Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Mengapa Dibutuhkan Pemimpin Lokal Berwawasan Global?

Indonesia dihadapkan oleh dua persoalan besar, di satu sisi adalah tekanan global dan di sisi lain adalah desakan Otonomi Daerah. Akibat dari tekanan global menimbulkan banyak perubahan yang ditinjau dari perspektif kesiapan SDM, dapat disimpulkan bahwa Indonesia sangat tidak mampu menjawab ketertinggalan dalam globalisasi itu sendiri. Akibatnya adalah desakan otonomi yang dibijaksanai melalui Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Ternyata tidak disertai dengan pembenahan infrastruktur pemerintahan yang siap untuk melaksanakan UU tersebut. Akibat lanjutannya semua komponen masyarakat dan bangsa masuk dalam “kekagetan” secara universal di semua sektor tatanan kebangsaan dan ke-Indonesia-an.

Kerangka berpikir di atas memberikan gambaran jelas tentang sebuah proses pembangunan yang terputus sejak pemerintahan orde lama, orde baru, dan orde reformasi, maka semua jadi timpang dan sistem menjadi tidak jelas. Akibatnya lembaga sektoral, lembaga institusional dan lembaga sosial kemasyarakatan terjadi kebuntuan. Salah satu contoh sistem pemerintahan orde baru yang otoriter dan sentralistik, contoh lain lagi adalah pemerintahan orde reformasi yang kebablasan.

Orang bijak mengatakan “memang kita tidak bisa hidup dalam sejarah, tetapi kita harus belajar dari sejarah”. Mari kita kembali sejenak menatap episode kepemimpinan di Indonesia sekitar tahun 2000 utamanya model kepemimpinan lokal. Masyarakat Indonesia pada era ini mengalami krisis pemimpin lokal yang bisa berpikir secara global. Penyebab dari hal ini semua karena para pemimpin lokal yang dipilih dan dipercaya pemerintah masa lalu tidak dipilih oleh masyarakat. Akibatnya mereka menjadi pemimpin de jure (hanya berdasarkan hukum).

Di periode ini banyak terjadi konflik yang dapat kita saksikan bersama, konflik yang marak terjadi di era ini terjadi dikarenakan para pemimpin yang ada ditunjuk dari atas. Saya dapat mencontohkan pemilihan bupati. Bupati dipilih oleh gubernur, bukan oleh rakyat. Alhasil, ketika terjadi konflik di masyarakat, mereka tidak bisa meredam konflik tersebut. Padahal, pemimpin lokal yang kuat seharusnya diakui secara de facto dan de jure. Permasalahan lain yang turut menimbulkan konflik adalah adanya ketimpangan ekonomi. Harus kita akui, banyak pembangunan yang memang belum dirasakan sampai ke tingkat bawah. Ketika kita membangun secara sentralistik, banyak desa-desa yang masih sangat tertinggal. Pembangunan seperti ini akhirnya menimbulkan ketimpangan peran masyarakat setempat.

Hal ini sangat jelas menjadikan masyarakat hanya jadi pelengkap dan penyerta dalam pembangunan, saya selaku mahasiswa sangat menyarankan agar semua pihak melihat sumber daya manusia yang tidak diberdayakan di masyarakat, sudah saatnya kita mengembangkan dan memberdayakan mereka tanpa harus terjadinya sukuisme yang sangat ekstrim. Inilah sedikit gambaran Indonesia beberapa tahun silam. Selanjutnya menjadi pertanyaan, pemimpin seperti apakah yang di butuhkan Indonesia untuk menjawab persoalan bangsa dalam persaingan global ?

Wawasan Berpikir Global

Berbicara tentang globalisasi tentunya menyangkut seluruh tatanan sektor kehidupan, yang terintegrasi misalnya dalam ekonomi, politik, pendidikan, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Salah satu ciri utama dari globalisasi adalah perkembangan teknologi informasi secara cepat dan tidak adanya “border” yang sangat ketat untuk saling berinteraksi antara satu negara-negara lain. Untuk menghadapi kondisi ini tentunya membutuhkan orang-orang yang mampu melihat kondisi globalisasi sebagai sebuah peluang dan bukan merupakan hambatan.

Ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah lokal dengan perkembangan teknologi informasi, salah satu contoh memudahkan akses informasi dengan daerah lain (kerjasama antar daerah yang diatur dalam undang – undang) bahkan kerjasama antar negara untuk saling bertukar informasi yang tujuannya dapat memberikan kesejahteraan buat masyarakat. Namun, harus di pikirkan juga bahwa semakin terbukanya akses informasi tentunya akan membawa dampak-dampak negatif apabila tidak dilakukan inovasi-inovasi yang berkelanjutan dari para pemimpin lokal.

Pemimpin Lokal Berwawasan Global

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Otonomi Daerah telah membawa perubahan tersendiri dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Salah satu perubahan mendasar dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah di era otonomi daerah yaitu proses seleksi kepemimpinan eksekutif lokal tidak lagi dipilih dan ditentukan oleh DPRD, tapi langsung oleh rakyat. Output pilkada diharapkan pemimpin eksekutif lokal yang bisa memenuhi preferensi mayoritas masyarakat lokal dan mempercepat terbentuknya pemerintahan daerah yang lebih baik (good governance). Dengan begitu, dari sisi subtansi, pilkada diharapkan bisa melakukan proses seleksi pemimpin yang dinilai rakyatnya terbaik untuk melakukan perubahan-perubahan yang menjanjikan dan memberi manfaat kepada masyarakat luas, lebih jauh lagi adalah mencari langkah – langkah yang lebih maju dalam proses pembiayaan pembangunan sarana dan prasarana lokal (lokal conten of finance development proses)

Terlepas dari sistem pemilihan pemimpin lokal yang beralih ke sistem yang berdasarkan de jure dan de facto, ada satu titik penting yang perlu kita garisbawahi apapun sistem yang dipakai yang sangat kita harapkan sebagai rakyat yakni lahirnya pemimpin-pemimpin lokal yang berwawsan global, dalam artian mengetahui kondisi apa yang dipimpinnya dan mempunyai pemikiran atau wawasan secara global. Hal ini sangat penting sebagaimana di katakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat:

    “I don’t think you have to be

    Wearing stars on your shoulders or a title to be a leader.

    Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”

    -General Ronal Fogleman, US Air Force-

Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.

Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out). Memang sudah saatnya para pemimpin baik dalam tataran lokal maupun nasional sudah saatnya menyadari dan mengimplementasikan makna kepemimpinan dengan sebaik-baiknya karena merekalh uyang menjadi tumpuan dan harapan masyarakat. Para pemimpin lokal yang saat ini di amanahkan oleh rakyat sudah saatnya membuka mata dan berpikir secara global bahwa negera-negera seperti Jepang, China, Singapura sudah sangat maju karena para pemimpin di sana sudah berpikir secara global untuk mengembangkan daerah dan negaranya. Contoh kecil, kenapa pemerintah lokal Kota Malang tidak berani melakukan ekspansi pasar untuk meningkatkan kualitas dan penjualan Apel Malang sehingga tidak tergeser oleh apel-apel impor yang saat ini sudah membanjiri supermarket. Sebagaimana kita ketahui hampir dapat dipastikan, pengembangan jenis apel tropis dari Malang di Thailand nantinya akan dapat lebih maju daripada di Malang atau Kota Batu sendiri, karena saat ini pemerintah Thailand sangat mengutamakan bidang pertanian dan perkebunan sehingga produk-produk yang di kelola dan dihasilkan sangat maju. Terus haruskah pemerintah Kota Malang diam saja???

Jawaban seharusnya tidak. Tetapi sudah saatnya kita mencetak pemimpin lokal yang berwawasan global di negeri ini yang mampu melihat kondisi dunia secara objektif, mampu melakukan perubahan dan inovasi sesuai perkembangan dunia dan permintaan pasar. Terus siapakah orang-orang yang dibutuhkan untuk menempati posisi itu, tentu kita perlu melihat sejenak ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab:

    As for the best leaders, the people do not notice their existence.
    The next best, the people honour and praise. The next, the people fear,
    And the next the people hate.
    When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves’.

Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer. Sifat pemimpin seperti itu dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang memiliki sifat jujur, cerdas, bertanggung jawab dan menepati janji.

Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan sangat cocok untuk diterapakan untuk mencetak para pemimpin lokal yang sejati, tetapi mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble). Pada akhirnya sosok pemimpin demikian dapat berinteraksi serta menciptakan kesetaraan dan kesesuaian, sehingga tercipta suasana yang kondusif dalam sebuah pemerintahan lokal, yang selanjutnya akselerasi pembangunan juga berjalan lancar.

Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka. Saya menyaksikan sendiri dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun.

Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.

Karakter Pemimpin Lokal Berwawasan Global

Setiap kita memilki kapasitas untuk memimpin. Tetapi yang menjadi masalah, banyak pemimpin yang telah diamanahi jabatan dan tanggung jawab masih berpikiran “kolot” alias asal memimpin, tidak mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang dipimpinnya dan tidak mau tahu perubahan-perubahan secara global yang sangat dinamis, sehingga yang terjadi adalah pemimpin lokal yang yang tidak tahu apa-apa dan susah menerima perubahan tetapi sangat senang menerima pujian.

Menurut kami visi dan missi sosok pemimpin lokal seharusnya mempunyai karakter sebagaimana yang selaras dengan yang diungkapkan oleh Aribowo Prijosaksono dalam bukunya, sebagai berikut:

  • seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ (Kecerdasan Intelektual)- EQ (Keceradasan Emosional ) -SQ (Kecerdasan Spiritual) yang cukup tinggi.
  • seorang pemimpin yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.
  • seorang pemimpin yang memiliki energi kehidupan
  • seorang pemimpin yang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).

Dari penjelasan di atas ada tiga poin penting yang mesti diperhatikan dalam pemilihan pemimpin lokal yaitu adanya perubahan karakater dari dalam diri (character of change), visi yang jelas (clear vision), kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence). Oleh karena itu sudah saatnya kita mengajak para sarjana-sarjana daerah yang telah menimba ilmu di luar daerah agar tercipta pemimpin lokal yang berkualitas.

Misalnya, di Indonesia banyak lulusan Perguruan Tinggi yang jurusan pertanian dan peternakan seharusnya kembali ke daerah masing-masing untuk mengembangkan sektor pertanian, perkebunan dan peternakan di daerahnya agar bisa mengejar ketertinggalan Indonesia dari negera tetangga, Thailand yang telah lebih maju dalam sektor pertanian. Tetapi hal ini tentunya harus difasilitasi oleh pemerintah daerah asal agar sarjana-sarjana mau kembali ke daaerah, contoh memberikan gaji yang layak sehingga berbagai sektor dapat di kelola dengan baik, right man-right work. Begitupun lulusan-lulusan akuntansi dari berbagai perguruan tinggi terkenak baik negeri maupun swasta dan lain-lain sudah saatnya kembali ke daerah masing untuk menjadi pemimpin lokal yang berwawasan global dalam rangka membenahi laporan-laporan keuangan daerah yang akrab dengan “disclaimer”. Jangan tinggal diam semua di Ibu Kota, mengadu nasib di Jakarta yang serba mahal tapi marilah berpikir untuk menjadi pemimpin lokal yang berwawasan gloal yang akan membawa negeri Indonesia ini menjadi bangsa yang diperhitungkan di dunia.

Saya yakin dengan adanya dukungan yang kuat dari Pemerintah Daerah maka pada tahun 2014 akan banyak pemimpin-pemimpin lokal yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual serta mempunyai wawasan global yang akan mengangkat citra bangsa di mata dunia. Program ini memang harus sinergis antara lulusan Perguruan Tinggi dan Pemda. Menjadi pemimpin memang tidak mudah tetapi kita semua harus tetap semangat dan optimis seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: “The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.

Untuk menghadapi segala kondisi di era globalisasi tentunya dibutuhkan pemimpin yang paham dengan kondisi lokal tersebut (lokal wisdom). Pemimpin lokal berwawasan global merupakan tuntutan konstitusi, keharusan sejarah dan kebutuhan masa depan bangsa. Membangun Indonesia masa depan, kami menawarkan metode “piramida terbalik“. Dengan harapan bahwa konstruksi berpikir seperti itu dapat diimplemantasikan secepatnya sehingga sepuluh tahun ke depan atau 2019 akan tercipta Indonesia yang mampu bersaing secara global.

Tips Khusus Calon Pemimpin 2019

Sosok pemimpin lokal berwawasan global yang diharapkan muncul satu dasawarsa ke depan adalah pemimpin yang memiliki mentalitas dasar (basic mentality) berbasis pada komitmen terhadap ideologi dan konstitusi negara, sehingga mampu memahami potensi yang dimiliki (potential concioseness) untuk senantiasa konsisten terhadap rencana program-program pembangunan yang berbasis pada mensejahterakan rakyat menuju masyarakat yang mandiri dan bermartabat.

Tentunya bahwa alat penunjang yang paling efektif bilamana sosok pemimpin tersebut dibekali dengan kemampuan kecerdasan berprestasi (achievement inteligencia) yang dapat menciptakan sosok pemimpin memiliki empati, etika dan kedisiplinan, sehingga kinerjanya dapat dipertanggungjawabkan dihadapan rakyat (acountability public). Artinya bahwa sosok pemimpin yang seperti itu telah membangun kemitraan dengan staf dipemerintahan dan memposisikan rakyat sebagai subjek dan tidak lagi menjadi objek pembangunan semata.

Lebih jauh lagi bilamana sosok pemimpin lokal berkeinginan sukses dalam membangun daerah dan masyarakat, maka kualitas kerja yang dihasilkan haruslah didasari pola kerja yang profesional dan proporsional. Sehingga tatanan pemerintahan lokal dapat berjalan secara manajerial. Untuk mencapai puncak keberhasilan maka ada 4 (empat) hal yang sangat penting dan mendesak diperhatikan oleh sosok pemimpin lokal adalah: 1) Kemampuan analisa terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam lingkungan strategis harus dipertajam, 2) Kemampuan sosialisasi atas program yang telah direncanakan dan disusun baik pada level staf maupun pada masyarakat lokal dimana program tersebut ditujukan, 3) Kemampuan unjtuk mengaplikasi atau mewujudkan program yang sudah direncanakan, sehingga perencanaan program tidak hanya menjadi wacana/janji, tetapi dapat dibuktikan, yang tidak kalah pentingnya adalah 4) Sosok pemimpin harus memiliki nilai kejujuran (honesty), karena keberhasilan untuk memimpin yang baik haruslah dilandasi dengan nilai kejujuran tersebut.

Konsepsi berpikir di atas yang mengkaji tentang pemimpin lokal yang berwawasan global yang ditargetkan dapat tercipta pada 2019 bukanlah sekedar angan-angan tetapi sebuah harapan yang dapat terbukti bilamana semua elemen masyarakat dan komponen bangsa bersungguh-sungguh ingin menumbuh kembangkan sebuah bangsa yang memiliki kemandirian, menuju bangsa yang sejahtera, memiliki sikap dan karakter yang berbasis pada nilai keberagaman kultur, merdeka dan bermartabat.

 Tentang Penulis: Hendriyadi

Hendriyadi Lahir di Salemba, 12 April 1989. Sekarang tinggal di Jalan Talang 39 Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Mahasiswa FE Trisakti ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 4 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.