Ada banyak efek negatif dari Ujian Nasional yang memberikan dampak terpuruknya mental siswa, orang tua beserta pendidik. Tuntutan kelulusan siswa melalui Ujian Nasional membuat pelaku dunia pendidikan melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Sebenarnya di lapangan banyak terjadi pencurian soal namun hanya beberapa saja yang terungkap. Ketika mendekati Ujian Nasional, sekolah-sekolah membentuk tim sukses dengan tujuan membantu para muridnya dengan melakukan teknik-teknik yang beraneka ragam..
Yang banyak dilakukan di sekolah-sekolah yaitu dengan cara mengambil sisa soal di ruang ujian kemudian dikerjakan oleh seorang guru lalu disebarkan ke muridnya melalui HP ada juga yang langsung melalui pengawas ruang, walaupun pengawas ruang adalah guru dari sekolah lain tetapi mereka juga seorang guru yang muridnya secara bersamaan juga menghadapi ujian jadi tahu sama tahu kerjasama saling menguntungkan dan masih banyak lagi teknik lain yang dilakukan.
Semua yang mereka lakukan adalah bentuk pengabdian kepada sekolah, yang mereka lakukan adalah bentuk kasih sayang kepada anak didiknya, yang mereka lakukan merupakan wujud keperdulian terhadap masa depan anak didiknya dan mereka adalah para korban sistem yang dibentuk oleh pemerintah.
Pemerintah ingin mendapatkan sebuah angka yang dinamakan standard pendidikan tapi akibatnya para siswa berbuat curang, para pendidik berbuat curang dan sekolah bukan lagi tempat-tempat untuk mendidik mental siswa, sekolah bukanlah lagi tempat untuk mendidik generasi untuk berbuat jujur dan yang lebih ironis, masih pantaskah guru disebut seorang pendidik?. Guru berada pada pilihan yang sulit, mereka harus melakukan hal yang bertentangan dengan hati nurani demi anak didik dan pengabdiannya pada sekolah.
Sekarang kita bicara tentang hasil Ujian Nasional. Universitas tidak mempercayai hasil Ujian Nasional karena belum tentu siswa yang berprestasi mendapatkan hasil UN yang baik. Buktinya Universitas Favorit dalam menerima mahasiswa baru tidak berpedoman pada nilai UN. Yang jelas banyak siswa berprestasi mendapatkan ijasah paket karena kegagalannya menghadapi UN, banyak siswa yang telah dinyatakan diterima di universitas dalam dan luar negeri tetapi batal diterima dikarenakan kegagalan dalam UN. Faktanya beberapa tahun yang lalu ada seorang siswi mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri karena kemampuan bahasa inggrisnya yang baik, namun akhirnya kandas gara-gara nilai matematikanya di bawah standard yang mengakibatkan siswi tersebut tidak lulus UN. Yang jelas jika siswa gagal dalam UN dan mendapatkan ijazah paket, maka kegagalan tersebut akan melekat pada siswa seumur hidup dan akan melukai mental siswa seumur hidup.
Sekarang kita bicara kurikulum yang berlaku. Sekarang ini di Indonesia memakai KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang merupakan pengembangan dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). KBK merupakan kurikulum yang mewadahi keinginan siswa untuk mendalami pendidikan sesuai dengan kompetensinya. Andaikan siswa memilih mendalami bidang Olah Raga apakah siswa tersebut menempuh UN sesuai dengan kompetensinya di bidang Olah Raga? Andaikan siswa memilih mendalami bidang kesenian, apakah siswa tersebut menempuh UN sesuai dengan kompetensinya dibidang kesenian?. Lalu, sesuaikan Ujian Nasional dengan kurikulum yang berlaku sekarang?.
Terakhir kalinya bahwa Ujian Nasional mendidik para generasi penerus untuk terbiasa berbuat curang dan siapa yang paling disalahkan jika masa yang akan datang para pemegang ekonomi di Negara ini menjadi koruptor akibat dari didikan Ujian Nasional.
Saya yakin seyakin-yakinnya jika ada capres dan cawapres yang memiliki misi penghapusan UN atau kelulusan tidak didasarkan pada nilai UN maka akan dipilih oleh para Pendidik, siswa, para petani yang anaknya menjadi siswa, para buruh yang anaknya menjadi siswa, para pedagang yang anaknya menjadi seorang siswa, para pelaku industri yang anaknya menjadi seorang siswa dan seluruh warga Indonesia yang anaknya menjadi seorang siswa!
Mohon dikaji para calon penguasa
foto:mrghelvin.files.wordpress.com/



(5 suara, nilai: 4,20 ⁄ 5)
kalo misalkan bukan UN usul anda apa? yang jelas dong protes tapi gak ada usulan kan OMONG KOSONG
maaf!! saya kurang setuju dengan pendapat anda!!!
justru jika UN dihapuskan malah akan menurunkan kualitas intelegensi generasi muda!!
bukan UN yang harus disalahkan!!!
yang harus dibenahi adalah mental murid agar percaya diri!!! dan untuk para guru jika mereka memang menyayangi anak didiknya mereka harusnya mendidik lebih keras bukan mengambil jalan pintas!!!
saran saya kepada pemerinah
1. bangun mentalitas yang lebh kuat
2. jika mentalitas generasi muda sudah kuat, sya yakin tidak ada lagi kasus tidak lulus ujian
^-^
Artikelnya kehilangan momentum, seharusnya diterbitkan sebelum pilpres…
sebenarnya artikel ini sudah saya kirim tanggal 23 Juni, tapi gak tahu kok baru tanggal 18 di terbitkan,…
bener tuh, mosok kasi kritik ndak ada solusi. saran saya sih, itu wacana pendidikan yang musti diluruskan dari atas. agar, sekolah itu benar menjadi ajang berkreasi. dan, penyamaan STRATA SOSIAL antara SMU dan SMK. selama ini kan yang berasa, kalok kejuruan plus ndak bergelar-gelar itu musti tidak berkelas, kampungan, dLL.
lhah, saya? saya adalah bagian dari orang bergelar yang setengah. setengah keracunan gelar dan setengah protes akibat keterbatasan otak tapi terpaksa KEBANYAKAN belajar sebab pas sekolah Wajib Belajar tuh gak kayak kuliah, boleh milih mata kuliah eh matapelajaran..
coba, ni saya bicara gini kira-kira mulutnya disekep ama aparat ndak y? HA HA HA HA, ketawa 4 jari ala Mbah Surip
Di Jerman, pemerintah federal menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan pada pemerintah negara bagian. Jadi mau ada UN atau tidak itu urusan negara bagian. Jadi otonomi sekolah dan negara bagian sangat besar dalam urusan ini. Namun, ada tetapinya. Di jerman, semua orang yang menjadi guru sma, harus memiliki kualifikasi magister/diplom. Ini setara S2, dan berhubung kualitas pendidikan di seluruh jerman itu setara, jadi lulusan magister dari perguruan tinggi apapun tidak menjadi masalah. Otonomi itu diberikan, karena kualitas guru memang sudah sangat baik. Salah satu alasan utama mengapa UN masih ada, kan karena pemerintah kurang yakin dengan kualitas akademis guru, sehingga menyerahkan masalah kelulusan sepenuhnya pada sekolah dirasa masih riskan. Dari sisi ini, kekhawatiran itu bisa dipahami. Namun, pemerintah jangan berhenti dengan paranoid berlebihan mengenai kualitas akademis guru. Mereka harus berbuat sesuatu.
Usul saya, sebenarnya yang sangat kritis diperbaiki adalah kualitas guru. Hal ini sudah mulai, karena sudah ada program untuk mensekolahkan guru sampai jenjang S1. Walau masih sangat jauh dari standar internasional, tapi ini sebenarnya sudah langkah bagus. Ada baiknya, daripada diknas menghamburkan anggaran untuk proyek2 mentereng (sekolah internasional, sekolah unggulan, dll), sebaiknya berikan anggaran sebanyak mungkin supaya guru2 kita dapat sekolah setinggi mungkin. Di jerman misalnya, sekolah internasional berbahasa inggris tidak laku, karena bangsa tersebut sangat bangga dengan bahasa mereka, dan selalu meminta orang asing untuk bisa berbahasa jerman. Hal yang sama juga terjadi di Perancis. Jadi sebenarnya itu program yg tidak terlalu berguna, dan tidak ada korelasi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Dananya bisa untuk peningkatan kualitas guru. Saya percaya, jika kualitas guru di tanah air sudah baik secara akademis, baru kita bisa mendorong pemerintah untuk memberikan otonomi pada provinsi atau sekolah masing-masing. Walau, tentu ada banyak variabel lain yg harus dikaji selain kualitas guru, tapi saya melihat dari aspek ini saja dulu.
PS: Artikel ini kami rilis agak telat, karena ada banyak antrean artikel masuk ke meja redaksi.
saya juga setuju dengan pendapat anda, karena saya juga merasakan bagaimana mental seorang siswa tertekan.Oleh karena itu pihak sekolah yang menyadari akan hal itu, mereka melakukan segala hal untuk mengurangi tekanan tersebut.Mereka manggunakan berbagaimacam cara,seperti mencarikan bocoran,sehingga terkadang adanya unas hanya sebagai formalitas saja,padahal di dalamnya terjadi bermacam – macam kecurangan…Trimz
Selain kualitas, seharusnya seorang Guru juga harus bersikap tegas. Mendidik sejak awal agar siswa tidak boleh meyontek. Menyontek membuat anak cenderung malas dan menggampangkan pelajaran, sehingga berdampak ketika Ujian Nasional. Bahkan bukan pada ujian nasional saja, melainkan mental dari anak itu sendiri.
Tapi mengingat buanyaknya pelajaran yang segudang, susah juga menuntut anak untuk bisa semua pelajaran. Sehingga hanya usulan, penjurusan minat bidang anak dimulai sejak dini. Dilihat minat bakat anak ada dibidang apa.
UN bagus untuk mengukur kemampuan siswa…namun akan lebih baik bila UN tidak dijadikan standar kelulusan melainkan mempunyai bobot nilai sendiri yang wajar. Akan sangat berat bagi siswa jika sekolah selama tiga tahun ditentukan hanya oleh tes selama beberapa jam.
bener banget tuh, saya selaku murid SMA juga keberatan kalo nasib kami hanya ditentukan dalam beberapa jam.
Jangankan UAN, sebaiknya pendidikan itu tidak perlu ujian kelulusan. Evaluasinya tidak dengan ujian konvensional begitu. Alasan:
1. Cara kuno seperti itu hanya menghargai kecerdasan kognitif(padahal ada banyak, multi-intelegensia).
2. Mendorong persaingan ekternal, memupuk ketidakjujuran (bersaing itu seharusnya dengan dirinya sendiri, internal).
3. Meredusir makna pendidikan sebatas ‘bimbingan tes’.
Untuk Indonesia yg sudah buanyak orang pinternya (jago2 olimpiade, peng’amat’2 politik hingga bola, jago2 IT/hacker) sebenarnya mata pelajaran SD-SMA yg wajib 3 saja: OLAH RAGA, KETRAMPILAN, dan BUDI PEKERTI/Moral. (renungkan kenapa 3 itu). Pelajaran lain SEKUNDER, pilihan, minat studi. Itupun tidak perlu diuji untuk kelulusan. Naik kelaaas terus seperti di sini, Jerman.
Ujian hanya dilakukan oleh jenjang hidup berikutnya yang siswa pilih. Universitas yang lakukan, kalau kuliah di univ itu, bisa tempat kerja kalau mau kerja. Kalau ssorang ingin kerja di galeri seni dia tidak perlu belajar integral-diferensial algoritma atau matematika rumit2 (apalagi sampai itu membuat dia tidak lulus, menghambat langkah hidup dia kedepan). Kecuali, galeri itu ternyata…galeri seni matematika ka ka ka
@Farid: Lho..Tapi bukannya Plato pernah bilang, kalo mau masuk akademi filsafat dia, menguasai matematika adalah wajib?
Atau mungkin kalo mau jadi arsitek, sebab ilmu ini gabungan antara matematika dan seni
Kalau yg belajar matematika ga ada, programmer makin sedikit
yapzZ,,
bener banget…
mungkin hanya dengan ujian nasional saja kurang efisien, karena pendidikan selama 3 tahun hanya di tentukan oleh beberapa hari…!!
jika saja pada hari H ada halangan untuk mengikuti ujian juga sangat mempengaruhi kelulusan,..
sebaiknya ujian tu tetap ada tapi tidak berpengaruh 100% terhadap kelulusan, setidaknya 50% lah dan sisanya di tentukan bagaimana siswa itu menjalani pendidikan selama beberapa tahun di sekolah…?!?
@ Arli
Kalau mau masuk akademi Plato ya blajar matematikalah..jangan belajar bahasa inggris. Krn Plato tdk minta syarat itu. UAN kan gak begitu. Pokoknya hrs lulus plajaran ini, gak peduli tahap berikut nanti relevan atau tidak. Mati2an harus lulus matematika dan bhasa inggris atau apalah, sampai lulus …Padahal siswa mau masuk akademi musik, jurusan karawitan dengan pengantar bahasa Jawa kawi lagi.. Makanya lagi2 yg diUANkan itu cukup jadi mata pelajaran pilihan, masuk minat-bakat. Ha gak minat matematika je dan selapas SMA mau jadi penari (juga sdh sering mewakili sekolah dan daerah utk menari di istana negara, di depan para pejabat pengelola UAN) ha kok tetep suruh ujian matematika, harus lulus lagii..Ironis dan mubazir.
matematika itu memang penting, ingin sukses belajar matematika harus mendalami konsep, analisis dan proses. kalau matematika seperti soal UN tidak mementingkan konsep, analisis dan proses tetapi hanya mementingkan hasil, akhirnya persiapan untuk menghadapi soal matematika UN dengan menggunakan cara cepat atau yang lebih tren disebut smart solution. Padahal cara smart solution dapat menghambat anak untuk berfikir analisis. Bagi orang-orang yang tidak mengetahui seperti apa soal-soal matematika UN, maka tidak akan setuju UN dihapus, tetapi bagi orang-orang yang mengetahui maka akan sangat setuju UN dihapus. Misal saja soal matematika sederhana, jika 0 dikalikan 2 kenapa hasilnya bisa 0? apakah pertanyaan ini ada yang bisa menjawab? ada lagi, jika 1 dikalikan dengan konstanta c kenapa hasilnya bisa c? adakah yang bisa menjawab? soal inilah cara penyelesaiannya membutuhkan analisis konsep dan pengetahuan definisi serta teorema. Coba bandingkan soal UN sekarang, apakah penyelesaiannya membutuhkan analisis? mungkin kalau saya ambil soal yang serupa dengan soal yang di atas kurang lebih pertanyaannya adalah: berapakah hasilnya 0 dikalikan dengan 2?. Kita amati bidang studi lain misalkan bahasa indonesia, apakah UN bahasa Indonesia ada soal tentang membuat skenario drama? apakah soal UN bahasa Indonesia ada soal tentang bagaimanakan cara menciptakan sebuah buku?.
Dilapangan ada seorang guru matematika yang cara mengajarnya lain, dia mengajarkan konsep lingkaran dengan cara mengajak siswanya keluar kelas dengan membawa batu kerikil, dia berusaha menanamkan konsep lingkaran kepada siswanya secara mendalam melalui praktek, begitu juga dengan bab-bab yang lain, dia berusaha menerangkan matematika dengan membimbing siswa melalui matematika realistik, dan seperti inilah guru yang telah menerapkan KBK. Kasus lain, ada seorang guru bahasa Indonesia ketika mengajar membawa siswanya ke sawah dekat sekolah, guru tersebut memberikan tugas kepada siswanya untuk membuat puisi seputar apa yang dia lihat di sekitar sawah tersebut. Pada pertemuan yang lain siswa diminta untuk teriak sekeras-kerasnya sebagai awal pembelajaran tentang teater dan drama, dan seperti inilah guru yang menerapkan KBK. Jika semua guru cara mengajarnya seperti kasus di atas maka banyak sekali siswa tidak akan lulus dalam menempuh UN. jadi sesuaikah UN dengan KBK???
Belajar itu proses, bukan nilai! Nilai merupakan salah satu alat ukur, bukan ukuran. Apakah nilai 8 dikatakan lebih berhasil belajarnya daripada nilai 6? Coba bandingkan, ketika awal dapat nilai 7 dan akhir dapat nilai 8, apakah dikatakan lebih berhasil belajarnya dari pada ketika awal dapat nilai 3 dan akhir dapat nilai 6. Kita amati sondisi semua siswa di negara kita, mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda yang tentu saja fasilitas lingkungan maupun fasilitas belajar mereka juga tidak seimbang, lalu kenapa stadard kelulusan di semua daerah dibuat sama?
Solusinya: biarkan KBK berjalan secara total di sekolah-sekolah tanpa adanya gangguan yang namanya UN, sekarang ini langkah pemerintah sudah bagus dengan mengirimkan para guru untuk mengikuti Diklat-diklat yang semua materi diklatnya sesuai dengan model pembelajaran KBK, tetapi ketika pulang diklat model mengajar guru kembali ke model konvensional karena adanya kendala UN. Kalau pemerintah membutuhkan stadard nilai, biarkan UN terus berlangsung tetapi jangan dijadikan ukuran untuk menentukan kelulusan. Yang jelas sekarang ini jika siswa lulus dalam UN maka tidak ada kompensasinya, tetapi jika siswa tidak lulus maka seumur hidup secara mental akan jatuh. “Lulus tidak membanggakan, tidak lulus memalukan”
apa salah nya UN..menurutku pengurusy yg di salah kan…guna pengawas untuk apa cma mkn gaji buta ..pengurus negara ini terlalu bnyak bkrja tidak ikhlas.orang berkualitas di tindas.mlah yg bego yg bnyak jdi pengurus,yg haus materi..smua btuh materi tapi tngung jwb ttp tanggung jwb donk…
smua juga masalahnya di pengurus pemerintahan,coba kalau pengurus negara 80% orang yg brkualitas pasti bnyak ide2 yg bisa memajukan pendidikan…kalu cuma kita yg berkomentar dsini apa mereka peduli!mau jadi pengurus aja mesti bayar,klo bayar itu kan pembeli,pembeli itu raja.klo sudah pembantu merasa raja kerjaan pasti gk ada yg beres.
UN nggak berguna. Cuma ngasih status lulus MTK, Bahasa Indonesia, Inggris, IPA/IPS. Nggak memberikan kejelasan ia berguna atau tidak buat dirinya sendiri dan orang lain di masa depan. Penjurusan memang harus dilakukan sejak si anak sudah memperlihatkan bakat yang jelas. Banyak orang sukses mengalami hal itu. Sulit mengharapkan si anak untuk bisa mandiri kalau dibiarin nyari jalan sendiri. Jangan bilang sibuk kalo pengen anaknya sukses. Sabar! Tabah! Nggak semua orang sekuat hati para penerima hadiah nobel perdamaian. Semua orang berguna. Semua orang ditakdirkan untuk berguna. Cuman Tuhan suruh kita nyari. Jangan sendiri2. Trus, kalo sendiri2 apa gunanya orang2 yang sudah senior dan mapan. Kasih petunjuk dong. Jangan cuma ngasih orientasi nggak jelas dengan senior marah2in junior yang belum tentu salah. Kalo memperkenalkan dan mendidik, jangan sambil dimarahin! Percuma waktu hidup para perintis pendidik masa lalu kalo pendidik dan senior masa sekarang pada jual mahal. Percuma. Intinya, semua orang tolong kasih solusi. Terus lakukan. Mau nggak ngelihat generasi penerus lebih maju dalam segala hal dan mereka menghargai kita sebagai senior mereka karena dulu kita membantu mereka. Pikir!
well, banyak yang harus dikomentari. entah mulai dari yang mana dulu. ^_^
Jujur, sekarang saya sedang akan mengadapi UN, karena saya murid SMP kelas 9. Tapi dari tahun ke tahun, kakak-kakak kelas saya lulus 100%. Sekolah saya juga menyediakan fotocopyan dari ujian tahun-tahun lalu. Lagian soal-soal tersebut tidak semuanya susah, 10-25% soal disebut susah, sisanya sedang dan malahan gampang. Lagian, abcd-an kan? Meski memang rasanya tidak adil jika kelulusan hanya di beri kesempatan hanya dengan keterampilan kita menjawab a,b,c, ato d. Kalo di lihat dari sini, saya enjoy-enjoy aja menghadapi UN. Meski teman-teman seangkatan saya malah lebih menunggu ujian prakteknya (karena lebih menantang)
Soal kebocoran soal, seharusnya penjaganya bukan dari sesama guru, kakak saya pernah bilang, kenapa yang jaga tidak polisi ato mahasiswa magang aja? Karena jika sesama guru, sudah pasti akan sama-sama mengerti dan saling membantu. Dengan polisi ato mahasiswa magang, pasti keamanan lebih menjamin.
Tapi, pastilah karena paragraf kedua, siswa/i atau tak lain teman-teman saya sendiri, yang tidak ahli dalam mata pelajaran yg diujikan (karena memiliki bakat lain) akan merasa tertekan. Karena dengan terpaksa mereka belajar mati-matian untuk mata pelajaran yang tidak mereka kuasai. Apalagi mengetahui bahwa inilah satu-satunya cara agar mereka lulus. Dan setiap tahun Standar Nilainya berangsur-ansur bertambah naik!
Entahlah, saya pernah dengar bahwa jika salah-satu siswa di sekolah saya tidak lulus, akan di tunjang dengan nilai ujian sekolah (yang tidah mencakup mata pelajaran di UN) dan ujian praktek, tapi ini tidak pernah di praktekan karena tidak ada yang UNnya dibawah KKM (tidak lulus).
Saya pernah menanyakan persoalan ini kepada mama saya yang kebetulan juga mengajar saya di sekolah. Mama saya mengatakan, jika anak sejak dari dini belajar sesuai apa yang ia mau, yang ia tekuni, maka si anak akan memiliki sifat egois, karena tidak mempelajari pelajaran yang lain. Hanya fokus kepelajaran tersebut, tidak menghiraukan yang lain. Lagi pula, guru kesenian dan guru olahraga saya pernah mengatakan pada anak didiknya, bahwa pelajari saja semua mata pelajaran yang ada, jangan menggampangkan satu dan meremehkan yang lain. Karena percayalah pasti suatu saat nanti pasti akan ada hikmahnya.
Saya juga menimbangnya, bayangkan, dengan mempelajari IPA, (contohnya) ibu rumah tangga bisa mengatasi persoalan seperti bolongan kran yang buntu, mencuci pakaian dengan detergen yang baik (ini kimia), ato masalah tanaman-tanaman yang baik ditanam di rumah.
Lagipula, bukannya tidak salah belajar ilmu itu semua? Dan bukannya dengan belajar kita akan mendapatkan pahala? Dan toh tidak ada ruginya kan?
Solusi yang saya pikirkan, jangan terlalu menegangkan UN, masyarakat kita sudah di paku bahwa UN itu penting, bolehlah ada UN, tapi bukan menjadi patokan kelulusan. Satu-satunya alasan ada anak tidak lulus ato tidak naik kelas, adalah jika dirinya tidak memiliki bakat dan semua nilai pelajarannya merah semua (_toh anak autis ato idiot bisa memiliki keterampilah tertentu_). Bukannya karena salah satu dibawah KKM maka dia tidak lulus.
Dan usul lagi, pengawas sekolah (setiap Kab. adakan?) entah apa sebenarnya tugasnya, tapi bisakan pengawas juga mengawasi kinerja guru? Sehingga guru benar-benar melaksanakan apa yang telah mereka dapatkan dari diklat yang mereka datangi. Supaya kita-kita bisa enjoy di semua mata pelajaran yang ada. menurut saya, belajar metode KBM toh sudah cukup bagus. tapi sekarang udah memakai KTSP kan?
Ckckck, saya hanya anak sekolah, jadi maafkan saya jika saya salah dalam salah satu opini dan apa yang sudah saya serap. Saya hanya mewakili teman-teman seangkatan saya. Tapi tak tahu juga jika ternyata pendapat teman saya bertolak belakang dengan saya.
Kepada yang lebih berpengalam, mohon kritik dan sarannya!
tujuan kita belajar di sekolah itu apa ce?ilmuu yang kita dapatkan itu untuk apa gunanya?mohon siapa yang bisa jawab.dijawabya aku pengen tahu se