Mengenal Suku Asmat: Kebudayaan, Adat Istiadat dan Ragam Keunikannya

adat suku asmat

Budaya – Pernahkah anda mendengar suku Asmat? Darimana suku Asmat berasal? Bagaimana sejarahnya? Apa bahasa yang digunakan? Bagaimana bentuk rumah adatnya? Apa saja kebudayaan suku Asmat? Simak semua penjelasannya di bawah.

Suku Asmat adalah suku yang berasal dari provinsi Indonesia paling Timur, Papua. Suku ini tinggal di bagian timur dari Indonesia, atau wilayah Papua. Asmat termasuk salah satu suku yang sangat terkenal di Indonesia karena memiliki tradisi yang unik dan eksistensinya yang masih terjaga hingga saat ini. Dalam keseharian mereka, orang Asmat memiliki kebiasaan yang cukup berbeda dari suku lainnya.

Perlu diketahui bahwa Asmat merupakan suku dengan populasi terbesar di kawasan Papua. Penduduk atau kelompok suku Asmat dapat ditemukan persebarannya di pedalaman Papua dan ditepi pantai. Nah, salah satu cermin kehidupan dari suku ini adalah masalah kebudayaan.

Meskipun tinggal di pedalaman yang memiliki cukup banyak keterbatasan, anggota suku ini memiliki kebudayaan yang cukup luhur dan masih terjaga hingga saat ini. Selain itu, ada beberapa fakta unik dari suku Asmat yang membuat cukup banyak orang luar –termasuk mancanegara, penasaran dengan suku ini dan ingin berkunjung ke kediaman mereka di Papua.

Kebudayaan Suku Asmat

Kebudayaan Suku Asmat

Sebagaimana suku lainnya yang berdiam di Indonesia yang memiliki upacara adat, suku Asmat juga termasuk salah satu suku yang memiliki beberapa upacara adat yang masih dijalankan hingga saat ini. Upacara adat dari orang-orang Asmat meliputi beberapa hal dalam kehidupan mereka.

Dalam hal ini, adapun beberapa ragam upacara adat yang dijalankan oleh orang Asmat adalah sebagai berikut:

1. Ritual Kematian

Orang-orang Asmat memiliki pemikiran yang cukup unik perihal kematian. Pasalnya, suku Asmat beranggapan bahwa kematian bukanlah suatu hal yang ilmiah. Dalam kepercayaan mereka, kematian diartikan bahwa ada roh jahat yang bernaung dan mengganggu seseorang hingga akhirnya ia meninggal.

Oleh karena itu, dalam tradisi Asmat, mereka akan membuatkan pagar dari pohon nipah di rumah mereka. Pagar tersebut adalah bentuk benteng yang dibuat agar roh jahat yang berkeliaran di sekitar mereka tidak bisa mendekati seseorang yang sakit tersebut.

Selain itu, mereka juga hanya akan berkerumun di sekeliling seseorang yang sakit tersebut tanpa mengobati atau memberikannya makanan. Namun, ketika seseorang yang sakit tersebut akhirnya meninggal, mereka akan berebut untuk memeluk dan menggulingkan badan di lumpur.

Upacara kematian yang dilakukan orang-orang Asmat termasuk unik dan cukup menyeramkan. Ketika seseorang yang sakit tersebut akhirnya meninggal, mayatnya akan diletakkan di atas anyaman bambu dan dibiarkan hingga membusuk. Setelah itu, tulang belulang mayat tersebut akan disimpan di atas pokok-pokok kayu dan tengkorak mayat diambil untuk dijadikan bantal.

Dalam kelompok Asmat yang lain, perlakukan terhadap mayat juga berbeda. Kelompok lain memperlakukan mayat dengan menaruhnya di atas perahu lesung dan diberi bekal sagu untuk kemudian dihanyutkan ke laut.

Selain itu, ada pula kelompok suku Asmat yang menguburkan mayat dengan ketentuan mayat laki-laki akan dikubur tanpa mengenakan busana sedangkan mayat wanita mengenakan busana. Nah, mayat tersebut akan dikuburkan di hutan, pinggiran sungai atau semak-semak. Setelah itu mereka akan membuatkan ukiran orang untuk sang mayat dan ditempatkan di rumah.

2. Upacara Mbismbu

Upacara adat kedua yang dilakukan oleh suku Asmat adalah upacara Mbismbu. Ini adalah upacara membuat tiang atau sejenis ukiran patung tonggak. Ukiran patung ini ditunjukkan untuk nenek moyang atau kerabat dari orang Asmat yang sudah meninggal.

Nah, fungsi dari tiang ini adalah untuk mengingat bahwa ada kerabat mereka yang sudah meninggal atau terbunuh. Jika kerabat tersebut meninggal karena terbunuh, dalam adat Asmat maka ada keharusan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk membalaskan dendam pada seseorang yang sudah membunuhnya tersebut.

3. Upacara Tsyimbu

Upacara tsyimbu adalah salah satu upacara adat yang dilakukan oleh suku Asmat. Upacara ini juga disebut dengan upacara pembuatan dan pengukuhan rumah lesung. Ini adalah upacara yang dilakukan setiap 5 tahun sekali.

Nah, dalam upacara ini, suku Asmat akan membuat sebuah perahu. Perahu tersebut kemudian akan dicat dengan warna merah berseling putih di bagian luar dan warna putih polos di bagian dalam. Perahu tersebut juga akan diukir dengan gambar keluarga yang sudah meninggal atau gambar binatang dan lainnya.

Setelah perahu tersebut dicat, maka perahu akan dihiasi dengan sagu. Sebelum menggunakan perahu ini sebagai bagian dari upacara, maka keluarga suku Asmat akan berkumpul di rumah seseorang yang paling berpengaruh dalam suku tersebut, seperti kepala suku. Biasanya, mereka akan berkumpul sebagai wujud perayaan.

Lanjutan dari upacara ini adalah larung kapal ke laut. Dalam hal ini, para pendayung kapal nantinya akan memakai hiasan dengan cat berwarna merah dan putih serta bulu-bulu dari burung. Suasana upacara akan bertambah riuh dengan adanya sorak-sorai dari anak-anak dan wanita. Namun, ada pula yang bersedih karena kerabat mereka sudah tiada.

Upacara ini pada mulanya menjadi salah satu upacara yang paling penting dari keluarga Asmat. Namun, saat ini, orang-orang Asmat sudah mulai meninggalkannya. Perahu yang digunakan untuk upacara kini cenderung lebih sering digunakan untuk mengangkut makanan.

4. Upacara Yentpokmbu

Ini adalah upacara lain yang juga dilakukan oleh orang Asmat. Dalam hal ini, upacara ini disebut juga sebagai ritual pembuatan rumah bujang. Perlu diketahui, rumah bujang adalah hal yang penting dalam tradisi Asmat dan akan diberikan nama sesuai dengan marga pemilik. Biasanya, rumah bujang digunakan untuk beragam kegiatan baik kegiatan keagamaan maupun bukan.

Selain itu, rumah bujang juga digunakan untuk berkumpul keluarga. Namun, jika ada hal-hal tertentu, rumah tersebut menjadi lebih eksklusif dan tidak boleh ada orang yang bebas masuk. Misalnya, ketika ada suatu penyerangan pada orang Asmat, maka rumah tersebut akan menjadi tempat berpikir strategi dan wanita akan dilarang untuk masuk ke dalamnya.

Beberapa poin di atas merupakan upacara-upacara adat yang ada dalam tradisi suku Asmat. Orang-orang Asmat sampai sekarang masih melakukan beberapa dari upacara adat tersebut. Meskipun ada penambahan dan penyesuaian, pada dasarnya apa yang dilakukan oleh orang Asmat tetap sesuai dengan apa yang diajarkan oleh nenek moyang mereka sejak dulu kala.

Rumah Adat Suku Asmat

Rumah adat Suku Asmat

Orang Asmat memiliki rumah adat yang sangat unik. Dalam hal ini, nama dari rumah adat suku Asmat adalah Jeu. Mereka akan membangun rumah ini di pedalaman hutan atau di tepian pantai. Dalam pembuatannya, rumah ini memiliki panjang sekitar 25 meter. Selain itu, ada juga orang Asmat yang membuat rumah mereka di atas pohon.

Tarian Suku Asmat

Tarian Suku Asmat

Selain memiliki beberapa upacara adat yang unik hingga saat ini, orang Asmat juga memiliki tarian khas yang sangat menarik. Dalam hal ini, tarian khas yang berasal dari Asmat adalah tarian Tobe atau tarian yang juga disebut dengan tarian perang.

Dalam sejarahnya, tarian ini memang dilakukan ketika ada perintah dari kepala suku atau kepala adat untuk berperang melawan musuh. Dengan tarian ini, orang-orang Asmat akan lebih percaya diri dan berani untuk melawan musuh yang akan mereka hadapi.

Namun, seiring perkembangan yang terjadi, terdapat pergeseran fungsi dari tarian ini. Sekarang ini, tarian Tobe menjadi salah satu daya tarik tersendiri dari suku ini. Tarian Tobe cenderung digunakan untuk menyambut tamu sebagaimana bentuk respek mereka terhadap tamu yang datang. Namun, tetap saja, dalam tarian Asmat ini terdapat banyak hal yang menggugah semangat.

Nah, pada saat melakukan tarian, para penari akan mengenakan manik-manik di dada, rok dari akar bahar dan juga daun yang diselipkan pada tubuh mereka. Nah, atribut yang dikenakan ini merupakan tanda bahwa orang-orang Asmat cenderung dekat dengan alam.

Ukiran Suku Asmat

ukiran suku asmat

Dalam kebudayaan yang dimiliki, orang Asmat senang untuk membuat karya berupa ukiran. Namun, ukiran yang dibuat oleh orang Asmat bukan ukiran asal-asalan karena memiliki nilai magis. Selain itu, ukiran ini juga memiliki makna dan fungsi tersendiri, yaitu melambangkan kehadiran roh nenek moyang.

Ukiran tersebut juga berfungsi untuk mengungkapkan rasa sedih dan bahagia, lambang kepercayaan dan lainnya. Dalam pembuatannya, ukiran tersebut menggunakan motif manusia, hewan dan tumbuhan sesuai dengan fungsinya.

Selain itu, ukiran yang dibuat oleh orang Asmat memiliki ciri khas dengan pola yang unik dan bersifat naturalis. Hal ini dikarenakan masyarakat Asmat sangat dekat dengan alam. Ukiran ini hingga sekarang masih menjadi salah satu ciri khas yang unik dari orang Asmat dan biasanya digunakan dalam upacara-upacara spiritual mereka.

Adat Istiadat Suku Asmat

adat suku asmat
dreamstime.com

Dalam hubungan keseharian mereka, orang Asmat memiliki adat dan istiadat yang sangat terjaga hingga saat ini. Adat istiadat tersebut menjadi pegangan secara turun temurun dan diwariskan oleh nenek moyang mereka. Nah, adapun beberapa adat istiadat dari suku ini adalah sebagai berikut:

1. Kehamilan

Orang Asmat akan sangat menjaga jika satu diantara anggota keluarga mereka hamil. Ya, wanita hamil di tengah-tengah orang Asmat akan diperlakukan dengan sangat baik. Keluarga dari si wanita akan menjaga mereka, memberikan makanan yang bergizi dan lainnya hingga proses persalinan tiba dan ia akan melahirkan dengan selamat.

Perhatian dari orang Asmat memang cukup luar biasa untuk urusan wanita hamil. Hal ini dikarenakan mereka percaya bahwa keturunan akan membuat mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

2. Kelahiran

Setelah proses persalinan, maka keluarga yang memiliki anggota keluarga baru tersebut akan mengadakan upacara. Upacara yang disebut dengan upacara selamatan tersebut akan dimulai dengan pemotongan pusar bayi menggunakan sembilu.

Sembilu yang digunakan oleh orang Asmat tersebut adalah sembilu khusus. Alat tersebut dibuat dari bambu khusus. Selanjutnya, bayi akan dikembalikan kepada ibunya dan akan disusui hingga usia 2 tahun.

3. Pernikahan

Pernikahan dalam tradisi orang Asmat adalah salah satu hal yang sangat sakral. Dalam hal ini, ada aturan yang mengatakan bahwa pernikahan hanya boleh dilakukan saat usia masing-masing mempelai lebih dari 17 tahun.

Tentu, usia tersebut masuk dalam salah satu kesepakatan mempelai. Selain itu, ada pula uji keberanian dari pria untuk membeli wanita. Dalam hal ini, pria akan menggunakan piring antik dan besaran harganya disesuaikan dengan harga sebuah perahu.

Nah, demikian beberapa hal terkait suku Asmat dan beberapa bentuk kebudayaan mereka yang masih lestari hingga saat ini. Orang Asmat adalah salah satu bukti betapa Indonesia sangat kaya akan urusan budaya dan suku bangsa yang mendiami wilayah-wilayah mereka yang berbeda-beda.

BACA ARTIKEL TERKAIT:

0 Shares:
3 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like