Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 suara, nilai: 3,75 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya

Masa yang paling indah adalah masa remaja.

Masa yang paling menyedihkan adalah masa remaja.

Masa yang paling ingin dikenang adalah masa remaja.

Masa yang paling ingin dilupakan adalah masa remaja.

Remaja

Remaja

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.

Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:

  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.

Permasalahan Fisik dan Kesehatan

Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).

Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.

Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang

Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.

  • Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
  • Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
  • Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
  • Cinta dan Hubungan Heteroseksual
  • Permasalahan Seksual
  • Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
  • Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama

Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:

Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya “jatuh cinta”.

Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman.

Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja.

Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).

Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.

Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja.

Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.

Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.

Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.

Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.

REFERENSI :

Choate, L.H. (2007). Counseling Adolescent Girls for Body Image Resilience: Strategi for School Counselors. Profesional School Counseling. Alexandria: Feb 2007. Vol. 10, Iss. 3; pg. 317, 10 pgs. Diakses melalui http://ezproxy.match.edu/menu pada 9 Mei 2008

Fagan, R. (2006). Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other Substance Use Problems and their Family. The Family Journal: Counseling therapy For Couples and Families. Vol.14. No.4.326-333. Sage Publication diakses melalui http://tfj.sagepub.com/cgi/reprint/14/4/326 pada 18 April 2008

Gunarsa, S. D. (1989). PsikologiPperkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.

Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.

Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Muss, R. E. , Olds, S. W. , & Fealdman (2001). Human Developmen. Boston: McGraw-Hill Companies.

Rey, J. (2002). More than Just The Blues: Understanding Serious Teenage Problems. Sydney: Simon & Schuster.

Rini, J.F. (2004). Mencemaskan Penampilan. Diakses dari e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Setiono, L.H. (2002). Beberapa Permasalahan Remaja. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Tambunan, R. (2001). Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Mitos-mitos Seputar “Gak Bakal Hamil”. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Kredit Foto: inmagine.com

 Tentang Penulis: Adib Asrori

Adib Asrori Psikolog yang baru saja menyelesaikan pendidikan Magister Profesi Psikologi pada Fakultas Psikologi UGM, juga sedang mempelajari ilmu pengobatan timur untuk menjadi seorang Akupunkturis. Cat hobies & sekarang mulai beralih ke hobies KOI. Sekarang sebagai salah satu tenaga pengajar paruh waktu pada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.
  • berkunjung...tapi terima kasih saya juga sedang punya masalah ini....
  • Jangan biarkan remaja terjebak pada cinta (obat) terlarang
  • aulia rida
    good info..., coba kalau ada info tentang cara mengatasi remaja yang lagi terkena "wabah cinta romantis"
  • Artikel yang bagus, penuh manfaat. Dan sepertinya kita sebagai orang tua baik membaca ini.
  • Anna Slamet Setiyowati
    sangat membantu saya ... untuk membuat materi seminar tentang Psikologi Remaja , dan permasalahannya :)

    termakasih yaa
  • renna lanyta
    good! i need it! bolehkah sy copy utk disampaikan pd anak didik? thanks....
  • ADIB
    Boleh ibu.. silahkan saja.. selama sesuai dengan kaidah penulisan sebuah naskah karya orang lain.. Thanks..
  • mohammad irwan tuja
    ok. bagus, bwat remaja yg bener2 butuh figur yg bisa bwat contoh dan perilaku yg baek.
  • Christian
    nice..
    kebetulan saya lagi ada masalah yg berhub dgn psikologi..
    sepupu saya,,perempuan,,21-22 thn saat ini sedang mengalami masalah..badan nya panas,,kata dktr gejala DB,,tapi dia ngomong ngelantur dan sulit diajak berkomunikasi..ke dua orang tua nya sibuk bekerja dan ia tampaknya kurang perhatian..
    apakah ia hanya berpura2 atau benar2 mengalami gangguan kejiwaan??
  • Maaf agak lama bls..
    Kalo menurut saya tidak ada salahnya dibaya ke dokter dulu untuk meredakan simtom fisiknya seperti demam, takutnya nanti benar terkenaDB tapi tidak segera teratasi. Demam yang terlampau tinggi juga dapat menyebabkan gangguan pada otak sehingga terkadang orang yang demam tinggi bisa berbicara sedikit ngelantur seperti yang anda bilang. Namun lebih detailnya dapat diperiksakan ke dokter yang anda percaya.
    Jika memang ada indikasi gangguan psikologis, biasanya dokter yang memeriksa akan membuat rujukan pada psikolog atau psikiater. Jika memang gangguannya sampai pada ganggua psikotik, maka biasanya ia butuh obat-obatan psikotropika untuk meredakan halusinasinya, dan ini hanya psikiater yang bisa memberikan.
    Namun jika problem psikologis biasa tidak sampai ada simptom fisik, misalnya masalah kurangnya perhatian dari keluarga sehingga ia berperilaku demikian hanya untuk mencari perhatian atau apa, dapat dirujuk ke psikolog. Kita akan mengajarkan bagaimana ia mampu mereduksi berbagai stressor yang ia hadapi guna mencapa problem solving yang tepat. Juga mungkin untuk memfasilitasi beban-beban yang selama ini menjadi pikirannya yang tidak dapat ia ceritakan ke orang lain.. Semoga cukup membantu..
    Salam hangat, Adib..
  • ndari
    munkin itu karena lingkungan dia bergaul.dia jadi mudah emozi dan mudah meluapkan kata2 yang tidak pantas dia katakan
  • bagas
    coba dibawa ke psikiater siapa tau bisa membantu
  • wirna/ina
    iya ni aku sering
    tidak percaya diri........
    mungkin karna q seorang remaja kali ya........
  • rachel
    wah...
    artikel ini bagus banget!
    karna aku sering tidak bisa mengontrol emosi
  • salam,
    tulisan yang menarik (belum dibaca seluruhnya). namun, tidak semua remaja dalam kondisi pencarian jati diri. beberapa diantaranya bahkan lebih unggul dibanding generasi yang lebih tua. misalnya imam syafi'i yang telah menjabat hakim mekkah pada usia 15 tahun dan sidharta gautama yang mampu menyingkirkan sifat-sifat kehewanannya pada usia 16 tahun. remaja memiliki banyak potensi, adapun tentang pencarian jati diri, saya berfikir itu merupakan masalah semua jenis manusia. contohnya : banyak orang dewasa yang melakukan kriminal daripada para remaja
  • Terima kasih komentarnya.. hal yang saya sebutkan di atas berlaku untuk remaja kebanyakan dan pada umumnya.. jika kita bicara soal tokoh agama, lain lagi ceritanya.. kita mesti perhatikan bagaimana lingkungan membentuk mereka, hingga akhirnya mereka menjadi tokoh2 terkenal dalam sebuah agama tertentu..
    Itulah yang dinamakan "proses".. masing2 orang menjalani proses yang berbeda, hingga berkembang menjadi seorang pribadi yang matang, lebih baik atau lebih buruk..

    Kalo kita bicara tentang "pencarian identitas diri" memang merupakan salah satu karakter khas remaja, yang dalam teori psikologi perkembangan disebut sebagaia "tugas perkembangan". Nah, jika yang anda contohkan adalah tindakan kriminal, maka kita harus kaji dulu lebih dalam apa sebenarnya motif dibalik seseorang melakukan tindakan kriminal? pencarian jati diri tidak selalu identik dengan melakukan hal-hal negatif seperti kriminal, mencuri, atau hal negatif lain.. mereka dapat dengan mencoba mengikuti kajian ilmiah, agama, atau mencoba hal-hal yang lain hingga akhirnya mereka menemukan suatu hal yang nyaman dan cocok untuk mereka.. Jika tindakan kriminal yang dilakukan remaja, motifnya sebagian besar lebih karena coba-coba dan hal ini dapat dikatakan sebagai pencarian jati diri.. namun jika dilakukan orang dewasa, jarang sekali saya tahu jika motifnya karena coba-coba. sebagian besar lebih karena motif ekonomi, kebutuhan, atau konflik interpersonal.. Terima kasih sharingnya.. GBU..
  • L
    sangat membantu saya mengerjakan tugas dari guru BK..
    Hehe,
    Thx aaaaaa Lot..
  • septi eriana
    hai tmen2 q pngen berbagi pengalaman dg anda2 tentux msalah remaja. tlong add mig33 aq airin_gt or add fecebookq erin.mig33@gmail.com
  • hiekaru
    oh....... mY gooDss!!!????
  • rikirusli
    untuk para orang tua dan remaja harus selalu diajarin agama lebih mendalam lagi. karna sakarang banyak alquran di jadikan pajangan saja. pengaruh yang terbesar adalah televisi dan media masa
  • Eli
    Waduh,bgus bget N3ch..


    NGEBNTuin Lie Buat Ngrjain Tgaz B.ind Nech

    disini Bsa Sharn9 Mslah2 PRibdi Jg QuanN..
  • dian Haerani
    artikel ini tlh mbntu mnyelesaikan tgas karya tulis saya
  • dian Haerani
    artikel ini tlh mbntu mnyelesaikan tgas karya tulis saya.
  • chanievach
    thanks udah buat artikel ini,,,artikel nie udah sangat membantu saya dalam banyak hal...terutama dalam masalah hidup saya.
  • aziz mahasiswa s2
    izin ngopy ya buat makalah...=)
  • good... i like,,, saya remaja
  • Noella
    Well..
    Saya sendiri bingung, memang benar, menjadi remaja (karena saya remaja) adalah hal tersulit yang pernah saya alami.
    Terkadang saya ingin seseorang di dekat saya dan esoknya saya ingin semua orang menyingkir.
    Apapun yang saya lakukan salah dan orang tua saya tidak mau mengerti saya.
    Saya tidak terlalu bagus dalam komunikasi dan pergaulan, tapi ibu saya memaksa saya untuk melakukan pergaulan yang lebih agresif dengan keluarganya. Dan jujur saja saya mengalami kesulitan.
    Dan walau saya mengalami berbagai kerisauan dan kebimbangan layaknya remaja saya tetap tidak mengerti bagaimana 'broken home' dapat menjerumuskan seorang remaja dalam pergaulan bebas (rokok, alkohol, obat-obatan).
    Saya merasa itu hanya alasan dan teori yang dicetuskan dan menjadi penyebaran cara pikir individu.
    Sehingga remaja ikut-ikutan berpikir bahwa bila ia tidak mendapatkan kasih sayang ia dihalalkan untuk mencari pelarian.
    saya pikir itulah yang terjadi. as a teenager, i surely know what is right and wrong. And i believe, those kids knew too.
  • Trhee3_ha
    wah artikel nya bagus banget,eh knapa ya aku tuh sulit lw di buat emosi,tapi lw dah emosi ngeredainnya lama banget sampe 1 bulanan...?
  • Phutry_love_disney
    Nie artikel bgs bgt...
    Qw jd dpt bnyak mnfaat...
    Mksh buat info'na...
    Klu blh tlg ditmbhkan lgi y artikel ttg prmslh pd rmja ini...

    Thanks..
  • dinda
    Ass......
    salm s'jahtera u/smua....
    nee artikel bgs bgt....
    dri artikel nee Q bsa m'lihat wacana,,supervisor psikolog experimental remaja.
  • Lestary_BIMA
    Salamun alaik..
    Artikel na smart.
    Sdkit bsa membntu sya dlm brinteraksi dlngkungan remaja. Tp sya msh bngung gmna crax bsa mmhmi wtak seorg melankolis,plagmatis, sanguinis n koleris.. Ada saran gk ??
  • shofi
    salam..ketika saya kelas 2SMA saya jarang masuk sekolah, itu dikarenakan saya merasa kurang nyaman bergaul dengan teman-teman seusia saya. jujur saya tidak ada masalah dengan mereka,saya sendiri heran kenapa saya seperti itu.waktu itu saya merasa lebih nyaman bergaul dengan usia yang berada di atas saya atau dengan anak-anak..yang saya alami tersebut masuk dalam kategori mana yaa?
  • wawan
    pak apa saja pengaruh lingkunga terhadap psikologis remaja? ya lingkungan tempat tinggalnya.
  • Deplo supoyo
    acungkan jempol buat artikel bang Adib Asrori, artikel ini sangat penting untuk dibaca para remaja saat ini, karena kejiwaan remaja dikatagorikan masih labil, dan artikel ini membantu saya dalam menyelesaikan tugas kuliah saya....
  • Thanks buat masukannya..
  • uchi
    bagus banget
  • taeminholic
    terima kasih sangat membantu
  • mocho timor leste
    gue pgn tanx pa yng palng klw di saat kt mnhdpi obyek yg kt ingn maw nyanya tntng kpribadian sesorng. dr mochoo, fakultas psikolog universitas 45 surabaya
  • Maksud pertanyaannya apa? Kurang jelas.. coba dibaca & dicermati ulang maksud kalimat yang Anda tuliskan apa.. thx
  • hilda zainal
    hanya sedikit yang benar-benar mengetahui tentang kita, tapi ini sungguh sangat membuatku mengerti
  • achmad
    cara menghadapi ortu(bapak) yang selalu bersikap otoriter. Padahal q sudah umur 20thn. Apa yang diinginkannya hrs dituruti. Aku saja gak boleh punya pendapat.
  • irma
    saya coba nyimpulin tulisannya ni, "walaupun sudah ditanamkan nilai moral, tapi aplikasinya yang bingung untuk diterapkan oleh remaja, karena permasalahan yang dihadapi sangat luas" Berarti filter yang harus ditanamkan bukan lagi cuma nilai moral, tapi juga hakikat atau prinsip hidup yang harus dipahami, selain pengarahan lingkungan yang tepat...gitu pak? trus, ada nggak cara tepat untuk menyalurkan kemarahan, kekecewaan, atau merasa tidak PD khususnya ya buat remaja?
blog comments powered by Disqus