Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Ban Berjalan Justru Melambatkan Anda?

Dalam edisi 18 Juli 2009, majalah “New Scientist” mengangkat artikel ringan dengan judul cukup kontroversial: “Jika anda tergesa, jangan gunakan ban berjalan” [1]. Mengapa bisa demikian? Dalam artikel ini, penulis memulai dengan meringkas isi artikel tersebut, sebelum kemudian mengajukan beberapa alternatif solusi yang dapat dan telah diteliti.

Tipuan mata pada otak kita

Ban berjalan mulai muncul pada tahun 1893, ditampilkan dalam sebuah eksposisi di Chicago, Amerika Serikat [2]. Saat ini, sistem ban berjalan paling banyak dipakai di bandara, khususnya untuk membantu para penumpang berpindah dari satu gerbang udara ke gerbang lainnya. Nah, bayangkan kalau anda sedang tergesa-gesa mengejar pesawat yang akan segera berangkat, lalu di hadapan anda tersedia dua pilihan: berjalan seperti biasa hingga ke gerbang yang dituju, atau menggunakan ban berjalan sampai ke sana. Pilihan manakah yang akan anda ambil?

Kebanyakan orang akan mengambil pilihan kedua, berharap bahwa dengan begitu mereka akan sampai di gerbang tujuan dengan lebih cepat. Namun, pada tahun 2007 seorang peneliti bernama Seth Young [3] menemukan bahwa pilihan itu justru adalah pilihan yang keliru! Pengamatan yang dilakukan oleh Young menunjukkan hal yang sebaliknya: orang-orang yang memilih menggunakan ban berjalan justru mencapai gerbang tujuan lebih lambat daripada orang-orang yang berjalan biasa. Sayangnya, Young saat itu belum mampu menunjukkan mengapa fenomena ini terjadi.

Pada bulan Juni 2009, peneliti lain bernama Manoj Srinivasan mempublikasikan analisa lanjutan pada topik ini [4]. Di sini, Srinivasan berhasil menjelaskan mengapa para pemakai ban berjalan justru berjalan lebih lambat daripada pejalan kaki biasa. Rupanya, begitu memasuki ban yang berjalan, orang-orang secara otomatis melambatkan langkah kakinya. Hal ini mereka lakukan karena otak mereka secara intuitif menerjemahkan input visual dari mata dan merasakan bahwa “tubuh sedang berjalan lebih cepat daripada laju langkah yang dilakukan kaki”. Akibatnya, langkah kaki pun otomatis diperlambat untuk mengoptimalkan pemakaian energi tubuh.

Bagaimana mencari solusinya?

Jadi, ban berjalan justru membuat perjalanan semakin lambat, walaupun memang masih bermanfaat untuk menghemat energi tubuh. Lantas, apa solusi yang bisa ditempuh agar para pemakai ban berjalan tetap dapat mencapai gerbang tujuan lebih cepat daripada pejalan kaki biasa?

Opsi pertama, menurut hemat penulis, adalah meniadakan input visual yang disebut di atas, sedemikian sehingga otak tidak merasa bahwa “tubuh sedang berjalan lebih cepat daripada laju langkah yang dilakukan kaki”. Bayangkan, kalau sebuah ban berjalan ditutupi oleh lorong dengan atap dan dinding khusus, di mana gambar-gambar di sepanjang permukaan lorong tersebut bergerak dengan kecepatan yang persis sama dengan kecepatan ban berjalan. Jika ini dimungkinkan, maka pemakai ban berjalan akan mendapat input visual berbeda: kecepatan perpindahan tubuh yang dirasakan mata dan otak hanyalah berupa kecepatan relatif terhadap lantai ban berjalan, bukan terhadap lingkungan di luar ban berjalan. Akibatnya, pemakai ban berjalan akan terpicu untuk berjalan normal, dan sebagai konsekuensinya akan mencapai gerbang tujuan lebih cepat daripada pejalan kaki biasa.

Opsi di atas tadi tampaknya menjanjikan, namun ada satu potensi masalah yang mengganjal: bagaimana caranya agar lorong khusus yang melingkupi ban berjalan tadi tidak menimbulkan rasa ‘claustrophobia’ (perasaan gelisah karena terkurung) pada pemakai ban berjalan? Sebagai alternatif, ada pula opsi solusi kedua, yaitu memainkan kecepatan ban berjalan itu sendiri.

Pada opsi kedua ini, sebuah ban berjalan jenis baru telah mulai dirancang, di mana bagian awalnya diberi percepatan, sementara bagian akhirnya diberi perlambatan. Dengan demikian, kecepatan ban berjalan di tengah perjalanan menjadi meningkat, bahkan lebih tinggi daripada ban berjalan yang normal. Jika sistem ini dipakai, maka para pemakai ban berjalan akan selalu mencapai gerbang tujuan lebih cepat daripada pejalan kaki biasa, bahkan jika para pemakai ban berjalan tersebut tidak melangkah sedikit pun saat memakai ban berjalan.

Ban berjalan yang memakai opsi kedua ini sebenarnya sudah diterapkan di kota Paris, dimulai dengan prototype awal yang dipasang di stasiun metro Invalides, dan saat ini dipakai permanen di stasiun metro Montparnasse. Walaupun demikian, sistem tersebut ‘hanya’ melayani jarak tempuh 180 meter. Saat ini penelitian lanjutan di kota Delft, Belanda, melihat apa yang terjadi jika jarak yang ditempuh ditingkatkan secara signifikan [5]. Agar sistem yang panjang seperti itu dapat beroperasi dengan kualitas yang tetap baik, maka jumlah motor penggerak dari ban berjalan perlu pula ditambah [6]. Jumlah motor yang bertambah ini kemudian menimbulkan kompleksitas tersendiri, karena mereka perlu dikendalikan dengan sinkron untuk menjaga efisiensi pemakaian energi. Secara teknis memang terasa tidak mudah, tapi tantangan yang lebih besar justru adalah dari sisi penerapan teknologi itu untuk khalayak ramai, karena umumnya pengguna sebuah teknologi tidak dapat dengan cepat beradaptasi secara psikologis dengan teknologi yang baru.

Bacaan lanjutan:
[1] http://www.newscientist.com/article/mg20327173.500-the-great-moving-walkway-issue-solved.html
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Moving_walkway
[3] http://trb.metapress.com/content/gm15530n6h955441/
[4] http://scitation.aip.org/getabs/servlet/GetabsServlet?prog=normal&id=CHAOEH000019000002026112000001&idtype=cvips&gifs=Yes
[5] http://www.tudelft.nl/live/pagina.jsp?id=6b2c2afa-128b-414f-afa0-d30ccf4d430f&lang=en
[6] http://www.3me.tudelft.nl/live/pagina.jsp?id=b40e33f1-97d8-48fa-bc43-8835cea90e88&lang=en

Sumber foto en.blog.buemaradie.wordpress.com/

 Tentang Penulis: Gea OF Parikesit

Gea OF Parikesit Gea O.F. Parikesit mempelajari ilmu Teknik Fisika di kota Bandung (1996-2001) dan Delft (2001-2009). Waktu senggangnya dihabiskan dengan memasak, menikmati musik jazz, membaca/menulis, atau merenungi korelasi berbagai fenomena fisika dalam dunia ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.

 Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.