Beranda > Artikel > Pensiun dan Menganggur Bikin Kesehatan Terganggu

Pensiun dan Menganggur Bikin Kesehatan Terganggu

Kamis, 5 November, 2009 oleh Merry Magdalena
 

Ingin buru-buru pensiun dan berhenti kerja? Lebih baik dipikirkan dulu, sebab ternyata tidak selamanya leyeh-leyeh bagus untuk kesehatan. Sebuah studi mengatakan bahwa orang yang sudah pensiun tapi memiliki kesibukan justru lebih sehat daripada yang menganggur total.

091019-senior-ffTemuan ini didasarkan pada analisa banyaknya orang di usia pensiun tetap bekerja secara paruh waktu akibat krisis ekonomi, demikian menurut Mo Wang dari University of Maryland, salah satu peneliti. Wang bersama timnya melekukan penelitian pada lebih dari 12.000 orang berusia 51-61 tahun. Kepada mereka ditanyakan kondisi kesehatannya setiap dua tahun sekali selama enam tahun, terutama kesehatannya, finansial, dan apakah mereka bekerja atau menganggur.

Ternyata mereka yang pensiun dan tetap bekerja paruh waktu, baik sebagai karyawan atau wirausaha, lebih sedikit yang menderita kanker, tekanan darah tinggi, dan penyakit kardiovaskular lainnya dibanding dengan usia pensiun yang menganggur total.

“Orang sering berpikir bahwa berhenti kerja adalah hal baik, padahal situasi keehatan dan mental mereka tidak setuju,” jelas Wang. “Kenyataannya, bekerja itu sangat berguna bagi pemeliharaan kesehatan dan psikologi kita.”

Dengan bekerja kita bisa tetap memelihara gaya hidup. Inilah yang membuat para usia pensiunan merasa jenuh ketika di awal masa menganggurnya. Dengan bekerja, kita bisa memiliki struktur harian dan pola hidup teratur. Bekerja juga memungkinkan manusia melakukan kontak dan dukungan sosial yang sangat berguna bagi kondisi kejiwaannya. maka tak heran jika orang yang memasuki masa transisi antara bekerja dan pensiun mengalami depresi. Dan depresi ini bisa menghadirkan aneka penyakit lain yang berbahaya seiring dengan makin menuanya orang itu.

Nah, bagi kalian yang masih bekerja, jangan terburu nafsu ingin segera pensiun ya. Nikmati saja kesibukan yang ada.

Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience.
foto: LiveScience

Info Tulisan

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

  • Digg
  • Twitter
  • del.icio.us
  • Facebook
  • RSS
  • Turn this article into a PDF!
  • Yahoo! Buzz
  • MySpace
Merry Magdalena
Penulis: Merry Magdalena
Tanggal: Kamis, 5 November, 2009
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Ia adalah moderator milis Technomedia yang membernya sejumlah pakar TI, pengamat Iptek, jurnalis, bahkan Menristek dan Menkominfo. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" (Gramedia Pustaka Utama, Juli 2009). Konsennya terhadap dunia Iptek melahirkan Netsains.com yang dirintisnya bersama teman-teman. Kini ia sedang berusaha keras menyelesaikan beberapa buku lagi (yang sudah dipesan Gramedia dan Grasindo) sembari terus menjadi jurnalis dan mengelola Netsains.com dan www.qbheadlines.com.

Tulisan Terkait:

Tata Cara Berkomentar:

  1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
  2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
  3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan ke NetSains
  4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan

1 Komentar untuk “Pensiun dan Menganggur Bikin Kesehatan Terganggu”

  • Zafril Hudaya mengatakan:

    Bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial, tetapi tubuh dan otak kita hidup dan harus bergerak. Jadi pensiun untuk istirahat sama dengan memperpat kematian.
    Hasil penelitian tersebut sebenarnya selalu ada di sekitar kita, tetapi kita tidak mau tahu atau mungkin ogah untuk menyajikannya dalam bentuk tulisan, apalagi meneliti (belum turun dana dari APBN)Kebiasaan menulis dan meneliti seharusnya sudah mulai dibiasakan dari ruang sekolah melalui metode pembelajaran. Tetapi yang terlihat: Guru bagaikan gudang yang mentransfer ilmunya kepada murid dan setiap hari murid dijejali dangan PR (menjawab pertanyaan)bukan tugas untuk membaca dan meringkas hasil bacaan. Perlu gerakan reformasi sistem pembelajaran di sekolah/Perguruan Tinggi
    Terima kasih.

Beri Komentar

Anda Member NetSains? Silahkan login disini