Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 suara, nilai: 5,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Mengamati Gerhana Matahari Secara Aman dan Sederhana

Diamond Ring, salah satu bentuk gerhana matahari

Diamond Ring, salah satu bentuk gerhana matahari

Pada tanggal 26 Januari 2009 sore (kebetulan hari libur) akan terjadi gerhana matahari cincin. Di Jakarta nanti pada jam 16-17 WIB, bulatan surya akan menyerupai sabit. Lebih istimewa di Lampung dan Samarinda, karena di sana matahari tampil sebagai cincin yang terang.

Peristiwa gerhana matahari sering membuat heboh, padahal itu gejala alam yang biasa meskipun tergolong agak langka. Salah satu penyebab gempar ialah kekuatiran tentang keselamatan mata, ketakutan bahwa melihat gerhana itu mengakibatkan buta.

Pupil

Seperti diafragma pada kamera, mata manusia mempunyai pupil yang dapat melebar atau menyempit untuk menakar jumlah cahaya yang memasuki mata. Pada suasana gelap, diameter pupil membesar sampai 8 mm supaya terkumpul cukup cahaya yang memungkinkan orang melihat dalam kegelapan. Di siang hari yang terik, diameternya menyusut hingga 2 mm, bahkan mampu mengecil sampai sekitar 1,6 mm jika berhadapan dengan cahaya yang menyilaukan.

Tetapi penakaran cahaya oleh pupil ada batasnya, tidak kuasa menghalangi pancaran cahaya matahari yang begitu hebat. Jika dihitung, cahaya langsung dari sang surya mesti dilemahkan 50.000 kali supaya menjadi aman bagi mata, dijadikan 0,00002 kekuatan semula. Kalau tidak, orang yang nekad menantang matahari memang berpeluang menjadi buta.

Karena itu sehari-harinya silau pancaran matahari selalu dihindari. Tetapi ketika gerhana tiba, orang bisa tertarik untuk mengamati wajah sang surya yang sedang berubah menjadi sabit. Lupa daratan pun mungkin terjadi, abai terhadap bahaya.

Soalnya pada saat gerhana, pancaran surya dihalangi sebagian oleh bulan sehingga alam menjadi redup dan pupil mata pun membesar. Tepat di saat orang mendongak ke atas menatap matahari, pupil belum sempat bereaksi, padahal kecerahan permukaan matahari tetap sama dahsyatnya dengan sehari-hari, ukurannya saja yang susut membentuk sabit. Sudah tentu luar biasa besar bahaya kebutaan yang mengancam. Lebih-lebih jika melihat melalui teropong, kamera atau instrumen optik lain yang tidak dimodifikasi, karena ada lensa di situ yang memusatkan cahaya dan sangat meningkatkan bahaya. Jangan pernah melihat gerhana matahari dengan mata telanjang, apalagi dengan teropong atau kamera yang tidak dilengkapi dengan khusus.

Kotak

Kotak Pemantau Gerhana

Kotak Pemantau Gerhana

Tidak usah risau, ada sejumlah cara aman untuk mengamati peristiwa yang belum tentu setahun sekali menyinggahi daerah yang sama. Prinsip yang banyak dipakai ialah bukan melihat langsung tetapi menyaksikan citra matahari pada suatu permukaan. Seperti cara yang lain, tentu dibutuhkan cuaca yang cerah. Sebuah contoh sederhana berwujud kotak karton yang dapat dibuat sendiri (lihat gambar).

Bidang atas seluas kira-kira 30cm x 30cm diberi lubang kecil (sering disebut pinhole) berdiameter sekitar 1 mm pada jarak 5cm dari tepi. Melalui lubang ini, cahaya matahari nanti menerobos untuk membentuk citra pada permukaan dalam di bidang bawah. Makin tinggi ukuran kotak, citra matahari semakin besar. Tetapi demi praktisnya, cukuplah jika tinggi kotak antara 50 sampai 80 cm.

Selanjutnya pada tepi bidang atas dibuat lubang melebar sebagai tempat secukupnya bagi kedua mata untuk mengintip ke dalam kotak. Dalam pemakaian, dengan membelakangi matahari, kotak dipegang sambil mata mengintip ke dalam. Kotak dimiring-miringkan sedikit untuk menemukan arah terbaik yang menghasilkan citra matahari pada bidang bawah.

Dua alasan yang membuat kotak ini aman. Pertama karena lubang kecil hanya membolehkan sedikit pancaran matahari yang masuk. Kedua karena kita mengamati dengan membelakangi matahari, menjauhkan mata dari sorotan sang surya.

Prinsip yang sama juga ditemui di tempat lain. Mereka yang tidak sempat membuat kotak dapat bersiap di bawah pohon yang masih meloloskan sedikit cahaya matahari, sehingga dalam keadaan biasa menampakkan bulatan-bulatan terang di tanah. Coba perhatikan bulatan-bulatan kecil itu, pada saat gerhana matahari bentuknya menjadi sabit. Apabila angin berhembus menggoyang dedaunan, sabit-sabit terang itupun bergerak lucu berkeliaran. ***

Bacaan:

  1. Andrianto Handojo, “Solar eclipse observation: some simple devices”, Applied Optics 28, 4293-4297 (1989).
  2. www.eclipse.org.uk/eclipse/0132009/Jakarta_Indonesia_2009Jan26.png
  3. //hermit.org/Eclipse/2009-01-26/

Kredit foto gerhana: http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_eclipse

 Tentang Penulis: Andrianto Handojo

Andrianto Handojo Andrianto Handojo mengajar pada Program Studi Teknik Fisika ITB sejak tahun 1980 dan mulai tahun 1999 menjadi guru besar dengan bidang keahlian optika. Andrianto Handojo mengajar sebagai guru besar dengan bidang keahlian optika pada Program Studi Teknik Fisika ITB, tetapi secara umum menyukai fisika, gemar membaca dan ingin berbagi keingin-tahuannya lewat ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 42 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

  • Syariful Anwar mengatakan:

    waaah, mantab! setelah sekian lama tidak kebagian nonton gerhana matahari.

    makasih infonya pak.

  • Anwar mengatakan:

    bersyukur sekali bisa melihat ke agungan Tuhan Yang Esa akan gerhana matahari nanti..terima ksih sekali pak atas informasinya..kalo boleh..saya minta informasi mengenai sains dan teknologi terkini dari netsains.com…karena saya tertarik dengan artikel dan brenda yang ada di netsains.com sebgai bahan ilmu pengetahuan dan menambaha wawasan di bidang sains dan teknologi

  • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

    Terima kasih kepada Sdr. Syariful dan Sdr. Anwar (dua-duanya Anwar).
    Anda-anda tinggal di mana? Menurut kabar, sejumlah pemburu gerhana berniat datang ke Banten untuk mengamati peristiwa 26 Januari 2009. Daerah itu, terutama di sekitar Merak-Anyer, masih kebagian bentuk cincin matahari dengan matahari condong di arah laut lepas, dan diharapkan cuacanya lebih cerah dari pada tempat lainnya.
    Untuk Sdr. Anwar, informasi sains dan teknologi dapat ditelusuri pada netsains.com menurut kategori-kategori yang ada pada halaman depan situs ini. Silakan dpilih saja.

  • Gea OF ParikesitGea Parikesit mengatakan:

    Yth. Pak Andrianto,

    Terima kasih, telah membagi ilmunya. Saat mencoba memakai kotak sederhana yang Bapak ceritakan, sejumlah orang mungkin mengeluh karena bayangan yang terlihat di sisi dasar kotak tidaklah sejernih jika melihat langsung ke arah matahari. Akibatnya, yang merasa nekat mungkin masih juga mencoba menengok langsung ke arah atas. Bagaimana jika sisi dasar kotak tsb dilubangi dan diganti dengan lapisan ‘kertas roti’? Bagaimana pula jika kita ‘langsung’ melihat bayangan gerhana matahari tsb di atas permukaan air (misalnya diwadahi oleh baskom), tapi airnya dikeruhkan (misalnya dengan menambahkan larutan sirup berwarna gelap)? Apakah alternatif yang saya usulkan ini cukup baik untuk mengurangi tingkat radiasi yang mencapai mata?

    Salam,
    Gea Parikesit

  • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

    Terima kasih Sdr Gea atas komentar dan pertanyaannya.

    Memasang lembar “kertas roti” pada alas kotak, apakah kemudian artinya mengamati citra dari bawah alas tersebut, dari arah yang sebaliknya dibandingkan pada tulisan? Jika demikian maksudnya, ada risiko yang dilibatkan, yaitu mudahnya pengamat mengalihkan pandangan dari layar kertas roti ke matahari yang asli, suatu gerakan yang sangat tidak dianjurkan.

    Keinginan agar citra menjadi lebih jernih (maksudnya lebih terang? lebih tajam?) dapat diwujudkan dengan cara lain, yaitu dengan merekatkan selembar kertas putih pada bagian dalam alas kotak, yang akan berfungsi sebagai layar yang baik.

    Sementara itu mengamati gerhana matahari melalui pantulannya pada permukaan air tergolong berbahaya. Yang akan berperan di situ hanya permukaan air, tanpa tergantung pada keruh atau berwarnanya air. Cahaya yang dipantulkan hanya berkurang menjadi 0,02 kali kekuatan semula, padahal supaya aman bagi mata, cahaya matahari harus dijadikan 0,00002 kali aslinya. Artinya pantulan dari air masih 1000 kali terlalu kuat.

    Sesungguhnya ada beberapa cara lain yang aman seperti dapat diikuti dalam Applied Optics yang dijadikan bacaan, namun akan menjadi terlalu teknis pembahasannya.

  • eclipse mengatakan:

    mau liat gerhana dengan aman?? Pinjem kacamata tukang las . Tentu hanya berlaku untuk gerhana matahari bukan gerhana bulan. Jangan lupa kacamatanya yang dipakai saat nge-las bukan saat tukang itu lagi baca. xi…xiiii…xi….kabur dengan wajah serius!

  • wito mengatakan:

    Pak Andrianto,

    Saya tinggal di Cilegon dan sangat awam mengenai pengamatan astronomi. Saya ingin mengenalkan anak saya ke aktivitas ini apakah di area Cilegon ini ada klub astronomi dimana saya bisa bergabung. Terutama peristiwa tgl 26 mendatang, apakah bapak mengetahui lokasi mana yang bisa saya datangi untuk mengenalkan anak pada pengamatan gerhana matahari.

    Terima kasih.

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Bapak Wito, terima kasih atas komentarnya.
      Dikabarkan ada beberapa kelompok pengamat astronomi dan pemburu gerhana yang akan datang ke daerah Banten. Lihat misalnya:
      bosscha.itb.ac.id/iya2009/index.php?option=com_content&task=view&id=26&Itemid=1 – 21k

      http://langitselatan.com/2009/01/12/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/

      Gerhana cincicn nanti akan terjadi sore hari, mulai sebelum jam 16 dengan puncak pada pukul 16.40. Artinya matahari berada rendah di langit, mudah terhalang jika di sekitar pengamat terdapat pohon atau gedung tinggi. Karena itu tujuan diarahkan ke daerah pantai antara Merak dan Anyer, di mana matahari berada di arah laut lepas.

      Mengamati secara bergabung dengan kelompok astronomi akan sangat baik karena mereka tahu bagaimana caranya. Jika tidak, kotak seperti tergambar pada artikel dalam netsains dapat dipersiapkan dan dicoba dulu paling tidak sehari sebelum gerhana. Bagaimanapun, kehati-hatian sangat diperlukan. Selamat mengagumi fenomena alam ini.

  • Daniel mengatakan:

    Yth. Pak Andrianto,

    Kalo kita ambil photo tapi menggunakan Live View gimana ?
    Jadinya kita tidak secara langsung lihat melalui viewfinder … Kayak kamera pocket aja lwt LCD …

    Regards,

  • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

    Terima kasih atas pertanyaan sdr. Daniel.
    Ada tiga hal yang perlu disampaikan:

    1. Sengatan sang surya tidak hanya berbahaya bagi mata, tetapi juga diderita oleh instrumen optik yang dihadapkan ke matahari. Komponen internal bisa rusak oleh panas akibat pancaran matahari yang masuk dan dipusatkan. Filter penggelap perlu dipasang, seperti tipe ND 8 dari toko alat fotografi yang sebenarnya belum mencukupi, tetapi paling tidak bisa dipakai asalkan sebentar saja. Sudah itu lensa kamera dipayungi untuk mengistirahatkan beberapa saat. Tentu sama sekali tidak boleh melihat melalui viewfinder (lensa pembidik).

    2. Meskipun menggunakan Live View, untuk menepatkan arah kamera, pandangan pemotret sedikit banyak tertuju ke atas, dan mudah sekali tergoda untuk secara berbahaya melihat langsung matahari. Karena itu sebaiknya gunakan tripod dan periksa ketepatan arah kamera dengan kertas putih yang dipegang di belakang viewfinder. Ada sorotan matahari pada kertas yang dapat diamati.

    3. Gerak-gerik pemotret mungkin terlihat trampil dan gampang bagi orang-orang sekeliling. Ada kecenderungan untuk meniru, padahal orang-orang itu mungkin sekali belum membaca peringatan dan catatan seperti pada netsains ini. Karena itu para fotograf dianjurkan untuk beraksi misalnya di halaman rumah sendiri, jangan ditonton orang lain.

    Mudah-mudahan ketiga catatan di atas berguna.

  • Deloy mengatakan:

    Pak andrianto,

    saya sangat tertarik dengan fenomena alam ini,,ingin sekali saya menontony secara langsung.Tp sepertinya cuaca kurang mendukung..
    Apakah netsains akan merekamny dan mempublikasikanny?
    Website apa yg menayangkannya secara langsung..
    Trims

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Terima kasih atas pertanyaannya.
      Tidak bisa cepat saya tanggapi karena rupanya diperlukan waktu sampai komentar dapat ditampilkan. Senin 26 Januari menjelang malam komentar belum saya terima/lihat di netsains.

      Sayang saya juga tidak mengetahui website mana yang menayangkannya, tetapi sejumlah orang melihatnya pada televisi. Saya sendiri saat itu hampir selalu berdiri di luar untuk menunggu tersingkapnya awan agar gerhana dapat saya abadikan dengan kamera yang sudah dilengkapi filter penggelap.

  • dewi mengatakan:

    saya melihat gerhana secara langsung tanpa memakai alat apaun.
    apakah ada kemungkinan saya akan mengalami kebutaan?
    bagai mana cara mencegah kebutaan tersebut?

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Wah, gerhana atau tidak, melihat langsung matahari selalu sangat berbahaya. Tubuh bisa mengeluarkan reaksi seperti seketika nyeri kepala, atau pusing, maksudnya agar lekas menghindar dan tidak melihat lagi.

      Barangkali untung bahwa pada saat gerhana Senin 26 Januari itu, matahari berada cukup rendah di langit, sehingga cahayanya harus merambat condong dan lebih panjang menembus atmosfir, menyebabkan kekuatannya agak berkurang karena diredam atmosfir. Tetapi memandang langsung matahari tetap mengandung risiko besar.

      Jika ingin pasti apakah sempat terjadi cacat pada mata, pemeriksaan oleh dokter mata akan dapat mengungkapkan.

      Mudah-mudahan tidak terjadi apa-aoa dan mata sdr Dewi tetap sempurna seperti sebelumnya.

  • Alcez mengatakan:

    thank you very nuch becausse you pokoke ngono wae pak…!!!

  • ista mengatakan:

    kalau disuatu tempat itu bisa terjadi gerhana selama berapa tahun sekali yach?

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Maaf tidak cepat menangggapi.

      Keterangan untuk Choky di bawah ini mudah-mudahan bisa menjelaskan. Jika tidak, harap bertanya lagi.

  • leo mengatakan:

    baru-baru ini kan telah terjadi gerhana matahari,begitu besarnya matahari tetapi kenapa lokasi terjadinya gerhana hanya sebagian wilayah kecil saja, mengapa

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Terima kasih atas pertanyaan Leo yang bagus.

      Gerhana matahari terjadi karena ada bulan yang yang lewat persis di antara bumi dan matahari, sehingga menghalangi cahaya dari matahari. Tetapi ukuran bulan itu relatif tidak besar, diameternya “hanya” seperempat lebih (0,27 kali) dari diameter bumi. Karena itu tidak seluruh cahaya matahari dihalangi oleh bulan dan akibatnya sebagian wilayah bumi saja yang menikmati peristiwa gerhana.

      Sudah sebagian, sebentar lagi. Biasanya di suatu lokasi, puncak gerhana hanya berlangsung beberapa menit, karena bumi berpusing pada sumbunya, bulan beredar terus di sekeliling bumi, dan bumi bergerak pula di sekeliling matahari. Akibatnya aksi bulan yang menghalangi itu lekas selesai.

      Oleh karenanya jika ada kabar akan terjadi gerhana matahari, orangpun bersiap menyerbu tempat yang akan dilewati.

  • Choky sitohang mengatakan:

    alhamdulilah…
    ini adalah kebesaran tuhan yang maha esa
    maka kita akan mensyukuri semua yg allah telah ksh…

    oia pak sy mw tw lg ttg gerhana apa di bulan 2010 akan terjadi lagi…

    klo gerhana bulan total dan gerhana matahari itu setiap berapa tahun sekali si pak…

    saya mw tw dong pak

    oia pak sy udh bc pak yg td…
    mksh ya pak

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Choky,

      Gerhana matahari itu rata-rata terjadi dua kali dalam setahun, tapi bentuknya macam-macam, ada gerhana sebagian, ada gerhana cincin dan ada gerhana total. Di samping itu, tidak setiap gerhana matahari dapat dilihat dari bumi Indonesia.

      Berikut daftar gerhana matahari yang masih ada di tahun 2009 dan yang akan terjadi di tahun 2010:

      22 Juli 2009 Gerhana Matahari Total: secara sebagian (bukan total) masih dapat diamati dari bagian utara pulau Sumatera, utara Kalimantan, utara Sulawesi, Maluku dan Papua.

      15 Januari 2010 Gerhana Matahari Cincin: secara sebagian (bukan ciccin) masih dapat diamati dari seluruh Sumatera, seluruh Kalimantan, pulau Jawa kecuali Jawa Timur, bagian utara Sulawesi.

      11 Juli 2010 Gerhana Matahari Total: di Samudera Pasifik, sama sekali tidak dapat diamati dari Indonesia.

      Sementara itu gerhana bulan masih akan terjadi 3 kali di tahun 2009 ini dan 2 kali di tahun 2010. Salah satu yang menarik ialah Gerhana Bulan Penumbra pada penutup tahun 31 Desember 2009. Bulan tidak gelap total tetapi redup merah dan dapat diamati dari hampir seluruh Indonesia.

      Jika ada yang kurang jelas, silakan bertanya lagi.

      Bacaan: http://eclipse.gsfc.nasa.gov/eclipse.html

  • violanda mengatakan:

    saya sangat terkesan dengan adanya gambar gerhana matahari. dengan adanya gerhana matahari saya dpt melihat secara baik dan dpt menguasai isi ringkasan/bacaan di atas. TERIMA KASIH

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Violanda,
      Tamasya alam yang menarik untuk disaksikan dan dipahami tidak hanya gerhana matahari. Sehari-hari sudah kita saksikan birunya langit siang dan merahnya senja. Lihat tulisan baru: Warna Warni Langit Kita.

  • Endy isa ae mengatakan:

    Pak,bgaimana menurut bapak jika melihat G.matahari itu dg kaca bening yg dibutakan dg asap hitam sprti asap lampu dinding..,apakh itu berbahaya atau dpt mengurangi resiko..?

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Pertanyaan bagus Endy. Kaca bening yang dihitamkan dengan jelaga dari api minyak pada prinsipnya memang meredam cahaya, tetapi setidaknya ada dua persoalan besar di sini.

      Yang pertama, apakah jelaganya sudah cukup tebal? Jangan-jangan baru sekilas kena asap sehingga hitamnya baru samar saja. Perlu diketahui, melihat matahari dengan mata baru aman jika cahayanya dilemahkan 10.000 kali, artinya cahaya yang sampai ke mata hanya boleh maksimum 0,0001 kali kekuatan semula. Tidak aman jika lebih terang dari pada 0,0001 kali. Dapatkah menjamin bahwa jelaga yang terbentuk pada kaca sudah memenuhi syarat tersebut?

      Yang kedua, mungkin saja jelaga sudah cukup tebal pada satu daerah kecil kaca, tetapi bagaimana dengan bagian kaca yang lain? Jika dilakukan dengan mesin khusus mungkin bisa, tetapi jika dengan tangan, apakah terjamin bahwa seluruh kaca sudah berlapis jelaga yang sama tebal?

      Oleh karena itu, kaca yang dilapis jelaga sangat tidak dianjurkan untuk dipakai mengamati gerhana matahari.

  • fauzi mengatakan:

    keren..kira2 di TIM bisa ngeliat secara langsung ga om?

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Apakah di TIM ataukah di luar pagar TIM atau lebih jauh dari itu, jika memang dilewati oleh gerhana matahari tentu dapat melakukan pengamatan asal mengikuti cara aman yang sudah dijelaskan.

      Keuntungan di area planetarium TIM tentunya ada petugas atau ahli yang dapat memberikan petunjuk dan keterangan yang perlu.

  • eri mengatakan:

    hari ini tanggal 15 januari 2010, jam 14.45 wib terjadi gerhana matahari di NANGGROE ACEH DARUSSALAM…….

  • Fauzan S. R mengatakan:

    wus… baru tahu saya ,, saya kira cuma mitos.. hari ini ada gerhana matahari tapi tertutup mendung.tadinya sih pengen merekam nya lewat kamera ponsel buat kenangan.soalnya belum pernah liat gerhana matahari sekalipun (live)

  • Lilis mengatakan:

    Nama saya Lilis tinggal di Dago, BDG. Saya melihat langsung gerhana matahari tampa memakai pelindung mata pada tgl 15.01 2010 jam 14;40 bahkan saya mengamera dengan menggunakan hp.
    Apakah yang saya lakukan bisa mengakibat kan kebutaan? Kira kira keruksakan pada mata akan terjadi kapan setelah melihat langsung gerhana matahari??
    Mohon penjelasan dari bapak, terimakasih

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Wah, Lilis sudah mengambil risiko besar dengan melihat langsung. Mudah-mudahan tidak menyebabkan suatu efekpun dan mata Lilis tetap sempurna.

      Kemungkinan kerusakan tergantung pada kekuatan cahaya dan bentuk citra pada retina. Jika penyebabnya adalah matahari yang berbentuk sabit di saat gerhana, dapat timbul kerusakan yang juga berbentuk sabit. Jika ini terjadi dan mata dipakai melihat, ada sabit gelap dalam pandangan, seukuran sabit matahari yang sudah diamati. Kekuatan cahaya yang sangat kuat pada waktu mengamati gerhana bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih besar (jadi harus selalu hati-hati jika ingin melihat gerhana).

      Sekali lagi, mudah-mudahan itu tidak terjadi pada Lilis. Untuk memeriksa sendiri, coba dari jarak sekitar 3 meter lihat suatu dinding luas yang putih bersih. Jika semua terlihat serba putih (mudah-mudahan demikian), artinya tidak ada masalah.

      Jika ingin lebih yakin, Lilis dapat berkunjung dan bertanya pada dokter mata.

  • Vidya W. mengatakan:

    Terima kasih sdh berbagi ilmu, mohon diijinkan meng-copy utk tugas keponakan yg kls 3 SD.

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Saya senang jika isi artikel dipandang bermanfaat. Untuk keperluan belajar, silakan jika ingin membuat salinan (copy). Sementara itu jika salinan akan dipakai dalam tulisan lain, tata cara perujukan dan aturan netsains.com kiranya perlu diikuti.

  • vhina mengatakan:

    kenapa kok sekarang gerhana matahari dan bulan terjadi satu tahun sekali ??

  • vhina mengatakan:

    kenapa kok sekarang gerhana matahari dan bulan terjadi satu tahun sekali ??

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Vhina,
      Tidak mesti gerhana matahari dan bulan terjadi satu tahun sekali. Tahun 2010 ini saja ada dua gerhana matahari dan dua gerhana bulan.
      Terjadi tidaknya gerhana tergantung pada lintasan peredaran bulan di sekeliling bumi dan lintasan peredaran bumi di sekeliling matahari. Jika bulan “kebetulan” melintas tepat di antara matahari dan bumi sehingga menghalangi matahari, terjadilah gerhana matahari. Di pihak lain jika bumi berada tepat di antara matahari dan bulan, terjadilah gerhana bulan.

  • Eriksson tjiu mengatakan:

    Saya pernah mendengar, bahwa kita dapat melihat gerhana matahari dari pantulannya di air. Apa itu benar dan tidak memiliki resiko? Terima kasih

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Eriksson,
      Wah, jangan melihat gerhana matahari lewat pantulannya pada permukaan air. Soalnya cahaya matahari itu terlalu kuat buat mata. Supaya dapat melihat dengan aman, cahaya matahari harus dilemahkan sebanyak 10.000 kali (artinya menjadi 0,0001 kali kekuatan semula). Padahal pada pantulan permukaan air, cahaya hanya menjadi 0,02 kekuatan semula. Jelas masih terlalu terang dan tidak aman bagi mata.

  • nayank mengatakan:

    wahh hebat buanget ktika saya membaca profil bapak tentang cara mengamati matahri dengan cara aman kini aku jd tau klo pancaran sinar matahari jika kt liat dgn mta telanjan dapt menyebabkn mata kt jd butah wahh hebat terimah kasih yh atas infonya gimana sich caranya supaya bisa menjdi kyak bapak ??? bisa menjadi guru besar ahli fisika????berikan saran dong,,,,,

  • nayank mengatakan:

    nama saya nayank asal dr kendari,saya ingin nanya waktu kecil kan sy suka pandang matahari disiang2 bolong sy penasaran ingin melihat bentuk asli matahari ktika saya selesai memandang matahari penglihtan sy terasa gelap dan pancaran matahari itu kya masih berbekas ( terbayang sinarnya) apa itu gk berpengaruh dngn mata???mohon dijelaskan terimah kasih

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.