Beranda > Artikel > Nukleoaktivitas dan Teleportasi

Nukleoaktivitas dan Teleportasi

Senin, 9 November, 2009 oleh Jaki Umam
 

quantumentanglementNetsains.Com - Tiga hal yang sangat krusial dalam kehidupan manusia modern adalah informasi, komunikasi, dan transportasi. Menurut KBBI1, informasi adalah keseluruhan makna yang menunjang amanat yang terlihat dalam bagian-bagian amanat itu, atau dengan kata lain fakta-fakta yang terkandung pada suatu objek.

Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami, atau hubungan untuk mentransfer informasi-informasi. Dan transportasi adalah pengangkutan barang oleh berbagai jenis kendaraan sesuai dengan kemajuan teknologi, atau dengan kata lain mekanisme komunikasi dengan cara memindahkan objek informasinya secara real. Pada abad modern ini, informasi dan komunikasi mengalami perkembangan sangat signifikan, sedangkan transportasi masih menyisakan persoalan-persoalan serius berkaitan dengan isu lingkungan dan efektifitasnya. Teknologi informasi dan komunikasi telah berhasil diintegrasikan dengan baik, sedangkan teknologi transportasi masih separatis.

Beberapa sutradara film ilmiah telah bermimpi menyatukan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi. Salah satu konsep terkenal yang menyatukan ketiga teknologi tersebut adalah teleportasi. Akankah teleportasi itu bisa menjadi kenyataan? Mungkin saja teleportasi akan menjadi kenyataan, jika rahasia kestabilan sistem atom ditemukan.

Paradoks EPR

Masih ingat subjek tentang nukleoaktivitas? Nukleoaktivitas adalah sumber interaksi yang terletak di setiap inti, bahkan ia bisa menjadi dapur pembentukan partikel jika sistem nukleoaktivitasnya cukup besar. Inti yang dimaksud di sini mencakup inti pada partikel-partikel dalam skala paling kecil, misalnya foton, kuark, dan neutrino sampai pada partikel-partikel dala skala paling besar, misalnya super-bintang di pusat galaksi dan cluster galaksi. Pembentukan nukleolaktivitas sendiri berasal dari gumpalan gelombang elementer yang saling berinterferensi, bersuperposisi, dan berpolarisasi, yang lama-lama membesar dan mampu melakukan aktivitas independen.

Masih ingat juga perseteruan Einstein dan Bohr dalam Paradoks EPR? Pada tahun 1935, Einstein, Podolsky, dan Rosen melakukan antitesis untuk meruntuhkan Prinsip Ketidakpastian dalam Mazhab Kopenhagen (mazhab teori kuantum yang dibangun Bohr). Dalam mazhab itu dinyatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan informasi yang sangat teliti terhadap aktivitas suatu partikel disebabkan adanya ketidakpastian dalam satu-satunya cara pengamatan kita. Medium observasi (frekuensi cahaya) akan selalu mengganggu variabel-variabel partikel yang dikehendaki, misalnya posisi dan momentum, atau energi dan waktu.

Percobaan EPR memisalkan ada dua elektron dalam keadaan tunggal. Keduanya bergerak menjauh. Dalam arah tertentu, spin A ditemukan dalam keadaan atas. Karena kedua spin harus saling meniadakan, maka dalam arah yang sama spin B harus bawah. Menurut Mazhab Kopenhagen, spin A selalu tidak pasti sampai ia diukur dan harus mempengaruhi B seketika itu juga, yaitu mengatur agar spin B bawah. Ini berarti ada aksi pada jarak atau komunikasi yang lebih cepat dari cahaya, yang tidak bisa diterima. Paradoks ini kemudian memunculkan prinsip lokalitas, yakni pemisahan antara pengamat dan objek itu dalam sistem-sistem individual.

Beberapa percobaan dalam empat dekade selanjutnya, misalnya percobaan John Clauser pada 1978 di Berkeley dan percobaan Alain Aspect pada 1982 di Paris, ternyata menemukan fenomena non-lokal, yang berarti mengukuhkan Mazhab Kopenhagen.

Bagaimana nukleoaktivitas menjelaskan fenomena non-lokal? Setiap nukleoaktivitas mempunyai kemampuan berinteraksi dengan nukleaotivitas lainnya. Komunikasi yang terjadi akan menciptakan frekuensi unik yang hanya bisa dipahami dua atau beberapa nukleoaktivitas yang saling berinteraksi. Frekuensi unik inilah yang menyebabkan stabilitas sistem atom dalam kondisi non-lokal.

Kalau kita menengok cara nukleoaktivitas berinteraksi, paradoks EPR bukanlah paradoks. Frekuensi unik yang terbentuk dalam interaksi antar-nukleoaktivitas akan terus menghubungkan komunikasi mereka seberapa pun jarak yang memisahkan mereka. Jangan-jangan, kestabilan sistem yang terbentuk oleh frekuensi inilah yang membuat sifat non-lokal alam semesta, karena frekuensi ini akan selalu eksis dalam cara dua partikel berinteraksi meskipun mereka dipisahkan sejauh diameter semesta. Setiap partikel memiliki memori abadi dalam sejarah interaksi mereka dengan partikel-partikel lainnya. Mereka akan selalu terkait. Layaknya sebuah foto yang kita sobek-sobek. Sobekan-sobekan itu memiliki sejarah gambar utuh yang masih terikat satu sama lain sampai kapan pun.

Arah Balik Entropi

Entropi adalah keseimbangan termodinamis, terutama mengenai perubahan energi, yang hukumnya disebut Hukum Termodinamika Kedua, yang menyatakan bahwa energi hanya dapat berpindah dari tempat yang mengandung banyak energi ke tempat yang kurang mengandung energi2.

Para fisikawan curiga bahwa dalam siklus kekekalan energi, panas adalah bentuk energi kinetik terakhir sebelum berubah menjadi energi potensial lagi. Misalnya dalam aliran energi yang melalui penanak nasi. Energi dari perubahan medan magnet generator PLN akan diteruskan elektron-elektron dalam covalent bond atom-atom pada kabel sebagai listrik. Listrik yang dimaksud memasuki rangkaian elektronika dalam rice cooker, sehingga ia menyebabkan elektron-elektron dalam elemen panasnya terus berpusing. Berpusingnya elektron-elektron itu menciptakan panas yang merambat melalui teflon dan mengubah struktur molekul beras dan air menjadi nasi. Sisanya menguap ke udara, dan menjadi energi potensial lagi di sela-sela kolong alam semesta. Mekanisme serupa terjadi hampir di setiap aliran energi, yang disebut entropi.

Alam non-lokal menghendaki bahwa energi-energi potensial itu mengandung desain alam semesta, dalam bentuk frekuensi unik nukleoaktivitas. Desain ini bisa diwujudkan kembali dengan memutar balik arah waktu ke masa lalu, atau dengan cara membalikkan arah entropinya. Ini artinya kita masih punya kesempatan besar untuk menyatukan kembali potongan-potongan foto yang telah dicabik-cabik. Para ilmuwan sebetulnya telah menyadari hal ini. Namun, mereka mendapatkan input energi yang sangat besar dalam proses pembalikkan entropi, karena kita tidak tahu kemana dan dimana partikel-partikel yang terpencar bersembunyi.

Bayangkan bagian-bagian tubuh Anda dicerai-beraikan menjadi foton-foton, kemudian dimasukkan ke dalam serat optik. Sepersekian detik kemudian foton-foton tubuh Anda mencapai Silicon Valley, lalu digabungkan kembali menjadi diri Anda yang utuh. Mungkinkah? Mungkin saja..kalau para fisikawan itu tidak melupakan sifat non-lokal alam. Variabel ini akan memberikan kita cara terbaik untuk menemukan partikel-partikel yang bersembunyi di balik belantara galaksi. Dan bisa jadi, inilah cikal-bakal teknologi teleportasi, sinergi tiga teknologi paling penting abad ini: informasi, komunikasi, dan transportasi.

1 2http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi

foto:crystalinks.com

Info Tulisan

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

  • Digg
  • Twitter
  • del.icio.us
  • Facebook
  • RSS
  • Turn this article into a PDF!
  • Yahoo! Buzz
  • MySpace
Jaki Umam
Penulis: Jaki Umam
Tanggal: Senin, 9 November, 2009
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori: ,

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Lahir di Tegal pada bulan Maret 1985 dari keluarga petani miskin. Lulus SMA tahun 2004 di kota asal, dan dengan bekal ala kadarnya mengadu nasib ke Jakarta selepas sekolah. Saya pernah bekerja sebagai perawat orang jompo di sebuah keluarga pejabat, cleaning service di sebuah perusahaan outsourcing, tenaga marketing di sebuah lembaga kursus tujuh bahasa, dan terakhir sejak awal 2007 sampai sekarang saya banting setir menjadi tenaga profesional dalam bidang Pijat Reflexology. Minat saya dalam bidang filsafat, fisika, matematika, dan kehidupan extraterestrial mulai tersemai sejak hampir tujuh tahun yang lalu, sejak kelas 2 SMA. Saya ingin melanjutkan studi di bidang itu sampai setinggi-tingginya bagaimanapun caranya. Lepas dari SMA, proposal saya untuk melanjutkan pendidikan tinggi ditolak mentah-mentah oleh orang tua saya dengan alasan tidak ada biaya. Akhirnya saya pun mengembangkan cara lain, yaitu mencari beasiswa dan GOTA. Saya mencari orang tua asuh melalui kampanye dari mulut ke mulut, surat, dan terakhir melalui internet. Saya juga memburu beasiswa melalui internet dan informasi dari teman. Namun upaya-upaya itu masih tetap belum berhasil. Akhirnya, saya bertekad melanjutkan pendidikan tinggi itu dengan biaya sendiri. Tabungan saya hanya cukup untuk masuk ke akademi diploma. Akhirnya, pada 3 Februari lalu, saya mendaftar di BSI-Depok mengambil jurusan Manajemen Informatika. Meskipun jurusan yang saya ambil belum sesuai dengan hati nurani dan cita-cita saya ke depan, setidaknya itu akan menjadi jalan baru bagi saya untuk masuk ke dunia kampus, sehingga semangat untuk mengejar ilmu pengetahuan masih bisa saya pertahankan.

Tulisan Terkait:

Tata Cara Berkomentar:

  1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
  2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
  3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan ke NetSains
  4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan

2 Komentar untuk “Nukleoaktivitas dan Teleportasi”

  • ferdy sandika tri setya mengatakan:

    emmm…. saya kira menyatukan prinsip kerja telekomunikasi dengan transportasi adalah sesuatu yang bisa di bilang mustahil. kenapa?

    1.sampai sekarang, teknologi terbaik telekomunikasi mana pun tidak bisa lepas dari yang namanya “gangguan transmisi”. ada banyak jenis gangguan transmisi dari interferensi sampai obstecle, hal ini membuat serat optik menjadi media yang paling diandalkan. meskipun begitu serat optik juga masih memiliki kekurangan sebagai contoh distorsi cahaya. contoh jika kita mengirim suara “Netsains” ke eropa, lalu ditengah media serat optik terdapat distorsi cahaya, maka yang terdengar di eropa tidak lagi “Netsains” (mungkin “Nepsains” atau “Situs Lain”)

    2.bayangkan jika kita berteleportasi dari jakarta ke eropa, lalu ditengah jalan terdapat gangguan transmisi, tidak terbayangkan seperti apa bentuk tubuh kita di eropa..???!!!

    meskipun begitu memanfaatkan melengkungnya ruang dan waktu mungkin bisa kita jadikan dasar untuk menerapkan teknologi teleportasi..

    ps: maaf ngocehnya banyak.. maklum background saya dari telekomunikasi…. hehehe

  • Jaki Umam mengatakan:

    Saya kira tidak ada yang mustahil. Sejarah masih mengingat bagaimana para alkemis jaman jadul berusaha mengubah batu menjadi emas. Dan sekarang, mekanisme fisi dan fusi sudah membuatnya mungkin.
    Kelengkungan ruang-waktu juga masih menjadi topik bias dalam dunia teknologi. Tapi bagaimanapun tidak ada yang mustahil bukan..

Beri Komentar

Anda Member NetSains? Silahkan login disini