Beranda > Artikel > Epistemologi Imam Ghazali dan Rene Descartes

Epistemologi Imam Ghazali dan Rene Descartes

Jumat, 10 Juli, 2009 oleh Arli Aditya Parikesit
 

w133_gifBanyak yang berpendapat, bahwa keyakinan harus dipegang teguh, dan tidak boleh diragukan sedikitpun. Tapi tahukah anda, bahwa ada seseorang yang mendapatkan keyakinannya dari keraguan yang amat mendalam? Bagaimana ceritanya? Dan Siapakah dia? Mari kita simak!

Bangsa Turki dan Kekhalifahan: Sebuah pergeseran Sosial

Pada abad ke 5 hijriah (11 masehi), Bangsa Turki menduduki wilayah Timur Tengah. Awalnya, mereka tidak punya agama, dan tidak punya bahasa tulis. Alhasil, mereka pun mengadopsi agama Islam, dan mengadopsi bahasa Persia sebagai bahasa resmi mereka. Ibu kota merekapun, pada awalnya terletak di wilayah Persia (sekarang Iran). Dengan pendudukan bangsa Turki ini, maka Khalifah di Baghdad menjadi tidak lebih daripada boneka Sultan Turki. Kekuasaan riil berada di tangan Sultan. Perebutan kekuasaan ini mengakibatkan terjadinya disintegrasi sosial. Konsekuensi perubahan ini adalah, terjadinya kekosongan dan kehampaan spiritualitas, terutama di seluruh wilayah kekhalifahan. Bermunculanlah berbagai aliran filsafat, kebatinan, ataupun kelompok rahasia, sebagai cara untuk mengisi kekosongan sosio-spiritual tersebut. Ditengah kekacauan sosial tersebut, hadirlah seorang Abu Hamid Al-Ghazali di panggung sejarah.

Kegelisahan seorang profesor

Al Ghazali dikenal sebagai seorang jenius. Dia sudah hapal al-quran dan menguasai bahasa arab, sebelum memasuki masa puber. Prestasi akademisnya di sekolah dan universitas sangat cemerlang, sehingga tidak heran jika akhirnya dia ditawarkan posisi menjadi guru besar dalam bidang ilmu agama di Universitas Nizamyyah, Baghdad. Sepintas, sampai disini kita melihat bahwa seorang Al-Ghazali akan menjadi seorang akademisi terkemuka untuk seterusnya. Namun, ternyata jalan hidupnya bergerak ke arah lain.

Pada suatu hari, Al Ghazali mengalami penyakit yang aneh. Dia kehilangan tenaga dan stamina untuk mengajar dan meneliti, sehingga produktivitasnya turun drastis. Dokter terbaik di seluruh wilayah kekhalifahan sudah dipanggil untuk menyembuhkan penyakit tersebut, tapi mereka semua angkat tangan. Akhirnya Al Ghazali sadar, bahwa penyakit dia bukanlah penyakit fisik, namun penyakit psikis.

Ternyata kegelisahan dia bermulai dari pertanyaan sederhana, yaitu ‘apakah yang saya cari?’. Pada waktu itu, Al Ghazali sudah memiliki posisi tinggi di Universitas, dan memiliki harta sangat banyak. Namun, akhirnya dia bertanya kepada dirinya sendiri, ‘apakah semua ini adalah tujuan hidup saya? Posisi di Universitas? Harta berlimpah? Apakah hanya ini? Bagaimana kalo akhirnya saya kehilangan semuanya dalam sekejab?’. Al Ghazali meyakini, bahwa motivasi dia mengajar dan meneliti tidaklah tulus demi kemanusiaan dan sesamanya. Semua itu hanya demi mendongkrak popularitas dia semata. Dan jika memiliki popularitas, hanya menunggu waktu sebelum akhirnya kehilangan semuanya. Perasaan kehilangan popularitas itu membuatnya sangat khawatir dan stress berkepanjangan. Semua pertanyaan itu, mengendap dalam pikirannya, tanpa ada jawaban. Akhirnya dia jatuh sakit.

Akhirnya, Dia melakukan uzlah, atau perjalanan mengembara selama bertahun-tahun. Setelah memberikan nafkah bagi anak dan istrinya untuk hidup, pergilah dia meninggalkan Baghdad. Seperti yang dikemukakan diatas, wilayah kekhalifahan waktu itu memiliki banyak aliran dengan berbagai macam ideologi. Pada awalnya, Al Ghazali bergabung dengan para filusuf. Di forum ini, Al Ghazali mempelajari karya filusuf muslim, seperti Ibn Sina dan Al Farabi. Dari para filusuf muslim itulah, dia mengenal pemikiran Plato, Aristoteles, dan Plotinus, yang adalah filusuf yunani klasik. Pada awalnya, Al Ghazali sangat puas bergabung dengan para filusuf. Namun, akhirnya dia sadar, bahwa filsafat hanya mampu memberi jawaban terhadap kegelisahan di akal, namun tidak dapat menghentikan kegelisahan hati. Akhirnya, filusuf ia tinggalkan, dan memasuki kelompok kebatinan (catatan: jangan samakan kebatinan versi al ghazali dengan kebatinan di Indo. Tidak ada hubungannya). Di kelompok kebatinan yg ia jumpai, Al Ghazali dipaksa untuk patuh secara buta terhadap gurunya. Pertanyaan atau keraguan adalah pembangkangan. Penggunaan akal, untuk menganalisa kebenaran, dilarang sama sekali. Ini jauh lebih buruk daripada kelompok filusuf, dan akhirnya kebatinan dia tinggalkan.

Kelompok Sufi: ‘Penguasa segala keadaan’

Akhirnya, Al-Ghazali bergabung dengan kelompok sufi. Berbeda dengan filusuf, sufisme tidak hanya menggunakan akal, namun juga intuisi. Berbeda juga dengan kebatinan, penggunaan akal dalam sufisme masih diperbolehkan untuk hal rasional. Pada dasarnya, kelompok sufi, yang bergabung dalam tarekat, melakukan olah batin untuk menjaga keseimbangan antara ikthiar (usaha manusia) dengan kepasrahan (berkat Ilahi). Seorang sufi, akan bekerja keras seperti hidup abadi di dunia, namun beribadah seperti akan segera berpulang kepada-Nya. Dalam Sufi, juga ditekankan benar untuk bertoleransi dengan sesama kaum muslim yang berbeda ideologi, dan juga bertoleransi dengan mereka yang berbeda keyakinan. Toleransi adalah keharusan, sebab dalam kacamata para Sufi, manusia, siapapun mereka, adalah ciptaan Tuhan. Menghargai dan mengapresiasi ciptaan Tuhan adalah suatu keniscayaan. Bergaul dengan mereka yang berbeda ideologi, dan berbeda keyakinan, sudah menjadi kebiasaan kaum Sufi. Karena ketepatan kaum Sufi untuk menjaga keseimbangan, antara dunia dan akhirat, dan keluwesan pergaulan mereka, maka Al-Ghazali menjuluki kaum Sufi sebagai ‘Penguasa segala keadaan’.

Rene Descartes: Mempelajari filsafat Al-Ghazali.

Beberapa waktu setelah Al-Ghazali meninggal, karya beliau diterjemahkan ke bahasa latin oleh intelektual eropa. Di benua ini, Al-Ghazali dikenal namanya sebagai Algazel. Ternyata, filusuf Perancis Rene Descartes juga mempelajari karya Al-Ghazali. Buktinya, seorang profesor Tunisia pernah membaca terjemahan latin karya Al-Ghazali di perpustakaan nasional Perancis, dan menemukan tulisan tangan Descartes di buku itu. Descartes menulis: ‘Pindahkan ini ke metode kita’ pada buku Al-Ghazali tersebut. Namun, filsafat Descartes tetap berbeda dengan Al-Ghazali. Descartes tidak memasukkan sufisme kedalam filsafatnya, namun aspek rasional dari pemikiran Al-Ghazali yang dia utamakan. Sesuatu yang sah-sah saja, sebab pemikiran siapapun pasti akan mengalami adaptasi kultural di bangsa lain.

Dari keraguan menuju pengetahuan

Namun, apa yang bisa kita petik dari cerita diatas. Dalam kisah tersebut, jelas bahwa Al-Ghazali berpendapat bahwa kaum sufi merupakan penguasa segala keadaan. Sebenarnya, tidak hanya Islam, namun semua agama memiliki tradisi Sufi. Misalnya, Katholik dengan asketisme, dan Hindu-Budha dengan Yoga atau Tantra. Semua tradisi tersebut adalah wahana olah batin, untuk menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.


Referensi

Ihya Ulumudin (Ilmu-ilmu agama), Abu Hamid Al Ghazali

Muqidz ad-Dholal (Kitab keraguan), Abu Hamid Al-Ghazali

History of Western Philosophy, Bertrand Russel

foto:.jadu.de

Info Tulisan

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 3,00⁄5)
Loading ... Loading ...

  • Digg
  • Twitter
  • del.icio.us
  • Facebook
  • RSS
  • Turn this article into a PDF!
  • Yahoo! Buzz
  • MySpace
Arli Aditya Parikesit
Penulis: Arli Aditya Parikesit
Tanggal: Jumat, 10 Juli, 2009
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Asisten Peneliti pada Sentral Interdisipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Sangat berminat menjadi entrepreneur. Memiliki minat pada filsafat, seni/sastra, karaoke, spiritualitas, musik, TI, jalan-jalan, antropologi, dan bermimpi akan dunia yang lebih baik. Menyelesaikan pendidikan tingkat Sarjana dan Magister pada Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Sekarang menjadi kandidiat doktor pada Departemen Ilmu Komputer, Fakultas ilmu komputer dan matematika, Universitas Leipzig. Telah mempublikasikan beberapa artikel sains populer pada koran Sinar Harapan, Majalah TI Biskom, dan Detikinet (Divisi TI dari Detik.com). Juga menjadi nara blog pada chem-is-try.org, qbheadlines.com, dan sciencebiotech.net. Pemenang pertama pada lomba menulis OSS 2009, yang diselenggarakan oleh kementrian Ristek RI. Finalis OKTI (Olimpiade Karya Tulis Ilmiah) Paris 2009, yang diselenggarakan oleh PPI Perancis dan KBRI Paris.

Tulisan Terkait:

Tata Cara Berkomentar:

  1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
  2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
  3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan ke NetSains
  4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan

14 Komentar untuk “Epistemologi Imam Ghazali dan Rene Descartes”

  • Sukmana Yudya, S.Si mengatakan:

    Artikelnya benar2 me-science..dengan bahasa yg tidak terlalu sulit untuk orang awam

  • Merry Magdalena mengatakan:

    Memang di Netsains kami usahakan yang tampil adalah tulisan sains ngepop mas..hehehe. Ada mau nyumbang tulisan?

  • sergius lay mengatakan:

    Bagus tulisan tentang Epistemologi Ghazali dan Descartes. Bisa menambah wawasan bagai yang ingin berpetualang dengan dunia sains, filsafat dan sosial serta historisitasnya.

  • Didik Wicaksono mengatakan:

    Berarti Sufi atau apapun namanya, sebagai sebuah metode pengolahan batin, merupakan ajaran yg bersifat universal dan bisa diaplikasikan dalam setiap bidang?

  • Arli Aditya Parikesit mengatakan:

    Yang terpenting dari Sufisme adalah, ia merupakan pengetahuan praktis, yang langsung berpengaruh pada pribadi seseorang. Ini merupakan jalan terbaik, untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya.

  • Jaki Umam mengatakan:

    Dulu saya pernah membaca buku (judulnya samar2 kuingat Sains dalam Perspektif Islam) yg mengatakan, trend kemajuan ilmiah peradaban islam mulai menurun pada masa Algazel smp sekarang. Algazel, melalui Ihya Ulumuddin, menekankan bahwa ilmu agama jauh lebih penting dr ilmu sains. Filsafat Algazel menyekat benar2 antara ilmu agama dan umum, yg smp skrg sgt lazim di dunia islam.
    Saya salah satu orang yg menentang keras dikotomi tsb, karena agama adalah sumber sains dan sains adalah watak agama modern (ilmiah).
    Saya mohon sumbangan masukannya!

  • Arli Aditya Parikesit mengatakan:

    @Jaki: Hai Jaki….Membaca hidup sang Hujattul Islam, kita memang harus cermat. Dikotomi tersebut memang diciptakan, karena dia berpolemik dengan kalangan filosof. Di Tahatul Falasifa (kerancauan para filosof) itu dibahas semua. Di buku itu, terlihat sangat jelas, bahwa sang Hujattul hanya menyerang para filosof di tiga masalah metafisika (kalau tidak salah, mengenai kebangkitan badan, pengetahuan Tuhan terhadap hal partikular, dan keabadian alam semesta). Hal lain tidak diserang, atau disinggung sama sekali, sebab memang tidak dia masalahkan. Hanya tiga hal itu. Namun, karena dia menyerang para filosof, ulama setelah dia menginterpretasikan bahwa sang Hujatul Islam mengangganggap hal rasional/sains itu tidak penting. Padahal, bukan itu maksud Al Ghazali. Dia tidak menyerang ilmu kedokteran, misalnya, karena menurut dia, harus ada kaum muslimin yg menjadi dokter dalam suatu komunitas. Itu demi kemaslahatan komunitas tersebut.
    Juga memang harus dilihat, bahwa di jaman itu pergulatan politik memaksa Al Ghazali untuk mengambil posisi demikian. Alhasil, setelah pertimbangan masak, seseorang harus memutuskan berpihak kan? Kita harus cermat, jangan mengambil keputusan atau fatwa sang hujatul, namun lebih pada proses berpikir yang bersangkutan dalam menghadapi masalah. Itupun, proses yg dia lakukan tidak harus ditiru, namun dipelajari untuk diambil mana yang positif.
    Peradaban Islam, menurut saya, mundur bukan karena sang Hujatul Islam. Namun lebih pada kesepakatan Ulama setelah dia, yang menutup pintu ijtihad, dan mengharamkan filsafat. Itu karena mereka tidak mau mencari pemikiran alternatif selain Ghazali.

  • Jaki mengatakan:

    Makasih atas masukannya!!
    Perang pemikiran antara Algazel (melalui Tahafut al-Falasifah) dan Averos (melalui Tahafut at-Tahafut) seharusnya tidak terjadi kalau saja mereka menyadari bhw agama dan sains saling berkelindan. Dan faktanya, itu berdampak buruk pada kemajuan alam pikiran umat islam.
    Apa yg harus kita lakukan sekarang mas??

  • Arli Aditya Parikesit mengatakan:

    Problem utama sebenarnya, adalah pengharaman filsafat :| . Itu seharusnya tdk dilakukan. Tidak ada filsafat, berarti tidak ada sains. Sebab yg membangun epistemologi dari sains, adalah filsafat. Namun, Ulama yg mengharamkan filsafat itu hanyalah ulama Sunni. Berhubung mayoritas umat muslim bermazhad sunni, maka mayoritas umat terkena dampak larangan tersebut. Di Syiah hal itu tidak terjadi. Bahkan setelah ulama sunni mengharamkan filsafat, syiah masih menghasilkan filosof terkenal, yaitu Mulla Sadra. Tidak mengherankan, di Iran, para ulama sekalipun membaca filsafat barat. Contoh, Murthada Muthahari itu membaca Karl Marx, dan Ayatullah Khomeini itu membaca Immanuel Kant. Mereka sudah terbiasa melakukan perbandingan wacana dari pemikiran yg satu ke yang lain, sehingga bisa menghasilkan pemikiran orisinil. Karena orisinalitas pemikiran mereka, tidak mengherankan kalau Iran menjadi negara Islam yg paling independen, dibanding negara Islam lain. Terlepas dari segala kontroversi, walau peran ulama di Iran sangat dominan dalam berbagai hal, yang menjadi presiden Iran sekarang kan bukan ulama, namun seorang insinyur :) . Kalau mereka menganggap ilmu agama lebih penting, tidak mungkin ada insinyur menjadi presiden di negeri para mullah itu. Kreatifitas serupa, merupakan sesuatu yang sangat sangat jarang ditemukan pada ulama sunni, berhubung filsafat diharamkan. Kita tidak perlu menjadi Syiah, supaya bisa maju. Namun, banyak hal yg bisa kita pelajari dari mereka.

  • Jaki Umam mengatakan:

    Sunni dan Syiah??? Menarik sekali!!! Tapi yang menyedihkan adalah kenyataan akan adanya dikotomi lagi…
    “Dikotomi lagi, dikotomi lagi!!!”
    Sampai kapan umat ini akan disekat-sekat sejarah politik yang kelam??? Saya lebih memilih, tidak ada Sunni dan Syiah, yang ada hanyalah Islam…

  • Arli Aditya Parikesit mengatakan:

    Bahwa setelah Rasul meninggal, Islam terpecah menjadi berbagai mazhab, itu adalah fakta sosial, politik, dan budaya, yang tidak bisa ditolak. Dikotomi Sunni-Syiah, bahkan sudah ada sejak Rasul meninggal. Bisa dibaca, bahwa semenjak Rasul meninggal, persatuan seperti jaman beliau itu sudah tidak ada lagi. Mempersatukan semua mazhab, seperti jaman Rasul, itu masih menjadi impian sampai sekarang.
    Jika ingin hilangkan dikotomi Sunni-Syiah atau sejenisnya, satu-satunya jalan hanyalah pada Tasawuf/Sufi. Di tataran ini, ideologi politik seperti itu sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah Cinta Ilahi :)

  • Jaki Umam mengatakan:

    Mungkin masalahnya kembali ke pribadi masing2. Kl orang yg memilih tidak ada dikotomi dan para sufi itu makin banyak dan banyak, pelan-pelan dikotomi itu akan kabur hingga akhirnya hilang sama sekali. Gitu ya mas?!

  • Arli Aditya Parikesit mengatakan:

    @Jaki: Sang pencinta hanya merasakan cinta ilahi, bukan yang lain. Tidak ada dikotomi di tataran itu. Kebenaran itu sungguh sederhana. Salam

Beri Komentar

Anda Member NetSains? Silahkan login disini