Era negara bangsa sedang berada dalam transisi. Perkembangan pesat dunia maya, mengharuskan kita mengevaluasi secara drastis konsep negara bangsa. Konsep Nasionalisme berada di ujung tanduk. Era informasi telah menawarkan konsep baru mengenai hal itu. Apakah itu? Mari kita simak, dengan mengambil analogi dengan sejarah China kuno.
Sejarah Kerajaan Wei, Wu, dan Shu
China adalah negeri dongeng, dan akan selalu menjadi inspirasi bagi dunia. Negeri China pada tahun 235 Masehi terpecah menjadi tiga kerajaan besar, yaitu Wei, Wu, dan Shu. Kerajaan Wei dipimpin oleh Cao Cao, sementara Kerajaan Wu oleh Sun Quan, dan Kerajaan Shu oleh Liu Bei. Dari ketiga kerajaan tersebut, yang paling besar dan kuat adalah kerajaan Wei. Namun, berhubung kerajaan Wei juga memiliki keterbatasan dalam sumber daya ekonomi, politik dan militer, maka menguasai kerajaan Wu dan Shu adalah tidak mungkin. Mereka hanya terlibat pertempuran-pertempuran, kadang besar dan kadang kecil. Namun pertempuran itu tidak pernah melumpuhkan salah satu dari kerajaan tersebut. Zhuge Liang, Perdana Menteri Kerajaan Shu, mengatakan, bahwa ketiga kerajaan yang berada di negeri China itu seperti tiang penyangga meja. Suatu meja, hanya dapat berdiri dengan minimal tiga penyangga. Tidak bisa Kurang dari itu. Jika lebih dari tiga, itu melanggar konsep ekonomi, sebab membuang-buang material.
Adapun kerajaan Shu memiliki intelektual yang paling jenius, yaitu Zhuge Liang; dan memiliki jendral-jendral yang paling hebat, yaitu Guan Yu, Zhang Fei, dan Zhao Yun. Liu Bei sendiri dikenal sebagai orang yang sangat kharismatis. Dia bisa membujuk intelektual dan jendral paling jenius di jaman itu, untuk bekerja dengan dia. Adapun Cao-Cao lain lagi. Dia adalah orang yang sangat ambisius, dan sangat enerjik. Cao-Cao, berbeda dengan Liu Bei yang adalah pelajar, adalah seorang pendekar silat. Sementara Sun Quan, berbeda dengan Cao-Cao dan Liu Bei, lebih memilih untuk bekerja dibelakang layar. Ulasan mengenai Sun Quan, tidak sebanyak Cao Cao dan Liu Bei.
Adapun akhirnya, ketiga kerajaan tersebut akhirnya dipersatukan oleh Sima Yen. Hal ini terjadi, karena ketiga kerajaan tersebut tidak memiliki pewaris tahta yang kompeten, sehingga pihak lain memanfaatkan kondisi tersebut untuk merebut tahta kekaisaran.
Bercermin dari sejarah kuno China, yaitu kisah Sam Kok diatas, apa yang bisa kita manfaatkan untuk menganalisa perkembangan dunia TI akhir-akhir ini? Mari kita masuki dunia maya….
Tiga ‘Kerajaan’ penyangga era informasi: Linux, Apple, dan Microsoft
Banyak sekali vendor yang aktif berperan di dunia TI. Mulai dari IBM, yang sudah berusia lebih dari 100 tahun dan bermodal super besar, sampai banyak sekali perusahaan yang kecil atau menengah. Namun, dari sekian banyak perusahaan atau unit usaha tersebut, ada tiga yang pantas dijadikan ‘highlight’. Mereka adalah Linux Foundation, Apple inc, dan Microsoft Corp.
Ketiga perusahaan (unit usaha dalam kasus Linux) mengembangkan sistim operasi yang digunakan oleh mayoritas mutlak dari komputer (tidak hanya PC) yang ada di pasar. Mereka adalah Linux, MacOS, dan Windows. Jelas, dari ketiganya, yang paling dominan adalah Windows. Namun Linux dan MacOS memiliki user base yang sangat kuat dan solid. Walaupun tidak sebesar Windows, namun kontribusi mereka tetap bisa disandingkan dengannya.
Linux adalah OS favorit untuk server dan ‘hard core computing’. Dalam percaturan dunia TI, Linux mulai menjadi kuda hitam yang patut dipertimbangkan. Sebabnya, Linux foundation didanai oleh vendor-vendor TI besar, seperti IBM, HP, Fujitsu, Google, Nokia, Intel, Dell, Toshiba dan lainnya. Sebagai contoh, IBM terkenal sangat agresif dalam mengintegrasikan linux kedalam sistim workstation dan server miliknya. Sementara, Linux sendiri memang dapat dijalankan dengan baik di platform x86. Mayoritas aplikasi saintifik, seperti untuk bioinformatika dan fisika teoritis, ditulis dan dikembangkan untuk platform Linux. Hal ini menjadikan Linux sebagai platform pilihan bagi peneliti ‘hard core computer science’. Dengan semakin mudahnya penggunaan GUI Linux, maka end user pun mulai melirik platform ini juga.
Sampai hari ini, MacOS adalah pilihan bagi kalangan creative content. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Barack Obama, presiden USA, menggunakan Macbook untuk pekerjaan dia sehari-hari. Kemenangan dia di pemilu USA, menandakan bahwa creative content memiliki peran sangat penting dalam dunia politik. Ipod dan Iphone, gadget andalan Apple yang laku keras, diotaki oleh MacOS versi mini.
Windows, tidak lain dan tidak bukan, merupakan ‘kerajaan’ paling besar diantara ketiganya. Dengan dominasi tersebut, maka mayoritas aplikasi untuk end user, paling banyak tersedia untuk platform windows. Aplikasi yang bersifat fun seperti Games, dikembangkan mayoritas untuk platform windows. Sampai detik ini, walaupun di platform Mac juga tersedia, kesuksesan dari Aplikasi Microsoft office menjadikan dominasi windows sukar digoyang.
Era Informasi Masa Depan: Berakhirkah Era Negara Bangsa?
Secara defacto, ketiga sistim operasi, yang dikembangkan oleh ketiga pihak tersebut, telah mempengaruhi cara umat manusia hidup. Cara berpikir, merasa, mencintai, bahkan dalam mengambil keputusan ekonomi dan politik, sangat dipengaruhi oleh platform apa yang kita pilih di era informasi ini. Siapapun, mulai dari tukang ojek, sampai dengan Presiden negara adidaya, menggunakan komputer untuk menjalankan urusan mereka sehari hari. Dan, secara de facto, pilihan utama yang tersedia adalah ketiga sistim operasi tersebut. Menurut Immanuel Kant, bagaimana manusia menentukan langkah hidupnya, sangat ditentukan oleh persepsi yang dia miliki.
Berhubung interaksi user sejagad dengan ketiga OS tersebut sangat intens, maka OS yang dia gunakan akan mempengaruhi bagaimana dia mempersepsikan dunianya sendiri. Era informasi telah semakin mendekatkan seluruh umat manusia, dan interaksi secara on line di dalam dunia maya telah semakin melunturkan batas negara bangsa. Akhirnya, nasionalisme dalam konteks ini, tidak ditentukan pada tempat dia tinggal, apa rasnya, atau apa asal usulnya, melainkan dari sistim operasi yang dia gunakan. Akhirnya, jika kita gunakan analisa Zhuge Liang, dunia hanya terpisah menjadi tiga ‘kerajaan’ besar, yaitu Linux, Apple, dan Microsoft. Apakah ini berarti era negara bangsa akan segera berakhir di era informasi ini? dan apakah akhirnya nasionalisme dalam arti konvensional hanya bermanfaat untuk berurusan dengan imigrasi dan membela tim sepak bola/bulu tangkis? Waktulah yang akan menjawabnya.
Referensi:
http://www.linuxfoundation.org
http://www.apple.com
http://www.microsoft.com
Buku Sam Kok
Bertrand Russel, History of Western Philosophy, Allen and Unwin.
foto:images.1888freeonlinegames.com



Tak seekstrim itu lah, Bang.
Kecuali di fakultas atau jurusan ilmu komputer atau teknik informasi. Barulah OS-OS itu menjadi seperti agama di mana di milis2 kami saling berseteru.. hahaha
‘King Kong’ informatika seperti Google, IBM, Novell, Microsoft, dan Apple adalah perusahaan multinasional yang beroperasi di seluruh dunia. Market capitalization mereka pun sangat besar, diatas 100 miliar dollar. Bisa dibayangkan, jika perusahaan itu kolaps, maka seluruh dunia akan dibawa kolaps oleh mereka. Namun jika mereka berkembang, seluruh dunia akan berkembang juga.
. Saya berkali-kali diskusi dengan kalangan mereka, dan mereka berpendapat bahwa kalo ndak pake mac, ya imagingnya ndak correctlah, soundnya banyak distortion, urusan sama publisher jadi rumit atau videonya banyak eror, dll. Saya bukan designer profesional, jadi ndak terlalu paham soal seni…hehe.
. Saya belum tahu kelanjutan pengadilan ini gimana. Namun disini adalah contoh menarik, dimana hakim dan jaksa di pengadilan Uni Eropa, ternyata jauh lebih ‘galak’ daripada orang IT saingan Microsoft, untuk menyerang Microsoft sendiri.
Nampak dari kesemua nama itu, yang mengembangkan bisnisnya secara linux based adalah google, IBM, dan Novell. Kalau membaca berita akhir-akhir ini, nampak sekali Microsoft sangat agresif mengajak kerja sama dengan banyak institusi pendidikan dan kalangan bisnis di Indo. Banyak sekali kan insentif yang dikasih Microsoft ke berbagai kalangan, termasuk swasta dan pemerintah? Itu bahkan sudah dilakukan, jauh sebelum open source dan linux mulai dikenal di Indonesia. Itu sebabnya, justru sewaktu Ristek menggulirkan IGOS, malah banyak pihak dari instansi pemerintah yang menentangnya. Aneh.
Khusus untuk apple, peminat platform ini lebih luas dari kalangan ilmu komputer atau informatika. Justru saya melihat, dari kalangan design, DJ, atau seniman jauh lebih ‘fanatik’ dengan mac, dibanding orang IT sendiri
Lalu mengenai linux, sebenarnya sudah sering dibahas, bahwa dengan menggunakan open source, maka penghematan biaya lisensi dan operasional akan bisa diperoleh. Banyak sekali cerita mengenai hal ini, bisa di gugling. Hal ini kentara sekali di Eropa, dimana Microsoft sedang ‘babak belur’ di pengadilan Uni Eropa. Pihak Uni Eropa menuduh Microsoft melakukan monopoli, dengan membundling internet explorer dengan windows. Hal ini sedang dalam disputasi. Jika Uni Eropa berhasil membuktikan tuduhannya, maka Windows akan dijual tanpa internet explorer di eropa
Namun ‘kegalakan’ Uni Eropa terhadap Microsoft sebenarnya untuk melindungi pasar mereka dari dominasi satu vendor, yaitu Microsoft. Justru banyak agensi pemerintahan di eropa, yang akhirnya ‘rame-rame’ pindah ke Linux dan Open source. Paling tidak, dengan menggunakan Linux, maka dominasi satu vendor tidak terjadi, karena Open Source. Selain Perancis dan Jerman, terakhir Pemerintah Inggris merilis maklumat, yang meminta supaya semua instansi pemerintah di Inggris menggunakan Open Source. Bisa dicek di ‘mbah gugel’, bahwa ada banyak sekali penghematan dengan menggunakan Open Source.
Jadi isu sistim operasi ini sudah merambah ke dunia desain dan seni (Mac), dan tentu saja pada aspek ekonomi (penghematan dengan Open Source).
Benar.
Tetapi sampai menghapuskan batas negara? Kayaknya belum.
Benar, di open source misalnya, gak ada diskriminasi apakah kontributornya harus dari Eropa, Amerika, atau Asia. Tetapi batas negara dalam keseharian masih ada.
Saya sendiri, sebagai pemakai GNU/Linux, mengidamkan seluruh sekolah menengah di Indonesia menggunakan Linux. Perkara di rumah mereka menggunakan Windows atau Mac, itu urusan lain. Soalnya, di GNU/Linux, banyak tools2 yang juga terdapat di Un*x (unix varian)2 lain seperti grep, ls. Jadi walau belajar hanya satu OS atau environment, tetapi pelajar akan lebih mudah ketika belajar di sistem lain.
Bahkan MacOs sendiri, konsole-nya mirip dengan Unix. Junior saya saat kebingungan dengan salah satu tugasnya, pernah minta tolong pada saya walau dia tahu saya gaptek soal Macos karena dia tahu saya sering menggunakan perintah-perintah konsole di GNU/Linux.
Sampai sekarang saya masih bingung, kenapa Microsoft masih bertahan dengan command prompt-nya yang tidak powerful. Kenapa tidak memasukkan SFU secara default.
Bidang pendidikan sendiri, yang tidak dapat bantuan dari Microsoft masih nekad menggunakan Windows bajakan, yang sebenarnya merusak mental bangsa.
Ngomong2, Microsoft mulai merayu2 universitas dengan tidak sekedar membuka EAL (Enterprise Application Lab) tetapi juga membuka lab khusus open source lho… Termasuk di almameterku, Fasilkom UI.
Saya lupa, ada kisah lucu mengenai MacOs.
Jadi sekitar tahun 2006, saya bertemu kawan dari Yogya. Sudah lama sekali saya tak bertemu dengannya semenjak ia melanjutkan kuliah S2 di Yogya.
Nah, kawan saya itu bertanya pada saya,”Nar! Kamu tahu cara menggunakan Mac?”. Saya jawab, “saya hanya tahu sedikit, tetapi tidak ahli. Kau punya Mac?”. Kawan saya bilang, “bukan saya tetapi kawan di tempat kost. Ia baru beli laptop baru, Mac, dan dia tidak tahu cara memakainya. Satu kost juga tidak ada yang tahu caranya”.
Langsung saja kutimpali, “jangan bilang.. Kawanmu pengen pamer dengan membeli Mac tetapi ironisnya dia tidak tahu cara memakainya”. Kawanku ikutan geli, “kayaknya sih iya”.
Tapi jujur aja, Mac, yang harganya tergolong mahal saja, dan cara memakainya juga tergolong susah buat orang yang tergolong Windows, ternyata tetap bisa diminati sampai ada yang membela-bela beli. Kapan yah GNU/Linux bisa seperti itu?
Kalo buat banyak orang sih..urusan sama negara itu sekedar urusan sama imigrasi dan membela tim sepak bola/bulu tangkis.
Kasihan kalo negara dihapus, imigrasi dan tim olimpiade jadi ndak punya proyek…hihihi
Sedikit rahasia mengenai mac. Kuncinya ada di marketing mereka. Lalu dukungan aplikasi untuk design, DJ, dan video editing lebih kuat daripada di windows. Ada teman saya, yang menggunakan adobe premiere untuk video editing, tapi dia pake mac. Lalu saya tanya, ‘kenapa ndak pake windows? kan Premiere ada juga di Windows’. Dia jawab,’Wah..ndak bisa mas..entar ditolak publisher’. Tanya lagi,’emang bisa keliatan bedanya, walau aplikasinya sama, hanya beda OSnya saja’. Jawabnya,’Pasti publishernya akan tau, mana yang dibuat di Mac dan mana yang di Windows, kalo tau dibuat di windows pasti ditolak, mereka hanya mau yang dibuat di mac’. Semenjak Mac dirilis tahun 1984, mereka sudah berhasil merebut kalangan ini, menjadi pengikut setia mereka. Apalagi posisi mac sebagai GUI pertama yang dijual di pasaran (Jobs niru dari Xerox PARC). Dan ini jauuuhhhhh sekali sebelum linux dan open source dikenal. Setahu saya, Apple adalah satu-satunya perusahaan IT, dimana yang menjadi employernya banyak orang non IT, dan juga menggunakan prinsip2 non IT. Steve Jobs sendiri latar belakangnya bukan IT, namun seni/kaligrafi. Sejak awal mac dirilis, Jobs sudah mendesain supaya font di platform mac bisa didisplay secara correct.
. Tapi kalo editing sederhana, Iphoto saja sudah cukup kok.
. Kan Eric Schmidt, CEO google, juga anggota direksi Apple juga, jadi ndak heran kalo Google begitu ‘berkuasa’ di mac. Ini sebuah langkah bagus, sebab kalo menggunakan kacamata Google, bukan berapa banyak jumlah user Linux yang penting, namun seberapa jauh pengaruh GNU/Linux dalam dunia IT. Ini berarti, platform yang lebih dominan secara kuantitas, dikendalikan oleh platform yang secara kuantitas lebih minoritas. Konsep yang hebat
.
Saya sendiri, sehari pake mac, langsung bisa pakai. Menurut saya jauh lebih mudah daripada windows. Informasi dari komunitas juga banyak. Bahkan buku2 ttg mac sudah tersedia dalam bahasa Indo. Lagipula komunitas mac sangat kuat dan solid. Contohnya mac-id. Hebatnya lagi, jika kita sering bermain dengan scripting, misalnya PERL atau AWK, Mac juga mendukung, sama seperti di Linux. Mac memang sudah Unix based. Kernel Darwin mereka adalah berbasis Free BSD. Jadi kalo ke command prompt, memang cara pakainya ndak jauh beda dengan Linux.
Hanya, dari segambreng keunggulan itu, saya lihat mac punya satu weak point. Apple sudah mematok bahwa harga sebuah komputer mac tidak akan lebih murah daripada 900 dollar/euro. Berarti memang kalangan menengah kebawa tidak akan bisa menjangkaunya (kecuali kalo beli yang second). Namun, berhembus isu kalo Apple akan memproduksi netbook yang harganya sekitar 400-500 dollar. Kita lihat saja.
Saya saja kerja sehari-hari menggunakan Linux juga, karena ini platform standar di dunia Bioinformatik. Ada sih segelintir yang pake mac juga di bidang ini. Tapi mayoritas pake Linux.
Pake mac kalau udah urusan sama image editing dan sejenisnya, yang tidak ada hubungan langsung sama urusan kerjaan, lebih ke arah ‘fun and entertainment’. Toh di mac saya masih pake GIMP juga. Ndak ada duit buat beli photoshop…maaahhuaaaalllll bangettttt
Windows bisa pake command prompt ala Linux, tapi mesti install Cygwin dulu. Kayaknya ndak terlalu straight forward install Cygwin itu. Kalo SFU diinstall secara default itu sama saja microsoft melakukan ‘bunuh diri’ secara marketing, karena mengidentikkan dirinya dengan Unix. SFU harus dipisah, supaya Windows mereka bisa independen terhadap Unix. Mending pake Mac atau Linux aja sekalian, kalo mau main scripting.
Kalo GNU/Linux ingin bisa seperti mac, sebenarnya jalan ke arah situ sudah dimulai. Google misalnya, adalah kerajaan bisnis yang ditopang oleh GNU/Linux. Hanya memang, mayoritas pelanggan mereka dari windows juga. Namun toh..jika kita bicara search engine…pasti sinonim dengan Google, bukan dengan windows live atau Yahoo.. Malah Apple tidak mendesign search enginenya sendiri. Search engine default untuk semua browser di platform mac adalah…tentu saja…Google…!
kayaknya cerita ROTK ini sudah ada loh gamenya seperti ROTK game, Dynasty Warriors dan aku suka loh main Dynasty Warriors, sampe-sampe aku kepikir bagaimana caranya supaya negri Indonesia ini juga dapat membuat game atau novel dari sejarah bangsa Indonesia bisa terkenal sampai ke penjuru dunia!!!!!
mboh,,,makin mumet dengan perkembangan teknologi..