Beranda > Artikel > Spesies Pinguin yang Punah Karena Disantap Manusia

Spesies Pinguin yang Punah Karena Disantap Manusia

Rabu, 19 Nopember, 2008 oleh Merry Magdalena

Bagi yang pernah menonton film Happy Feet, tentu tahu bahwa pinguin itu banyak jenis spesiesnya. Ada yang masih bertahan dan ada yang sudah punah. Kedatangan manusia di Selandia Baru adalah penyebab utama kepunahan salah satu spesies pinguin. Spesies pingun yang sudah punah itu pernah mendiami habitat pinguin langka bermata kuning saat ini, demikian menurut studi yang dilakukan ilmuwan asal University of Otago, Selandia Baru.

Kepunahan pinguin tersebut diperkirakan terjadi 500 tahun lalu. Keberadaan spesies tersebut ditemukan secara tak sengaja saat ilmuwan meneliti sejarah genetika pinguin mata kuning. Pinguin ini hanya tersisa sekitar 7000 ekor saja, pernah dijumpa di Antarctic Campbell dan kepulauan Auckland.

Dimakan Manusia

“Spesies yang sudah punah ini berukuran 10% lebih kecil dan mereka berkerabat dekat,” jelas Sanne Boessenkool, pimpinan riset tersebut. Tulang tertua ditemukan di Pulau Selatan, jenis pinguin yang lebih kecil dari pingun mata kuning dan mengandung DNA berbeda,

Boessenkoo mengatakan, susah memastikan kenapa pinguin itu punah, namun dugaan paling kuat adalah mereka dimakan oleh orang Polinesia yang datang ke Selandia Baru pada tahun 1280. Berdasarkan penelitian arkeologi, di zaman itu memang aktivitas berburu sangat marak. Burung, termasuk jenis pinguin, adalah target utama mereka.

Spesies yang sudah punah ini dinamakan Megadyptes Waitaha, demi menghormati Waitaha, suku Polinesia pertama yang menguasai Pulau Selatan, Selandia Baru.

Diterjemahkan secara bebas dari BBC Online.
Foto: BBC Online

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Merry Magdalena
Penulis: Merry Magdalena
Tanggal: Rabu, 19 Nopember, 2008
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Ia adalah moderator milis Technomedia yang membernya sejumlah pakar TI, pengamat Iptek, jurnalis, bahkan Menristek dan Menkominfo. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Konsennya terhadap dunia Iptek melahirkan Netsains.com yang dirintisnya bersama teman-teman. Kini ia sedang berusaha keras menyelesaikan beberapa buku lagi sembari terus menjadi jurnalis dan mengelola Netsains.com dan www.qbheadlines.com.

Tulisan Terkait:

Banner

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>