Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Keunggulan Menjadi Bangsa Multilingual: Studi Kasus Belanda

multilingualBeberapa bangsa di Eropa, seperti Belanda, Denmark, dan Swedia, menerapkan pendidikan multi lingual semenjak sekolah menengah. Bahasa asing yang mereka pelajari, adalah Bahasa Inggris, yang merupakan bahasa internasional, dan Bahasa Jerman.

Indonesia sudah memulai pendidikan multi lingual, dengan membuka sekolah internasional, dimana bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Dalam beberapa kasus, selain bahasa Inggris, bahasa mandarin juga menjadi bahasa pengantar. Namun, apakah kemampuan berbahasa asing mampu meningkatkan daya saing kita? Apakah bangsa yang mampu menguasai berbagai macam bahasa asing memiliki keunggulan tertentu? Yang terpenting, apakah dengan menguasai berbagai bahasa asing, kemurnian bahasa ibu bisa tetap dijaga?

Kemurnian Bahasa

Mari kita mengambil contoh, pada mantan penjajah kita, yaitu negeri Belanda. Jika kita melihat peta eropa, Belanda tidak lebih hanya liliput ditengah dua negara besar, yaitu Perancis dan Jerman. Belanda memang tidak berbatasan langsung dengan Perancis, namun di Belgia, terdapat komunitas berbahasa Perancis, selain yang berbahasa Belanda. Secara ras dan kultural, posisi Belanda bagaikan kancil yang terjepit di tengah dua gajah raksasa.

Berbeda dengan Perancis dan Jerman, yang merupakan pusat prestise, aristokrasi dan kekuasaan Politik dan ekonomi Eropa dengan segala kemegahannya, Belanda hanya bisa bergantung pada satu hal untuk hidup, yaitu perdagangan. Keadaan dimana perdagangan menjadi salah satu pilihan strategis untuk bertahan, menjadikan para saudagar Belanda harus memutar otak dalam rangka beradaptasi ditengah ‘himpitan’ Perancis dan Jerman. Dalam kapasitas mereka sebagai pedagang, jika ingin melakukan perjalanan dinas ke Paris atau Berlin, maka menguasai bahasa Perancis atau Jerman menjadi suatu kewajiban. Sebagai bangsa yang besar, adalah tidak mungkin mengharapkan orang Perancis atau orang Jerman untuk berbahasa Belanda. Alhasil, para saudagar Belanda terpacu untuk mempelajari bahasa Jerman dan Perancis, selain bahasa Inggris, untuk melancarkan urusan bisnis mereka di Paris atau Berlin.

Seperti yang pernah dijelaskan M.Purna dalam artikel ‘Salah Kaprah dalam Pelafalan Bahasa Indonesia’, fenomena pencampuran bahasa menjadi salah satu masalah besar di Indonesia dewasa ini, terutama dengan bahasa Inggris. Hal ini terjadi, karena bahasa Indonesia masih mencari format dalam rangka menghadapi gempuran bahasa asing. Namun, fenomena demikian tidak terjadi pada Bahasa Belanda. Bagi yang menguasainya, akan sangat jelas sekali, bahwa Bahasa Belanda sangat mirip dengan Bahasa Jerman.

Berikut akan saya berikan tabel perbandingan antara Bahasa Belanda, Jerman, dan Indonesia:

Belanda Jerman Indonesia
wonen wohnen tinggal
wolk wolke awan
vrucht frucht buah
vriend freund teman
gezicht gesicht sejarah

Memang tabel diatas tidak mungkin mewakili keseluruhan kosa kata bahasa jerman dan Belanda, namun hanya berfungsi sebagai contoh saja. Namun, walaupun kedua bahasa tersebut memiliki persamaan kosa kata yang sangat mencolok, pelafalannya sangat berbeda.

Bahasa Jerman memiliki sistim pelafalan yang mirip bahasa Indonesia, dimana penulisan dan pelafalan sama, namun Bahasa Belanda lebih mirip bahasa Inggris, dimana penulisan dan pelafalan berbeda. Walaupun kedua bahasa itu sangat mirip, seperti bahasa Indonesia dan bahasa melayu malaysia, namun fenomena pencampuran bahasa tidak terjadi.

Secara kultural, seharusnya pencampuran itu mudah saja terjadi, mengingat Bahasa Jerman merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di Eropa, setelah bahasa Inggris, dan secara populasi bahkan penutur Bahasa Jerman sebagai bahasa ibu lebih banyak daripada penutur Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu di Eropa.

Belum lagi mengingat posisi Jerman sebagai ekonomi nomor 3 di dunia. Dengan keunggulan politis seperti ini, seharusnya ‘perembesan’ bahasa Jerman ke dalam bahasa Belanda bisa terjadi dengan mudah. Namun hal itu tidak terjadi. Belanda terkenal sebagai bangsa yang sangat melindungi kemurnian bahasanya.

Berhubung pelafalan bahasa Belanda dan Jerman yang sangat berbeda, maka fenomena pencampuran bahasa akan sangat mudah dikenali, dan bisa dihindari. Jika ada kata dalam bahasa Jerman yang diserap, maka itupun akan diucapkan dengan pelafalan bahasa Belanda. Di satu sisi, Belanda mewajibkan siswa sekolah untuk mempelajari bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman, namun di sisi lain, kemurnian bahasanya tetap dijaga dengan ketat.

Quo vadis Indonesia?
Bung Karno, dalam autobiografinya pernah mengungkapkan, agar Bangsa Indonesia menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Penulis pernah menerima keluhan, bahwa salah satu kesulitan utama penguasaan bahasa Inggris adalah karena bahasa ibu mayoritas orang Indonesia adalah bahasa daerah. Jadi bahasa Indonesia dianggap sebagai semacam ‘bahasa asing’ pertama, dan bahasa Inggris menjadi bahasa asing kedua.

Oleh sebab itu menguasai bahasa Inggris menjadi sangat sulit. Memang bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, namun secara psiko linguistik, bahasa kedua yang dipelajari setelah bahasa ibu jelas berposisi sebagai bahasa asing. Namun, apakah hal ini bisa menghalangi bangsa Indonesia untuk menguasai berbagai bahasa? Rasanya tidak. Kasus Belanda sudah menunjukkan, bahwa menguasai berbagai macam bahasa adalah mungkin. Dalam beberapa kasus, orang Belanda yang sangat terdidik bukan hanya menguasai bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman, namun juga bahasa Spanyol, Portugis, Italia, atau bahasa asing lainnya.

Hal ini juga menjadi kasus para bapak bangsa kita. Bung Karno dikenal sebagai seorang multi lingual. Beliau menguasai Bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, dan sedikit Italia. Demikian juga bapak bangsa kita yang lain seperti Bung Hatta dan Bung Syahrir, mereka juga adalah intelektual yang multi lingual.

Adapun selain Bahasa Inggris, peran Bahasa Mandarin dari hari ke hari semakin meningkat. Di Indonesia, semakin banyak siswa yang mempelajari Bahasa Mandarin. Posisi China sebagai salah satu lokomotif ekonomi dunia juga mempengaruhi popularitas bahasa Mandarin.

Dengan peran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, popularitas bahasa Mandarin yang semakin menanjak, dan kebutuhan kita menjaga kemurnian bahasa Indonesia yang ‘baik dan benar’, maka diperlukan suatu strategi berbahasa yang komprehensif bagi bangsa Indonesia. Bapak Bangsa kita sudah menunjukkan, bahwa menjadi intelektual yang multi lingual adalah mungkin.

Dapatkah kita kedepannya, mencetak intelektual paripurna, yang mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, namun menguasai dua bahasa asing? Mari kita diskusikan bersama.

Referensi:
Langenscheidt. 2000. Universal Wörterbuch Niederländisch-Deutsch. Berlin
M.Purna. Salah Kaprah dalam Pelafalan Bahasa Indonesia. Netsains.
Cindy Adams. Soekarno: an Autobiography

foto: webdesign.org

 Tentang Penulis: Arli Aditya Parikesit

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah asisten peneliti pada Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Saat ini menjadi kandidat doktor di institusi yang ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 5 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

  • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

    Suatu bahasa tentu tidak sekadar kumpulan kata-kata yang digandengkan satu sama lain, tetapi merupakan struktur berpikir. Kata demi kata boleh dicari artinya di dalam kamus, tetapi perangkaian keseluruhan kata bisa sangat berbeda konstruksi dan maknanya, karena mencerminkan sistematika pembentukan pendapat, penyusunan pikiran, sampai cara pengungkapan emosi. Bila ditelusuri lebih jauh lagi, boleh dikatakan bahwa latar belakang kebudayaan dapat ditemukan di situ.

    Ini menjadi sebuah kendala penting bagi banyak penutur Bahasa Indonesia untuk mempelajari dan menjadi fasih dalam, misalnya saja, Bahasa Jerman. Kendala tersebut kurang dirasakan bangsa Belanda karena relatif dekatnya kebudayaan mereka dengan para pemilik bahasa besar yang disebutkan dalam tulisan.

    Namun tentu saja aspek tersebut tidak boleh dijadikan pemaafan untuk tidak menekuni bahasa asing. Menjadi fasih dalam bahasa-bahasa yang biasa digunakan para ilmuwan sangatlah bermanfaat untuk menekuni ilmu dengan lebih baik dan menjadi ahli dalam ilmu bersangkutan. Antara lain karena jalan pikiran yang melatar-belakanginya dapat langsung diikuti dan didalami.

    Dalam hubungan ini, saya pribadi tidak setuju dengan penerjemahan buku-buku ilmiah ke dalam Bahasa Indonesia, apabila tidak disertai dengan misalnya pembentukan perjanjian dengan penerbit-penerbit besar untuk menerbitkan buku-buku termaksud di Indonesia dalam bahasa aslinya dengan harga yang terjangkau. Mungkin dengan kualitas kertas dan cetak yang tidak sebagus aslinya, seperti yang dilakukan oleh Tata McGraw-Hill di India.

    Akhirnya sedikit meluruskan. Perdagangan bukan merupakan satu-satunya gantungan hidup bangsa Belanda. Produk pangan (keju, susu dll) serta bunga membentuk hampir 15% ekspor mereka (sangat disarankan Sdr Arli mengunjungi kebun/ industri bunga Keukenhof pada awal musim semi, jika sempat). Di samping itu, “sejarah” dalam bahasa Belanda adalah “geschiedenis”, sedangkan “gezicht” berarti “wajah”.

  • Arli Aditya Parikesitarli mengatakan:

    Saya pernah jadi bahan tertawaan di suatu pesta makan malam, karena membaca sebuah paragraf bahasa Belanda, dengan pelafalan bahasa jerman. Lucunya, walaupun pelafalannya ngawur bin ngaco, mereka mengerti semua apa yang saya baca. Bisa saja deh kompeni-kompeni itu ngerjain saya :D . Btw, kamus yang saya pakai itu buatan orang Jerman. Mestinya saya pake kamus buatan orang Belanda. Bisa jadi lebih bagus, karena rata-rata orang Belanda kemampuan bahasa asingnya lebih baik daripada rata-rata orang Jerman. Malah banyak yang bisa bahasa Indonesia. Jadi tidak terlalu heran kalo ada kesalahan. Saya yang salah, karena kurang paham. Lain kali saya pakai kamus buatan Belanda saja.
    Iya Pak, memang India terkenal menerbitkan buku teks dengan kualitas buku yang tidak sebagus aslinya. Tapi negara lain, misalnya China, mengambil langkah lain. Mereka menterjemahkan buku teks tersebut ke bahasa mandarin. Ada konsekuensinya memang, yaitu ke penguasaan bahasa asing yang tidak sempurna. Demikian juga Jepang, mereka malah lebih dulu mengambil langkah tersebut. Saya pikir untuk penerbitan buku ini, saya lebih setuju dengan usul Pak Adi.
    Sempatlah….Kalau ke Belanda, malah bisa pas week end ke sana. Dari Hannover ke Amsterdam cuma perlu waktu 4 jam. Saya ndak tau posisi Keukenhof tepatnya dimana. Tapi nanti saya cari tahu.
    Seperti yang saya tulis di artikel, saya malah tidak menganjurkan orang Indonesia untuk belajar bahasa eropa selain Inggris. Justru, selain Inggris, bahasa mandarin perlu dipertimbangkan. Secara kultural, kata-kata bahasa China sudah akrab di telinga kita. Makanan: fu yung hai, cap cai, bakmi, bakso, ayam kung pau, bak pao, siomai, dan pangsit. Belum lagi film silat Hongkong, yang menghiasi layar kaca kita. Sudah mulai banyak lho, mahasiswa kita yang sekolah ke China. Teman saya mahasiswa kedokteran di Hanover, malah pernah magang setahun pada sebuah rumah sakit di RRC, sebelum memutuskan meneruskan spesialisnya di jerman.

  • bocahbancar mengatakan:

    Wah pembahasannya keren..

    tapi saya hanya berkapasitas sebagai pembaca saja untuk saat ini..

    belum terlalu banyak ang saya tahu mengenai bahasa…

    Saya berharap bisa mengikuti short course yang diadakan oleh NESO melalui kompetisiblog studi dibelanda..

    Salam hangat Bocahbancar….

  • Defny HolidinDefny Holidin mengatakan:

    Banyak pelajaran diambil di sini. Menjadi bangsa multilingual sekaligus menjaga orisinalitas Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu? Hal pertama yang harus dibenahi adalah kepercayaan diri untuk tidak under-estimate di hadapan bangsa lain, menyingkirkan mental budak dan menganggap “orang luar” sebagai yang lebih hebat dibandingkan diri sendiri. Perserapan sejumlah kosakata bahasa asing scara masif ke dalam Bahasa Indonesia tidak sekadar disebabkan kedigdayaan pengaruh bangsa yang bersangkutan tetapi lebih merupakan refleksi ketidakpercayaan diri. Nah, pertanyaannya adalah apa garis batas yang tegas antara menyerap kosakata bahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia sebagai bentuk pengayaan bahasa dan bentuk ketidakpercayaan diri?

  • blog go blog mengatakan:

    memang sekarang sudah waktunya bangsa kita bangkit dr keterpurukan, makanya biar anak2 kita penerus bangsa nanti yang ga malu2in, bhs inggris memang sudah menjadi bhs international..harus dan wajib bt anak2 kita fasih dalam berbahasa inggris..

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.