Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 1,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Berlian Tidak Selalu Abadi

diamond_stoneBerlian adalah abadi, itu kata banyak orang. Ternyata tidak semua bahan mineral bisa bertahan abadi. Faktanya, sekitar dua pertiga dari 4300 mineral di bumi hari ini melalui proses biologi. Setidaknya demikian menurut Robert M. Hazen, pakar geologi dari Carnegie Institution in Washington, D.C. Bersama tujuh rekannya, Hazen mengidentifikasi adanya tiga fase evolusi mineral.

Fase pertama dimulai pada lebih daru 4,55 miliar tahun silam, saat sistem tata surya mulai berkembang. Elemen-elemen kimianya datang bersamaan, membentuk sekitar 250 mineral sederhana yang bertabrakan menjadi planet-planet. Di bumi, fase kedua terjadi antara periode 4,55 hingga 2,5 miliar tahun lampau, dimulai saat terjadi tabrakan yang membentuk bulan. Suhu dan tekanan bumi sangat bervariasi. Saat itu juga lempengan tektonik mulai muncul, kandungan air dan karbon dioksida membantu penyebaran elemen-elemen. Perubahan ini memungkinkan terjadinya evolusi 1250 mineral baru.

Evolusi Darwin

Akhirnya, fase ketiga terjadi, selama 2,5 miliar tahun terjadi proses biologi -terutama fotosintesis- yang memengaruhi munculnya komposisi mineral dengan adanya proses oksigenisasi di atmosfer. “Mineral seperti malasit, turquoise, dan 3000 mineral lain terbentuk hanya di planet uang hidup,” jelas Hazen.

Evolusi mineral berbeda dengan evolusi yang dijelaskan Darwin, melainkan lebih sederhana. Kemajemukan mineral yang ada hari ini di bumi adalah hasil dari penguraian proses biologi dan fisika. Detail studi ini dihadirkan secara lengkap di jurnal terbaru American Mineralogist.

Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience
Foto:/i.dailymail.co.uk/

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.