Energi listrik adalah energi akhir yang dibutuhkan bagi peralatan listrik untuk menggerakkan motor, lampu penerangan, memanaskan, mendinginkan ataupun untuk menggerakkan kembali suatu peralatan mekanik untuk menghasilkan bentuk energi yang lain. Energi listrik dapat diubah-ubah menjadi berbagai bentuk energi yang lain. Energi listrik dapat diubah menjadi energi kalor dengan alat yang digunakan yaitu setrika listrik, ceret listrik, kompor listrik. Energi listrik diubah menjadi energi cahaya dengan alat yang digunakan yaitu lampu pijar, lampu neon.
Energi listrik diubah menjadi energi gerak dengan alat yang digunakan yaitu kipas angin, penghisap debu dan masih banyak lagi penggunaan energi listrik. Energi yang dihasilkan ini dapat berasal dari berbagai sumber misalnya air, minyak bumi, batu bara, angin, panas bumi, nuklir, matahari. Dilihat dari sumbernya energi listrik yang berasal dari bahan yang tidak terbarukan pun semakin berkurang jumlahnya sehingga sangat perlu dikembangkan pemanfaatan dari sumber tak terbarukan. Dari sumber energi baik sumber energi terbarukan ataupun tak terbarukan, langkah penghematan dan keefektifan pemanfaatan energi listrik pun selalu dilakukan agar tetap tersedinya pasokan energi listrik.
Efisiensi
Industri sebagai pengguna energi listrikpun melakukan efisiensi penggunaan energi listrik melalui penggunaan mesin yang efeisen. Dalam hal ini keandalan mesin memegang peranan penting guna menunjang efisiensi ini. Komponen mesin yang berupa bearing memerankan peranan dalam mendukung keandalan dan performa mesin. Terdapat hubungan yang sangat dekat antara pengembangan mesin dan performa bearing. Selain itu kerusakan mesin sering dihubungkan dengan kerusakan bearing. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa permasalahan bearing menyumbang 40 % terhadap kerusakan mesin.
Faktor utama dari kerusakan bearing adalah kotoran dan korosi. Kotoran dan material asing sering mengkontaminasi bearing bersamaan dengan pelumasan bearing. Korosi dari bearing dihasilkan dari keberadaan air, acid, kurangnya pelumasan, dan kekurang hati-hatian saat menyimpan serta pemasangan bearing. Permasalahan bearing juga dapat disebabkan oleh pemukulan bearing pada saat pemasangan bearing di shaft. Pemukulan ini akan menghasilkan kerusakan fisik pada alur bearing yang mendorong kerusakan awal bearing.
Pencegahan
Untuk mengatasi dan mencegah masalah ini telah dikembangkan metode pemasangan bearing yang masih sederhana dengan menggunakan prinsip induksi elektromagnetik. Melalui proses ini, lilitan kawat akan dialiri arus litrik yang natinya akan menghasilkan energi bangkitan dan dengan proses induksi, energi panas ditransferkan untuk memuaikan bearing. Bearing yang telah memuai, dengan nilai pemuaian melebihi standard tolenasi shaft maka bearing dapat dipasang pada shaft tanpa proses pemukulan. Alat yang digunakan dalam pemanasan bearing ini disebut alat pemanas bearing yang ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1 : Alat pemanas bearing model U 220 volt
Dalam membangun alat pemanas bearing model U setidaknya perlu 3 komponen utama yaitu inti, lilitan kawat dan sensor suhu. Komponen utama alat pemanas secara mudah dapat diperoleh dari komponen lokal yang ada dipasaran . Komponen yang petama (1) adalah inti yaitu lembaran plat yang secara mudah didapatkan dari trafo. Secara dimensi inti dari trafo pun langsung dapat digunakan. Namun untuk membentuk menjadi model U harus dilakukan modifikasi dengan pemotongan bagian tengah untuk inti yang berasal dari model E. Pada inti ini akan dijadikan tempat landasan gulungan/ lilitan kawat.

Gambar 2 : Inti trafo berbentuk E yang dimodifikasi menajadi bentuk U
Komponen yang kedua (2) adalah Lilitan kawat. Lilitan kawat secara mudah dapat diperoleh dipasaran, bahkan standardnyapun telah ada yaitu berdasarkan standard American wire Gauge (AWG). Melalui standard AWG ini akan memandu kita dalam memilih dimensi kawat, yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dimensi kawat adalah arus maksimum yang dapat dilalui oleh kawat tersebut. Jangan sampai arus yang melalui kawat melebihi kapasitasnya, hal ini akan menyebabkan kawat akan terbakar (hangus). Sebaiknya dalam pemilihan kawat, besarnya arus yang melewati kawat hanya 80 % dari arus maksimumnya. Hal ini ditujukan sebagai pengamanan dari kawat tersebut. Kawat ini nantinya akan digulung pada inti sesuai dengan kebutuhan tegangan yang akan dipakai.

Gambar 3 : Lilitan kawat
Untuk pengujian jumlah gulungan telah sesuai dengan tegangan yang diinginkan dapat dipasang Vari AC dan Clamp on meter sebelum dihubungkan dengan sumber tegangan pada saat pengujian.

Gambar 4 : Vari AC

Gambar 5 : Clamp on meter
Hal ini ditujukan agar tegangan dan arus dapat diukur secara bersamaan dengan batasan yang telah diketahui penguji yaitu jumlah arus maksimum yang akan melalui lilitan kawat. Jika tegangan masih kurang 220 Volt, maka arus akan mencapai nilai maksimumnya terlebih dahulu. Dalam hal ini penguji akan menghentikan pengujiannya dan akan melakukan penambahan jumlah lilitan. Sedangkan jika tegangan 220 volt telah dilampaui dengan arus masih diah 80 % dari arus maksimumnya maka jumlah lilitan yang dibuat telah melebihi yang diinginkan sehingga pengujian pun dihentikan dan dikurangi jumlah lilitan. Sebagai panduan untuk menentukan jumlah lilitan dapat digunakan persamaan berikut :
Dengan, e = tegangan, Ac = Luas area lilitan, Lc = Panjang lintasan. Dari panduan persamaan diatas terlihat tegangan yang dihasilkan oleh alat pemanas bering model U sangat dipengaruhi oleh jumlah lilitan dengan dimensi komponen inti yang telah dipilih terlebih dahulu.
Komponen ketiga (3) dari alat pemanas bearing ini adalah sensor suhu. Sensor suhu yang dipakaipun telah banyak beredar dipasaran, bahkan dengan temperature contoller akan sangat membantu dalam pengorepasian alat ini, yaitu set point suhu dapat di atur dan dapat di atur pula pada saat set point telah tercapai maka alat pemanas akan berhenti bekerja. Proses transfer energi pada alat pemanas ini berlangsung secara konduski, dimana energi panas akan bergerak dari sisi dalam beraing menuju sisi luar. Sehingga pada proses pemanasan ini, sisi dalam bearing akan mengalami proses pemanasan terlebih dahulu dibandingkan dengan sisi luarnya.
Bersambung ke Bagian 2


