Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 suara, nilai: 4,50 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Ingin Kurus dan Umur Panjang? Diet Saja!

Jepang merupakan negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia (82,6 tahun), bandingkan dengan Negara Indonesia pada urutan ke-110 (70,7 tahun) (WHO, 2006). Beberapa faktor yang dianggap berperan pada tingginya angka harapan hidup di Jepang di antaranya adalah makanan sehat, keamanan dan kenyamanan hidup di Jepang, dan teknologi serta pelayanan kedokteran yang memadai.

Dari pengamatan saya, ada satu hal menarik yang mungkin berpengaruh pada usia harapan hidup di Jepang, yaitu sedikitnya porsi makan mereka. Apakah pembatasan kalori ini berpengaruh pada umur panjang mereka?

Calorie Restriction

Pembatasan kalori memperpanjang angka harapan hidup pada berbagai macam spesies, mulai dari jamur, cacing, lalat, ikan dan tikus. Penelitian pada bangsa primata juga menunjukkan hasil yang positif, walaupun penelitian pembatasan kalori pada manusia sulit untuk dilakukan secara benar, dikarenakan masalah etis dan metodologi. Penurunan intake kalori sebesar 30-40% dibandingkan dengan intake kalori normal pada spesiesnya telah dibuktikan tidak hanya memperpanjang umur, namun juga lebih sehat di usia senja. Sebagian besar penyakit termasuk kanker, diabetes dan penyakit neurodegeneratif dapat dicegah.

Sebuah studi dilakukan terhadap masyarakat di Okinawa (Jepang bagian Selatan), di mana masyarakatnya mempunyai angka kematian terendah akibat penyakit jantung (59%), kanker (69%) ataupun stroke (59%) dibandingkan dengan rata-rata nasional Jepang. Rata-rata anak sekolah di Okinawa mengkonsumsi 62% dari rata2 konsumsi kalori nasional. Orang dewasa di daerah tersebut, mengkonsumsi kalori 20 % lebih rendah dari penduduk Jepang lainnya, dengan total asupan protein dan lemak yang sama. Perlu diketahui, konsumsi masyarakat Jepang pada umumnya adalah adalah 2000 kalori, sebagian besar adalah karbohidrat, dengan jumlah asupan protein hewani dan nabati yang sama banyak, dan jumlah konsumsi ikan yang tinggi.

Mekanisme bagaimana restriksi kalori dapat memperpanjang angka harapan hidup belum diketahui dengan jelas. Beberapa hipotesis bermunculan. Pembatasan kalori mengakibatkan penurunan berat badan dan reduksi laju metabolisme, di mana peningkatan laju metabolisme berdampak pada meningkatnya ROS (Reactive Oxygen Species) yang memperpendek angka harapan hidup akibat kerusakan DNA. Lalat transgenik yang mempunyai antioksidan lebih tinggi (superoxide dismutase dan catalase) mempunyai angka harapan hidup 30 % lebih panjang yang berkaitan dengan rendahnya kerusakan protein oksidatif.

Restriksi kalori secara langsung juga menurunkan resiko kardiovaskular dengan menurunkan total LDL dan menurunkan hipertensi. Selain itu, pembatasan kalori juga menurunkan gula darah dan insulin pada rodent dan kera. Pembatasan kalori yang mengakibatkan penurunan berat badan pada penderita obese dengan Diabetes akan menurunkan kadar gula puasa sekaligus meningkatkan sensitivitas insulin jaringan.

Gen Umur Panjang

David A. Sinclair dan Lenny Guarente mengemukakan, restriksi kalori merupakan keadaan stresor biologis yang akan menginduksi respon pertahanan mahluk hidup, berupa pertahanan seluler, perbaikan sel, produksi energi, ataupun kematian terprogram (apoptosis)

Pada tahun 1995, Sinclair berhasil mengidentifikasi gen Sir2 pada yeast yang tetap mengalami pembelahan pada saat koloni yang lain sudah mati. Gen Sir2 merupakan gen yang terkonservasi tinggi, terdapat mulai dari yeast sampai ke mamalia. Pada manusia gen Sir2 ini disebut Sirt1.

Sirt1 merupakan deacetylase berbagai jenis protein intra maupun ekstranukleus. Sirt1 mengatur p53, FoxO1, Ku7 yang berperan penting dalam menentukan apakah suatu sel dalam menghadapi stress akan apoptosis atau memperbaiki diri.

Pembatasan kalori akan meningkatkan Sirt1, yang mengakibatkan aktif atau nonaktifnya gen-gen regulator lain, yang pada akhirnya akan meningkatkan kestabilan DNA, meningkatkan perbaikan sel, meningkatkan produksi dan penggunaan energi, yang pada akhirnya akan memperpanjang harapan hidup sel, dan pada globalnya memperpanjang umur mahluk hidup.

“Those who are hoping to pop a pill and live to 130 may have therefore been born a bit to early. Nevertheless, those of us already alive could live to see medications that modulate the activity of Sirtuins enzymes to employed to treat specific conditions such as Alzheimer’s, Cancer, Diabetes and Heart disease.”

(Sinclair&Guarente, Scientific American, 2006)

Sumber

Heilbronn LK, Calorie restriction and aging: review of the literature and implications for studies in humans. Am J Clin Nutr 2003;78:361-9

Sinclair & Guarente, Unlocking the secret of Longevity Genes. Scientific American 2006; 30-37

 Tentang Penulis: Kristy Iskandar

Kristy Iskandar Dilahirkan pada tahun 1981. Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2004, kemudian bekerja sebagai dokter umum di RS. Satya Negara, Sunter, sebelum melanjutkan studi S3 di Graduate School of Medicine, Kobe University. Penelitian sekarang terkait dengan molecular medicine of Obesity and Diabetes.Punya hobi yang sama dengan kaum wanita pada umumnya, baca novel, memasak, knitting and crocheting, dan yang terbaru, membuat bento ala ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 4 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.