Beranda > Artikel > Jati Diri: dari Iqbal, Rumi, Sampai Newton

Jati Diri: dari Iqbal, Rumi, Sampai Newton

Jumat, 26 Juni, 2009 oleh Arli Aditya Parikesit
 

l10726033277_28651Muhammand Iqbal, seorang filosof dari pakistan, menggambarkan pencarian jati dirinya dalam tiga babak. Pertama, dia mencari jati dirinya, dengan ‘bersemadi’ dengan alam semesta, alias dengan panteisme platonis. Kedua, sewaktu dia studi ke Heidelberg, jerman, Nietzche berpengaruh kuat dalam dirinya. Di tahap kedua ini, dia mulai mendapat penguatan jati dirinya, untuk menjadi ‘creator of values’.

Tahap terakhir, sejak pulang dari jerman, dan bergulat dengan kondisi politik di anak benua india, sampai dengan meninggalnya, Iqbal ‘mengangkat’ Jalaludin Rumi dari Persia sebagai guru spiritualnya. Jelas ini lebih ke imaginer, karena Rumi sudah meninggal ratusan tahun yang lalu. Di prosa lirik ‘Javid Nama’, yang sengaja ia tulis dalam bahasa persia, untuk mengenang Rumi, Iqbal menggambarkan seluruh perjalanan spiritualnya dengan Rumi. ‘Javid Nama’ adalah salah satu karya sufisme terbaik di jaman modern ini. Seluruh babak perjalanan Iqbal, sebagai filosof, boleh dibilang unik dibanding seluruh filosof dari barat sekalipun. Iqbal adalah wakil dari ‘oriental perennis’ yang sesungguhnya. Sesuai tradisi filosof, seseorang baru dapat dijuluki sebagai filosof, jika semua pemikirannya adalah otonom atau genuine hasil pemikiran diri sendiri. Memang, pengaruh pihak lain sudah pasti ada, namun pemikiran orisinal harus tetap ‘bersinar’, dengan memanfaatkan pengaruh luar.

Dalam otonomi dan orisinalitasnya, Iqbal berhasil menjadi filosof par excelence. Dia berhasil menentukan, ingin menjadi apa dirinya, dengan ‘terjun’ menuju kesadaran dirinya sendiri. Walau dia ’self determined’, Iqbal tetaplah seorang mahluk sosial, yang mencoba membantu komunitasnya. Walau sepak terjangnya di politik pakistan penuh kontroversi, sampai akhirnya Muhammad Ali Jinnah mengambil ide Iqbal untuk mendirikan Pakistan, paling tidak dia sudah berusaha maksimal untuk berbuat terbaik bagi komunitasnya. Politik memang penuh pilihan, dan kadang apa yang kita pilih belum tentu yang terbaik bagi semua pihak.

Independen

Iqbal hanyalah sekedar contoh dari seorang pribadi yang mencari jati dirinya, secara independen. Ada banyak sekali filosof di muka bumi ini, dari barat sampai timur, yang berpengaruh pada komunitas tempat mereka mengabdi. Mulai dari Karl Marx dengan organisasi buruhnya, sampai dengan para filosof zen di asia, seperti Boddhidarma, yang memberikan spiritualitas Buddhisme pada seluruh asia. Namun ada satu hal…hanya satu hal…yang mempersatukan semua filosof. Mereka adalah pribadi-pribadi yang otonom, unik, dan mampu ’self determining’. Mereka bukan tipe pribadi yang ‘larut’ dengan kebesaran pendahulu mereka, namun mereka dapat memanfaatkan kebesaran mereka, untuk menghasilkan pemikiran dan aksi yang lebih baik.

Seorang Isaac Newton, misalnya. Newton tidak hanya sekedar ‘larut’ dalam matematika Rene Descartes. Namun Newton memanfaatkan pemikiran Descartes untuk memformulasikan hukum gravitasi. Seorang Muhammad Hatta, misalnya, tidak sekedar ‘larut’ dalam bacaan-bacaan mengenai ekonomi koperasi di Skandinavia. Namun Bung Hatta berusaha mengaplikasi dan mengadaptasi konsep koperasi untuk Indonesia. Itulah otonomi, dan itulah ’self determination’…….

foto:profile.ak.facebook.com

Info Tulisan

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

  • Digg
  • Twitter
  • del.icio.us
  • Facebook
  • RSS
  • Turn this article into a PDF!
  • Yahoo! Buzz
  • MySpace
Arli Aditya Parikesit
Penulis: Arli Aditya Parikesit
Tanggal: Jumat, 26 Juni, 2009
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Penulis adalah asisten peneliti pada Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Saat ini menjadi kandidat doktor di institusi yang sama.

Tulisan Terkait:

Tata Cara Berkomentar:

  1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
  2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
  3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan ke NetSains
  4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan

3 Komentar untuk “Jati Diri: dari Iqbal, Rumi, Sampai Newton”

Beri Komentar

Anda Member NetSains? Silahkan login disini