Lembaga Swadaya Masyarakat, Perlu Direposisi?
Dunia gerakan sosial kita, dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai ujung tombaknya, mengalami sebuah kegamangan. Setelah lebih dari sepuluh tahun ia ikut melahirkan dan membesarkan suatu proses yang kita istilahkan dengan reformasi, ia sekarang dihadapkan pada sebuah ujian besar, yakni keberlanjutan gerakan itu sendiri. Kegamangan seperti ini bukanlah lagu baru dalam dunia per’LSM’an.
Pada tahun 2003 harian Kompas juga telah membahas kepelikan aktifisme masyarakat, mulai dari stigma yang melekat hingga kemandirian dunia LSM , terutama masalah ketergantungan pada lembaga donor (Kompas, 2003). Jika kita melihat kembali dari momen lahirnya reformasi, maka peristiwa tersebut sendirilah yang menurut Bonnie Setiawan merupakan reposisi pertama LSM, yakni tahun 1998. Dan setelah lewat sepuluh tahun, Bonnie juga belum melihat adanya refleksi berarti mengenai peran LSM. Karena ketika setelah sepuluh tahun reformasi dunia LSM masih belum bisa beranjak dari masalah-masalah awal, maka tentu hal ini menjadi serius karena menjadi indikasi masyarakat sipil yang belum juga bertambah kuat dan mandiri.
Dalang-dalang
Padahal, LSM yang tumbuh melahirkan spesialisasi bidang yang semakin beragam dengan kompetensi yang memadai. Ditinjau dari aktor yang ada, maka kini sungguh menarik untuk melihat bagaimana dalang-dalang gerakan sosial tersebut sudah bertukar panggung dan justru memainkan peranan dalam lakon politik praktis, dunia yang selama ini justru kerap mereka jadikan sasaran empuk kritik. Sudah banyak contoh dari aktifis yang akhirnya berjudi dengan maju sebagai calon legislator atau DPD. Terlepas dari berhasil tidaknya para aktifis tersebut, kenyataan tersebut menyiratkan adanya kegamangan para aktifis dalam mengusahakan perubahan via organisasi non pemerintah Ditinggalkannya dunia gerakan masyarakat oleh para aktornya tentu menyisakan sebuah pertanyaan:
Apakah mereka sudah kehilangan harapan dan semangat untuk melanjutkan apa yang telah mereka bangun dengan susah payah? Benarkah LSM sebagai suatu kekuatan sosial begitu mandul dalam memperbaiki nasib masyarakat? Apapun pilihan yang telah diambil, perjalanan menuju masyarakat sipil yang kuat dan mandiri harus terus berjalan, dengan atau tanpa tokoh yang telah membesarkannya. Oleh sebab itu, ke depannya, dunia gerakan sosial memiliki berbagai jalan alternatif untuk mencapai masing-masing tujuan akhir. Pilihan pertama adalah dengan berubah menjadi gerakan humanitarian dan kemanusiaan, sehingga pekerjaan sebagai seorang ‘aktifis’ menjadi ‘sekedar’ pekerja sosial yang diantaranya mengerjakan pekerjaan seperti pengelolaan komunitas, community development, memberikan pendampingan bagi kelompok rentan.’\
Meminjam penggolongan LSM menurut Bob Hadiwinata, yakni LSM developmentalis dan LSM gerakan, maka klasifikasi tersebut mungkin sudah mulai berubah. Ditopang oleh kesadaran aktifis akan pentingnya media, maka ke depan, LSM mulai memainkan peranan edukasi publik dan bukan lagi sekedar mobilisasi segelintir orang, atau advokasi belaka.
Identitas
Dengan demikian, pilihan kedua adalah dengan memainkan peranan sebagai kelompok yang memberi edukasi kepada masyarakat dengan menjadi kelompok kampanye dan pemasaran sosial. Gerakan moderat ini akan sulit menentukan sikap dalam menghadapi isu-isu tertentu yang memerlukan framing yang tegas, seperti isu HAM. Tetapi kelompok gerakan ini memerlukan kecerdasan dalam memanfaatkan media, satu hal yang masih jarang dipraktekkan dunia LSM kita. Karena sejauh ini, es di antara dunia media dan LSM masih belum terlalu mencair. Gerakan sosial yang ke depannya bisa berhasil adalah gerakan yang bisa memenangkan media untuk artikulasi kepentingan mereka, dan tidak tunduk pada hegemoni modal media massa. Ketiga, melakukan reposisi total dengan menggabungkan diri ke dalam gerakan sosial global dan mencari musuh bersama yang lebih kompleks dan semu, yakni dengan bergabung dalam gerakan lingkungan global, anti globalisasi. Hal ini semakin diperlukan karena gerakan sosial yang hanya bersifat lokal dan sporadis tentu tidak akan bisa bertahan lama karena tidak beradaptasi dengan musuh yang memiliki banyak jubah. Dengan mengafiliasilkan diri ke dalam gerakan global, sebuah gerakan sejatinya mempertegas identitasnya sebagai kelompok penanding negara dan pasar.
Kembali mengutip Bonnie Setiawan, Seberapa pun banyaknya varian LSM, semua di dalamnya menyadari bahwa LSM adalah bagian dari gerakan sosial yang bekerja dan berpihak ke rakyat kecil. Dan, hal tersebut yang seharusnya dapat menyatukan semua aktivis LSM di seluruh Indonesia dan juga di seluruh dunia. Oleh karena itu, apapun jalan yang ditempuh, dunia gerakan sosial kita harus tetap terus berputar untuk mengimbangi kuasa pemerintah dan kapitalis yang kini semakin intrusif ke dalam berbagai sendi kehidupan. Keberlangsungan gerakan ini menjadi harapan masyarakat untuk dapat memperjuangkan tujuan-tujuannya yang tidak menemukan tempat di dalam ranah politik dan pembangunan oleh negara.
foto:stoppemiskinan2015.or













