Hukum fisika menegaskan bahwa setiap apa yang ada dalam ruang akan selalu menjalani waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, rangkaian itu disebut ‘proses’. Proses yang dimaksud adalah seni pembentukan pola-pola waktu menjadi lebih teratur. Untuk optimalisasi, kita biasanya memunculkannya dalam bentuk prosedur kerja yang bisa diterima semua orang, semacam ‘program aplikasi’ dalam istilah Teknologi Informasi (TI) . Karena manusia cenderung pada hal-hal yang indah dan teratur, maka hampir setiap aktivitas manusia memiliki prosedur kerja yang indah dan teratur. Yang paling menonjol di era sekarang adalah prosedur kerja dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam istilah yang lebih umum, orang-orang biasa menyebutnya metode ilmiah.
Pembentukan metode ilmiah pada mulanya terinspirasi oleh sistem peradilan bangsa Yunani kuno: semua tuduhan harus dibuktikan secara terbuka. Ketika Eropa sedang dalam masa kegelapan di bawah hegemoni gereja, sistem tersebut diadopsi orang-orang Islam. Dari abad 8 sampai abad 13, peradaban Islam mengembangkannya menjadi metode eksperimen. Metode ini selanjutnya menjadi jalan satu-satunya di mana tidak ada jalan lain untuk ilmu pengetahuan1. Sewaktu peradaban Islam runtuh, bersamaan dengan Gerakan Renaisance, metode eksperimen diserap orang-orang Eropa. Hasilnya adalah metode ilmiah yang diajarkan di sekolah-sekolah modern sekarang ini.
Metode Ilmiah
Beberapa kejadian spesifik ditangkap indera, dengan atau tanpa bantuan peralatan. Kejadian ini selanjutnya menjadi masalah bagi si pengamat. Pikiran mengolah ciri-ciri fisik fenomena tersebut, lalu data-data akan dikumpulkan dalam waktu yang lama, sebelum diputuskan. Semacam penjelasan lalu dibangun dalam pola-pola tertentu, sehingga dengan alasan induktif pikiran akan memanfaatkannya untuk menyusun hipotesis. Untuk menghindari adanya spekulasi, alasan tersebut harus melibatkan proses generalisasi, dan itu biasanya menjadikannya tipe alasan yang paling sulit. Hipotesis biasanya mempunyai kerangka yang sebagian atau semuanya menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa sehari-hari. Bahasa yang dipakai adalah matematika.
Selanjutnya hipotesis digunakan untuk mengira apa yang akan terjadi di masa depan jika cara-cara tertentu digunakan. Perkiraan itu bisa diambil dari hipotesis dengan menggunakan alasan yang deduktif (maksudnya main comot aja!). Perkiraan ini akan dibuktikan melalui eksperimen. Dalam hal ini, eksperimen mungkin mudah dirancang, tapi dalam banyak kasus biasanya cukup merepotkan. Butuh peralatan yang rumit, canggih, dan tentunya mahal, serta butuh banyak pekerja. Kalaupun semua itu sudah dibangun, sering kali para peneliti kurang sabar untuk mengolah informasi-informasi yang telah didapatkan.
Setelah tahap percobaan diselenggarakan, hasilnya disesuaikan dengan perkiraan. Karena hipotesis sifatnya umum dan perkiraan sifatnya khusus, maka percobaan tersebut tidak serta-merta membuktikan kebenaran hipotesis, tapi sekedar mendukung. Tapi kalau percobaan tidak cocok dengan perkiraan, maka dapat dipastikan bahwa hipotesis tersebut salah. Einstein mengekspresikan kecenderungan ini ketika ia mengungkapkan: “Tidak ada sejumlah pecobaan yang bisa membuktikan bahwa aku benar, tapi satu percobaan saja akan membuktikan kesalahanku”.
Hipotesis yang salah harus didaur ulang–dimodifikasi sedikit atau diubah secara keseluruhan—atau yang lebih tragis biasanya dibuang begitu saja. Keputusan tentang seberapa besar perubahan tersebut bisa jadi merupakan tugas yang justru lebih sulit dan runyam dari penyusunan awalnya. Hipotesis generasi baru itu tentu harus melewati prosedur kerja yang berurutan dari awal lagi, dan begitu seterusnya.2
Keimanan Harus Dibuktikan
Sebagian orang mengira bahwa memahami alam itu bagaikan membuka kotak dalam kotak. Hasil pemahaman itu, maksudnya sains, akan terus memperbaiki diri seiring dengan penemuan demi penemuan. Konsekuensinya, kita tidak akan pernah mencapai pada apa yang disebut ‘penjelasan terakhir’. Kita akan senantiasa mendapati kotak-kotak baru di dalam kotak yang telah berhasil dibuka, dan begitu seterusnya. Namun Hawking betul-betul meragukan anggapan ini. Dalam pelantikannya sebagai Lucasian Profesor of Mathematics pada lembaga ilmiah tertua di planet bumi ini, Royal Society, beliau mengejutkan kalangan fisika dengan tema ceramah yang disampaikannya: “Apakah Akhir dari Fisika Teoretis telah Tampak?”.3
Dalam filsafat Aristotelian, alam semesta dianggap sebagai suatu objek raksasa yang mengandung peraturan alami yang sangat disiplin dan teratur. Aturan yang dimaksud selanjutnya disebut hukum alam. Selepas abad pertengahan, filsafat itu dikembangkan lebih lanjut oleh Rene Descartes dari Prancis. Filsafat Cartesian menyatakan bahwa keteraturan alam seperti sebuah mesin, setiap bagiannya bertalian erat satu sama lain membentuk pergerakan universal yang rumit. Sebagai makhluk yang dibekali kecerdasan dan rasa ingin tahu luar biasa, manusia tentu akan bertanya-tanya: bagaimana cara kerja mesin alam? Beberapa generasi pemikir melakukan spekulasi filsafat, uji coba, eksperimen, dan yang terakhir telaah matematika. Suatu masa di ujung abad 20, hampir semua orang yakin bahwa sains telah hampir mengetahui semuanya. Orang-orang meyakini bahwa selangkah lagi sains akan mencapai kesempurnaan. Dan Stephen Hawking disebut-sebut sebagai pengemban tantangan paling berat dalam sejarah peradaban tersebut.
Hawking adalah salah satu ilmuwan paling cemerlang di era modern ini. Kedudukannya sering disejajarkan dengan Isaac Newton dan Albert Einstein. Sejak usia 20-an, beliau menderita penyakit Lou Gehrig atau ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit saraf motorik yang mematikan pertumbuhan otot atau daging. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan bisa membawa kematian. Ketika beliau mencapai puncak kecemerlangannya, penyakit tersebut bukan hanya telah melumpuhkannya, tapi juga sudah membungkamnya (membuatnya bisu, karena otot lehernya mati). Namun, orang-orang berharap banyak pada otaknya, satu-satunya organ tubuh yang tidak terpengaruh penyakit itu. Meskipun pada awalnya dokter memvonis hidupnya tinggal dua tahun lagi, namun Hawking bisa bertahan sampai sekarang. Dan semua orang masih menunggu Hawking menyelesaikan tantangan tersebut.
Sayang sekali, sampai datangnya millenium ketiga, melalui karya fenomenalnya yang berjudul A Brief History of Time, Hawking hanya bisa berkata: “Kita akan segera mengetahui pikiran Tuhan”4. Kalau kita menengok sejarah, kita pun akan mendapati pernyataan-pernyataan serupa yang pernah diucapkan berbagai tokoh terkemuka sains. Albert Michaelson, ketika hendak melakukan eksperimen ‘berburu eter’, dia dengan sangat meyakinkan berkata: “Tugas fisika hanya tinggal mengisi angka di desimal ke enam”5. Begitu juga Max Born yang juga pernah sesumbar: “Enam bulan lagi fisika akan berakhir”.6
Jangan-jangan ungkapan-ungkapan itu hanyalah bentuk kekaguman mereka atas kecerdasan mereka sendiri. Hampir semua orang sepakat bahwa alam semesta adalah suatu konstruksi raksasa dengan sistem yang menyerupai sebuah mesin. Bayangkan seorang insinyur yang membuat buku panduan untuk mesin buatannya, begitu pulalah pekerjaan Tuhan dalam mencipta ‘mesin’ alam semesta-Nya. Dia tentu membuat semisal buku panduan untuk alam semesta-Nya. Dan buku panduan tersebut tidak lain adalah kitab suci. Untuk itu, metode ilmiah harus diperluas dengan basis kitab suci.
Selain memiliki kebenaran ilahiah, yakni kebenaran yang diyakini telah melekat sejak kemunculannya, ayat-ayat kitab suci juga harus mengandung kebenaran yang sifatnya ilmiah atau bisa dibuktikan secara terbuka melalui sidang pengadilan, eksperimen, atau cara-cara apapun, karena pada dasarnya hanya ada satu definisi kebenaran yang kita ketahui. Tak masalah jika kebenaran yang diyakini sebagai ‘iman’ dijadikan sebagai bahan fundamental metode ilmiah. Intinya, bahwa keimanan juga harus bisa dibuktikan.
Metode Dualisis
Hawking yakin betul bahwa manusia akan segera memahami pikiran Tuhan, maksudnya kita akan segera mencapai kesempurnaan sains. Cara yang beliau tempuh melalui matematika mungkin sudah mentok, tapi bukankah pepatah “masih banyak jalan menuju kota Roma” masih relevan? Saya hanya ingin mengatakan (khususnya kepada Hawking) bahwa kalau kita ingin mengetahui pikiran Tuhan, sebaiknya tanyakan langsung kepada Tuhan. Itu bisa dilakukan dengan memperluas metode ilmiah yang semata berbasis empirisme menuju basis kitab suci. Metode yang dimaksud selain memuat hipotesis, juga memuat holitesis (premis kitab suci). Itulah ‘metode dualisis’.
Pertama, pikiran mengolah ciri-ciri fisik suatu fenomena, kemudian data-data dikumpulkan dalam waktu lama. Berdasarkan data-data itu, dibangunlah hipotesis, yang melibatkan matematika. Hipotesis ini dibangun dengan alasan induktif, melalui suatu proses generalisasi. Selain itu, dengan alasan deduktif, sebuah premis disimpulkan dari pernyataan-pernyataan kitab suci, yang tentunya bertalian dengan hipotesis. Premis inilah yang kemudian disebut holitesis.
Sekarang bayangkan cara makan pizza yang benar. Yang harus dilakukan pertama kali adalah memotong-motong pizza itu menjadi bagian-bagian kecil. Bentuk pizza adalah lingkaran. Lazimnya lingkaran, tentu memiliki titik pusat dan keliling. Ibaratkan titik pusat itu sebagai hipotesis dan garis sepanjang tepi atau kelilingnya sebagai holitesis. Kalau salah satunya tidak ada, bagaimana orang bisa memotong-motong pizza itu? Fungsi holitesis di sini sebagai penopang hipotesis, dengan cara memberi ‘pemastian’ tentang apa yang dinyatakan hipotesis, seperti garis yang memastikan tepi suatu pizza .
Selanjutnya, kalau hipotesis sudah mempunyai prosedur matematika yang lengkap, maka ia bisa digunakan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa-masa mendatang apabila cara-cara tertentu digunakan. Perkiraan dibuat dengan alasan deduktif, sedemikian rupa sehingga apa yang diperkirakannya bertalian dengan holitesis. Sebut saja perkiraan semacam ini ‘perkiraan baku’. Perkiraan baku kemudian akan dibuktikan melalui percobaan. Hasil-hasil percobaan lalu dibandingkan lagi dengan perkiraan. Karena hipotesis-holitesis bersifat umum, dan perkiraan bersifat khusus, maka hasil percobaan yang cocok tidak serta-merta membenarkan mereka, tapi hanya mendukungnya. Tapi kalau hasilnya tidak cocok, beberapa aspek hipotesis pasti salah, begitu juga holitesis. Jika memang belum yakin, hipotesis bisa didaur ulang dan holitesis juga harus mencari alternatif pemastian lain (misalnya dengan rujukan kitab tafsir yang lain), lalu diuji coba lagi, dan begitu seterusnya.
Kalau hasil percobaan berikutnya betul-betul tidak cocok bagaimana? Kita punya dua keuntungan besar: mata kita jadi tahu bahwa alam semesta memang tidak punya karakteristik seperti apa yang diperkirakan sebelumnya, dan hati kita pun akan mulai menyadari bahwa kitab-kitab yang mengandung pernyataan seperti itu perlu dipertanyakan kesuciannya, sebab ia salah menginformasikan sifat-sifat alam, yang seharusnya tidak boleh terjadi. Ingatlah, sebuah kitab dikatakan ‘suci’ apabila semua penjelasannya bernilai ‘benar’. Apabila ia salah, meskipun hanya ‘secuil’ aspek saja, maka ia harus dicoret dari daftar kitab suci.
Misalnya, dalam beberapa ayatnya, Alquran menjelaskan bahwa organisme manusia berasal dari sari pati tanah, lalu sari pati tersebut dijadikan air mani (sperma) yang disimpan ditempat yang kokoh atau rahim (QS. 23:12-13). Kalau memang pernyataan ini tidak sesuai dengan realitas, maka Alquran harus dicoret dari daftar kitab suci. Jadi, metode ini adalah tantangan bagi ilmuwan spiritualis, ustad, pastur, bikshu, masyarakat religius, dan sebagainya untuk terjun langsung ke lapangan observasi untuk mengukuhkan kesucian kitab yang mereka imani.
Metode dualisis bagaikan delta pada muara diantara dua anak sungai. Delta itu membentuk endapan dari penggabungan metode sains dan metode teks kitab suci. Pemikiran kedua-duanya mengalir deras dalam kanal alami masing-masing. Ketika mereka dipertemukan dalam satu muara, mereka akan meninggalkan sari-sari subtansial masing-masing untuk saling berintegrasi satu sama lain, sehingga akan menjadi endapan yang subur untuk pertumbuhan pemikiran berikutnya. Dan metode ini begitu kuat menggabungkan dua kelompok cendikiawan yang senantiasa bertikai, ilmuwan dan agamawan.
Definisi Kitab Suci
Bagaimana cara menentukan definisi kitab suci? Tuhan telah menginformasikan—yang ditransfer melalui Muhammad dalam bentuk yang dikenal sebagai hadits—bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia di bumi ini, Tuhan telah melantik sejumlah 124.000 manusia pilihan sebagai nabi, yang pertama adalah Adam dan yang terakhir adalah Muhammad itu sendiri. Dari sekian jumlah tersebut, hanya 313 orang saja yang selain dilantik sebagai nabi juga diberi tugas sebagai rasul.
Apa bedanya nabi dan rasul? Mereka yang dipilih sebagai nabi diberi informasi secara langsung (wahyu) oleh Tuhan tentang diri-Nya dan alam semesta ciptaan-Nya, tanpa dibebani kewajiban untuk mewartakannya kepada orang lain. Sedangkan seorang rasul adalah manusia pilihan yang selain dianugerahi wahyu, juga diberi tanggung jawab untuk memberitakannya kepada semua orang atau hanya terbatas pada suatu bangsa yang sedang mengalami degradasi di zamannya. Ciri paling umum dari seorang rasul adalah memiliki kitab suci, meskipun isinya hanya sepatah kata sekalipun. Berdasar informasi ini, peradaban kita seharusnya memiliki sejumlah 313 judul teks kitab suci. Sayangnya, kita kehilangan sebagian yang sangat besar dari jumlah tersebut. Hanya beberapa judul saja yang sampai di tangan generasi modern, sebagian besar ada di catatan Perjanjian Lama, sebagian lagi ada di catatan Injil dan Alquran, dan tanpa diketahui kaitan historisnya sebagian lagi ada di catatan Budhisme, Hinduisme, dan sebagainya.
Masalah yang paling berat sebetulnya terletak pada ketiadaan kata sepakat bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari satu Tuhan yang sama. Ada dua faktor yang menimbulkan hal ini, yakni faktor historis dan intervensi manusia.
Pertama, disebabkan sistem informasi yang sangat buruk di masa lalu, suatu informasi dapat berubah seiring dengan bergulirnya masa. Distribusi informasi yang hanya dari mulut ke mulut sangatlah memungkinkan terjadinya mis-interpretasi antar generasi. Semua orang sudah maklum, tidak ada orang yang dengan sangat teliti bisa mentransfer suatu informasi dengan keautentikan mencapai 100%7. Kalau tidak dikurangi, mungkin ditambahi. Ini mungkin sudah menjadi sunatullah atas diri manusia. Nah, kurang-kurangan dan tambah-tambahan itu lama-kelamaan akan semakin terakumulasi dan meluas ke bidang-bidang baru. Hal ini akan mengakibatkan tersingkirnya informasi asli sedikit demi sedikit, sehingga tanpa sadar, di suatu masa depan, bahkan informasi asli tersebut telah terkubur oleh bumbu-bumbu yang ditaburkan para pentransfer informasi kitab suci. Apalagi teknologi komunikasi dan informasi zaman para nabi hanya mengandalkan kepercayaan dan kejujuran para usernya, yang memang sangat diragukan.
Yang kedua, faktor intervensi manusia. Konsekuensi faktor yang satu ini jauh lebih membahayakan, karena penyelewengannya akan terjadi pada generasi yang tidak jauh dari generasi nabi. Para penulis, penyalin, penerjemah, dan penafsir kitab suci sering kali dengan kesengajaan memanipulasi data dan informasi suatu kitab suci. Kesengajaan tersebut biasanya didasari beragam kepentingan: politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Kesengajaan itu pun biasanya didasari beragam motivasi: ada yang baik dan ada juga yang buruk. Yang jelas, apa yang mereka kerjakan telah membuat kitab suci tidak orisinal lagi, sehingga nilai sakralnya hilang. Bukan hanya itu, pekerjaan mereka juga kerap membuat suatu kitab suci justru mengandung informasi yang salah. Dan di sinilah terletak pentingnya penyeleksian melalui metode dualisis.
Sebuah aset yang melimpah jika kita sekarang memiliki beragam kitab suci. Semuannya sejajar dalam metode dualisis. Seiring dengan berjalannya masa, realitas atau fakta akan menyeleksi kitab mana saja yang betul-betul memenuhi standart metodologi. Setiap orang harus legowo kalau memang di dalam kitab suci yang sangat diyakininya mengandung beberapa informasi yang tidak sesuai, sehingga harus dicoret dari daftar kitab suci.
Masih ingat perseteruan antara kelompok yang yakin keberadaan penjelasan terakhir (kelompok Hawking) dan kelompok yang tidak percaya akan hal itu (ilmuwan pada umumnya)? Pekerjaan manusia untuk memahami alam ini merupakan pekerjaan abadi yang tak akan pernah berhenti pada suatu titik sejarah. Pekerjaan Tuhan ialah menciptakan, mengurus, dan mengatur semesta raya, sedangkan tugas makhluk-makhluk cerdas seperti kita tentu memahaminya. Yang dimaksud ‘penjelasan terakhir’ semuanya telah termaktub dalam kitab suci. Seperti halnya seorang insinyur membuat buku panduan untuk mesin buatannya, Tuhan pun tentu membuat semisal buku panduan seperti itu untuk alam buatanNya. Manusia harus mencarinya tanpa kenal lelah, melalui matematika, hipotesis-hipotesis, holitesis-holitesis, perkiraan-perkiraan, dan dengan cara apapun, asalkan tidak melanggar peraturan Tuhan.
Kasus Penyimpangan
Metode dualisis telah digunakan secara luas oleh para pemikir generasi terdahulu, terutama dari kalangan agama. Sebagai bukti, saya akan mengajukan dua kasus yang bisa dijadikan bukti bahwa ia telah ada di tengah-tengah kita sejak dulu: kasus Geosentrisme dan kasus tafsir ilmiah Alquran. Gaya ilmiah yang dipakai orang-orang di dalamnya hampir mirip metode dualisis, hanya saja mereka membalik prosesnya: sama sekali tidak konsisten dengan eksperimen.
Sejak pertengahan abad 19, orang Islam dihadapkan pada tantangan hebat dari Barat, bukan hanya pada bidang politik, ekonomi, dan militer, tapi telah meluas sampai ke bidang sosial-budaya, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tantangan ini memberi pengaruh sangat besar terhadap pandangan hidup serta pemikiran orang Islam. Di sana-sini mereka menyaksikan kekuatan Barat dan kemajuannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Di sisi lain, mereka merasakan kelemahan dan kemunduran diri mereka sendiri dalam berbagai lapangan kehidupan, terutama iptek. Keadaan ini menimbulkan semacam perasaan rendah diri (inferiority complex) pada sebagian besar dari komunitas mereka. Para intelektual muslim berusaha membuat reaksi, meskipun dengan cara-cara yang tidak tepat. Ada yang mengambil sikap apatis atau acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, ada juga yang dengan spontan meletakkan senjata untuk menyerah dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, meskipun dalam hal yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat. Ada pula kelompok yang mengajak masyarakat Islam untuk mengikuti, menerima, dan belajar ilmu pengetahuan dari Barat serta sistem-sistemnya mencapai kemajuannya, tanpa perlu meninggalkan kepribadian sendiri.
Selain itu, satu hal yang tidak bisa dipungkiri telah mewabah di kalangan Islam adalah pelampiasan dengan mengingat kejayaan masa lalu. Pengaruhnya sangat signifikan untuk perkembangan pemikiran, khususnya pada metode penafsiran Alquran. Setiap ada penemu Barat yang menemukan sesuatu yang baru, orang Islam cepat-cepat berkata: “kitab suci kami sejak 14 abad silam sudah menyatakannya”, atau “Alquran mendahului sains”, dan sebagainya. Oleh Dr. Quraisy Shihab, melalui bukunya yang berjudul Membumikan Alquran, semua pernyataan itu dikatakan sebagai kompensasi dari perasaan rendah diri tadi. Di lain pihak, orang-orang Barat hanya tersenyum mengejek melihat keadaan orang Islam, dan senyuman tersebut terkadang disertai dengan kata-kata sinis: “Kalau memang itu yang terjadi, kenapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal itu sebelum kami menghabiskan waktu dalam penyelidikan?”.8
Metode tafsir Alquran yang dikerjakan generasi Islam sekarang hampir mendekati metode dualisis, mereka hanya membalik prosesnya. Saya kira hal itu terjadi karena mereka enggan ikut bergabung ke lapangan observasi. Sebagian intelektual muslim justru membawa hasil-hasil penyelidikan sains kepada Alquran, dan mencari ayat-ayat yang mungkin mendukungnya. Metode dualisis yang saya ajukan mengharuskan agar Alquran-nya yang dibawa masuk ke dalam prosedur observasinya, bukan malah sebaliknya. Saya kira keengganan orang Islam inilah yang menyebabkan mereka masuk ke dalam zaman kegelapan, selain sebab-sebab yang lain. Gaya tafsir ilmiah seperti ini juga pernah menjangkiti orang Kristen pada abad pertengahan.
Pada abad 2 masehi, berbarengan dengan penulisan Alkitab, institusi gereja berdiri. Setelah melalui serangkaian pertempuran, pada abad 5 masehi, gereja mengambil alih kekaisaran Romawi Barat, yang berpusat di kota Roma. Pengambil-alihan ini sekaligus menandai masuknya ‘benua biru’ menuju zaman kegelapan. Gereja terus merambah pedalaman Eropa dan menguasai masyarakatnya dalam berbagi sektor, termasuk sektor ilmu pengetahuan dan teknologi. Puncaknya terjadi pada abad 17, ketika Galileo menerapkan metode eksperimen untuk ilmu pengetahuan di lingkungan mereka. Gereja mengakuisisi beliau tanpa melalui proses peradilan yang seharusnya.
Telaah Alkitab
Metode telaah Alkitab yang dikerjakan gereja lebih bersifat indoktrinasi. Para cendikiawan gereja penafsir Alkitab biasanya menganut teori-teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, karena dianggap cocok dengan pernyataan kitab suci. Misalnya Teori Geosentrik (planet bumi sebagai pusat alam semesta) yang dinyatakan Aristoteles pada zaman sebelum masehi dan disempurnakan Claudius Ptolemeus pada zaman pergerakan gereja. Mereka melontarkan nas-nas Alkitab yang dianggap mendukung teori tersebut, misalnya pada ayat: “Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali (Pengkhotbah 1:4-5)”. Dan ada juga ayat: “Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh (Yosua 10:13)”.
Ayat-ayat di atas ditafsirkan secara harfiah sebagai Geosentrisme, sehingga siapa saja yang mengingkarinya sama saja mengingkari Alkitab. Sebab itu, mereka yang ingkar divonis kafir atau keluar dari Kristianitas, dan berhak mendapat kutukan. Anehnya, sepakatnya gereja terhadap konsep Aristoteles sama sekali tidak melalui prosedur eksperimen yang semestinya. Di lain pihak, para ilmuwan mengerjakan penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Sayangnya, hasil yang mereka dapatkan sangat bertentangan dengan kepercayaan yang dianut gereja. Akibatnya, tidak sedikit ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban dari penemuannya sendiri: Bruno Bauer, George van Paris, yang puncaknya terjadi pada kisah penghakiman Galileo Galilei. Saya kira kisah ini juga menunjukkan bahwa metode dualisis juga sudah dikerjakan generasi manusia terdahulu, meskipun cara yang mereka tempuh kurang tepat.
Sudah cukup kiranya itu saja yang terjadi. Di masa-masa mendatang, generasi penerus perjuangan manusia di planet ini harus berbenah. Gaya tafsir ilmiah yang tidak konsisten dengan data-data empiris harus dibuang jauh-jauh. Bagaimanapun, satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa sesuatu adalah benar tentunya harus dengan bukti. Dan bukti tersebut hanya bisa diungkapkan melalui eksperimen, selain cara-cara yang lain. Metode dualisis yang sedang dibicarakan di sini bermaksud membawa kitab suci dan kita sendiri (sebagai subjek) untuk terlibat langsung ke lapangan observasi. Seharusnya tak usahlah enggan kalau memang kita meyakini bahwa kebenaran ilahiah dan kebenaran ilmiah itu sama. Generasi ini harus bisa membuktikannya, tidakkah Anda tertantang!
Dikutip dari:
1Seri Mengenal dan Memahami Newton dan Fisika Klasik (William Rankin)
2Lima Masalah Terbesar Sains yang Belum Terpecahkan (Arthur W. Wiggins dan
Charles M. Wynn)
3Stephen Hawking: Pencarian Teori Segala Hal (Kitty Ferguson)
4Riwayat Sang Kala (Stephen William Hawking)
5Seri Mengenal dan Memahami Einstein (Joseph Schwartz dan Michael McGuenness)
6Stephen Hawking dan Lubang Hitam (Black Holes) (Paul Strathern)
7Hukum Efisiensi
8Membumikan Alquran (Dr. Quraisy Shihab)
foto: homepages.udayton.edu



wahh…..hebat banget jak!!! otak loe terbuat dari apa seh??? mudah2an ini jalan awal menuju kesuksesan yang loe inginkan.pokoknya kita acungin 8 jempol buat u. he…he…he….. jgn lupa main2 ke LPUI & di tunggu makan2nya ya… kalo udah jadi orang sukses jgn lupa ya jak sm Qta2..
di tunggu ide2&pemikiran lo selanjutnya ya…. caiyooo… gambate kudasai ne..!!!
Sebagi muslim, saya katakan ada hal yang terlewatkan oleh amatan mas Jaki. Latar belakang peradaban dan keterbelakangan teknologi di era Rasulullah SAW berbanding era sekarang.
“Keimanan harus dibuktikan”, demikian mas Jaki tulis. Jika keharusan itu diterjemahkan WAJIB, maka mayoritas umat sekarang tidak beriman, karena mereka tidak pernah membuktikan keimanan mereka dengan teori fisika atau berdasarkan ilmu pengetahuan alam yang ‘njelimet’.
Rasulullah SAW lahir, tumbuh dan berjuang di masyarakat yang sederhana secara teknologi dan pengetahuan. Namun satu hal yang menarik bahwa masyarakatnya (baca : para shahabatnya) disebutnya sebagai generasi (muslim) terbaik (khairul quruun). Saya belum pernah menemukan mereka berbicara dan membahas permasalahan filsafat, apalagi mendalam seperti di atas. Hebatnya, prinsip sami’naa wa atha’naa (dengar dan manut) menjadikan mereka sebagai yang terbaik.
Ketika mayoritas masyarakat Makkah tidak mempercayai kisah Isra’ Mi’rajnya, Abu Bakar Ash Shiddiq malah berkomentar, “Sungguh aku mempercayainya (Muhammad SAW), (bahkan) lebih dari itu.” Maksud Abu Bakar RA, jika Muhammad SAW bercerita lebih dari cerita Isra’ Mi’rajnya pun dia tetap mempercayai nabi Muhammad SAW (beriman kepadanya). Sejarah mencatat, karena komentarnya ini lalu beliau RA dijuluki Ash Shiddiq.
Saya tidak tahu, masihkan mas Jaki ingin mengatakan bahwa keimanan harus dibuktikan (dari sisi ilmu pengetahuan). Apakah Abu Bakar RA mempunyai pembuktian empiris matematis berkaitan dengan tour Isra’ Mi’raj sehingga beliau berani mengatakan, “Aku percaya apa yang disampaikannya lebih dari itu.”
Saya melihat keimanan Islam sebagai sesuatu yang sederhana, tidak njelimet, apalagi wajib dibuktikan, kecuali (tentu saja) pembuktian dalam arti ucapan dan perbuatan dalam aktifitas sehari-hari.
Saya hanya ingin kita jujur dan realistis melihat Islam dari latar belakang budaya dan pendidikan di era penerapnya, yang mulia (Prof Dr KH) Muhammad SAW. Maksudnya saya, jika dia SAW memuji ‘masyarakatnya’ sebagai generasi terbaik maka itu saja sudah cukup bagi saya bahwa keimanan TIDAK harus dibuktikan secara empiris. Lho iya. Pembuktian ilmiah seperti apa yang diharapkan dari masyarakat yang tidak tahu apa itu pi x r (kuadrat).
Jika Filsafat Islam atau Ilmu Kalam atau Teologi Islam mengutarakan pembahasan pembuktian keimanan secara rasional, maka itu bukan untuk memenuhi “Keimanan harus dibuktikan”. Kajian filsafat Islam atau Ilmu Kalam atau apapun namanya bermain di ranah rasio untuk membuat benteng dalam rangka mengawal keimanan yang sudah ada dari serangan “luar”, bukan dalam rangka mencari keimanan itu sendiri.
Sekali lagi, jika maksud mas Jaki “Keimanan harus dibuktikan” adalah secara fisis atau berdasarkan bukti empiris -dan itulah kesan yang saya tangkap dari tulisan di atas (mudah-mudahan saya salah tangkap), saya tidak tahu bagaimana mas Jaki dapat membuktikan keimanan mas Jaki sehubungan eksistensi Jibril AS. Saya pernah berusaha mencarinya di laboratorium saya sewaktu di SMA dulu, tetapi (tentu saja) saya tidak menemukannya.
Ranah Keimanan dan Ilmu Pengetahuan berbeda, meskipun kadang-kadang ada titik temu. Yang pasti ilmu pengetahuan tidak akan pernah bermain di ranah ghaib. Sebab itu memang bukan obyek kajiannya. Gak thu’, begitu kata orang Jawa, yang artinya gak sampai. Sementara keimanan ada bermain di ranah ghaib, yu’minuuna bil ghayb. Dengan keimanan kepada Allah, saya berani mengatakan 2 x 2 tidak harus sama dengan 4. Sungguh tidak ilmiah!
Terahir, mohon jangan artikan ini sebagai wujud inferiority complex, panik atau keterkejutan terhadap budaya modern. Bukan. Bukan sama sekali. Bahkan itu tidak ada hubungannya dengan apa yang ingin saya sampaikan, yaitu kritik atas kalimat “Keimanan harus dibuktikan”.
Bahwa umat muslim harus maju dalam segala hal (kecuali dalam hal keburukan) maka itu sebuah harapan yang harus diwujudkan. Ya riit.
Kasihan dong dengan umat muslim yang ada di pelosok kampung, yang hidup hanya dengan keimanan model sami’naa wa atha’naa dan kesederhanaannya. Adakah setiap mereka harus membuktikan keimanannya dengan riset ilmiah untuk menjawab bagaimana proses perubahan tongkat Musa AS menjadi ular besar dan kembali lagi menjadi tongkat kayu seperti yang dituturkan Al Qur’an? Puji Allah jika mereka berhasil. Jika tidak? Adakah kita ingin mengatakan kepada mereka “Keimanan kalian tidak terbukti. Ayo tanggalkan keimanan itu!”
Perhatikan dialog bapak tauhid (Prof Dr KH) Nabi Ibrahim AS dengan Tuhannya, “… (rencana mau ditulis, tapi kepanjangan. Silakan rujuk Al Baqarah 260)”.
Pertanyaannya,
1. Adakah Nabi Ibrahim AS telah beriman sebelum itu?
2. Adakah beliau AS -setelah mengamati itu- berhasil mengetahui proses ‘menghidupkan yang sudah mati’?
Sebenarnya apa sih the main goal dari keimanan dan keislaman kita? Cuma dua kata, Akhlak Mulia.
Telah dimaklumi dengan baik bahwa Alquran berlaku sepanjang zaman dari era Rasulullah sampai kiamat. Kehidupan manusia akan selalu bergerak maju, kehidupan sekarang berbeda sama sekali dengan masa Rasulullah apalagi Nabiullah Ibrahim, jauh lebih maju dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.Karena Alquran berlaku di setiap era, maka ia harus bisa menjawab kemajuan era modern ini. Memang prinsip sami’naa wa atha’naa harus tetap dipegang, namun mekanismenya harus diperbaharui, karena alam pikiran manusia sekarang semakin berkembang. Pada zaman Rasul tidak ada model fisika atau matematika yang memungkinkan menelaah secara ilmiah Isra’ Mi’raj, maka penjelasannya dikembalikan secara polos melalui prinsip sami’naa wa atha’naa. Saat ini tidak ada kemustahilan untuk menelaah itu secara ilmiah, maka prinsip sami’naa wa atha’naa tidak harus dikembalikan secara polos kepada penjelasan-penjelasan Rasul semata. Dan itulah tugas kita. Perjuangan menegakkan kembali Izzatul Muslimun juga jangan sampai melupakan aspek ini, karena bagaimanapun sains adalah bagian vital peradaban. Dan satu-satunya kebutuhan yang sangat mendesak agar umat ini tidak dilecehkan terus-menerus adalah membuktikan keimanan dengan sains. Jadi, ini bukanlah “kewajiban” tapi “kebutuhan”.
Perhatikan poin kritik saya, yaitu kalimat “Keimanan harus dibuktikan”. Jika harus = wajib maka saya katakan “Keimanan TIDAK wajib dibuktikan”. Pernyataan terakhir ini tetap berjalan sepanjang Islam eksis. Atau sebaliknya kita menuduh “mereka” (shahabat) dan “mereka” (sekarang yang di desa-desa) serta “mereka” (generasi mendatang yang tidak mengenyam bangku sekolah ilmiah) sebagai bukan mukmin karena keimanannya tidak terbuktikan secara ilmiah.
Jika kalimat mas Jaki dalam tanggapannya : Jadi, ini bukanlah “kewajiban” tapi “kebutuhan” adalah ralat atas kalimat “Keimanan harus dibuktikan” maka jelaskanlah dengan terbuka. Biarkan tulisan-tulisan sejenis ini menggunakan bahasa yang jelas dan terang serta tidak menimbulkan multitafsir yang tidak perlu atau bahkan menyesatkan.
Lanjutan …
1. Perhatikan kalimat yang mas Jaki tulis berikut
——
Ciri paling umum dari seorang rasul adalah memiliki kitab suci, meskipun isinya hanya sepatah kata sekalipun. Berdasar informasi ini, peradaban kita seharusnya memiliki sejumlah
313 judul teks kitab suci.
——
Pertama. Saya yakin -berdasarkan bacaan saya terhadap artikel di atas- yang dimaksud dengan istilah Rasul oleh mas Jaki di sini adalah Rasul dalam terminologi Islam, bukan dalam terminologi Kristen. Kedua agama ini mempunyai pengertian yang berbeda berkaitan term Rasul.
Kedua. Mas Jaki menulis, “Ciri umum seorang Rasul memiliki kitab suci.”
Mas Jaki yang baik hati. Jika keilmiahan dijunjung tinggi oleh sampeyan tolong berikan referensi sehubungan pernyataannya itu. Saya khawatir itu hanya sekedar ilusi mas Jaki saat “melayang”.
Ketiga. Alangkah indahnya jika mas Jaki bisa memberikan nama satu kitab suci yang isinya cuma dan
hanya satu patah kata saja.
Jika anda jawab tidak ada atau hilang maka saya katakan, “Sunguh tidak ilmiah pernyataan itu.”
Keempat. “Peradaban kita seharusnya memiliki sejumlah 313 judul teks kitab suci.”
Oalahhh mas Jaki, tolong junjung tinggi keilmiahan. Dari mana mas Jaki dapat ini? jangan-jangan karena pernyataan “satu rasul = satu kitab suci” yang meragukan (baca: menyesatkan).
2. Perhatikan kalimat yang mas Jaki tulis berikut
——
Sayangnya, kita kehilangan sebagian yang sangat besar dari jumlah tersebut. Hanya beberapa judul saja yang sampai di tangan generasi modern, sebagian besar ada di catatan Perjanjian Lama, sebagian lagi ada di catatan Injil dan Alquran, dan tanpa diketahui kaitan historisnya sebagian lagi ada di catatan Budhisme, Hinduisme, dan sebagainya.
—–
Pertama, apa yang hilang dan siapa yang kehilangan?
Kedua, …. Gak jadi lah
Ketiga, … Sudahlah, semakin kacau.
3. Perhatikan kalimat yang mas Jaki tulis berikut
——
Pertama, disebabkan sistem informasi yang sangat buruk di masa lalu, suatu informasi dapat berubah seiring dengan bergulirnya masa. Distribusi informasi yang hanya dari mulut ke mulut sangatlah memungkinkan terjadinya mis-interpretasi antar generasi. Semua orang sudah maklum, tidak ada orang yang dengan sangat teliti bisa mentransfer suatu informasi dengan keautentikan mencapai 100%. Kalau tidak dikurangi, mungkin ditambahi. Ini mungkin sudah menjadi sunatullah atas diri manusia. Nah, kurang-kurangan dan tambah-tambahan itu lama-kelamaan akan semakin terakumulasi dan meluas ke bidang-bidang baru. Hal ini akan mengakibatkan tersingkirnya informasi asli sedikit demi sedikit, sehingga tanpa sadar, di suatu masa depan, bahkan informasi asli tersebut telah terkubur oleh bumbu-bumbu yang ditaburkan para pentransfer informasi kitab suci. Apalagi teknologi komunikasi dan informasi zaman para nabi hanya mengandalkan kepercayaan dan kejujuran para usernya, yang memang sangat diragukan.
——
Mas, coba masukkan pernyataan ini pada hadis Rasul. Saya jamin hasil akhirnya adalah mazhab inkaarus sunnah. Logikanya sama. Maksudnya “izzah” malah “njajah”. Mbok ya hati-hati. Teliti dan cermat. Ini adalah salah satu pesan yang sejak awal ingin saya ungkapkan.
3. Perhatikan kalimat yang mas Jaki tulis berikut
——
Gaya tafsir ilmiah yang tidak konsisten dengan data-data empiris harus dibuang jauh-jauh. Bagaimanapun, satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa sesuatu adalah benar tentunya harus dengan bukti. Dan bukti tersebut hanya bisa diungkapkan melalui eksperimen, selain cara-cara yang lain.
——
Pertama. Kalimat “harus dibuang jauh-jauh” itu tidak santun.
Santun. Itulah pesan saya yang kedua yang sejak awal ingin saya sampaikan. Masuklah ke rumah melalui pintunya.
Kedua. Satu hal yang amat disayangkan adalah mas Jaki tampak jelas dan telanjang
- Tidak tidak pernah menyentuh buku-buku tafsir dalam bahasa arab
- Tidak pernah menyentuh buku-buku hadis utama berbahasa arab.
Jika mas bertanya, mengapa harus merujuk ke buku-buku itu? Mengapa harus berbahasa arab?
Jawaban Pertama, sederhana, itu semua adalah referensi primer. Tafsir pak Quraisy -semoga Allah selalu memberikan manfaat ilmunya kepada kita- adalah referensi sekunder umumnya mengutip dari sana. Alangkah indahnya jika mas Jaki merujuk langsung ke sana. Supaya bisa ‘ngepasin’ dengan apa yang dinyatakanya dalam kalimat poin 3 di atas.
Jawaban kedua, berkaitan dengan kitab suci Al Qur’an, bagaimana teriakan ide metode dualisis dapat diterapkan oleh pengamat yang tidak menguasai bahasa dan sastra arab.
Ketiga. Mas Jaki punya kebiasaan terburu-buru, tergopoh-gopoh atau (sebut saja) gegabah. Sekali lagi, masuklah ke rumah melalui pintunya. Jangan melalui atap atau jendela. Alangkah salutnya saya dengan mas Jaki yang mempunyai potensi juga didukung oleh penguasaan displin ilmu keislaman. Ini memang berkesan menggurui tetapi ad diin nashiihah. Al muslim akhul muslim. Izzah itu tidak dengan cara membabi buta dan gegabah. Semoga Allah membalas spirit mas Jaki dengan pahala yang lebih baik. Tetap semangat mas.
Sampai sini, tidak ada lagi yang hendak saya sampaikan dan komentari.
Terimakasih atas masukannya. Yang perlu digarisbawahi, metode dualisis bukan hanya untuk orang Islam tapi untuk semua orang dengan beragam agama dan latarbelakang. Saya akui, gagasan tentang definisi kitab suci memang lahir dari logika saya yang fakir. Jadi, itu bukanlah satu-satunya, tapi hanya satu alternatif. Tulisan di atas pada dasarnya adalah tantangan bagi setiap orang yang beriman kepada Tuhan untuk terlibat langsung dalam sains tanpa harus menanggalkan keimanannya ketika ia melakukan observasi. Sekali lagi, terimakasih atas kritiknya.
Manusia terdiri roh, jiwa dan nyawa, tiga satu kesatuan tersebut menggerakkan jasad manusia yang pada saatnya mereka akan berpisah saat mati. Dan alangkah sedihnya jika mereka berpisah sebelum mati, karena pada saat mati saja tiga satu kesatuan kekuatan tersebut akan menjadi saksi tentang apa yang telah kita perbuat. Untuk itu hidupkan secara naluri kehidupan ketiga kekuatan itu semasa mereka masih menyatu dengan kehidupan kita, Insya Allah sang Pemilik Kehidupan akan memberi pahala langsung didunia saat kita masih hidup.
Alangkah indahnya hidup kita jika semua manusia sadar akan hal tersebut.
assalamu’alaikum w.w
terimakasih banyak atas tausiyah yang telah diberikan, semoga lebih banyak lagi para muslim bisa menelusuri apa itu islam yang sebenarnya!!
namun tidak hanya sains yang harus kita perbaharui.tapi kembali semangat kita sebagai seorang muslim yang telah pernah memenangkan 2/3 dunia yang telah diisi dengan kejayaan dan kegemilangan Nur ILAHI
Mungkin kita harus sepakat dulu definisi iman itu apa. Menurut saya dlm Islam itu iman yang paling pokok itu adalah yakin seyakin2nya bahwa sang pencipta alam semesta ini adalah Allah swt. Nah kalau iman itu “harus” dibuktikan dengan eksperimen atau dengan sains maka jadi aneh , sebab Allah sendiri telah membuktikan keberadaan diriNya dengan ciptaannya yaitu alam semestanya dengan seluruh isinya. Allah menantang manusia ‘cobalah ciptakan seekor nyamuk saja atau sejenisnya , apa ada yang bisa? Artinya walaupun teknologi yang dikuasai manusia sudah begitu tinggi bisa bikin pesawat antariksa dan segala macam, toh takkan pernah bisa “menciptakan ” seekor nyamukpun!
Oleh karena itu menurut saya iman itu bukan harus atau wajib atau butuh untuk dibuktikan,tetapi tidak bisa dibuktikan dengan sains. Saya sepakat kalau dengan mempelajari sains dan
teknologie, justru akan menambah keimanan akan kebesaran Allah SWT. Wallahualam.
Inti dari taurat adalah 10 perintah Allah, sedang inti Injil adalah apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat Tuhan Yesus, kitab suci adalah ajaran kehidupan, bukan ajaran lainnya.