Sekitar tahun 1658, seorang anak muda yang bernama Isaac dititipkan ke rumah seorang apoteker. Anak muda itu tinggal di lantai dua rumah apoteker. Apoteker itu sendiri mempunyai seorang anak gadis yang ternyata menyukai Isaac. Kemana-mana mereka selalu berdua. Lama-lama Isaac pun menyukai gadis itu. Namun, kisah akhirnya menyedihkan. Isaac tidak tegas kepada perasaannya sendiri. Ia yang memang gagap dalam bergaul lebih gagap lagi dalam menghadapi medan percintaan.
Akhirnya, sang gadis menikah dengan pria lain selepas lulus universitas tanpa tahu bahwa sebenarnya bahwa Isaac dan dia saling mencintai. Walau di masa depan anak lelaki itu jadi ilmuwan terkenal dan menjadi penemu teori gravitasi, ia tetap tak menikah seumur hidupnya. Ya, nama lengkap pemuda itu adalah Isaac Newton.
Sama seperti Isaac Newton, banyak pula para intlektual yang hidup kesepian. Penyebabnya antara lain mereka asyik sendiri dengan pemikirannya, renungannya, penemuannya, dan segala hal yang menarik hatinya tanpa mempedulikan dunia sosial. Bukahkah fokus dalam penelitian itu bagus? Ya, bagus. Akan tetapi, manusia juga makhluk sosial. Kita butuh berteman, butuh bersosialisasi. Bukankah hidup harus seimbang? Sudah amat banyak teman saya yang cerdas tapi tak mempunyai kemampuan bergaul. Kasihan, mereka gagap dalam berhubungan dengan orang lain. Tidak luwes dalam bergaul.
Untunglah kini ada yang namanya jejaring sosial. Facebook, twitter, plurk, hi5, friendster, blog, dan lainnya memungkinkan kita berinteraksi dengan teman-teman. Bahkan, tidak terbatas teman yang kita kenal saja. Tak dapat dipungkiri bahwa teknologi memudahkan kehidupan kita. Orang yang gagap bergaul dapat mempergunakan jejaring sosial ini untuk berlatih bergaul.
Daftar saja di Facebook dan mulailah berinteraksi dengan kawan-kawan. Namun, perlu diketahui bahwa walaupun jejaring sosial ini menakjubkan, ia tetap takkan mampu menggantikan pertemanan yang asli: berkumpul bersama para sahabat, tertawa bersama, menangis bersama. Kontak tubuh, tersentuhnya emosi, tulusnya hati, itu semua tetap takkan tergantikan oleh teknologi secanggih apapun.
Jadi, mari berteman!
foto:mahalo.com



Salah satu hukuman bagi para pembuat keributan di penjara adalah “solitary cell” atau sebuah sel pribadi yg jauh dari setiap sel tahanan2 lainnya. Selama satu minggu, orang yg ditahan di solitary cell akan gila atau paling ringan akan trauma. Karena tidak melakukan hubungan sosial dengan siapapun.
Tapi tetap saja ada yg bertahan. Seperti para intelektual di tulisan ini, mereka larut dalam pikiran mereka sendiri.
Cobalah membuat kehidupan di dalam pikiranmu,,,
Kunci sukses dalam konteks ini, sebenarnya bukan kecerdasan kita dalam ilmu yg kita dalami, namun bagaimana kita memerankan peran kita dalam jaringan dimana kita terlibat. Orang-orang yang mendapat nobel sains, semua adalah mereka yang mampu memerankan peran mereka dengan baik pada peer group mereka. Sementara org cerdas yg punya penelitian segudang, namun tidak punya pengaruh dalam jaringan itu, akan dilupakan oleh peer group tersebut. Itulah drama yang harus dimainkan
Saya baru tahu kisah ini…hehehe
Selama ini, orang melupakan aspek pribadi tokoh yang diidolakannya, mereka hanya membaca hasil pikirannya saja. Mereka yang saya maksud ya termasuk saya sendiri.
Makasih atas ceritanya, Isaac is my eternal idol!!
seorang CEO Google pun mengatakan : Matikan komputermu dan Jadilah manusia!!
makasih atas komentarnya..
kalau saya malah hobi membaca biografi para tokoh..kalo pemikirannya sering malah gak mudeng, hehe…