Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Kolektivisme Mencegah Kecendrungan Genetik Depresi

Netsains.Com- Beruntunglah kita orang Indonesia punya sikap hidup gotong royong. Mengapa? Sebuah studi ilmiah membuktikan bahwa kolektivisme mengurangi potensi depresi.

Science Daily melaporkan, bahwa tendensi genetis depresi akan lebih rendah kemungkinannya pada budaya yang berpusat pada nilai kolektivisme, dibandingkan dengan individualisme. Demikian menurut kajian Universitas Northwestern.

Dengan kata lain, kerapuhan genetis terhadap depresi lebih besar kemungkinannya terjadi pada budaya Barat dibandingkan dengan Asia Timur, yang lebih menekankan pada ‘kami/kita’, dibanding ’saya, saya, saya’.

Kajian ini berasal dari bidang yang sangat berkembang, yaitu neurosains kultural. Ilmu ini mengambil sampel global terhadap kesehatan mental dari berbagai kelompok sosial dan bangsa.
Depresi, menurut riset, berasal dari faktor genetis, lingkungan, dan interaksi diantara keduanya. Salah satu cara yang dapat membedakan secara mendalam, mengenai bagaimana berbagai kelompok budaya tersebut berbeda, adalah mengenai bagaimana mereka berpikir mengenai diri mereka sendiri. Demikian menurut psikologi budaya.

‘ Masyarakat yang berasal dari budaya yang sangat individualistis seperti Amerika Serikat (US) dan Eropa Barat akan lebih menghargai keunikan dibandingkan harmoni, ekspresi dibandingkan persetujuan, dan mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai unik atau berbeda dengan kelompoknya,’ kata Joan Chiao. Ia adalah pimpinan utama dari kajian tersebut, dan asisten profesor psikologi pada Weinberg College of Arts and Sciences di Northwestern.
Secara kontras, masyarakat yang berasal dari budaya kolektivitis akan lebih menghargai harmoni sosial dibandingkan individualisme.

‘Dibanding secara relatif terhadap masyarakat yang individualis, mereka akan lebih mendorong perilaku yang meningkatkan kohesi kelompok dan interdependensi,’ kata Chiao. Budaya kolektivitis akan membantu individual yang memiliki potensi depresi. ‘Dukungan tersebut menjadi penopang bagi mereka terhadap resiko lingkungan atau stres yang dapat memicu depresi,’ kata Chiao.

Kajian oleh Chiao dan mahasiswi S1 Northwestern Katherine Blizinsku ini akan dipublikasikan secara online pada jurnal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. Kajian ini membandingkan informasi frekuensi genetik dan data nilai budaya diantara 29 negara (negara-negara penting eropa barat, juga Afrika Selatan, Eropa Timur, Asia Selatan, Asia Timur, dan Amerika Selatan). Gen trasporter Serotonin (STG) yang dipelajari ilmuwan, memiliki dua varian. Mereka adalah allel pendek dan panjang.

Pada populasi barat, allel pendek akan menyebabkan fenotip dari episode depresif berat ketika orang tersebut mendapatkan stres berat juga.
Kajian sebelumnya menunjukkan bahwa bangsa di daerah Asia Timur memiliki jumlah karier allel pendek yang tidak signifikan, dan peneliti Northwester mereplikasi penemuan tersebut. Mereka juga mereplikasi penelitian psikologi budaya yang menunjukkan bahwa bangsa Asia Timur lebih kolektivis.

Yang mengejutkan mereka adalah asosiasi yang ditemukan antara tingkat kolektivisme dari suatu bangsa, dan jumlah tidak signifikan dari orang yang membawa allel pendek STG. Bangsa kolektivis memiliki jumlah individual yang lebih banyak membawa allel pendek STG. Lebih jauh lagi, mereka menemukan, bahwa bangsa kolektivis, seperti Asia Timur, dimana hampir 80 persen populasi memiliki resiko genetis terkena depresi parah, ternyata jumlah prevalensi depresi jauh lebih rendah dibandingkan bangsa individualis, seperti US dan Eropa barat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa dokter harus bekerja keras dengan ilmuwan dasar untuk lebih memahami interaksi kompleks antara biologi dan budaya, yang dapat menyebabkan depresi. Demikian kesimpulan Chiao.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perawatan berbasis budaya dapat efektif dalam mengurangi resiko depresi. Dokter yang memahami penemuan ilmiah pada tren kesehatan global dan budaya manusia dapat memperoleh insight berharga mengenai bagaimana warisan genetis dan lingkungan budaya dapat mempengaruhi perilaku manusia.

Diterjemahkan dari http://www.sciencedaily.com­ /releases/2009/10/091028090659.htm
Sumber gambar : http://4.bp.blogspot.com/

 Tentang Penulis: Arli Aditya Parikesit

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah asisten peneliti pada Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Saat ini menjadi kandidat doktor di institusi yang ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
blog comments powered by Disqus