Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 suara, nilai: 5,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Roby Muhamad: “Orang Hebat Bukan Segalanya!”

n120121_51Netsains.Com – Menolak pengelompokan sains eksak dan non eksak, Roby Muhamad pasti punya alasan. Ya, sebab alumni Fisika ITB ini memang sejak awal tak terpikir akan membelot jadi ilmuwan sosial. Sejak kecil sudah terpatri bahwa ilmuwan itu identik dengan ilmu alam. Faktanya, ayah dari Toby ini kini tengah menyelesaikan disertasi bidang sosiologi di Columbia University.

Berikut adalah hasil interviu jarak jauh Netsains.Com dengan peneliti bidang jejaring sosial yang juga rajin menulis di berbagai media ini.

“Penelitian utama saya adalah mengenai jejaring sosial. Spesifiknya saya meneliti mengenai bagaimana orang bisa menggunakan jejaring sosial untuk menemukan sesuatu; misal pekerjaan, investor, jodoh. Saya juga tertarik meneliti bagaimana sesuatu menyebar di jejaring sosial; terutama dalam proses politik seperti mobilisasi untuk gerakan sosial, demonstrasi, atau kampanye politik. Saya juga sedang belajar landasan moral kapitalisme modern,” papar penggemar Dostoevsky ini mengenai kesibukannya terkini.

Menjadi ilmuwan memang sesuai dengan cita-cita sejak kecil, sebab Roby dibesarkan di keluarga akademisi, sehingga menekuni sains memang menjadi hal natural baginya.

Bagi Robi, yang utama dibutuhkan dalam mewujudkan cita-cita adalah keberanian untuk mengikuti rasa ingin tahu. “Saya sebut keberanian karena sering kali apa yang kita tertarik itu bukan hal populer diantara teman-teman kita, dan melawan pendapat populer perlu keberanian. kKita harus berani mengambil pilihan sendiri meskipun kita dilihat berbeda oleh orang-orang di sekitar kita,” tambahnya.

Jika dikatakan minat sains anak Indonesia kurang, ayah dari Toby ini tidak setuju.
Sekian tahun tinggal di Amerika, Roby justru melihat bahwa minat remaja Indonesia terhadap sains lebih besar dibanding minat anak-anak Amerika terhadap sains. Tetapi masalahnya adalah mereka yang berminat thd sains ini sulit menemukan “role model” ilmuwan. Meskipun ilmuwan di Indonesia terus bertambah secara kuantitas dan kualitas, tapi masih relatif sedikit. Sehingga sulit bagi mereka untuk menyalurkan minatnya ini secara serius karena kesulitan mendapatkan pembimbing yang baik. Jadinya meskipun mereka berminat tinggi pada sains, jika mereka kurang mengerti bagaimana sebetulnya sains dihasilkan dan ilmuwan bekerja, sulit bagi mereka untuk memilih sains sebagai mata pencaharian.

Hebat Bukan Segalanya

Menurutnya,  semua orang di Indonesia setuju bahwa sains dan pendidikan adalah penting. Yang perlu dilakukan adalah menunjukkan bahwa hasil penelitian sains itu berguna dalam arti seluas-luasnya bagi kehidupan kita.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah, anak muda di manapun punya kecenderungan serupa, yaitu cenderung tidak tertarik pada sains. Yang menjadi saintis memang hanya sedikit saja. Tapi bedanya di negara yang lebih maju, mereka yang sedikit ini mampu mengembangkan minatnya secara maksimal.

Indonesia sendiri sebenarnya punya SDM sangat hebat, dan pastinya banyak potensi-potensi  tersembunyi yang belum digali dari manusia Indonesia. Tapi negara kita tetap miskin terus, politik dan ekonominya amburadul. Roby beranggapan bahwa itu adalah bukti bahwa oranghebat bukan segalanya. “Yang lebih penting adalah menciptakan sistem di mana setiap orang dapat berkontribusi dalam penyelesaian masalah di sekitarnya. Sehebat apapun seseorang, ia tetap kerdil jika dibandingkan dengan masalah yang dihadapi Indonesia,” jelas suami dari Tika Sukarna ini.

Roby juga setuju bahwa ilmuwan harus lebih peduli dan mau terlibat proses politik dan mau secara sungguh-sungguh melakukan pendekatan ke publik.

Lantas, kenapa Roby tidak setuju dengan adanya paradigma pemisahan sains antara eksak dan non eksak? Ia berpikir pemisahan itu adalah suatu kekeliruan. Ia beranggapan bahwa ains adalah metode untuk memecahkan masalah. Masalah yang dipecahkan bisa mengenai masalah gerak planet, dinamika protein, masalah kemiskinan, hingga masalah konflik etnis. Jika kita melihatnya seperti itu, maka kita bisa lihat bahwa sains apapun perlu didukung untuk membantuk menyelesaikan segala masalah yang kita hadapi.

Ilmuwan Harus Komunikatif

Nah, bagaimana agar Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya di bidang sains dan teknologi?

“Saya pikir sangat perlu untuk para saintis mau berkomunikasi lebih banyak dengan publik,  mau berbagi pengetahuannya dengan publik sehingga publik bisa mengerti relevansi pengetahuan tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Jika publik bisa melihat dan merasakan langsung bahwa sains dan teknologi bisa membuat hidup lebih baik – bukan hanya sebagai ‘mainan’ segelintir saintis – maka baik sainsnya itu sendiri dan komunitas saintis juga akan semakin maju.,” ujar Roby.

Roby pastinya hanya satu di antara sekian banyak orang Indonesia yang menuntut ilmu ke luar negeri, atau bahkan bekerja dan menetap di negara lain. Selama ini banyak pandangan skeptis yang mengatakan bahwa orang Indonesia yang sudah menuntut ilmu ke negara lain, haruslah kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmunya. Jika tidak, maka ia dicap kurang cinta pada Indonesia, bahkan disebut ‘penghianat’. Menyikapi hal ini, lelaki pemilik situs Berjejaring.Com ini tudak setuju. Menurutnya, menghakimi orang dengan cap “pengkhianat” secara umum tentunya tidak baik. Kondisi setiap orang berbeda-beda sehingga pilihan pulang atau tidak adalah keputusan pribadi masing-masing yang harus dihormati.

“Meskipun demikian, kita harus ingat bahwa mesin utama kemajuan sains dan teknologi adalah kebutuhan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi secara komprehensif. Hal ini bisa dicapai jika solusi sains dan teknologi muncul secara organik dari kebutuhan lokal. Jadinya komunitas saintis dan sains yang dihasilkan memiliki akar yang kuat di lingkungan masing-masing. Jadi meskipun para saintis asal Indonesia yang menetap di luar negeri masih bisa membantu membangun komunitas ilmiah ini, tetap perlu ada ilmuwan-ilmuwan yang kembali ke Indonesia dan membangun komunitas ilmuwan local,” ujar Roby menutup obrolan.

Foto: dokumen pribadi Roby Muhamad

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 2 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

  • Avi HartonoAvi Hartono mengatakan:

    Saya suka tulisan ini. :)

    Sebagai bukan-lulusan-pendidikan-eksak, saya memang merasa kesulitan dalam menemukan sebuah ‘role model’ yang dapat membimbing untuk mendalami ilmu saya secara komprehensif.

    Saya lulusan sekolah seni dan desain namun ketertarikan saya tidak hanya semata-mata dalam penciptaan karya semata, tapi juga saya tertarik pada penelitian-penelitian yang berbasis ilmu seni dan desain.

    Ilmu seni dan desain yang pernah saya pelajari nyaris semua berasal dari negeri Barat, terutama hasil riset dan teori. Indonesia yang kaya seni dan budaya tentu saja seharusnya dapat menemukan lebih banyak lagi riset-riset yang dapat memberi sumbangsih besar pada pengetahuan umum dan tentu saja memperkaya koleksi literatur Indonesia secara pribadi.
    Sehingga pelajaran seni di sekolah tidak semata-mata mengenai penggunakan krayon atau cat air untuk menggambar, tapi juga pemahaman dasar-dasar seni, dan pengenalan karya seni di Indonesia khususnya.
    Satu contoh kecil, Indonesia tidak perlu takut ‘kehilangan’ atau ‘pencontekan’ lagi, karena kita mengenal betul hasil karya bangsa kita, dan tidak semata-mata heboh dengan euforia pemberitaan di televisi.

    Jumlah peneliti di bidang seni di Indonesia yang mungkin masih sangat sedikit, memang membatasi jalur informasi. Untungnya dan semoga, fasilitas internet memudahkan dalam menjembatani informasi sekecil apapun.

  • SoetrisnoSoetrisno mengatakan:

    Salam kenal untuk bung Robi, saya yakin pemikiran anda mencerahkan banyak pengamat sains dan saintis Indonesia.

    Sudah saatnya para komunitas sains bersatu untuk membawa sains lebih komunikatif, lebih membumi.

    Salam dari Jepang

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.