Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Bahasa dan Budaya Menunjukkan Nasionalisme

Suatu sore, selepas kursus bahasa jerman yang melelahkan, pihak DAAD (dinas pertukaran akademis jerman), mengumpulkan kami, para penerima beasiswa, ke dalam kelas untuk berbagai macam pengumuman. Macam-macam yang dibahas, mulai dari masalah visa, kumpul keluarga, dan akhirnya, ke masalah apa gunanya mampu berbahasa jerman.
‘Saudara-saudara harus lulus ujian bahasa jerman dasar, baru bisa menginjakkan kaki ke jerman’. Demikian pengumuman dari pihak DAAD , sewaktu mengisi saresehan di Goethe Institut, di selang-selang kami kursus bahasa jerman. Pada awalnya, kami bingung bukan kepalang, mengapa menguasai bahasa jerman itu sebuah keharusan? Bukankah bahasa Inggris saja sudah cukup, karena bahasa internasional? Bukankah orang jerman juga belajar bahasa inggris di sekolah? Akhirnya belakangan kita seangkatan mengetahui, bahwa memang orang jerman bisa bahasa inggris, tapi persoalan apakah mereka mau menggunakan bahasa itu atau tidak, adalah hal yang berbeda.

Nasionalisme Jerman vis a vis Nasionalisme Indonesia
Sewaktu menginjakkan kaki ke jerman, semakin jelas, bahwa bangsa ini sangat menjaga jarak dengan sesuatu yang berbau inggris. Film di Bioskop didubing total dalam bahasa jerman, dan mayoritas film dari US atau UK yang ditayangkan di tv didubing total juga. Di toko buku, seksi buku bahasa inggris ditempatkan di tempat yang terpencil, yang mesti dicari-cari ke pelosok toko. Orang jerman memang senang mendengar lagu/musik Inggris, tapi persoalan apakah mereka mau menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi dengan orang lain, adalah hal yang berbeda. Untung memang, kalau orang jerman yg di universitas, semuanya bisa dan mau berbahasa inggris. Namun diluar ‘tembok’ universitas, itu sudah dunia lain yang jauh berbeda.
Banyak hal yang menunjukkan, bahwa mampu berbahasa jerman di negri gothic ini, akan mempermudah semua urusan. Saya pernah punya pengalaman ganjil, sewaktu mengurus pembukaan rekening di bank, ternyata tellernya tidak bisa bahasa inggris. Saat itu, bahasa jerman sy masih pas-pasan. Untung, ada teller lain yg bisa berbahasa inggris, jadi urusan pun jadi lancar. Sewaktu mencari alamat, atau lokasi yang belum kita ketahui, bahasa jerman satu-satunya yang bisa dijadikan andalan. Termasuk dalam menjalin relasi dengan orang jerman, jika mereka tau kita berberbahasa jerman, mereka akan senang. Walaupun pas-pasan, tapi tidak masalah. Mereka tidak meminta kita untuk sempurna dalam menguasai bahasa mereka.
Apakah yang bisa kita pelajari, dari kasus mewajibkan bahasa jerman bagi para pendatang ini? Sebenarnya sesuatu yang bisa diaplikasikan ke kita juga. Saya bukan meminta semua orang untuk belajar bahasa jerman, dan datang ke jerman. Bukan demikian. Namun dari bangsa jerman, saya belajar sesuatu yang berharga, bahwa BAHASA menunjukkan NASIONALISME. Iya, bahasa menunjukkan jati diri bangsa tersebut. Orang jerman selalu merasa, jika mereka selalu menggunakan bahasa asing, maka jati diri mereka akan terampas. Mereka menerima bahwa bahasa inggris adalah bahasa ilmu pengetahuan, namun untuk pergaulan/sosialisasi dan ekspresi budaya, mereka tetap setia pada bahasa ibu mereka. Dari sini saya belajar, seharusnya bagaimana Indonesia menerapkan nasionalismenya.

Nasib Bahasa Indonesia Sekarang ini
Berbeda dengan jerman, trend Indonesia justru menunjukkan kebalikannya. Berkebalikan dengan Jerman yang mati-matian menjaga kemurnian bahasa, dan bahkan menyebarkan bahasa tersebut ke org non jerman, justru posisi bahasa Indonesia semakin lama semakin terdesak oleh bahasa Inggris. Terjadi fenomena bahasa campuran, dimana bahasa inggris dan indonesia dicampur aduk tidak karuan. Dan terjadilah bahasa kreol, atau bahasa campuran. Hal ini kelihatan sangat nyata pada sinetron kita. Jelas-jelas ada pihak yang mempromosikan penggunaan bahasa campuran model demikian, dan menjadikan sinteron atau media tv untuk mempromosikan bahasa kreol tersebut. Akibatnya, berbeda dengan posisi bahasa jerman, yang tetap tegar bertahan ditengah serbuan bahasa inggris, bahasa Indo semakin lama semakin luntur oleh penuturnya. Tv, dan sintron kita menjadi media utama dekadensi tersebut, karena mereka mempromosikan bahasa kreol, yang mencampur adukkan bahasa inggris dan indonesia. Hal yang sangat meprihatinkan, dan membuat saya mengurut dada berkali-kali.
Hal ini sangat memprihatinkan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Banyak yang bilang, ini terjadi karena tekanan pasar. Alasan yang tidak masuk akal, sebab di industri tv dan sinema Jerman sekalipun, walau ada tekanan pasar seperti apa juga, tetap bahasa jerman jadi panglima dan bahasa inggris itu sekunder. Apalagi bahasa kreol/campuran, itu tidak ada tempatnya di industri tv jerman. Alasan semua itu terjadi, karena memang pasar Indo menghendaki kehadiran bahasa campuran, adalah terlalu dicari-cari.

Hanya kita yang bisa menjaga Bahasa Indonesia

Saya pikir, memang diperlukan suatu pengembangan yang terintegrasi terhadap bahasa indonesia. Kita tidak perlu menyalahkan pihak lain dalam hal ini, namun sebaiknya duduk bersama untuk memikirkan hal ini. Saya setuju dengan usul beberapa rekan, bahwa kita memerlukan suatu standar seperti TOEFL atau Zertifikat Goethe, untuk menentukan kompetensi bahasa Indonesia. Kalo kita sekolah atau kerja di jerman, harus mendapatkan sertifikat dari goethe, maka kalo orang bule/orang asing mau sekolah atau kerja harus memiliki kompetenesi setara seperti itu. Sebenarnya, membuat standarnya tidak akan sukar, sebab kita memang memiliki pakar sastra indonesia. Tinggal duduk bersama dan merembukkannya saja.
Namun masalah yang paling penting, sebenarnya balik lagi ke pendidikan. Nasionalisme merupakan sesuatu yang penting untuk ditanamkan ke generasi penerus kita. Adapun, nasionalisme harus diajarkan jangan dengan penuh dogma, sebab para muda-mudi tidak akan suka dengan dogma. Perlu suatu formulasi pendidikan nasionalisme, namun yang tidak dogmatis. Mungkin bentuknya akan berbeda dengan P4 di masa lalu, misalnya, Namun memiliki semangat yang sama.
Satu hal yang saya sadari selama berada di jerman, bahwa nasionalisme saya semakin lama semakin tebal di negri para gothic ini. Berada di negeri, dimana kita menjadi orang asing, dan dianggap ‘aneh’ oleh penduduk asli, justru menjadikan saya semakin lama semakin cinta dengan Indonesia. Bersyukur juga, saya bisa berteman dengan orang jerman, yang justru sangat bersimpati dengan Indonesia. Di mata mereka Indonesia adalah negeri yang kaya, indah, penuh keanekaragaman flora-fauna dan penuh ragam budaya. Justru, menyadari bahwa ada orang jerman yang mati-matian belajar bahasa Indonesia, demi proyek magister mereka, dan sering berkata hal yang positif mengenai Indonesia, menjadikan saya semakin cinta Indonesia. Teman jerman saya, selalu mengatakan bahwa bahasa indo adalah bahasa yang paling mudah, tidak seperti jerman atau inggris yang penuh aturan tata bahasa. Tragis, ditengah banyak orang bule yang belajar serius bahasa indonesia, dan mengapresiasi budaya kita, ada sebagian orang indonesia, yang justru melecehkan dan menginjak-injak bahasa kita, dengan menciptakan bahasa kreol lewat media tv. Sadarkah, wahai bangsa Indonesia, bahwa budaya dan bahasa kita itu sangat dipuja-puja oleh orang asing? Sudah saat kita mulai mengapresiasi bahasa dan budaya kita sendiri!. Indonesia, jauh dimata, namun tetap dekat di hati.

Sumber tulisan: Notes Facebook

Sumber gambar: http://web.library.emory.edu/subjects/humanities/history/Nationalism

 Tentang Penulis: Arli Aditya Parikesit

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah asisten peneliti pada Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Saat ini menjadi kandidat doktor di institusi yang ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.

 7 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

  • SoetrisnoSoetrisno mengatakan:

    Betul .. saya sependapat !!!

    Hanya rakyat atau anak bangsa yang “wajib” melestarikan budaya dan bahasanya.

    Saya yakin kalau kita bisa bangga dengan menghargai bahasa dan budaya kita, Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar dengan budaya dan bahasanya, mampu menjadi bangsa yang dihargai baik dimata rakyatnya maupun dimata dunia.

    Mari berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, membagi ilmu dengan bahasa Ibu dan menjunjung tinggi pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.

    Kadang saya sulit sekali mengerti penggunaan bahasa Indonesia yang disingkat, diubah, atau penulisan yang tidak mengindahkan EYD. Apa saya yang “kuper” atau ????

  • @Soe: Bung Soe yang baik. Sampai sekarang saya juga sedang berusaha untuk menulis dan bertutur kata dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Barangkali link Kamus Besar Bahasa Indonesia online ini bisa membantu kita untuk itu http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/
    Kalo soal yg disingkat, diubah, dan tdk EYD itu mah…bisa jadi adalah bahasa gaul muda-mudi kita. Kadang kalo terima sms dari Indo, mesti mikir berkali2 dulu, apa artinya, karena ada singkatan2 baru dan gres :) ). Itu yang disebut bahasa kreol, atau bahasa campuran.
    Hal ini terjadi pada keturunan Perancis yg tinggal di Kanada. Mereka masih menggunakan bahasa Perancis para sastrawan abad ke 17, sementara di Perancis sendiri, sudah tercipta ragam bahasa baru yg lebih ngepop.

  • susikirana mengatakan:

    Nah, siapa saja tuh raja media yg mendorong remuknya bahasa indonesia dgn hadirnya si-kreyol ini? Ada Surya Paloh raja media berita. Ada juga Punjabi klan rajanya sinetron…(sisanya silahkan tambah sendiri ya..:) ). Terus, pejabat (termasukmentri n presiden doong?) yg masih saja suka campur aduk berbahasa. Duh, telinga gatel aja dengarnya. Sekali2..mbok ya dicoba tuh semua kata dlm Indonesia, walau agak susah kali yee, jaman sekarang begitu? Saya setuju dgn anda.

  • susikirana mengatakan:

    Nah, siapa saja tuh raja media yg mendorong remuknya bahasa indonesia dgn hadirnya si-kreyol ini? Ada Surya Paloh raja media berita. Ada juga Punjabi klan rajanya sinetron…(sisanya silahkan tambah sendiri ya..:) ). Terus, pejabat (termasukmentri n presiden doong?) yg masih saja suka campur aduk berbahasa. Duh, telinga gatel aja dengarnya. Sekali2..mbok ya dicoba tuh semua kata dlm Indonesia, walau agak susah kali yee, jaman sekarang begitu? Saya setuju dgn anda.

  • Sri Nanang SetiyonoSri Nanang Setiyono mengatakan:

    Mas Arli, setahu saya sudah ada rencana di Kementerian Diknas untuk menerapkan semacam tes kemampuan berbahasa Indonesia bagi orang asing yang bekerja di Indonesia. Ketika saya masih jadi wartawan dulu, ide itu rencananya akan diterapkan pada akhir 2010 atau 2011 (saya tidak ingat secara pasti).

    Dalam dunia perdagangan dan bisnis juga sudah ada aturan dari Kementrian Perindustrian dan Perdagangan agar produk-produk impor yang dijual di Indonesia harus menyertakan petunjuk pemakaian dalam bahasa Indonesia. Hal itu sudah bisa kita temui pada aneka produk elektronik yang dijual di Indonesia.

    Memang dalam beberapa hal penggunaan kata-kata bahasa Inggris oleh pejabat setingkat menteri atau bahkan oleh SBY sekalipun cukup disayangkan. Tetapi hal itu lebih banyak muncul dalam bahasa tutur yang sifatnya sementara, bukan bahasa tulis yang efeknya lebih lama. Kita juga menyaksikan makin banyak kata-kata bahasa Inggris yang sudah diganti dengan kata Indonesia seperti unduh, unggah, retas, daring, luring, dan makin populer digunakan.

    Kita juga tahu makin banyak produksi kata-kata bahasa Indonesia dalam media cetak atau buku-buku terus berlimpah terlebih setelah era reformasi seiring banyaknya media cetak yang terbit.

    Terus siapa yang akan mendominasi? Saya yakin semua pemilik media di Indonesia tahu dan sadar, bahasa Indonesia akan jadi pilihan utama agar bisa dijangkau oleh konsumen orang Indonesia.

    • Saya pernah mencoba mengganti kata ‘download’ dengan mengunduh waktu menulis artikel ilmiah. Tapi malah reviewernya bilang: ‘Mas..Ini mah bahasa Jawa..Ganti ke ‘Download’ saja’. Terpaksa sy ganti lagi :)
      Btw..Terima kasih atas sumbang sarannya. Popularitas Bahasa Indonesia di Luar negeri,telah membuat saya optimis akan masa depan bahasa nasional kita ini :)

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.