Barack Obama menunjuk empat ilmuwan duduki kursi pemerintahan terbaru AS. Ahli fisika dari Harvard dan pakar biologi kelautan ditunjuk untuk fokus mengurusi isu pemanasan global.
John Holdren dan Jane Lubchenco adalah pakar andalan dalam hal perubahan iklim, keduanya dipercaya memberi masukan pada pemerintahan Obama ikwal isu lingkungan yang sangat erat dengan sains tersebut. Holdren akan jadi penasihat dan ditektur White House Office of Science and Technology Policy. Sedangkan Lubchenco akan memimpin National Oceanic and Atmospheric Administration.
Pemenang Nobel Harold Varmus akan mendampingi Lubchenco, juga Eric Lander, pakar genom manusia dari Massachusetts Institute of Technology.
Bayangkan, negara kaya yang dibelit krisis finansial setara AS saja sangat mengagungkan sains dalam pengambilan keputusan politiknya. Bagaimana dengan negara berkembang seperti Indonesia?
“Negara miskin dan berkembang membutuhkan dukungan besar sains dan teknologi jika mereka ingin bersaing dengan negara kaya” Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam Konferensi Pengambangan dan Perdagangan (UN Conference on Trade and Development)
Seremonial?
Kutipan yang menjadi dasar saya membuat situs Netsains.Com tersebut agak kontradiksi dengan fakta yang ada. Ilmuwan andal manakah di Indonesia ini yang suaranya didengar dalam setiap pengambilan keputusan politik kita? Apakah kita punya tim khusus berisikan ilmuwan yang sesuai bidangnya untuk memerangi kerusakan hutan, peredaran makanan dan obat yang membahayakan kesehatan, atau mengantisipasi flu burung, banjir, longsor, dan sejenisnya? Kalaupun ya, apakah suara dan masukan mereka cukup kuat untuk memengaruhi kebijakan pemerintah?
Sudah bosan rasanya mendengar aneka prestasi pelajar Indonesia di luar negeri dalam aneka ajang olimpiade sains. Segala penghargaan tingkat nasional juga sudah bertebaran sana-sini seperti jamur di musim hujan. Namun, apakah ilmuwan kita cukup didengar oleh pemerintah? Apakah segala penghargaan itu hanya sebatas seremonial penyejuk suasana yang akan gone with the wind, sudah itu ilmuwan kita kembali terpuruk di laboratoriumnya, mengais-ngais dana riset dari anggaran pemerintah atau bahkan instansi asing?
Bisa diakui, selain seorang BJ Habibie, Indonesia belum pernah memiliki ilmuwan yang sedemikian “digdaya” di kalangan politik dan pemerintahan. Hingga kini rakyat masih menanti adanya sinergi antara otak andal ilmuwan kita dengan kebijakan pemerintah yang memihak kepentingan kita semua. Semoga ilmu itu tak menguap begitu saja, melainkan bisa dikembalikan ke khitahnya: demi kesejahteraan umat manusia.
Apa kabar Dewan Riset Nasional (DRN)?
foto:cals.ncsu.edu


