Observasi tentang jarak kita dengan Matahari adalah penelitian masa depan kita. Sekitar 5 milyar tahun dari sekarang Matahari akan menjadi “raksasa merah”, dan Tata Surya akan menjadi tampat yang berbeda.
Banyak sekali histeria masa tentang kalender Maya di internet, yang mana berakhir pada tahun 2012. Meskipun banyak sekali kemungkinan akhir dunia yang lain seperti hantaman komet, supernova, atau bahkan Energi dari inti galaksi. Kenyataannya bangsa Maya memang benar-benar memetakan Siklus Astronomi, meskipun mereka bukan Fisikawan.
Pernyataan tentang “Kiamat” telah Menginspirasi sains fiksi yang menceritakan “Akhir dari Dunia”, termasuk serial TV “Impact”, dan film Hollywood “2012” yang menggambarkan “sebuah petualangan epic tantang kehancuran global yang mengakibatkan akhir dari dunia dan cerita perjuangan heroik manusia yang selamat”.
Hari ini para Asstronom tidak membutuhkan kalender Maya, Nostradamus, ataupun imajinasi Hollywood untuk mengetahui masa depan Tata Surya. Observasi tentang planet yang mengorbit bintang lain, dikombinasikan dengan teori “Stellar Evolution” dan simulasi supercomputer memberikan kita prediksi yang dapat dipertanggungjawabkan tentang apa yang disimpan oleh Tata Surya.
Ketika sebuah bintang menua dan menghabiskan bahan bakarnya, setiap planet yang mengorbit pada bintang itu menghadapi kehancuran absolute dikarenakan perubahaan energi fundamntal yang keluar dari inti bintang dan diameter fisiknya. Pemandangan yang diperlihatkan pada apa yang terjadi pada planet ketika bintang yang diorbitnya mati lebih rumit dari ilmuan perkirakan.
Sekitar 5 milyar tahun dari sekarang, Matahari akan menghadapi krisis reaksi fusi nuklir pada intinya. Matahari akan mulai mngembang menjadi raksasa merah. Seperti balon yang mengembang, kulit terluar Matahari akan mencapai titik dimana tidak mampu mengembang dan pecah keseluruh alam semesta. Seiring dengan Matahari yang mulai kehilangan masa, orbit planet akan melebar dikarenakan melemahnya gaya gravitasi Matahari. Tetapi orbit Merkurius dan Venus tidak akan mengembang lebih jauh untuk menghidari Matahari yang mulai mendekatinya. Orbit Bumi akan pindah ke dalam orbit Mars hari ini, tetapi tetap tidak dapat bertahan. Dan Mars akan bergerak lebih jauh lagi.
Evolusi Matahari menjadi raksasa merah memastikan bahwa Tata surya “lingkaran dalam” tidak dapat menopang kehidupan. Walaupun begitu kita masih tetap memiliki harapan. “The Habitable Zone” (jarak dari bintang yang mana membuat air tetap berwujud cair di bawah temperature ruang) akan meluas sejalan dengan Matahari. Ini akan menghangatkan planet beku dan satelitnya. Membawa musim panas setelah 10 milyar tahun musim dingin.
Ketika Matahari berubah, Habitable Zone akan menjauh sekitar 200 juta sampai 900 juta mil. Dibawah pengaruh dari kehangatan Matahari raksasa, bulan beku yang mengorbit pada planet “lingkaran luar” seperti Europe, Ganymede, dan Encladus akan mendapatkan es-nya meleleh dengan cepat menjadi air. Ini membuat bulan pada “lingkaran luar” mampu menopang kehidupan.
Ketika itu bulan beku yang lain seperti Titan akan berubah menjadi incubator tahap pertama untuk mendukung kehidupan, ini bahkan akan meluas ke bulan Neptune, Triton yang mana salah satu tempat terdingin yang pernah diketahui oleh manusia. Ketika Matahari mencapai puncak pengembangannya, bahkan Pluto yang jauh dan planet Dwarf yang lain akan berubah menjadi planet basah. Tapi hanya untuk waktu kurang dari 10 juta tahun.
Kemudian ketika Matahari mulai kehabisan bahan bakar dan gravitasi mengubahnya menjadi “White Dwarf”, planet “lingkaran luar” akan dengan cepat mendingin dan menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Bulan yang dipenuhi air akan cepat digantikan oleh es dan kehidupan akan menghadapi kepunahan masal. Satu-satunya sumber energi yang tertinggal adalah gravitasi yang disebabkan oleh “Gaya” yang akan menghangatkan permukaan bulan es. Jadi, meskipun Matahari mendingin kehidupan masih bisa bergantung pada permukaan bulan es.
Pada saat-saat terakhir, Asteroid dan komet akan keluar dari jalur kerena dorongan gravitasi Jupiter, dan mengirimnya menuju White Dwarf yang baru lahir. Tabrakannya menyebabkan lingkaran debu di sekitar White Dwarf. Pada tahun 2004 teleskop angkasa Spitzer menemukan lingkaran debu seperti Saturnus di sekitar White Dwarf G29-38, yang mungkin disebabkan oleh tabrakan dengan Komet dan Asteroid.
Bahkan pada hari-hari kehancuran terjadi, masih ada Habitable Zone di dalam Tata Surya, tapi keberadaannya akan sangat dekat dengan White Dwarf. Ketika White Dwarf mendingin Habitble Zone juga akan mendekat lebih jauh untuk mempertahankan air tetap dalam berbentuk cair. Jika ada Asteroid besar bertahan, seperti Dwarf planet, “Ceres”, mereka juga bisa menjadi tempat terakhir kehidupan jika mereka bisa mendekat tanpa harus tertarik ke gravitasi White Dwarf dan menghancurkannya. Ceres dipercaya mempunyai lapisan es, dan kehidupan mikroba mungkin bisa bertahan pada saat-saat senja Tata Surya.
Bersambung ke Bagian 2
Oleh: Ray Villard news director for the Hubble Space Telescope
Diterjemahkan oleh: Ferdy Sandika Tri Setiya
Sumber: http//www.astrobiology.nasa.gov



nice post Bro! Sarimin ucapin makasih! sangat bermanfaat sekali buat Sarimin
bahasanya sulit di pahami, bisa gak dg bahasa yg mudah di mengerti
apakah ini akan benar-benar terjadi?
bahwa matahari akan berubah menjaddi raksasa merah?
apakah ini akan benar-benar terjadi?
bahwa matahari akan berubah menjaddi raksasa merah?
yup, benar put,
mungkin beberapa ribu tahun lagi. sampai saat itu w harap teknologi kita sudah cukup canggih untuk bisa bertahan dari evolusi matahari.