Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Keberpasangan Memandang Ekuivalensi Einstein

Albert Einstein (1889-1955), ilmuwan paling populer sepanjang abad 20 dengan persamaannya yang sangat familiar, E=mc2. Luluh-lantaknya kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada masa Perang Dunia II, disinyalir bertalian erat dengan proyek-proyek fisikanya. Konsep Ekuivalensi Energi-Massa yang diajukannya digunakan secara membabi-buta oleh para ilmuwan yang didanai militer Sekutu. Leo Szilard, eksperimentalis penemu rangkaian reaksi fisi, telah menerapkan konsep tersebut untuk menjelaskan penemuannya. Perhitungannya tak meleset. Ia dapat menghitung berapa banyak energi yang akan dihasilkan dalam tabung reaksi fisinya, apabila suatu entitas materi berubah menjadi energi. Hasilnya, ia memukau para fisikawan dengan memberikan nilai energi yang begitu dahsyat dari sebagian kecil materi yang hilang. Meskipun hanya beberapa satuan massa atom, dengan formulasi Einstein, Szilard mendapatkan jutaan joule energi yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, termasuk menakut-nakuti musuh Sekutu pada waktu itu.

Ketika menelaah kehilangan massa yang terjadi dalam proses berantai tersebut, ada semacam pertanyaan yang timbul: mengapa materi yang berjasad bisa hilang dan berubah menjadi “panas” yang tak berjasad? Ada semacam ketimpangan yang tampak mencolok manakala kita menyejajarkan besaran massa dan energi. Katanya massa ekuivalen dengan energi, tapi kenapa massa berjasad sedangkan energi tak berjasad? Ini seperti Anda mengatakan “simsalabim”, kemudian meja di depan Anda hilang begitu saja. Ini menjadi tampak serius manakala kita mulai menyadari bahwa alam semesta ini terikat Hukum Kekekalan Materi, yang berbeda sama sekali dengan Hukum Kekekalan Energi, karena kedua besaran itu memang benar-benar berbeda. Perbedaan yang paling mencolok terlihat pada kondisi fisik mereka, materi memiliki jasad, sedangkan energi sejatinya hanya bentuk aktivitas dari apa yang memiliki jasad tersebut. Tapi, mengapa mereka ekuivalen?

Prinsip Keberpasangan menghendaki adanya gelombang elementer sebagai pasangan partikel elementer, karena mereka berdua memiliki sifat-sifat yang saling bertolak-belakang. Bisa jadi, apa yang dinamakan gelombang elementer adalah bentuk fisik dari “panas”. Dalam dunia yang serba “couplity”, dimensi ruang-waktu terbagi menjadi dua: ruang-waktunya partikel elementer yang cenderung diam dan ruang-waktunya gelombang elementer yang cenderung bergerak. Diantara kedua dimensi ini ada titik c yang nilainya konstan, yang membatasi masing-masing dimensi dalam beraktivitas. Maknanya, besaran c yang tetap ini menjadi berpengaruh dalam mekanisme konversi antara partikel dan gelombang. Kebetulan, Einstein menemukan formulasinya melalui perhitungan-perhitungan matematika yang matang, yakni E=mc2. Artinya, apabila ada satu unit besaran massa (partikel) yang hilang, maka akan digantikan besaran energi (gelombang) sebesar satu unit besaran massa itu dikalikan kuadrat nilai kecepatan cahaya. Sebaliknya, jika ada kehilangan satu unit besaran energi (gelombang), maka akan digantikan oleh besaran massa (partikel) sebesar satu unit besaran energi dibagi dengan kuadrat kecepatan cahaya. Konsep ekuivalensi ini terlihat menjadi lebih adil manakala kita tahu partikel elementer dan gelombang elementer memiliki sifat-sifat jasadiah yang setara. Jadi, keberlakuan Hukum Kekekalan Materi menjadi lebih konkret.

Demikianlah pendapat saya, mohon masukannya!

sumber foto:

http://www.publispain.com/

 Tentang Penulis: Jaki Umam

Jaki Umam Lahir di Tegal pada bulan Maret 1985 dari keluarga petani miskin. Lulus SMA tahun 2004 di kota asal, dan dengan bekal ala kadarnya mengadu nasib ke Jakarta selepas sekolah. Saya pernah bekerja sebagai perawat orang jompo di sebuah keluarga pejabat, cleaning service di sebuah perusahaan outsourcing, tenaga marketing di sebuah lembaga kursus tujuh bahasa, dan terakhir sejak awal 2007 sampai sekarang saya banting setir menjadi tenaga profesional dalam bidang Pijat Reflexology. Minat saya dalam ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 2 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.