Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Mampukah Riset Kita Berdiri Sejajar dengan Negara Maju?

research2Sebenarnya Indonesia memiliki beberapa keunggulan, yang bahkan tidak dapat disamai oleh negara maju sekalipun. “Raksasa-raksasa” riset dunia, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa tentu saja memiliki keunggulan dana yang berlimpah, fasilitas yang memadai, dan referensi yang lengkap.

Jika akhirnya Indonesia memilih berhadapan dengan mereka, dengan menggunakan pola pikir mereka juga, maka sudah dipastikan Indonesia tidak akan bisa kemana-mana. Namun, apa saja keunggulan Indonesia, dibanding “raksasa-raksasa” itu, terutama bidang yang bisa dikembangkan untuk riset? Apakah masih ada harapan untuk berdiri sejajar dengan mereka? Mari kita simak.

Pemetaan Kekuatan Riset Kita

Selama ini, Indonesia memiliki kekuatan sumber daya manusia yang luar biasa. Banyak sekali ilmuwan dan dosen lulusan luar negeri, yang memiliki pengalaman riset internasional, yang akhirnya kembali ke Indonesia. Mereka pun mengabdi di institusi masing-masing. Adapun, dengan modal SDM yang kuat itu, ada baiknya kita mulai memetakan dimana kita bisa memfokuskan diri dalam riset. Pemetaan ini penting, sebab kita harus mencari niche, dimana keunggulan kita dapat tumbuh, ditengah para raksasa riset dunia.

Biologi Kelautan: Megabiodiveristas yang Luar Biasa

Sebagian besar luas Indonesia terdiri dari laut. Di dalamnya, terdapat megabiodiversity yang luar biasa variasinya. Indonesia merupakan salah satu negara, yang memiliki terumbu karang yang paling kaya. Salah satu rekan kami, Hawis Maduppa, merupakan salah satu peneliti yang aktif dalam kajian terumbu karang. Linknya ada disini: http://bunghaw.wordpress.com/. Sebagai salah satu sumber megabiodiversity, laut kita memiliki sumber daya hayati yang berlimpah untuk berbagai keperluan, seperti pangan dan obat. Adapun masalah yang dihadapi adalah bagaimana manajemen kelautan tersebut bisa mengatasi berbagai penyimpangan yang terjadi, misalnya menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan, dan membangkitkan semangat entrepreneurship bagi para nelayan. Dengan pemanfaatan sumber daya hayati secara sustainable, dan tetap menjaga kelestarian ekosistem, maka Indonesia akan memiliki posisi tawar yang lebih baik dengan negara-negara maju.

Penyakit Tropis: Kajian yang Hanya Bisa Dilakukan di Negara Tropis

Demam Berdarah dan Malaria adalah penyakit mengerikan yang belum ada obatnya sampai sekarang. Vaksin masih dikembangkan, namun belum selesai. Selain itu, penyakit-penyakit ‘klasik’ di dunia tropis, seperti Kolera, disentri, dan tiphus juga tetap masih mengancam. Namun, dokter-dokter kita merupakan pakar yang sangat terlatih dalam menghadapi penyakit tropis. Dengan pengalaman ratusan tahun, dari sejak jaman kolonial Belanda, dokter kita telah menangani berbagai macam penyakit tropis. Para dokter dari negara maju, bisa dipastikan tidak akan bisa menangani penyakit tropis sebaik dokter kita, karena pengalaman mereka sehari-hari memang tidak menjumpai penyakit seperti demikian.

Cultural and Humanity Studies :Indonesia sebagai “Magnet Kultural”

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki kekayaan budaya paling lengkap. Dengan 300 suku bangsa, yang memiliki bahasa sendiri-sendiri (bukan dialek), menjadikan Indonesia sebagai tempat paling ideal untuk studi kemanusiaan. Indonesia telah memiliki pakar ilmu kemanusiaan, seperti alm Prof Koentjaraningrat dan alm Prof Parsudi Suparlan, yang telah memberi warna bagi perkembangan sains kemanusiaan Indonesia. Dinamika sosial kemanusiaan yang luar biasa di Indonesia, seperti interaksi antar kelompok, interaksi antar suku, interaksi intra suku, dll, menjadikan Indonesia sebagai kajian yang sukar ditandingi oleh negara maju sekalipun. Justru banyak peneliti dari negara maju, yang datang ke Indonesia untuk melakukan penelitian di bidang ilmu kemanusiaan. Contoh yang paling terkenal, adalah Clifford Geertz, yang membagi Islam di Jawa menjadi tiga kelompok, santri, priayi dan abangan dan Snouck Hourgrenje, yang membedakan peran ulama dan hulubalang di Aceh. Walau teori mereka banyak dikritisi, namun hal itu sudah menjadi contoh, bahwa Indonesia memang merupakan ‘magnet kultural’ yang luar biasa. Salah satu hal yang segera harus dibenahi, adalah supaya Indonesia bisa konsisten dalam pengembangan sains kemanusiaan, sesuai dengan tradisi yang diterapkan oleh Prof Koen dan Prof Parsudi.

Political Studies : Indonesia sebagai Salah Satu Negara Demokrasi Terbesar di Dunia

Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Berbeda dengan Amerika Serikat, yang memilih presiden lewat sistim elektoral, Indonesia memilih presiden secara langsung. Setelah reformasi tahun 1998, Indonesia memiliki situasi politik yang sangat dinamis, mungkin yang paling dinamis di asia. Pemilu 2009 akan menjelang, dan situasi politik kita akan semakin dinamis. Inilah merupakan saat-saat yang paling menarik untuk melakukan kajian politik. Di era reformasi ini, banya istilah politik baru yang diperkenalkan. Salah satunya adalah ‘quick count’, dimana peneliti mengambil sampel dari pemilih untuk memprediksi siapa pemenang pemilu daerah dan nasional. Dalam kebanyakan kasus, prediksi mereka tepat.

Teknologi Informasi (TI): Dimana Open Source bisa Berperan

Hal ini sudah sangat jelas. Jika ingin melakukan penelitian yang high tech, namun dengan biaya yang sangat terjangkau, maka TI merupakan salah satu pilihan logis. Platform Linux, yang merupakan sistim operasi Open Source, telah memungkinkan dilakukannya riset TI high tech, namun dengan biaya rendah. Bahkan Indonesia telah membangun distro linux sendiri. Mengenai TI, sedang dibahas artikel saya di Netsains. Klik disini.

Demikian pembahasan saya soal ini. Jika diantara pembaca ada yang punya ide, mengenai apa ide riset yang bagus, maka saya terbuka saja. Paling tidak, dengan tulisan ini, saya berusaha ‘menggugah’, bahwa Indonesia sebenarnya masih memiliki nilai tawar yang tinggi dalam bursa riset dunia. Saya sepakat, bahwa berteriak-teriak menyalahkan kondisi riset Indonesia, yang dalam beberapa hal memiliki kelemahan, adalah tidak ada gunanya. Ada baiknya, daripada teriak-teriak menjelek-jelekkan Indonesia, kita berembuk mencari solusi untuk memperbaiki kondisi riset kita. Tulisan ini, memang dimaksudkan untuk mencari solusi, dan syukur-syukur menggugah kesadaran kita semua.

Diambil dari http://biokecops.multiply.com/

foto:www.hse.fi

 Tentang Penulis: Arli Aditya Parikesit

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah asisten peneliti pada Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Saat ini menjadi kandidat doktor di institusi yang ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.
  • Riset kita tidak bisa sejajar negara maju karena anak2^ pejabat dikasih makan hasil korupsi jadi bodoh2^ kalau pintar pasti jadi bandar narkoba dan kalau cerdas pasti jadi pengkorupsi baru.Lihat saja anak tercerdas kita dari kalangan keluarga miskin
  • Wah,,bagus banget infonya..jadi suka baca2 postinganya.
  • hopeless bro ..........
  • @Fajar: Saya berikan analogi di dunia IT (informatik). Berbeda dengan sistim operasi lain, Linux merupakan satu dari segelintir sistim operasi yang dikembangkan secara kolaboratif oleh peneliti dari berbagai bangsa. Bahkan Indonesia sudah punya distro sendiri. Sistim operasi lain kebanyakan dikembangkan secara terpusat, dari satu negara tertentu. Namun Linux berbeda. Tidak ada hirarki tersentral model itu. Inilah prinsip Open Source, dimana siapapun dari manapun bebas melakukan kontribusi dalam pengembangan software. Seakan seperti anarki, padahal bukan, karena ini adalah demokrasi yang sesungguhnya. Barangkali, para Linuxer bisa sharing disini...
  • Mas Arli, Indonesia merupakan negara dengan jumlah manusia yang besar, tapi kualitasnya tentu berbeda. Dalam upaya meningkatkan keunggulan riset bangsa ini, apakah itu berarti cenderung menutup diri dari kerjasama dengan negara lain? Apakah dengan menjalin kerjasama dengan negara lain itu tidak mengurangi nilai keunggulan riset sebagai suatu bangsa? Apakah berbeda ketika suatu keunggulan riset dicapai oleh kemampuan bangsa itu sendiri atau ketika itu dicapai bersama dengan bangsa-bangsa lain?

    Btw sedikit OOT, menurut saya sebagai seorang yang telah melalui pendidikan farmasi, interaksi yang intens seperti yang dipaparkan di artikel belum terwujud dengan baik untuk profesi apoteker.
  • @Deni:
    Hal itu sederhana sekali. Bukan karena orang amrik lebih pintar atau lebih kaya, namun ada tendensi di sebagian orang, yang menganggap segala sesuatu yang berbau 'asing' sebagai seksi dan fantastis. Jadi ya, mereka jadi tergantung dengan asing, karena terpesona itu. Beda dengan di Eropa. Baru-baru ini, Uni Eropa (UE) menuntut Microsoft, karena membundel browser IE dengan windows. Menurut UE, itu monopoli. Pihak UE berpendapat, kalo bisa pake produk Eropa, kenapa mesti pake produk Amrik? Oleh karena itu, diEropa Linux mulai menjadi mainstream. Mungkin rekan2 di IT bisa sharing soal ini, terutama yg pernah di eropa.

    @Hadi:
    Ada industri tertentu, dimana 'link and match' dan aplikasi sudah berhasil secara baik. Pertama, industri kesehatan, dalam hal ini kedokteran. Dari sejak mahasiswa tingkat pertama, mereka sudah berkenalan dengan rumah sakit. Rumah sakit adalah ujung tombak dari industri kesehatan. Mereka praktikum di rumah sakit, contoh waktu praktikum forensik, mereka menganalisa mayat korban pembunuhan di RSCM. Kemudian, sewaktu mereka akan menyelesaikan profesi dokternya, mereka praktek di rumah sakit, sebagai asisten dokter. Setelah profesi dokter selesai, mereka mengambil spesialis. Dan selama pendidikan spesialisasi tersebut, mereka juga praktikum dan mengerjakan tugas akhir di rumah sakit. Setelah pendidikan spesialis selesai, maka akan mudah bagi sang dokter untuk mencari pekerjaan, sebab di CVnya sudah tertulis pengalaman kerja di rumah sakit berapa lama. Hal yang serupa juga terjadi pada perawat dan apoteker. Walau penekanannya berbeda, mereka juga berinteraksi secara intens dengan rumah sakit atau industri farmasi pada seluruh jenjang pendidikan mereka. Kedua, saya pernah cerita sekilas di artikel sy yg lama. Dulu, sewaktu Aceh hancur lebur diterjang tsunami, infrastruktur komunikasi mereka juga hancur. Ada aktivis TI, yaitu yayasan air putih, yang terjun ke Aceh untuk memperbaiki infrastruktur komunikasi di sana. Aktivisnya adalah Kang Onno, mas Pataka, dan rekan2 lain. Mungkin ada rekan dari yayasan air putih yang bisa sharing disini. Lalu juga yang patut dipuji, adalah perjuangan alm Lendy Windayana. Beliau sampai naik gunung, untuk membangun infrastruktur komunikasi di jawa timur. Ini Mas Pataka yang bisa cerita panjang lebar.
  • hadi meidiyan
    Riset Kita Berdiri Sejajar dengan Negara Maju? Saya kira imposible, karena:
    1. Tidak ada Universitas di Indonesia yang mengembangkan
    bidang ilmu pengetahunanya melalui hasil riset dari
    universitasnya sendiri. Semua Universitas di Indonesia
    memakai cara copy paste hasil dari riset Luar negeri
    dalam upaya pengembangan bidang ilmu pengetahuannya.
    Sehingga jangan aneh bila ilmu yang dikembangkan di
    Universitas di Indonesia tidak bisa diaplikasikan di
    Indonesia.
    2. Pandangan tentang R&D di kalangan bisnis Indonesia
    tidak dipandang sebagai hal yang harus diutamakan.
    Meraka lebih senang instal langsung dari luar, namun
    karena teknologi yang baru mahal akhirnya mereka
    menginstal teknologi yg kadaluarsa (tertinggal 10 tahun).
    3. Di Indonesia tidak ada link and match antara Industri
    dengan Universitas dalam Pengembangan dan Risetnya dalam
    upaya menciptakan keunggulan bersaingnya.
    4. Hal yang lebih fatal lagi di Indonesia hanya mengenal 2
    macam biaya dalam ekonomi, yaitu Biaya akuntansi dan
    biaya Opportunity. sedangkan biaya ekonomis tidak pernah
    diperhitungkan, sehingga ketika sumber dayanya habis
    maka bubarlah institusi itu (Industri dan Universitas)
  • Deni
    Mengapa Indonesia Sampai sekarang masih sangat tergantung sekali dengan Negara-negara adi daya seperti Amerika?
blog comments powered by Disqus