Heboh nikah muda oleh Syeh Puji masih hangat diperbincangkan. Di Indonesia atau negara berkembang lain, nikah usia dini memang sudah biasa. Padahal menurut studi sains, perempuan usia belasan sebaiknya tidak menikah dulu. Apa pasal? Tubuh mereka masih belum sempurna betul untuk melakukan reproduksi.
Anita Raj, ilmuwan dari Boston University School of Public Health mengatakan, di banyak negara berkembang, menstruasi kerap dipandang sebagai tanda kedewasaan seorang perempuan. Padahal itu tak betul. “Menstruasi bukan pertanda bahwa tubuh perempuan siap melakukan reproduksi.Mereka memang mengalami pendewasaan kesuburan tapii bukan berarti siap melakukan pembuahan,” jelas Raj. Jika dipaksakan akan sangat berisiko karena organ-organ reproduksi belum sempurna terbentuk.
Bangsa Primata
Menariknya, ketidaksiapan organ reproduksi ini terlihat jelas pada primata. Pada manusia, perempuan selintas terlihat cukup “dewasa” organ reproduksinya walau sesungguhnya belum. Namun pada bangsa monyet tidak. Monyet Macaca yang sudah cukup dewasa melakukan ovulasi akan muncul lingkaran merah pada punggungnya. Babon betina muda yang siap berovulasi akan mendekati pejantannya dan memamerkan lingkaran merah itu.
Monyet usia muda juga bisa saja hamil tapi tetap memerlukan bantuan induknya. Tubuh mereka baru akan bisa hamil lagi setelah rentang waktu lama.
Sedangkan pada manusia, kehamilan yang dipaksakan pada usia muda berpotensi bayi lahir prematur dengan berat di bawah normal. Bahkan kasus kematian bayi pada ibu usia muda lebih besar. Nah, semoga saja Syeh Puji atau para lelaki penikmat “daun muda” bisa memahami hal ini.
Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience.com
Foto:women4hope.files.wordpress.com



Artikel berbumbu ‘revolusi seksual’ nih
.
Nikah di usia muda sih ok2 aja, asalkan tungguin aja alat repro-nya sempurna sebelum repro.
ada pepatah :
“condom or calendar”
bisa jg baca selengkapnya di:
http://www.hanyawanita.com/_mother_child/pregnancy/article.php?article_id=9505
yha asyyik aja klau udah nikah