukan hal seperti itu. 

Namun, hal yang lebih mengacaukan pikiranku tatkala ia menawarkan opsi lain.

“Ini namanya rajah. Kita bisa membalikkan pikiran Mama dan Papa dengan ilmu gaib. It’s win-win solution. Kamu nggak akan membuat malu keluarga, tapi kita tetap bisa bersama,” ucap Mahardhika seminggu lalu.

Aku bergeming, ini opsi yang menggiurkan. Sementara aku tidak perlu merasa jadi anak durhaka karena menentang orang tua. Serta bisa menikah dengan orang yang benar-benar kucintai.

“Aku pikirkan dulu.”

Tetap saja, ada yang mengganjal pikiranku. Jalan ini sangat mudah, tetapi aku takut salah langkah. Meski aku tak terlalu taat menjalankan syari’at.

Namun, aku tahu pasti dosa menyekutukan Allah takkan pernah terampuni. Jika aku percaya pada hal klenik semacam ini, bukankah berarti aku telah menduakan-Nya?

Saat pergumulan dalam pikiran semakin menjadi-jadi, aku ingat Hilyatul Auliya, teman kala SMA dulu, yang saat ini meneruskan kuliah di Kota Wonosobo sembari mengaji di PPTQ Al-Asy’ariyah demi menamatkan hafalan kitab suci hingga paripurna.

Aku ingin bertanya perihal masalah yang kian hari semakin mengganggu. Genap enam puluh menit aku menunggu di bawah teduhnya gazebo sampai terlihat gadis berjilbab syar’i berwarna hijau tosca berjalan ke arahku.

Ia sungguh tampak berbeda. “Ocha!” Suara lembutnya terdengar renyah di telinga. “Hilya!” Aku membalas dengan pelukan hangat. 

Senyumnya yang gemilang membuatku sadar bahwa Hilya adalah orang yang tepat untuk kujadikan sandaran tanya. Kami melanjutkan pertemuan ini dengan berbincang ringan.

Saling melepas rindu dengan kehangatan. Kami memutuskan untuk bercengkrama sembari menikmati sarapan pagi di warung ijo langganan mahasiswa.

Hilya memesankan seporsi Mie Ongklok khas Wonosobo dengan kudapan tempe kemul yang menggoda selera.

“Sebenarnya, selain mau silaturahmi, aku juga ingin bertanya satu hal.” Aku mengeluarkan kertas putih dengan tulisan Arab yang aku tidak mengerti maknanya di sela-sela menunggu makanan yang dipesan.

“Ini … untuk apa, Cha?” Respon Hilya saat kutunjukkan kertas itu padanya.

“Pacarku yang memberikan ini. Katanya untuk merubah pikiran orang tua. Kamu tahu? Hubungan kami tidak disetujui.

Menurutnya, ini solusi mudah agar kami bisa lanjut ke jenjang pernikahan. Bagaimana, Ya? Apa ini termasuk syirik?”

Hilya masih mengamati benda yang kuberikan tadi. Ia tak serta merta menjawab. Mungkin menganggapku sudah terlalu jauh tersesat. Ah, entahlah.

“Kita obrolkan ini nanti. Aku takut jadi menggurui. Sebab, ilmuku masih terlalu dangkal. Nanti kupertemukan dengan orang yang memiliki ilmu hikmah saja.

Kita bertanya pada beliau.” Hilya tersenyum. Aku mengangguk setuju, percaya pada Hilya sepenuhnya.

****

Aku mengamati ruangan yang penuh dengan buku-buku tebal. Pada beberapa bagian dinding terpasang kaligrafi.

Sementara laki-laki paruh baya itu duduk di kursi kerja sembari mengamati satu-persatu tumpukan kertas di atas meja. Beliau adalah dosen Ilmu Tasawuf yang mengampu Hilya.

Laki-laki berkacamata itu meletakkan pena dan mengalihkan pandangan pada kami berdua.

“Bagaimana Mbak Hilya, ada yang bisa saya bantu?” 

“Saya bersama teman saya ingin menanyakan satu hal.” Hilya lantas menceritakan masalah yang membuat hatiku masygul sepanjang waktu. Ia juga menyerahkan rajah yang kuberikan padanya.

Pak Alif, dosen itu, mengangguk tanda mengerti. Lantas ia tersenyum jumawa.

“Anda tahu mengenai Hachiko?”

Aku dan Hilya mengangguk serempak. Namun, aku justru menerka-nerka maksud pertanyaan yang sungguh melenceng dari permasalahanku. Apakah benar beliau adalah orang yang menguasai ilmunya para sufi? 

“Hachiko adalah lambang kesetiaan dan kepatuhan seekor anjing pada majikannya. Ia bahkan menunggunya di stasiun Shibuya hingga bertahun-tahun setelah majikannya meninggal.

Siapa majikan Hachiko?” Ia melempar pandang padaku. “Kalau tidak salah … emm … Hidesaburo Ueno,”jawabku ragu-ragu.

“Maksud saya, orang yang dipatuhi oleh anjing adalah yang sudah merawatnya, memberinya makan, memberinya tempat berteduh, dan sudi menampungnya. Emh, berapa usia Anda?”

Aku mulai dapat membaca arah pembicaraannya. Tiba-tiba ada bagian tubuh yang terasa nyeri. Sesuatu di dalam rongga dada ini.

“23 tahun.” Suaraku bergetar.

“Selama 23 tahun, Anda diberi makan, dirawat, disekolahkan, dilimpahi kasih sayang. Lalu, jika Anda ditawari benda ini dan menerimanya, pantaskah saya mengatakan Anda lebih baik dari seekor anjing?”

“Tidak!” Jawabku tegas. ‘Aku tidak lebih baik dari seekor anjing.’

Ada yang panas di sekitar mataku. Melelehkan kristal air mata hingga bulir bening itu meluncur mulus di pipi. Aku melihat bayangan ibu dan ayah di benakku. Hilya menepuk bahuku perlahan.

“Pulanglah, Mbak. Laki-laki itu tidak baik untukmu. Jadilah manusia yang lebih baik dari anjing. Rajah ini, sebaiknya Anda kembalikan padanya. Saya sungguh mendoakan Anda mendapat jodoh laki-laki yang sholih.”

Pak Alif mengakhiri pembicaraannya seiring dengan semakin menguatnya isakku.

****

Unsur Intrinsik

Tema : Persahabatan

Tokoh : Ocha, Hilya, dan Pak Alif

Alur : Maju mundur

Latar : Tempat; Universitas Sains Al-Qur’an, waktu; pagi hari, suasana; sedih

Gaya bahasa : Lugas

Amanat : Kita harus selalu mendapatkan restu orang tua untuk segala hal yang akan dilakukan.

Nah, itulah 3 contoh cerpen singkat persahabatan beserta ulasan mengenai unsur intrinsiknya.

Selain contoh cerpen tadi, tentu masih ada banyak lagi contoh lainnya yang bisa Anda temukan, selagi Anda rajin membaca. Jadi, jangan pernah berhenti untuk terus membaca.

Kini, apakah Anda merasa tertarik dan tertantang untuk bisa membuat sebuah cerpen?

Atau, berencana untuk menulis cerpen bersama dengan sahabat? Apapun itu, semoga contoh tadi bisa dijadikan inspirasi.

BACA JUGA : 

Leave a Reply