
Lampu hemat energi di Damascus, Syria
Sudah sejak lama lampu pijar dipakai orang, menggantikan obor, pelita, dan penerangan dengan gas. Ketika dunia semakin benderang, pikiran pun bertambah cerah. Lampu alternatif dicari dan diselidiki, dan kemudian muncul lampu hemat energi, yang sekarang berangsur banyak digunakan. Sebenarnya, bagaimana cara lampu ini bekerja?
Petir mini
Lampu pijar bisa bersinar dan membagikan terang karena ada kawat tipis di dalamnya, yang jika dialiri listrik menjadi panas, membara dan menyala. Asal energinya memang listrik. Tetapi tidak selamanya listrik bertugas memanaskan kawat pijar. Ada jenis lampu lain yang berisi gas dan listriknya dipakai untuk menerbitkan loncatan listrik, semacam petir mini. Sebagai hasilnya, energi gas menjadi lebih tinggi dari pada normalnya.
Keadaan dengan tenaga lebih itu tidak berlangsung lama. Gas lekas turun ke harga semula sambil melepaskan tambahan energi dari petir mini tadi. Pada beberapa jenis gas, energi yang dilepas berbentuk cahaya. Ini terjadi misalnya pada lampu natrium, yang sorotan kuningnya menerangi jalan besar dan pelataran ramai di pusat kota. Cahaya kuning terbit karena sesaat sebelumnya energi gas natrium dinaikkan oleh loncatan listrik.
Sangat efisien, sebagian besar energi listrik beralih menjadi cahaya. Ini berbeda dari lampu pijar yang tenaga setrumnya banyak terpakai untuk memanaskan kawat. Sebagian saja yang menjadi terang, sebagian besar lainnya membuat gerah wilayah di sekeliling lampu.
Yang sayang dari lampu natrium hanya warnanya. Kuning mencorong, sehingga benda yang diterangi kehilangan warna aslinya. Bahkan warna kulit manusia cenderung menjadi keabuan, memunculkan pemandangan seakan mayat-mayat gentayangan di bawah lampu. Menjadi pertanyaan, mungkinkah membuat lampu yang efisien tetapi putih cahayanya?
Ultra violet
Akal ditemukan untuk melibatkan tidak hanya satu, tetapi dua jurus kenaikan dan penurunan kembali energi. Pertama-tama peningkatan energi diciptakan dengan loncatan listrik. Mirip sekali dengan lampu natrium, hanya kali ini diberikannya pada uap merkuri (air raksa). Jika gas natrium mengeluarkan sinar kuning ketika energinya turun lagi, pancaran yang dilepaskan uap merkuri adalah ultra violet.
Berbeda dari cahaya kuning, pancaran ultra violet tidak menyebabkan kesan terang. Tidak apa, bukan efek cerah yang dimanfaatkan dari ultra violet, melainkan tenaganya. Yaitu untuk mendongkrak energi bahan tertentu yang berada di dekatnya, sehingga menyebabkan jurus kenaikan yang kedua. Pada gilirannya, kenaikan kedua ini di saat luruh akan melepaskan (ini dia yang ditunggu-tunggu) cahaya putih terang.
Gejala peralihan ultra violet menjadi cahaya lain dinamai fluoresensi, dan bahan yang dikenai ultra violet disebut bahan fluoresen. Dalam praktek, bahan fluoresen dilapiskan pada tabung lampu yang berisi uap merkuri. Maka terwujudlah lampu fluoresen, atau lampu TL (dari tube luminescent, tabung bercahaya), dikenal secara awam sebagai “lampu neon” dengan panjang tabung mulai sekitar 30 cm sampai lebih dari 1 meter.
Lampu hemat energi
Serupa dengan lampu natrium, lampu TL mempunyai efisiensi yang tinggi sehingga menghemat rekening listrik. Sebuah karakternya ialah ketika saklar dinyalakan, TL memerlukan waktu tunggu sebelum terang sepenuhnya. Tetapi kemudian orang mengganti balast konvensional pada lampu dengan sistem penyala elektronik. Hasilnya menjadi lebih cepat terang, tidak berkedip-kedip dulu. Porsi listrik yang termanfaatkan sebagai cahayapun bertambah. Di pihak lain, tabungnya dibuat tidak panjang tetapi ditekuk atau digulung seperti spiral sehingga lebih ringkas dan praktis. Keseluruhannya dikenal sebagai “lampu hemat energi” (CFL, compact fluorescent lamp).
Perhatikan bahwa TL maupun CFL mengandung merkuri yang beracun. Perlu kehati-hatian dengan kedua jenis lampu ini. Jika sampai terjatuh dan pecah, lokasinya harus segera dijauhi, pintu dan jendela dibuka lebar setidaknya selama 15 menit untuk membersihkan udara.
Dibandingkan lampu pijar yang terangnya sama, CFL memang lebih mahal. Tetapi ongkos setrumnya lebih rendah, lagi pula usianya lebih panjang, sehingga harga pembelian cenderung impas. Yang penting, penghematan energi terjadi, dan ini adalah isu utama yang mendorong sejumlah negara untuk beralih ke CFL.
Ganti akrab dengan CFL dan mengucapkan selamat tinggal kepada lampu pijar, berarti mengurangi emisi CO2 pada pusat pembangkit listrik dan mengerem pemanasan global. Australia sudah mengumumkan akan melarang lampu pijar pada tahun 2010. Di Finlandia, perdana menterinya mengusulkan pelarangan mulai tahun 2011. ***
Bacaan:
http://en.wikipedia.org/wiki/Compact_fluorescent_light_bulb
Kredit Foto:
http://www.flickr.com/photos/paulk/450533907/in/set-72157600055591478/



(2 suara, nilai: 4,50 ⁄ 5)
Mas Adrianto,
Terima kasih atas artikel menarik ini. Saya ingin menanyakan mengenai eks conventional ballast. Jika akan dibuang, apakah masuk katregori limbah B3? atau apakah ada komponen dari conventional ballast tsb yg mengandung PCB?
Terima kasih sebelumnya
JUL
Terima kasih Juliansyah. Maaf, pertanyaannya luput dari pengamatan sehingga sangat lambat dijawab.
Perangkat ballast dan starter pada lampu TL konvensional terdiri atas induktor (bentuknya seperti transformator atau trafo) serta tabung kecil starter berisi gas (yang kita lihat berkedip di saat lampu TL akan menyala), dan sering dilengkapi dengan kondensator.
Pada umumnya tidak terdapat PCB pada perangkat tersebut. Sebelum memutuskan untuk membuang, coba pertimbangkan untuk menjual murah kepada pedagang barang bekas, atau memberikannya kepada pemulung, karena mereka memungkinkan pemanfaatan lain ataupun daur ulang bahan yang terkandung.
Lampu TL mengandung uap merkuri yg sangat toksik dan berbahaya ( termasuk kategori Hazardous material) dan oleh KLH(Kementrian Lingkungan Hidup) limbah lampu TL termasuk Limbah B-3 yg harus dibuang ke pengolah atau pendaur ulang limbah B-3. Namun di Indonesia belum ada perusahaan yg dpt mendaur ulang limbah lampu TL.
Kalau anda memang ingin mencari lampu yang SUPER HEMAT ENGERGI dan RAMAH LINGKUNGAN juga tahan lama . Untuk lebih jelasnya anda dapat mengunjungi/menghubungi kami di :
website : http://www.indoLED.com
email : info@indoled , webmaster@indoled.com
YM : pangerantongsampah
Call : 0361 720677
Trims atas informasinya.Bisakah sinarlaser digunakan sebagai lampu hemat energi dan betulkah sinar laser terjadi penguatan daya disana Pout>Pin/outputnya diatas 100% efesiensinya terjadi penciptaan daya dong.Lagi ngetren lampu gas xenon pada kendaraan anda
Satriya, mata manusia dapat mengamati berbagai warna dalam daerah cahaya tampak. Keutuhan informasi yang diperoleh di saat kita mengamati suatu obyek tergantung pada lengkap tidaknya warna dari obyek, yang pada gilirannya ditentukan oleh spektrum cahaya yang menerangi obyek.
Misalnya warna warni suatu karangan bunga akan tampak pudar jika disorot dengan cahaya yang tidak mengandung kuning. Apalagi jika diterangi hanya oleh lampu merah, mungkin hanya mawar merah yang tampak cemerlang, sementara dedaunan terlihat gelap tidak menarik.
Sementara itu sinar laser mempunyai warna yang tunggal (monokromatik). Contohnya sinar laser helium-neon berwarna merah murni dan laser argon menunjukkan warna hijau. Tentu tidak dapat digunakan sebagai cahaya penerang yang seharusnya memberikan informasi lengkap dari obyek.
Kemudian proses pembangkitan sinar laser melibatkan beberapa bagian dan pada salah satu bagiannya memang ditemui penguatan cahaya. Tetapi pada bagian lain terjadi reduksi daya, antara lain karena pemantulan yang tidak sempurna pada cermin. Pada bagian lain lagi berlangsung resonansi gelombang cahaya.
Secara keseluruhan akan tercapai kestabilan dan daya keluar tidak melebihi daya masuk, sehingga tidak terjadi penciptaan daya.
Trims pak Andrianto atas jawabannya.Saya pernah baca jurnal,paper tentang “penciptaan daya” karena adanya pembangkitan osilasi mandiri pada titik2^ resonansi pada plasma,LC induktor,etc yang mana hasilkan ,.900% efisiensinya dari P in dan listrik sebagai trigger.Contohnya oleh Pavel IMRIS Optical electrostatic generator patent CA#951836 at 1974. http://www.rexresearch.com/imris/imris.htm apakah memang terjadi penciptaan daya disana
seandainya bisa tentunya akan sangat membantu krisis energi pada saat ini 
Satriya, situs yang ditunjukkan sudah saya baca. Ada ketidak-jelasan di situ, karena menurut dugaan, yang terjadi ialah sebagai berikut.
Dalam tabung berisi gas Xenon yang digambarkan itu terjadi loncatan listrik (electric discharge), mirip dengan yang terjadi pada lampu kilat untuk memotret atau lampu TL dalam kondisi operasi yang normal. Kemudian pada suatu loncatan listrik, dapat timbul gejala tambahan berupa adanya osilasi atau getaran listrik dengan frekuensi tinggi. Gejala ini sudah lama dikenal, telah dimuat antara lain dalam sebuah paper di tahun 1958, lihat http://www.new.dli.ernet.in/rawdataupload/upload/insa/INSA_1/20005ac9_235.pdf.
Sementara itu sebuah tabung lampu TL dapat menyala tanpa perlu dihubungkan dengan listrik, yaitu jika lampu tersebut dikenai gelombang frekuensi tinggi. Misalnya, penduduk yang tinggal di dekat antena pemancar RRI dapat menikmati lampu TL yang seolah berpendar dengan sendirinya.
Tampaknya getaran listrik frekuensi tinggi yang timbul dalam tabung gas Xenon di atas merambat ke lampu TL dan membuatnya menyala. Untuk meyakini hal ini, mestinya arus ke lampu TL diukur. Betul tercantum nilai arus lampu dalam tulisan, tetapi tidak jelas apakah instrumen ukurnya cocok untuk frekuensi tinggi. Sebab bisa saja yang terbaca adalah arus frekuensi rendah dari jala-jala, sementara frekuensi tinggi tidak terukur, sehingga dikira hanya arus kecil saja yang mengalir menghasilkan banyak cahaya.
Seandainya digunakan instrumen khusus yang mampu mengukur arus frekuensi tinggi, mungkin sekali hasil perhitungan tidak akan memperlihatkan penciptaan daya atau efisiensi di atas 100%. Sudah lama dan sudah sering orang meng-claim mendapatkan energi secara cuma-cuma, tetapi biasanya terungkap bahwa claim tersebut terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Interupsi pak Andrianto
Apa arti sejumlah patents tema free energy disana jika tanpa realisasinya atau demonstrasinya(kredibilitas scientist dipertaruhkan) saya kira pihak pemerintah punya andil politik disana.Dan banyak rekontruksi ulang pada patents itu ada yang berhasil dan tidak.Calon kuat free energy sekarang adalah self running magnet motor(perendev motor) http://peswiki.com/index.php/Directory:Magnet_Motor dan generator magnet tanpa moving part diclaim sebagai space energy tapped http://jnaudin.free.fr/meg/megv21.htm dan ambient RF tapping cascade motor http://peswiki.com/index.php/Directory:Rotoverter apakah kereta berjalan sendiri juga mewarnai fenomena diatas.Maaf pak saya hanya orang awam aja trims atas perhatiannya 
Satriya, makna sebuah paten adalah larangan bagi orang lain untuk meniru, membuat, menjual hal-hal yang tercantum dalam klaim paten. Tidak terlalu dipermasalahkan apakah klaim tersebut memang dapat, atau perlu, diwujudkan.
Pembuktian dan analisis ilmiah tempatnya dianggap bukan dalam paten tetapi dalam forum seperti pertemuan dan publikasi ilmiah.
Dengan demikian ada dua kemungkinan berbeda untuk menguji isi sebuah paten. Pertama secara ilmiah yaitu dengan menjelaskan prinsip yang mendasari dan mencoba ulang / mempraktekkan menurut prosedur yang diakui ilmu pengetahuan. Kedua dengan diwujudkan, diproduksi (oleh pemegang paten) dan digunakan luas apabila memang dapat berfungsi sesuai dengan yang tercantum dalam klaim.
Sebagai ilustrasi, setelah muncul pesawat jet jumbo Boeing 747 yang mempunyai tonjolan khas di bagian “tengkuk”-nya, maka tampaknya sebagai antisipasi, ada paten untuk pesawat dengan tonjolan bukan di depan (pada tengkuk) tetapi di bagian ekor. Tidak masalah apakah benar ada yang berniat atau merasa perlu membuat pesawat dengan bagian atas belakang yang membengkak. Yang jelas, pesawat baru Airbus A-380 mempunyai bagian atas yang membengkak dari kepala sampai ekor, sehingga tidak melanggar paten tersebut.
Dari data yang saya kumpulkan “penciptaan daya” yang terjadi pada Optical electrostatic generator dikarena resonansi dengan natural electromagnetic bumi akibat tumbukan atmosfir bumi dengan sinar cosmis dari matahari yang menyebabkan induksi electromagnetik atau dikenal sebagai radiant energy dan peristiwa ini juga menyebabkan aurora dikutub bumi dan kadang mengganggu system komunikasi kita.Akibatnya bumi mempunyai potensial 200giga volt dan energinya 4,5megawatt/jam.Natural electromagnetik ini mempunyai…
Untuk Satriya (1):
Memang setiap detik bumi kita ditimpa sinar kosmik, yaitu hujan partikel dari ruang angkasa. Energinya besar, antara lain mampu menghasilkan pendaran cahaya yang disebut aurora di daerah sekitar kutub bumi.
Tetapi apakah energi besar itu yang termanfaatkan dalam sejumlah gejala atau mesin yang dilaporkan atau dipatenkan, belum diperoleh bukti yang diterima secara luas. Salah satu artikel yang dicantumkan oleh Satriya berasal dari Journal of Scientific Exploration, sebuah terbitan yang membahas fenomena yang belum ditunjang sepenuhnya oleh kaidah ilmiah tetapi dipandang perlu dan menarik untuk didiskusikan. Ada kekeliruan sedikit pada alamat, seharusnya http://www.scientificexploration.org/journal/jse_15_2_meyl.pdf
..Natural electromagnetik ini mempunyai 2 besaran EM tranversal dan EM longitudinal scalar wave yang mana dikonversi menjadi arus listrik atau menjadi penambah daya disana dan xenon tube sebagai konvertornya(semacam scalar detector dan resonator sekaligus),ini punya kesamaan dengan Tesla radiant energy device dan T.H Morray ion valve tube.Sumbernya http://www.scientificexeploration.org/journal/jse_15_2_meyl.pdf http://www.frank.germano.com/radiantenergy.htm maaf saya posting beberapa kali karena browser terbatas

Untuk Satriya (2):
Seperti telah disebutkan dalam tanggapan tentang paten, sikap yang dapat diambil di sini ada dua. Yang satu berusaha mencari dan merumuskan bukti menurut prosedur ilmu pengetahuan. Yang kedua mencoba mempraktekkan, membuat, menggunakan dan memetik manfaatnya, mungkin akan dapat ditemui penjelasan yang meyakinkan.
Saya hargai keinginan tahu Satriya. Jika tertarik untuk mempelajari kemungkinan calon sumber energi lain untuk masa depan (saat ini belum didukung oleh bukti atau realisasi lengkap), bacalah pembahasan tentang Zero Point Energy atau energi titik nol, di samping dari wikipedia, juga misalnya:
http://www.zpenergy.com/
http://www.calphysics.org/zpe.html
pak saya mo nanya, kalau lampu TL atau CFL asalnya dari lampu UV, apakah bisa membuat lampu UV dari lampu TL atau CFL yang ada dipasaran hanya dengan menghilangkan bahan flouresencenya,
lalu kenapa harga lampu UV di pasaran lebih mahal ketimbang lampu TL nya dengan jenis daya yang sama?
terima kasih atas perhatiannya pak,
salam kenal
hakim
Hakim, terima kasih atas pertanyaannya.
Jika diberi loncatan listrik, gas merkuri (air raksa) yang mengisi tabung TL sebenarnya tidak hanya mengeluarkan pancaran UV, tetapi juga satu dua warna cahaya tampak, lihat http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/HBASE/quantum/atspect2.html#c2
Warna hijau lumayan agak kuat dipancarkan. Itu sebabnya jika orang memotret di bawah cahaya lampu TL dengan kamera berisi film berwarna, hasil potret akan menunjukkan nuansa kehijauan. Tetapi hijau dari nyala gas merkuri (dan yang lebih lemah biru agak ungu dan kuning agak jingga) tentu tidak lengkap untuk menampilkan warna warni seperti dari cahaya putih. Itu sebabnya digunakan lapisan fluoresensi supaya diperoleh warna yang lebih penuh.
Membuat lampu UV dari lampu TL komersial tidaklah praktis, sebab lapisan fluoresensi terdapatnya pada dinding dalam tabung kaca. Untuk melepas lapisan fluoresensi, tabung lebih dulu harus dibuka dengan merontokkan lem pada ujungnya yang mengakibatkan gas merkuri hilang ke udara (hati-hati beracun). Kemudian mengikis lapisan pada bagian dalam tabung yang panjang tentu sukar, dan hasilnya pasti tidak sebagus lampu UV di pasaran yang disebut ”blacklight”.
Soalnya, lampu blacklight diberi lapisan yang menghalangi warna hijau, biru-ungu dan kuning-jingga tadi. Tidak hanya itu, tabung blacklight seringkali dibuat dari kaca/gelas Wood yang melewatkan pancaran UV dengan baik, lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Ultraviolet.
Lampu blacklight dipakai misalnya untuk kafe dan pemeriksaan uang kertas, sedangkan cahaya dari lampu TL dinikmati oleh jutaan orang. Dengan demikian selain pembuatannya khusus, lampu blacklight relatif sangat terbatas dipakainya. Jelas harganya menjadi lebih mahal ketimbang lampu TL.
Paten merupakan hasil karya dari penemunya seperti tesla punya 1200 paten.Harapan kita belajar pada sumbernya bergabung forum diskusi ilmiah karena banyak pengembangan baru berdasarkan penemuan terdahulu.Menemukan itu sulit dari pada mengembangkan
Lampu hemat energi jenis CFL kalau lampunya pecah , komponen elektroniknya banyak yang langsung di buang. Gimana ada saran penjualan lampu pengganti yang eceran tidak. Sebab masih bagus sih. Trim’s
RH
Saya puji semangat untuk berhemat dan memelihara lingkungan, yaitu tidak terlalu gampang membuang barang bekas yang mungkin berbahaya. Ada memang versi lampu dengan tabung nyala yang terpisah dan dapat dilepaskan dari elektroniknya, lihat misalnya:
http://lamp-lamp.ru/images/Philips-18w-PL-C-4P-Lamp-1.jpg
Entah barangkali strategi pemasaran, jenis lampu seperti itu biasanya hanya tersedia sedikit di toko dibandingkan jenis dengan tabung yang menyatu dengan elektronik.
mohon kalau ada yang punya circuit diagram dari lampu ini. Trim’s
Tentang diagram rangkaian CFL ada beberapa situs yang dapat dikunjungi. Coba periksa:
http://www.en-genius.net/includes/files/col_081307.pdf
http://www.nxp.com/documents/application_note/AN00048.pdf
http://www.pavouk.org/hw/lamp/en_index.html#electrical_construction
Mohon kalau bisa ada pembahasan juga mengenai plus minus lampu led yang terkenal hemat itu….
Terima kasih Fauzan,
pada waktunya akan dijelaskan.
Pak saya mau tanya kenapa lampu ada TL 5 dan TL 8 dan kenapa bisa di sebut seperti itu? trims
pa pertanyaan saya apakah uv yg berpendar di TL/CFL berbahaya bagi manusia?apakah range gelombang lampu black light utk pemakaian komersial mencakup UV-A,UV-B,UV-C,Vacuum UV?mohon pencerahannya.