Video Game adalah wahana permainan yang paling menarik bagi anak-anak atau remaja. Namun, apakah hubungannya dengan kekerasan yang terjadi pada anak-anak dan remaja? Mari kita simak, dengan menjadikan kasus di Jepang dan Amerika Serikat sebagai perbandingan.
Science Daily (4 Nov, 2008). Bukan hanya anak-anak Amerika saja yang menjadi lebih agresif dengan bermain video game kekerasan. Sebuah kajian baru, yang telah dipresentasikan pada seminar yang disponsori oleh Pusat Kajian Kekerasan Universitas Negeri Iowa (ISU), menunjukkan efek dari video game kekerasan terhadap agresi dalam periode 3 sampai 6 bulan pada anak-anak dari Jepang dan Amerika Serikat.
Craig Anderson, Profesor Psikologi dari ISU, dan juga direktur pusat kajian kekerasan, mempresentasikan hasil kajian ini, yang telah dipublikasi pada jurnal pediatrik, jurnal profesional pada akademi pediatrik amerika. Riset ini mengacu pada kajian ISU sebelumnya, terhadap 364 anak amerika berusia 9-12 dengan dua kajian serupa terhadap 1200 anak berusia 12-18 dari Jepang. Kajian tersebut menemukan, bahwa pemaparan terdadap video game kekerasan adalah faktor penyebab resiko utama untuk agresi dan kekerasan pada anak.
‘Pada dasarnya, apa yang kita temukan adalah pada ketiga sampel tersebut, banyak dari permainan video game kekerasan pada usia awal sekolah ternyata menyebabkan meningkatnya level agresi selama sekolah, setelah dikaji pada akhir masa sekolah’, demikian kata Anderson, yang baru baru ini terpilih sebagai ketua komunitas riset kekerasan internasional (IRSA). Douglas Gentile, Asisten Profesor Psikologi ISU, wakil direktur dari pusat kajian, dan Akira Sakamoto, wakil profesor psikologi dari Universitas Ochanomizu dan peneliti utama pada riset video game kekerasan di Jepang, berkolaborasi dengan Anderson dan peneliti Jepang lainnya pada kajian ini.
Mempelajari perilaku permainan Video game anak dan agresi
Peneliti mengevaluasi perilaku permainan Video game anak dan tingkat agresi fisik mereka terhadap yang lain pada dua segmen waktu berbeda selama masa sekolah. ‘ Kajian tersebut bervariasi pada rentang waktu yang satu dengan yang lain ( Waktu antara laporan penggunaan video game dan perilaku fisis),’kata Anderson. ‘ Durasi paling pendek adalah tiga bulan, dan paling panjang adalah 6 bulan’.'Tiga sampel tersebut menunjukkan peningkatan signifikan pada agresi oleh anak yang memainkan banyak video game kekerasan.’Kata dia lagi.
Anderson mulai berkolaborasi dengan peneliti Jepang pada kajian ini beberapa tahun yang lalu, ketika ia mengunjungi Jepang dan memberikan kuliah pada konvensi internasional asosiasi game dan simulasi. Menurut dia, perbedaan kultural antara Jepang dan Amerika Serikat sangat menarik untuk dijadikan perbandingan.
‘ Kedua budaya tersebut sangatlah berbeda, dan rata-rata laju kekerasan di Jepang jauh lebih rendah dibanding Amerika Serikat.’ Kata Anderson. ‘ Argumen dari industri video game adalah, semua riset kami terhadap efek kekerasan video game adalah kesalahan besar, sebab banyak anak-anak Jepang bermain video game kekerasan, namun tetap rata-rata laju kekerasan di Jepang adalah rendah. Dengan mengumpulkan data dari Jepang , kami bisa menguji hipotesis tersebut secara langsung, dan bertanya, apakah benar anak-anak Jepang sama sekali tidak terpengaruh dengan video game kekerasan?, tentu saja mereka terpengaruh.’ Demikian kata Anderson. ‘ Mereka terpengaruh juga, seperti anak-anak di Amerika.’
‘Adalah penting untuk disadari, bahwa video game kekerasan tidak menciptakan penembak pistol disekolah,’ kata Gentile. ‘ Mereka membuka kesempatan untuk balas dendam terhadap musuh, untuk mempraktekkan cara agresif untuk merespon konflik dan melakukan agresi. Dalam terma praktis, ini berarti bahwa ketika dilecehkan di sekolah, anak melihat itu sebagai perilaku permusuhan dan beraksi lebih agresif untuk menanggapinya. Video game kekerasan jelas bukanlah faktor utama yang dapat meningkatkan agresi pada anak, namun kajian ini menunjukkan bahwa ini adalah potongan teka-tekin di Amerika dan Jepang.’
Referensi:
Diterjemahkan dari
http://www.sciencedaily.com/releases/2008/11/081103180252.htm
foto:chud.com


