Peran Si Kuncung
Ketika saya masih sekolah di SD, yang banyak membentuk dunia ide saya adalah majalah anak-anak seperti Si Kuncung, yang bisa dibeli di sekolah. Saya juga mulai belajar menulis. Tulisan saya pertama kali dimuat di rubrik anak di Harian Kompas, ketika saya masih duduk di kelas IV SD. Tulisan itu berjudul Membeli Ayam Betina. Tulisan itu adalah sebuah cerita sederhana tentang seorang anak yang menabung uang jajannya untuk membeli ayam betina.
Saya ingat, waktu itu Pak Wir begitu bangga pada saya. Saya pun diperkenalkan kepada para siswa di kelas-kelas yang lebih tinggi, di kelas V dan VI, sebagai contoh siswa yang berhasil memuat karyanya di media cetak untuk umum.
Entah karena kebetulan atau karena memang sudah jalan hidup saya, sejak masih SD sampai SMA, saya selalu berurusan atau disuruh menangani majalah dinding (mading). Saya sangat menikmati pembuatan tulisan untuk ditampilkan di mading. Itu saya lakukan sambil melatih dan mempraktikkan cara menulis, seperti yang diajarkan guru bahasa di sekolah, atau mencoba meniru gaya tulisan pengarang-pengarang yang sudah ternama.
Kecenderungan itu berlanjut ketika saya lulus SMA tahun 1980 dan melanjutkan studi ke Jurusan Elektro Fakultas Teknik UI di kampus Salemba 4, Jakarta Pusat. Sewaktu SMA, saya tergolong siswa yang “belajar terus dan kurang bermain.” Maka ketika jadi mahasiswa, saya justru terjun ke banyak aktivitas kemahasiswaan “sebagai kompensasi.”
Saya ikut aktif di BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) FTUI, Ikatan Mahasiswa Elektro, pencinta alam KAPA FTUI, dan Resimen Mahasiswa Batalyon UI. Hampir di setiap organisasi mahasiswa itu saya selalu kebagian tugas menjadi staf Humas atau pengelola buletin. Saya juga rajin mengirim tulisan ke media penerbitan lain di kampus, seperti ke Majalah Economica (Fakultas Ekonomi UI). Jadi, secara efektif, dalam semua aktivitas itu, kemampuan menulis saya terus terasah.
Apalagi ketika saya terjun ke suratkabar kampus Warta UI, yang staf redaksinya adalah mahasiswa dari berbagai fakultas. Di sini saya banyak menimba ilmu jurnalistik dan teknik penulisan dari rekan-rekan mahasiswa Ilmu komunikasi FISIP UI. Mereka adalah guru-guru pertama saya dalam ilmu jurnalistik dan teknik penulisan.
Menulis di Majalah Remaja
Pada tahun 1980-an atau tahun-tahun pertama kuliah di FTUI inilah, saya mulai giat menulis cerpen untuk dikirim ke berbagai majalah remaja, seperti: Halo, Anita Cemerlang, dan Gadis. Saya juga menulis artikel, resensi buku, laporan perjalanan, puisi, dan macam-macam lagi, dan dikirim ke media yang lebih umum, seperti tabloid Mutiara, koran Kompas, Pelita, dan sebagainya.
Saat itu saya sudah mulai mandiri secara finansial, karena honor yang saya peroleh dari kegiatan menulis saya gunakan untuk membayar uang kuliah. Pada penghujung tahun 1980-an itu, biaya kuliah di FTUI tidak mahal, cuma Rp 22.500,- per semester. Biaya murah ini dimungkinkan karena pemerintah memberi subsidi pada universitas-universitas negeri (sangat kontras dengan kondisi tahun 2009 sekarang). Sedangkan honor menulis satu cerpen di majalah Anita Cemerlang waktu itu sekitar Rp 17.500,-
Berkarya di majalah cerpen remaja memang menyenangkan. Terus terang, banyak sekali gagasan untuk penulisan cerpen itu berasal dari pengalaman saya sehari-hari sebagai aktivis mahasiswa. Bisa dibilang, 50 persen dari isi cerpen itu adalah peristiwa faktual, mencakup lokasi, setting cerita, bahkan nama tokoh-tokohnya. Tokoh utamanya adalah khayalan, namun “tokoh-tokoh figuran” dalam cerpen saya tak jarang adalah tokoh-tokoh nyata, dengan nama, karakter dan ciri fisik yang sama!
Jadi, saya menggabungkan separuh fakta dengan separuh khayalan dalam cerpen-cerpen saya. Saya malah pernah “nakal,” memasukkan nama dan nomor telepon seorang teman perempuan –anggota Marching Band UI– dalam cerpen. Rupanya, ada seorang pembaca yang iseng menghubungi nomor itu. Bisa dibayangkan, betapa kagetnya teman saya, ditelepon orang yang tak dikenal, dan ternyata orang itu tahu nama dan nomor teleponnya dari cerpen saya! Untungnya dia tidak marah.
Karena asyik terjun di pers kampus dan bidang jurnalistik umumnya, pemikiran saya pun makin terbuka. Dunia ternyata bukan cuma terkait dengan arus listrik, daya, trafo, generator, kabel, dan instalasi penerangan, hal-hal yang biasa saya temui dalam kuliah di jurusan elektro. Saya makin merasa, kuliah teknik elektro terlalu sempit untuk minat saya yang begitu meluas.
Akibatnya, saya mulai malas kuliah, bahkan merasa salah jurusan. Kuliah saya pun jadi kacau. Bayangkan, pernah ketika esoknya mau ujian mata kuliah elektro, saya bukannya belajar tapi malah membaca buku kriminologi! Akibatnya, saya pun dimarahi ayah.
Bekerja di suratkabar profesional
Dalam kondisi seperti itu, tahun 1986, saya diajak seorang teman untuk ikut bergabung di suratkabar Pelita. Pelita adalah suratkabar milik PPP (Partai Persatuan Pembangunan), yang tidak sukses di pasar, dan karena itu lalu saham dan izin terbitnya dijual ke Golongan Karya (Golkar).
Manajemen baru Pelita di bawah Akbar Tandjung membutuhkan beberapa wartawan baru, dan saya pun mengisi lowongan itu. Meski Pelita hanyalah koran kecil, saya puas bisa berekspresi dan bereksperimen di situ. Saya malah pernah diserahi tanggung jawab untuk mengelola halaman opini. Gaji saya waktu itu sedikit di atas Rp 200 ribu.
Manajemen Pelita tidak begitu baik dan penuh konflik. Profesionalisme wartawan tidak mendapat perhatian serius. Karena ikut menggalang pembentukan serikat pekerja di Pelita, saya lalu dipecat. Lalu saya melamar ke harian Kompas. Saya diterima di Kompas pada Oktober 1988, setelah melalui tes dan proses seleksi yang lumayan ketat, meski saat itu saya belum lulus kuliah (kurang skripsi). Saya baru bisa menyelesaikan skripsi dan lulus dari FTUI tahun 1989, sesudah masuk Kompas.
Sesuai tradisi di Kompas waktu itu, selama sekitar tujuh bulan pertama saya bersama tujuh reporter baru lain digembleng di badan Litbang Kompas. Waktu itu Litbang Kompas dipimpin jurnalis senior J. Widodo. Meski saya sudah pernah bekerja di media lain, hal itu tidak dianggap signifikan. Saya diperlakukan sama seperti reporter baru lainnya, untuk “penyamaan visi” dan “penghayatan gaya Kompas” dalam teknik penulisan berita.
Selama masa penggemblengan ini, kami para jurnalis baru tiap hari berdiskusi, berlatih menulis berita, membuat judul, merencanakan peliputan, memilih angle berita, dan sebagainya. Kalaupun ditugaskan di lapangan, hasil liputan kami tidak pernah dimuat, tetapi hanya dijadikan bahan diskusi di kelas. Status saya selama masa penggemblengan ini adalah sebagai karyawan kontrak, dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.
Selesai pendidikan, saya bersama tujuh rekan lain seangkatan mulai ditempatkan di desk liputan secara rotasi. Setiap desk dijalani selama sebulan. Sesudah menjalani rotasi itu, kinerja kami akan dievaluasi untuk memutuskan dua hal. Pertama, apakah kami layak diangkat sebagai karyawan tetap. Kedua, jika layak diangkat jadi karyawan tetap, desk liputan mana yang dianggap paling pas sebagai tempat penugasan. Biasanya, sesudah sekian bulan menjalani tugas di berbagai desk liputan, akan terlihat seorang reporter itu cocoknya ditempatkan di desk liputan yang mana.
Saya pernah bertugas di desk iptek dan Kompas Minggu (di bawah Ninuk Mardiana Pambudi), dikbud (di bawah Efix Mulyadi), serta internasional (di bawah Budiarto Shambazy, Rikard Bagun, Pieter Gero). Saya tampaknya dianggap cocok bertugas di desk luar negeri sehingga lama menghabiskan masa kerja di desk tersebut. Di desk ini saya secara tak langsung dipaksa belajar bahasa Inggris, karena tugas harian saya adalah menyeleksi, merangkum, dan menterjemahkan pasokan berita dari kantor berita asing (terutama AP, AFP, dan Reuter).
Meliput Perang Teluk di Irak
Karena dianggap cukup sukses meliput di daerah konflik di Papua (waktu itu masih bernama Irian Jaya) dan Aceh pada awal 1990-an, saya akhirnya dipercaya meliput event yang jauh lebih besar dan bersejarah buat saya. Yaitu, meliput krisis dan Perang Teluk pertama di Irak tahun 1991.
Saya pernah berdoa, agar Allah SWT mengizinkan saya menjadi saksi suatu peristiwa bersejarah yang besar. Rupanya doa saya terkabul. Tahun 1990, Irak menyerbu Kuwait sesudah terjadinya sengketa perminyakan antara kedua negara. Irak menuduh Kuwait mencuri minyak Irak dengan cara pengeboran miring, yang masuk ke ladang minyak Rumaila di wilayah Irak. Serbuan militer Irak tak bisa diterima Amerika, yang kemudian menggalang sekutu-sekutunya untuk mengusir Irak dari Kuwait. Perang pun tak terhindarkan pada 1991.
Saya masuk ke Irak bergabung dengan Tim Perdamaian Teluk (Gulf Peace Team), bersama dua rekan dari Indonesia: Rizal Mallarangeng dan Taufik Rahzen. Kami bertiga menginap di Hotel Al-Rasheed, Baghdad, ketika bom-bom pertama dari pesawat AS dan sekutunya dihunjamkan ke Baghdad, yang menandai mulainya Perang Teluk. Pengalaman meliput Perang Teluk itu kelak saya bukukan, dalam buku berjudul Catatan Harian dari Baghdad (PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991).
Pada 21 Juni 1994, pemerintah Soeharto melalui Menteri Penerangan Harmoko, membreidel tiga media: DeTik, Editor, dan Tempo. Ironisnya, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak tegas membela para karyawan pers dan malah membuat pernyataan yang “memaklumi pembreidelan.” Para jurnalis muda yang idealis pun menemukan momentum untuk mendirikan organisasi jurnalis alternatif, yang lebih militan dan tegas dalam melawan rezim otoriter Soeharto. Maka berdirilah AJI (Aliansi Jurnalis independen) pada 7 Agustus 1994 melalui Deklarasi Sirnagalih. Saya ikut mendirikan AJI.
Keterlibatan saya dalam berbagai aksi demonstrasi anti-pembreidelan bersama AJI, serta aktivitas lain saya sebagai salah satu pimpinan di SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), rupanya membuat pemerintah berang. Mereka menekan pimpinan tertinggi Kompas, Jakob Oetama, untuk menindak jurnalis Kompas yang dianggap menentang pemerintah.
Saya pun bersama rekan Dhia Prekasha Yoedha akhirnya dipaksa mundur dari Kompas pada Mei 1995. Kompas bersikap pragmatis. Lebih baik memberhentikan dua jurnalis demi menyelamatkan perusahaan serta 3.000 karyawan yang lain, meskipun pemberhentian itu murni bersifat politis.
Karena nama saya dan Yoedha masuk dalam daftar hitam (black list) penguasa Orde Baru, kami tidak bisa bekerja di media lain waktu itu. Tidak akan ada media yang mau menerima kami, karena tak ada yang mau diangap menentang pemerintah. Dalam kondisi tanpa pekerjaan itu, saya masih bisa bertahan berkat adanya pesangon yang lumayan dari Kompas. Saya juga sempat menerbitkan buku saya yang lain, Di Bawah Langit Jerusalem. Buku ini berisi kumpulan artikel saya tentang politik di Timur Tengah dan konflik Arab-Israel.
Saya dan blog saya sekarang
Sesudah sempat menganggur beberapa lama, sekeluar saya dari Kompas, saya akhirnya bekerja kembali sebagai jurnalis di Majalah D&R, harian Media Indonesia, dan akhirnya di Divisi News Trans TV. Di Trans TV, sebagai Produser Eksekutif, kini saya relatif tidak banyak menulis berita dibandingkan ketika masih bekerja di media cetak.
Kini saya mengisi waktu luang, di sela-sela kesibukan kantor, dengan mengisi dan meramaikan blog saya (http://satrioarismunandar6.blogspot.com) lewat berbagai tulisan. Biasanya, essay-essay pendek yang berkaitan dengan jurnalisme. Saya kebetulan juga mengajar sebagai dosen jurnalistik di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dan di FISIP UI. Oleh karena itu, saya menganjurkan para mahasiswa untuk membuka blog saya, jika mereka membutuhkan referensi atau materi kuliah.
Saya bersyukur memiliki hobi membaca dan menulis. Tanpa dua hal itu, mungkin saya tidak akan menjadi seperti yang sekarang ini. Membaca bagi saya seperti membuka jendela untuk melihat dunia. Sedangkan menulis seperti jalan untuk mempengaruhi dan membentuk dunia.
Setiap orang punya pengalaman sendiri-sendiri. Oleh karena itu, saya tidak pernah bermimpi untuk mengajari atau menguliahi Anda. Saya hanya berharap, pengalaman tulis-menulis saya ini bisa menjadi bahan perbandingan, syukur-syukur menjadi inspirasi bagi mereka yang baru memulai untuk jadi penulis, cerpenis, novelis, jurnalis, atau sekadar pengisi buku harian pribadi. Semua itu baik-baik saja.
Jakarta, 8 Mei 2009
foto:alhikayat.files.wordpress.com



Mas Rio adalah sosok penulis dan jurnalis idealis yang saya kagumi. Keep on rocking, man! Sinar gemilang hanya menerangi mereka yang membawa senter *opo to iki?*
thx mba merr.. tulisan mas satrio keren, menginspirasi, dan menspirit tentunya..sama denganmu..saya selalu mengagumi semua karya2 penulis indonesia dan luar negeri yg membawa cahaya…salam kenal mas satrio hehe…
Salam kenal.Tulisan anda memotivasi saya untuk mengenal lebih jauh tentang seluk beluk dunia jurnalis yang sepertinya bagi saya sebagai hutan belantara dengan kengeriaanya.Setiap enterprenure sejati seperti anda tak lepas dari tantangan.Sukses buat anda
Wah, luar biasa perjuangan mas satrio ini. saya baru tahu begitu hebat liku-liku nya. tak heran tulisan-tulisan mas satrio amat kental dengan idealisme dan punya ruh yang menyihir para pembacanya. sukses selalu ya mas