Beranda > Artikel > Keberpasangan: dari Teori Fisika, Ayat Al Quran dan Alkitab

Keberpasangan: dari Teori Fisika, Ayat Al Quran dan Alkitab

Selasa, 18 Nopember, 2008 oleh Jaki Umam

(Ditujukan kepada Dr. Laksana Tri Handoko dan Dr. Terry Mart)

Suatu hari, tanpa arah dan tujuan, saya jalan-jalan di Mal Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saya menyusuri gang demi gang mal yang luar biasa besar tersebut. Sewaktu saya lewat di depan sebuah stand pakaian, seorang cewek tiba-tiba menabrak bahu saya. Sontak saya kaget, dan dengan lemah-lembut dia mengatakan: “Eh, maaf yach mas!”. Namun setelah itu, seorang cowok kekar di sampingnya tiba-tiba mengumbar pandangan yang penuh amarah, dan dengan nada sangat maskulin ala Elmanik baru bangun tidur berucap: “Jangan macam-macam, mas!”. Hampir saja kepalan tangannya mendarat di muka saya. Untungnya si cewek buru-buru meredam amarahnya: “Sudahlah Lex, itu salah saya!” (mungkin namanya Alex).

Sepintas insiden itu bukanlah hal yang luar biasa. Namun setelah saya perhatikan, ada rahasia tersembunyi di balik itu. Setelah kejadian itu, sebuah pertanyaan sering mengganggu: “Mengapa ada karakter yang sangat bertolak belakang antara laki-laki dan perempuan?”. Beberapa pekan kemudian, saya membaca Alquran dan menemukan ayat: “Mahasuci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang tidak mereka ketahui (QS. 36:36)”. Terinspirasi ayat tersebut, pikiran saya memunculkan sebuah asumsi bahwa keberpasangan adalah prinsip fundamental yang mendasari semua hal. Bagaimana caranya?

Pola keberpasangan terlihat sangat indah dan teratur. Setiap kasus keberpasangan selalu melibatkan dua objek dengan sifat-sifat alami yang saling bertolak belakang. Ini hukum alam. Kalau selama ini saya bertanya, mengapa laki-laki cenderung maskulin sedangkan perempuan cenderung feminim? Atau pertanyaan, mengapa orang suka terhadap yang baik-baik sedangkan yang buruk-buruk selalu dibenci? Setidaknya hal itu telah dijawab oleh keberpasangan.

Eksistensi

Bayangkan kalau tidak ada yang namanya ‘tidak ada’, pasti sesuatu yang namanya ‘ada’ juga tak akan pernah ada, dan begitupun sebaliknya. Kalau tidak ada orang ‘jahat’, mestinya tidak ada juga orang yang disebut ‘baik’, begitu juga sebaliknya. Kalau tidak ada jenis kelamin ‘laki-laki’, tentu yang namanya ‘perempuan’ juga tak akan pernah dikenal, begitu pun sebaliknya. Semua hal akan didapatkan selalu dengan pasangannya, karena eksistensi sesuatu adalah satu-satunya pembanding dari eksistensi pasangannya. Dengan kata lain, keberpasangan akan selalu muncul sebagai kebutuhan akan pembanding keberadaan suatu objek.

Bahkan dari permulaan munculnya, ilmu pengetahuan telah sangat akrab dengan kasus-kasus keberpasangan. Dalam kelas biologi telah dikenal model materi kehidupan elementer yang penuh dengan pasangan-pasangan basa Nitrogen. Dalam kelas kimia juga telah didapatkan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. Dan kasus yang paling banyak ditemui adalah dalam kelas fisika: spin atas dan spin bawah, materi dan anti-materi, muatan positif dan muatan negatif, gaya tarik dan gaya tolak, gelombang dan partikel, dan sebagainya.

Dalam Tafsir Al-Misbah disebutkan mengenai tafsir dari QS. 36:36. Sebagian ulama menyatakan bahwa makna ‘pasangan’ dalam ayat itu hanya berlaku pada makhluk hidup saja. Namun Dr. Quraisy Shihab tak begitu sependapat dengan pernyataan tersebut. Menurutnya, pendapat ini tidak sejalan dengan makna kebahasaan, tidak cocok dengan maksud sekian banyak ayat Alquran, dan berbagai kenyataan ilmiah yang ditemukan dewasa ini. Dari segi bahasa, kata azwaj (pasang-pasangan) adalah bentuk jamak dari kata zauj (pasangan). Menurut pakar kebahasaan, Ar-Raghib Al-Ashfahain, kata ini digunakan untuk masing-masing dua hal yang berdampingan atau bersamaan, misalnya jantan dan betina. Kata itu juga digunakan untuk menunjuk hal yang sama bagi selain binatang, seperti alas kaki. Selanjutnya beliau menegaskan bahwa keberpasangan tersebut bisa akibat kesamaan dan bisa juga karena bertolakbelakang. Ayat-ayat Alquran yang lain pun menggunakan kata tersebut dalam pengertian umum, bukan hanya untuk makhluk hidup, misalnya pada Alquran 51:49. Dari sini ada siang ada malam, senang-susah, atas-bawah, dan seterusnya. Semua hal (maksudnya makhluk) memiliki pasangannya, hanya Allah saja yang tidak berpasangan, tidak ada pula yang sama dengan Dia. Dari segi ilmiah, misalnya terbukti bahwa muatan listrik pun berpasangan: positif dan negatif. Demikian juga dengan atom, yang tadinya diduga sebagai unit terkecil dan tidak dapat dibagi, ternyata ia pun berpasangan. Atom terdiri dari proton dan elektron.1

Premis Lugas

QS. 36:36 mengandung premis yang sangat lugas (eksplisit). Kelugasan ini menjadi penuh resiko manakala ia mencuatkan implikasi yang tidak main-main. Kalau betul-betul ada ‘sesuatu’, dalam teks dan konteks apapun, yang tidak ada pasangannya, tentu itu tidak diperbolehkan. Kalaupun itu memang ada, maka itu akan menjadi alasan yang sangat kuat untuk mencoret Alquran dari daftar kitab suci. Oleh karena itu, ayat tersebut harus memiliki implikasi ilmiah, bahwa keberpasangan adalah sifat mendasar yang melandasi semua hal di semesta. Ayat ini bisa diuji, misalnya dengan asumsi bahwa keberpasangan merupakan prinsip fundamental dalam fisika.

Suatu ketika Einstein duduk di sebuah gerbong kereta api di samping jendela. Ketika kereta mulai melaju, beliau dengan sangat meyakinkan merasakan bahwa kereta itu sedang bergerak. Di tengah-tengah perjalanan, ketika kecepatan kereta optimum tanpa akselerasi, Einstein melihat pohon-pohon di luar jendela. Beliau melihat pepohonan yang ada di samping rel seolah-olah bergerak menjauhi kereta. Andai saja gerbong yang beliau tumpangi sama sekali tertutup, dan hanya menyisakan sejumlah kecil spasi untuk jendela, tentu beliau akan kesulitan membedakan sebetulnya siapa yang sedang bergerak: kereta yang ditumpanginya atau pohon-pohon itu? Itulah fenomena relativitas.2

Fenomena relativitas telah diteliti dengan seksama oleh Newton. Mekanika yang dikembangkannya berangkat dari asumsi bahwa ruang dan waktu bersifat terpisah dan absolut—tak perlu kerangka acuan untuk mengukurnya. Einstein melihat ada kejanggalan dalam konsep Newton. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum Einstein memahami kejanggalan itu.

Dalam tahun 1905, keraguan dramatis atas keabsolutan ruang dan waktu diungkapkan Einstein. Perhitungan Einstein menjungkirbalikkan anggapan dasar tentang eksistensi ruang dan waktu. Satu hal beliau garisbawahi bahwa setiap gerak di bagian manapun di semesta ini adalah relatif. Maksudnya, pergerakan benda tidak bisa didefinisikan tanpa adanya kerangka acuan untuk mengukurnya. Misalnya perumpamaan gerbong kereta api di atas. Anda tidak akan pernah bisa membedakan sebenarnya siapa yang sedang bergerak, kereta yang Anda tumpangi atau pohon-pohon yang ada di sisi rel, seandainya saat itu Anda sedang berada di situ. Anda akan tahu yang sebenarnya terjadi kalau Anda berada di luar sistem, misalnya di sisi rel, sehingga definisi gerak kereta hanya bisa ditentukan dengan kerangka acuan itu. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa gerak benda dan kerangka acuan adalah dua hal yang niscaya berpasangan.

Perseteruan

Dalam abad 20, terjadi perseteruan hebat antara Fisika Relativitas dan Fisika Kuantum. Pada akhir Oktober 1927, atas prakarsa pengusaha sabun kaya raya, Ernst Solway, pertama kali diselenggarakan pertemuan paling penting dalam sejarah sains modern. Pertemuan ini terkenal dengan sebutan Konferensi Solway, bertempat di Hotel Metropole, Brussel, Belgia. Pertemuan pertama ini menjadi sangat terkenal lantaran terjadi perseteruan antara dua pemikir garis depan, Niels Bohr dan Albert Einstein. Perseteruan tersebut dipicu oleh pengumuman Bohr tentang tafsirannya terhadap Teori Kuantum, yang kemudian terkenal dengan sebutan Aliran Kopenhagen.

Aliran Kopenhagen memperkenalkan dua prinsip paling mendasar dalam fisika, yakni Prinsip Saling Melengkapi (dalam kaitannya dengan konsep materi) dan Prinsip Ketidakpastian (dalam kaitannya dengan konsep ruang-waktu). Masalahnya timbul manakala Einstein secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Prinsip Ketidakpastian, yang diyakini sebagai pengganti Prinsip Sebab-Akibat. Setiap jamuan teh sore hari, Einstein selalu menyerang prinsip-prinsip Bohr. Ia merancang berbagai percobaan pikiran untuk menemukan berbagai kontradiksi dalam prinsip tersebut. Namun selalu saja Bohr mampu menemukan kelemahan konsep Einstein dan mementahkannya.

Pada konferensi selanjutnya, tahun 1930, Einstein mengajukan apa yang disebutnya sebagai paradoks kotak cahaya, yang dirancang untuk menggugurkan ketidakpastian. Ia mengambarkan kotak penuh cahaya dan menganggap energi foton dan waktu pancarannya bisa ditentukan secara pasti. Waktu dan energi adalah sepasang variabel yang memenuhi Prinsip Ketidakpastian. Caranya kotak ditimbang terlebih dahulu. Dengan pengatur cahaya yang dijalankan jam di dalam kotak, satu foton dipancarkan. Lalu kotak tersebut ditimbang lagi untuk mengetahui massanya. Kalau perubahan massanya diketahui, maka energi foton dapat dihitung dengan persamaan E=mc2. Perubahan energi diketahui dengan tepat, begitu juga waktu pancaran fotonnya, sehingga gugurlah Prinsip Ketidakpastian.

Percobaan pikiran ini membuat Bohr kelimpungan. Semalam suntuk ia mencari kelemahan hujah Einstein. Pagi harinya Bohr menggambarkan kotak cahaya. Dengan gigih, ia mematahkan argumen Einstein: “Ketika foton dipancarkan terjadi sentakan yang menyebabkan ketidakpastian posisi jam dalam medan gravitasi bumi. Ini menyebabkan semacam ketidakpastian pencatatan waktu berdasarkan asumsi Teori Relativitas Umum”.

Einstein sejauh itu kalah dalam berbagai adu argumentasi dengan Bohr. Namun perseteruan berlanjut hingga tahun 1935, ketika ia menetap di Amerika Serikat dan menjadi guru besar di Institute for Advanced Study, Princeton. Einstein mengajukan paradoks yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Bersama dua kolega mudanya, Boris Podolsky dan Nathan Rosen, ia mengajukan masalah yang terkenal dengan sebutan Paradoks EPR (Einstein-Podolsky-Rosen) untuk meruntuhkan Prinsip Ketidakpastian.

Kalau ada sepasang partikel, misalnya A dan B, dalam keadaan tunggal atau kedua spinnya saling meniadakan (berpasangan). Keduanya bergerak saling menjauh dalam arah tertentu. Suatu ketika spin A ditemukan dalam keadaan ‘atas’. Karena kedua spin harus saling meniadakan, maka dalam arah yang sama spin B harus dalam keadaan ‘bawah’. Fisika klasik sama sekali tidak mempersoalkan hal ini. Cukup disimpulkan bahwa spin B harus selalu ‘bawah’ sejak pemisahan. Masalahnya mulai tampak manakala Aliran Kopenhagen memperlakukan spin A selalu tak pasti sampai ia diukur dan harus mempengaruhi B seketika itu juga, yaitu mengatur agar spin B berpasangan dengannya. Ini berarti ada aksi pada jarak atau komunikasi yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, yang tidak bisa diterima. Einstein dan para koleganya mengusulkan apa yang disebut Prinsip Lokalitas sebagai jalan tengah paradoks ini, sehingga ia mengartikannya sebagai kealpaan Aliran Kopenhagen. Kalau sistem tersebut dipisahkan satu sama lain, pengukuran yang satu tentu tidak akan berpengaruh terhadap yang lain. “Jangan pernah lupakan Teori Relativitas Khusus saya: tidak ada yang lebih cepat dari cahaya”, demikian Einstein menegaskan.

Meskipun demikian, Bohr tetap tidak setuju terhadap konsep pemisahan tersebut. Ia segera mengingatkan Einstein dan semua penyokong sains bahwa mazhabnya selalu menegaskan bahwa mekanika kuantum sangat tidak memperbolehkan pemisahan antara pengamat dan yang diamati. Dua elektron dan pengamat adalah bagian dari satu sistem yang utuh. Jadi, percobaan EPR, menurut dia, tidak membuktikan ketidaklengkapan Teori Kuantum. “Sangat naif anggapan bahwa sistem atom dapat dipisah-pisah. Sekali dikaitkan, sistem atom tak akan pernah terpisahkan”, demikian Bohr menegaskan.3

Dalam pengamatan-pengamatan selanjutnya didapatkan bahwa Prinsip Ketidakpastian berlaku dalam dunia skala kecil dan dapat diabaikan dalam dunia skala besar. Sebaliknya, sebab-akibat berlaku dalam dunia skala besar dan dapat diabaikan dalam dunia skala kecil. Pola yang sangat teratur itu memperlihatkan adanya relasi keberpasangan. Bahwa sebab-akibat maupun ketidakpastian bukanlah dua hal yang saling mengalahkan satu sama lain. Mereka berlaku kedua-duanya, berdampingan, dan sederajat, sebagai sebuah keberpasangan. Alat ukur fisikawan yang tidak bisa lebih halus lagi dari gelombang elektromagnetik menyebabkan usikan-usikan terhadap objek pengamatan. Bagi objek-objek halus seperti elektron, usikan itu akan sangat mengganggu ketelitian pangukuran, sedangkan bagi objek-objek yang kasat mata seperti bola, meja, bintang, planet, dan sebagainya, usikan-usikan itu tidaklah berarti. Maka diyakini bahwa pengaruh ketidakpastian sangat kuat dalam dunia partikel subatomik dan diabaikan dalam dunia skala besar, sedangkan pengaruh sebab-akibat Newton dapat diamati dalam dunia skala besar bintang dan diabaikan pada dunia partikel subatomik.

Selain kasus-kasus di atas, mestinya masih banyak kasus keberpasangan lain dalam fisika. Kasus-kasus di atas ditemukan setelah konsep-konsepnya mapan. Kalau prosesnya diperluas, yakni mengintegrasikan keberpasangan dalam konsep-konsep yang belum mapan secara eksperimen, misalnya Teori Supersimetri dan Superstring, kita akan mendapatkan yang lebih banyak lagi. Tapi apakah kita bisa melakukannya?

Di Alkitab

Sekedar informasi, pada tanggal 17 November 2008, saya menemukan ayat-ayat dalam Alkitab yang menjelaskan secara eksplisit (meskipun tidak seeksplisit Alquran) mengenai keberpasangan:

“Di sana ular pohon bersarang dan bertelur, mengeram sampai telurnya menetas, burung-burung berdendang saja berkumpul di sana, masing-masing dengan pasangannya. Carilah di dalam kitab Tuhan dan bacalah: satu pun dari semua makhluk itu tidak ada yang ketinggalan dan yang satu tidak kehilangan yang lain, sebab begitulah perintah yang keluar dari mulut Tuhan, dan Roh Tuhan sendiri telah mengumpulkan mereka (Yesaya 34:15-16)”.

Disarikan dari:

1Tafsir Al-Mishbah (Quraisy Shihab)

2Seri Mengenal dan Memahami Einstein (Joseph Schwartz dan Michael

McGuinness)

3Seri Mengenal dan Memahami Teori Kuantum (JP. McEvoy dan Oscar Zarate)

foto: imagecache2.allposters.com

Banner

37 Komentar untuk “Keberpasangan: dari Teori Fisika, Ayat Al Quran dan Alkitab”

  1. Yah…Baik…Mas Jaki, selamat bergabung di Netsains. Tulisannya mencerahkan, mengingat membahas Fisika (sains secara umum) dan Agama sekaligus dalam satu tulisan bukanlah hal yang mudah. Ditunggu tulisan2 selanjutnya…Tschuss!

  2. Terimakasih

  3. terima kasih bang Jaki atas pencerahannya!

    Tanda-tanda kekuasaanNYA tertera baik di kitabNYA maupun di ciptaanNYA, bagi orang-orang yang berfikir.

    Ilmu fisika, biologi ataupun ilmu “dunia” lainnya memang tidak terpisahkan dari ilmu agama. Karena DIA lah yang menciptakan segalanya, yang tau segalanya.

  4. ilmu tanpa agama itu buta,agama tanpa ilmu hambar.

  5. mas, artikel nya lumayan. Saya tidak bisa komentar banyak ttg referensi dari , tapi ayat alkitab yang mas anggap memuat teori keberpasangan itu saya liat agak di paksakan. Kalau ayat2 itu di kembalikan ke dalam konteks nya, Yesaya pasal 34 ayat 1 sampai selesai, wah mas, akan keliatan benar jauh betul ayat2 itu dari mendukung teori keberpasangan yang mas anut.

    Setau saya tidak semua yang ada di dunia ini yang tidak perlu ada pasangan nya untuk bisa melanjutkan kelanjutan spesies, Contoh nya mahluk2 bersel 1.

    Dari situ saya simpulkan, TUHAN tidak menghendaki segala2 nya di dunia ini untuk ada pasangan nya.

    Menurut saya, bukan nya saya mau memulai debat agama di sini, bisa lebih menarik lagi kalau teori keberpasangan ini di kaitkan dengan POLIGAMI.

    Bukan saya mau menyerang artikel ini dalam artian negatif, tapi saya yakin dalam sains itu thesis-antithesis harus di tegakkan. Semua yang diajukan harus bisa di pertanggung jawabkan dan bertahan bila berhadapan dengan antithesisnya, baru kelihatan di mana kebenaran pendapat tersebut.

    Terima kasih.

  6. Selalu ada perkecualian. Kalo sudah masuk agama, sudah pasti, bahwa semuanya berasal dari keberpasangan. Tentu kita ingat konsep Hindu yang sangat terkenal, yaitu Lingga dan Yoni. Dan jangan dilupakan, bahkan makhluk sel satu pun diteggakkan oleh asam nukleat yang berpasangan, yaitu DNA. DNA itu selalu berpasangan, G-C dan A-T. Asam nukleat yang tidak berpasangan, yaitu RNA, tidak bertahan lama, karena segera didegradasi untuk fungsi dogma sentral. Ada RNA yang berfungsi struktural, namun, jumlah mereka kalah dibanding dengan DNA. Jika DNA dari suatu sel dijejerkan, bisa berapa kilometer panjangnya. Keberpasangan DNA itulah yang menyebabkan benangnya yang panjang, bisa masuk dalam sel. Karena dengan demikian, secara termodinamis strukturnya lebih favorable. Jika tidak berpasangan, tidak akan bisa masuk sel.
    Bahkan Viruspun juga demikian, jika dia virus DNA. Jika virus RNA, maka strukturnya sangat tidak stabil. Virus RNA cenderung sering melakukan mutasi, untuk mencapai stabilitas biostrukturalnya. Namun tidak akan pernah bisa, karena memang sifat biokimiawi RNA yang tidak stabil, dikarenakan memiliki gugus hidroksil pada residunya. Gugus hidroksil, membuat RNA tidak stabil. Karena DNA tidak memiliki gugus hidroksil, sebab sudah berpasangan, maka dia lebih stabil.

  7. wah mas,
    setau saya yang “berpasangan” dalam agama itu hanya urusan REPRODUKSI, perempuan butuh laki2 untuk pembuahan sel telur supaya bisa berkembang menjadi janin.

    Lantas ada yang saya lupa komentari, masalah “baik dan jahat”. baik itu bukan pasangan jahat, melainkan KEBALIKAN. Kalo mau di bahas berdasarkan ajaran agama, baik dan jahat itu bertolak belakang. Yang dikehendaki adalah yang BAIK dan yang di tolak adalah yang JAHAT.

    Menurut fakta ilmiah memang ada beberapa entitas ilmiah yang memerlukan keberpasangan untuk bisa mencapai tujuan sesuai design, tapi ternyata ada juga yang tidak perlu pasangan, seperti mahluk bersel 1, untuk bisa mencapai tujuan kelangsungan hidup spesies.Jadi tidak mutlak perlu keberpasangan. dan bila di yakini kalau semua yang ada di dunia dan semesta ini adalah berasal dari TUHAN, berarti ternyata TUHAN tidak memerlukan segala sesuatu untuk punya pasangan.

    Perlu di pahami lebih dalam dulu, apa yang di maksud dgn “keberpasangan”. Gelap bukan pasangan terang, melainkan ketiadaan terang. Jahat bukan pasangan dari baik dan yang jahat tidak bisa berdampingan dengan yang baik, melainkan akan timbul konflik bila jahat dan baik berhadap2an, tidak menimbulkan keseimbangan. jadi saya liat mas Jaki ini agak terburu2 untuk menuangkan opininya dalam artikel diatas.

    Maaf, bukan mau menyerang pribadi, semua ini hanya atas nama sains.

  8. kalo menurut saya pribadi, ini langsung kesimpulan ya, tidak pada tempatnya kalau mau cari “dasar2 ilmiah” dari sumber2 ajaran agama. Agama manapun, tidak terkecuali. Kitab2 suci agama tidak terlepas dari alam berpikir dimana penulis/penyusun hidup. Quran bicara ttg 7 langit, padahal kita semua tahu bahwa sekarang sulit untuk membenarkan adanya 7 langit, alkitab kristen juga tidak pernah bicara masalah2 hal saintifik.

    Tapi tidak berarti tidak bisa berdampingan antara keyakinan dengan kenyataan. Science adalah jalan dan alat bagi manusia untuk mempelajari realita ttg dirinya dan sekitanya dan agama mengajarkan apa yang benar bagi manusia dan apayang harus dilakukan nya sesuai kebenaran tersebut. Tapi maaf, tidak semua agama tentunya.
    dan saya harus berkata begini karena faktanya memang demikian.

  9. KEBERPASANGAN itu jangan dipaksakan hanya gara-gara Al quran. Tidak perlu juga diberi banyak contoh-contoh ilmiah mengenai hal itu karena jelas akan terlalu banyak yang ditulis sehingga jadi kurang ilmiah lagi.

    Cukup dijawab saja pertanyaan:
    1. “Mengapa segala sesuatu ada pasangannya?”
    2. “Apa yang terjadi kalau ada sesuatu yang tidak punya pasangan?”

    Nah, itu dulu dijawab. Baru bisa bahas contoh-contohnya. Harap yang poin 1 itu jangan dijawab “karena Al quran bilang begitu” ya…

    Silahkan yang bikin tesis untuk menjawab…

  10. Saya berterimakasih kalau Anda mengkritik saya dengan antitesis yang Anda ajukan. Ok…saya memang kurang begitu paham dengan Alkitab. Saya mohon penjelasannya tentang versi lain tafsir ayat tersebut. Kalau Alquran mengatakan bahwa semua hal berpasangan, maksudnya adalah semua hal yang ditinjau dari teks dan konteksnya. “Makhluk bersel satu” dan
    “poligami” bisa jadi tidak ada pasangannya bila ditinjau secara “kontekstual”, yang biasa kita pahami. Namun tentu ia memiliki pasangan kalau ditinjau secara “tekstual”, yakni “Bukan makhluk bersel satu” dan “bukan poligami”. Jadi, sisi keberpasangan pasti akan selalu ditemukan dari setiap definisi, karena eksistensi definisi itu sendiri
    ditentukan oleh eksistensi pasangannya.

  11. Saya kira mas Mukaonta (namanya unik juga yach…) kurang memahami keberpasangan. Dalam keberpasangan, akan berlaku hukum “Saling Bertolakbelakang”. Sepertinya bukan baik dan jahat saja bersifat berkebalikan, semua hal yang berpasangan akan saling berkebalikan. Misalnya, yang umumnya dipahami sebagai keberpasangan adalah laki-laki dan perempuan, maka bisa dipastikan bahwa sifat-sifat ilmiah laki-laki dan perempuan juga saling berkebalikan, laki-laki lebih dominan pikiran sedangkan perempuan lebih dominan perasaan, laki-laki adalah yang penentu garis keturunan sedangkan perempuan tidak. Bahkan berdasarkan sifat-sifat ilmiah itu Islam juga mensyariatkan kepada laki-laki dan perempuan ketentuan yang berkebalikan, sehingga terkesan tidak adil (padahal itulah yang paling adil menurut Allah berdasarkan hukum alam yang Dia buat), misalnya laki-laki diperbolehkan poligami, sedangkan perempuan tidak, laki-laki mendapat bagian warisan yang lebih banyak dari perempuan, perempuan diwajibkan menutup semua anggota badan mereka kecuali telapak tangan dan muka, sedangkan laki-laki tidak, dan sebagainya. Jadi, penentuan syariat kehidupan juga dengan memperhatikan hukum-hukum alam, sehingga tidak terjadi konfrontasi. Mengenai baik dan jahat, maupun gelap dan terang, saya kira dari ciri-ciri yang sudah tampak pun, mereka dipastikan sebagai keberpasangan. Nah, saya kira keberpasangan ini bisa diterapkan dalam menuntaskan masalah-masalah fisika dan sains secara umum. Saya sendiri akan memulainya dengan menerapkan Prinsip Keberpasangan dalam fisika. Tulisan-tulisan saya sudah ada di mbak Merry.

  12. Sudah ketinggalan zaman, kalau keyakinan dan kenyataan itu dipisahkan. Intinya, apa yang kita yakini benar, tentu kita harus bisa membuktikannya, termasuk agama. Anda akan kembali ke abad pertengahan, jika tetap mempertahankan dikotomi agama dan ilmu. Ambil contih kasus akuisisi Galileo. Pada era itu, gereja meyakini bahwa bumi itu diam dan planet-planet serta matahari mengorbit terhadapnya (Geosentris) dan Galileo meyakini bahwa mataharilah yang diam dan planet-planet serta bumilah yang mengorbit terhadapnya (Heliosentris). Ketika itu gereja hanya mengutip beberapa ayat Alkitab untuk membenarkan keyakinannya dengan mengabaikan bukti-bukti ilmiah. Sedangkan keyakinan Galileo disertai dengan bukti-bukti ilmiah yang bisa diakses semua orang. Namun karena gereja sudah terlanjur menafsirkan Geosentrisme sebagai keyakinan Kristen, maka mereka pun menolak hasil pengamatan Galileo, sehingga Galileo diakuisisi. Namun patut diacungi jempol, sebagai lembaga agama yang suci, sekitar 300 tahun kemudian, gereja mengakui kesalahannya, dan meminta maaf kepada Galileo. Nah, kalau kita di era modern ini masih berkutat pada keyakinan ya keyakinan dan sains ya sains, maka bukan tidak mungkin itu akan menghambat tumbuhnya Galileo-Galileo baru, yang justru akan merugikan peradaban. Saya menulis “Mensinergikan Metode Teks dan Eksperimen” untuk keperluan ini (tulisannya di mbak Merry). Intinya, orang-orang agama jangan kalah dengan para sekularis. Kita juga harus berpartisipasi dalam membangun peradaban.
    O ya, mengenai ayat tentang Tujuh Lapis Langit dan Bumi, saya telah menulis “Sistem Alam: Tujuh Tingkat Lagit dan Bumi”. Tulisan-tuliasn saya mungkin akan sedikit membantu mencairkan suasana tegang antara agama dan sains yang selama ini terjadi. Namun, tetap itu bukan apa-apa tanpa bukti-bukti eksperimen. Dan perlu diingat, semuanya belum selesai, bahkan pekerjaan itu baru akan dimulai….

  13. Mengenai komentar mas Ben Ben, saya sama sekali tidak memaksakan keberpasangan. Keberpasangan sudah ada dengan sendirinya di dalam kitab undang-undang alam. Dan semua orang pasti setuju, semakin banyak ditemukan kasus keberpasangan, itu akan semakin membuat ilmiah keberpasangan itu sendiri, bukan malah membuat tidak ilmiah. Saya mempersilahkan mas Ben Ben mengajukan kasus-kasus antitesis, karena itu juga akan memperkaya khasanah diskusi kita.
    Mengenai pertanyaan, “mengapa segala sesuatu ada pasangannya?”, jawabannya tentu karena itu adalah desain alam yang dibuat Allah. Mungkin jawaban ini kurang ilmiah, tapi sekali lagi, itu akan ilmiah dengan sendirinya seiring dengan realitas eksperimen di masa-masa mendatang. Misalnya Teori Supersymetri. Teori ini mengemukakan bahwa semua partikel elementer memiliki simetrinya, dengan sifat-sifat yang bertolakbelakang. Itu berarti ada relasi keberpasangan di situ, yang tidak disadari para fisikawan. Kalau Boson Higgs kelak ditemukan Tim Fisika CERN di Large Hadron Collider, maka itu akan semakin memperkokoh Teori SUSY, dan itu berarti akan semakin mengukuhkan keberpasangan.
    Saya kira pertanyaan yang paling besar adalah “mengapa Allah mendesain alam ini dengan Prinsip Keberpasangan?”. Itu karena Allah ingin mengatakan kepada seluruh manusia (di bumi dan di luar bumi) bahwa hanya Dialah yang tidak memerlukan pasangan. Dialah yang Esa, satu, mutlak, dan berkuasa tanpa batas. Eksistensi Allah tidak memerlukan siapapun dan apapun, sedangkan eksistensi yang selain Allah tentu memerlukan pasangannya…
    Mengenai pertanyaan yang kedua, “apa yang terjadi jika ada sesuatu yang tidak berpasangan?”. Jika ditinjau secara metodologi/epistemologi, pertanyaan ini telah saya jawab dalam tulisan “Mensinergikan Metode Teks dan Eksperimen”. Tapi sayangnya belum diterbitkan Mbak Merry…
    Tapi mungkin tinjauan pertanyaan Mas Ben Ben dari aspek ontologis. Kalau ditinjau secara ontologis, jawabannya “alam ini akan tidak seimbang dan akhirnya akan hancur, seperti apa yang ditulis Mas Arli”. Misalnya, kalau manusia itu tidak berpasang-pasangan, misalnya hanya ada laki-laki saja. Maka sejak zaman Nabi Adam sampai sekarang, hanya akan ada Nabi Adam saja, karena manusia tidak bisa berkembang biak. Tidak mungkin kan Nabi Adam memperistri monyet, sehingga akan berkembang peradaban manusia monyet?? Makanya Allah menciptakan Hawa sebagai pasangan Adam.
    Dalam bidang fisika, misalnya kalau tidak ada elektron yang berpasangan dengan inti dalam struktur atom, maka dunia kita ini selamanya akan berbentuk plasma. Tanpa elektron, struktur tidak akan terbentuk. Dan sebagainya…dan sebagainya…
    Terimakasih atas pertanyaan-pertanyaannya.

  14. saya tanggapi ya mas jaki,

    cukup yang ini saja, supaya lebih terarah :
    [quote]Misalnya, kalau manusia itu tidak berpasang-pasangan, misalnya hanya ada laki-laki saja. Maka sejak zaman Nabi Adam sampai sekarang, hanya akan ada Nabi Adam saja, karena manusia tidak bisa berkembang biak.[/quote] tapi kok amuba tidak butuh lawan jenis untuk bisa berkembang biak?

  15. Seperti yang sudah saya jelaskan, dalam sel amuba pun, galur DNA nya saling berpasangan. Kalau yang DNA nya tidak berpasangan, itu hanya virus. Itupun, virus hanya bisa hidup, kalau dia berada dalam sel. Otomatis DNA/RNA virus yang tunggal, jika dalam sel materi genetiknya menjadi berpasangan lagi. Saya pikir reproduksi harus diperluas konteksnya, ke dalam alur molekuler. Sebab, dalam riset biologi, kita tidak hanya melihat interaksi sel belaka. Namun juga, apa yang terjadi di dalam sel. Justru itu bagian yang paling penting. Inti dari reporduksi, adalah interaksi genomik dan proteomik. Bisa dibaca di tesisnya Watson-Crick, bahwa DNA itu ‘double strand’..dan disitulah inti dari kehidupan. Dan kita tidak bisa membuat pengandaian, ‘kenapa DNA, gimana kalo di planet lain bukan DNA, atau Tuhan menghedaki lain?’. Pengandaian serupa tidak ada gunanya, Sebab, faktanya di lapangan memang DNA double strand yang memegang peranan. Disini kita bicara fakta di dunia riset, bukan pengandaian. Tidak bisa fakta bahwa DNA double strand ditolak, karena mau memperjuangkan persepsi kita sendiri. Itu adalah fakta, dan tidak bisa ditolak.
    Kalau di dalam dunia filsafat, ada banyak pendapat mengenai kebaikan dan kejahatan itu bagaimana. Menurut Karl Marx, kaum buruh itu baik, dan kapitalis itu jahat. Menurut Nietzche, orang-orang lemah lebih pantas diperbudak oleh kelompok aristokrat (pandangan ini yang diadopsi Nazi). Lalu, ada lagi. Menurut Plato, dunia ini hanya cermin retak. Hanya akhirat yang sempurna. Akhirnya jika bicara filsafat, kita tidak berbicara fakta. Namun berdiskusi ttg persepsi. Apapun pendapat kita, tergantung persepsi kita. Belum lagi kalau di agama. Namun wajar jika manusia hidup dalam persepsi. Menurut Immanuel Kant, apapun pemikiran dan pendapat manusia, pasti tergantung dari persepsinya. Buat saya silahkan saja gunakan persepsi apapun. Namun, persepsi yang digunakan, harus mendukung pengembangan sains-tek. Kasus Galileo adalah sejarah gelap sains, dan tidak boleh terulang lagi.

  16. quote -Seperti yang sudah saya jelaskan, dalam sel amuba pun, galur DNA nya saling berpasangan. Kalau yang DNA nya tidak berpasangan, itu hanya virus. - endquote

    manusia juga kan DNA nya berpasangan. Dalam hal ini sama seperti amuba, bedanya jumlah pasangan DNA pada amuba tidak sebanyak pada manusia. Jadi sepertinya DNA itu memang harus berpasangan. Masalahnya, kalau mau ikuti teori keberpasangan yang menurut mas umam itu berlaku universal, termasuk pada reproduksi (jantan-betina), kok amuba yang DNA nya berpasangan seperti manusia tidak perlu ada kelamin jantan dan betina?

    itu kan berarti teori keberpasangan itu tidak universal.
    Lalu, kalo seperti kata mas umam, adanya keberpasangan itu adalah untuk menunjukkan kalo “allah” lah yang satu2 nya tidak punya pasangan, berarti secara tidak langsung, sadar maupun tidak, mas umam itu sudah mensejajarkan “allah” itu dgn amuba, yang tidak punya pasangan dalam hal kelamin dan tidak perlu pasangan untuk bisa ber reproduksi.

    segitu aja kok.

  17. maksud saya cuma mau mengingatkan mas umam kok, sebelum mengajukan teori kepada umum itu harus lebih ber hati2. Harus dengan dasar2 yang yang tidak bisa di sanggah lagi, atau minimal bisa di pertahankan secara obyektif. Kalo menurut saya, teori keberpasangan nya mas umam ini adalah spekulasi yang kurang kuat dasarnya.

    Dan sebaikny sih tidak menggunakan kitab2 suci agama untuk mencari dasar2 science. Kenapa? jawaban “bodoh” saya mah cuma “orang2 NASA itu tidak pernah baca quran dan tidak mendasarkan riset pada alkitab tapi bisa bikin program peluncuran robot ke mars”

    dan orang2 atheis pun ternyata bisa ber sains ria juga, sejauh mereka punya niatan untuk jadi obyektif yang cukup.

  18. Wah seru ya diskusinya. Kalau opini saya: tak ada salahnya mengaitkan agama dengan sains. Toh keduanya sama-sama objek yang menarik dan layak ditelaah oleh manusia. Agama memang larinya ke masalah iman, dan sains lebih ke rasio. Jika keduanya sama-sama dicari benang merahnya, bisa jadi manusia mendapat pencerahan lain, bukan mengotak-kotakan antara agama dan sains.

  19. Saya sudah menulis dan melakukan riset tentang keberpasangan sejak enam tahun silam (kelas 2 SMA). Banyak steikholder yang sudah dilibatkan. Saya kira wajar kalau ada orang yang tidak setuju dengan teori saya, seperti mas mukaonta, tapi seharusnya ketidaksetujuan itu harus disertai argumentasi yang jelas.
    Tujuan idealisme saya adalah mewujudkan era baru sains yang berbasis kitab suci, yang berbeda sama sekali dari apa yang dilakukan orang-orang NASA, CERN, ataupun yang lain. Mereka memang tidak membaca Alquran dulu sebelum mereka mengkreasi teknologi yang menurut kita demikian luar biasa. Tapi suatu saat nanti, generasi kita akan membuat teknologi yang jauh lebih hebat lagi, manakala mendasarkan konsepnya pada kitab suci, sehingga anak-anak kita kelak akan memandang “robot-robot NASA” seperti sekarang kita memandang televisi hitam-putih. Ingat, kitab suci itu perkataan Tuhan yang memiliki alam semesta ini, jadi kita tidak boleh ragu akan keakuratannya dan kebenarannya, kecuali kitab itu sudah ditambah-tambahkan atau dikurang-kurangkan manusia-manusia yang sok-pintar.
    Intinya, jangan pesimis dengan milik kita. Tidakkah Anda tahu, Alkitab dahulu kala pada zamannya adalah sebuah kitab rujukan yang luar biasa hebat. Orang tidak akan berbicara kecuali berdasar informasi darinya. Saya sangsi dengan pendapat bahwa Alkitab bukanlah kitab sains, karena dahulu kala satu-satunya kitab sains dan agama yang sangat dihormati adalah Alkitab. Kalau generasi kita sekarang masih trauma dengan kasus Galileo, maka sekaranglah saatnya bangkit dari trauma itu.
    Saya pernah punya pengalaman unik tentang cita-cita, mungkin itu bisa menjadi motivasi…tapi kayaknya tidak bisa saya ceritakan sepenuhnya di sini…silakan klik blog saya http://www.jakiumam.blogspot.com, judulnya “Momentum Cita-cita”…

  20. Di negara maju sekalipun, pengaruh agama masih kuat. Contoh di Jerman, riset embrionic stem cell dilarang, berkat lobi-lobi para tokoh gereja. Di Amerika Serikat, dana pemerintah federal terhadap riset embrionic juga dihentikan, sesuai dengan ideologi neo konservatif George Bush cs. Apa alasannya? Sebab, menurut mereka, melakukan riset terhadap embrio manusia melanggar prinsip ’sanctity of live’ (kesucian hidup). Menurut mereka, sesuai pandangan religius, embrio manusia sudah memiliki jiwa, sehingga tidak boleh ‘diutak-atik’. Berbeda di Inggris dan dominionnya (seperti di Spore). Mereka lebih sekular, sehingga riset embrionic diperbolehkan. Di Indonesia pun, riset embrionik juga dilarang oleh komisi bioetika. Dalam komisi ini, ada ulama yang menjadi anggota, yaitu Quraish Shihab. Agak sukar menegasikan agama, sebab riset berhubungan langsung dengan etika dan moral, terutama riset biomedis. Agama merupakan salah satu sumber etika dan moral, disamping ideologi sekuler. Walaupun pengaruh agama masih kuat, Amerika dan Jerman masih merupakan negara yang memiliki peraih hadiah nobel sains yang utama. Jadi pengaruh itu justru tidak membuat mereka jadi mandul dalam sains.
    Lalu, Amuba memang tidak bereproduksi secara normal seperti manusia. Tapi Amuba memiliki cara lain untuk reporduksi, yaitu menggunakan ‘fusi protoplas’. Dengan fusi protoplas, amuba dapat melakukan pertukaran informasi genetik dengan amuba lain, sehingga tercipta strain baru. Kemudian mereka membelah diri secara mandiri, menggunakan informasi genetik baru itu. Tentu saja, fusi protoplas juga memerlukan pasangan amuba lain. Pada dasarnya, prinsip utama reporduksi adalah pertukaran informasi genetik, yang diturunkan kepada progeni. Pada mikroorganisme, jika progeni sudah memiliki informasi genetik baru, karena fusi protoplas, maka sudah menjadi individu unik. Fenomena pertukaran informasi genetik ini sudah menjadi fenomena umum pada mikroorganisme. Fenomena jantan dan betina tidak relevan pada amoba, karena mereka memang tidak memiliki kromosom seks. Namun mereka bisa melakukan pertukaran informasi genetik dengan amuba lain. Dan fenomena ini cukup umum. Menganalogikan reproduksi manusia dengan mikroorganisme jelas tidak mungkin, karena memang berbeda.

  21. untuk mas jaki,
    mengenai semangat risetnya saya salut, mengingat sekarang tidak terlalu banyak orang muda di indonesia yang punya minat dalam terhadap sains. Tapi mengenai teori keberpasangan ini, saya sudah ingatkan bahwa ada entitas biologi yang tidak mengikuti teori keberpasangan, berarti teori keberpasangan itu bukan lah teori universal atau yang menjadi dasar dari semua realitas di sekeliling kita.

    mengenai galileo, saya rasa sekarang sudah tidak ada lagi ilmuwan yang masih trauma karena nasib beliau. Beliau dulu berhadapan dengan pemahaman yang salah. Alkitab bukan lah sumber pengetahuan ilmiah, karena penulis2 nya dulu memang tidak pernah menjadikan tulisan nya sebagai karya ilmiah, tujuan di tulisnya kitab2 dalam alkitab itu bukan lah supaya manusia bisa mengetahui apakah bumi itu bundar atau tidak, melainkan mengajarkan pembacanya untuk bisa menghormati hal-hal yang lebih besar dari manusia itu sendiri, dengan tujuan bisa tercipta kehidupan yang baik di muka bumi. Alkitab di tulis untuk tujuan spiritual, bukan material.

    dalam quran disebut tentang 7 lapis langit, yang oleh “allah” tiap lapis nya di hiasi dengan bintang2, mengingat pengetahuan yang sekarang di miliki ttg tatasurya dan alam semesta, sangat sulit untuk bisa membenarkan secara sains ttg 7 lapis langit yang masing2 di hiasi bintang2 tersebut, kecuali bila mau spekulasi tanpa pembuktian.

    maksud saya, bila memang benar2 ingin bersains, jangan jadikan kitab suci agama sebagai sumber, untuk memotivasi boleh, tapi seperti saya katakan diatas, kitab suci agama, semua agama, tidak pernah di tulis dengan tujuan untuk jadi referensi ilmiah. Jangan sampai nanti mas umam malah melakukan kesalahan yang di lakukan gereja kepada galileo :)

  22. untuk mas arli,
    mungkin lebih tepat kalau di sebut pengaruh tokoh2 agama yang masih kuat, pemerintah di negara2 yang anda sebut “menuruti” anjuran tokoh2 agama untuk menghentikan riset stem cell adalah karena alasan politik, menghindari keresahan publik, kehilangan kepercayaan publik pada pemerintah dan pertimbangan strategis pendapatan suara di pemilu mendatang. Biasa lah.

    Diatas saya sudah sampaikan, posisi agama (kitab suci), adalah sebagai pembimbing moral. Bukanlah referensi ilmiah, sains menentukan apa yang bisa dilakukan manusia, agama menganjurkan apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan, dengan tujuan kebaikan umat manusia.

    Saya tidak pingin menegasikan agama, tapi menempatkan agama pada posisi semestinya.

  23. Salam sukses buat mas jaki…!
    Menurut saya artikelnya mas jaki bagus,mudah dimengerti dan dipahami.Mas jaki saya sependapat tentang artikel”keberpasangan” Anda.
    Mas jaki…!teruskan perjalananmu… Dan bersemangatlah karena komen yg tidak sependapat dengan Anda telah membuktikan tentang adanya “keberpasangan” (Sepaham dan tidak sepaham). Artikel mas jaki sangat menggugah hati saya untuk terus berfikir.
    Yang harus diingat mas jaki…! yang namanya tidak sepaham sampai kapanpun akan terus bertolak belakang dengan sepaham.

  24. setahu saya, untuk thesis ilmiah selain bagus dan mudah di mengerti, ada satu lagi syarat dasar yang harus di penuhi. Harus punya dasar-dasar yang bisa di pertanggungjawabkan. Kalau baru point 1 dan 2 di penuhi, belum thesis ilmiah.

  25. Mas Arli pengetahuannya sangat luas, Mas Mukaonta sangat kritis, Mas Citto juga hebat, saya salut. Pada dasarnya saya ingin mengatakan bahwa “tidak ada dikotomi antara agama dan sains”. Bagi saya dan orang Islam pada umumnya, Alquran adalah kitab agama dan rujukan sains yang tertinggi. Alkhwarizmi menemukan kaidah-kaidah aritmatika setelah membaca ayat-ayat tentang perhitungan dalam hukum waris, Ibnu Al Shatir mengungkapkan Heliosentrisme jauh sebelum Copernicus setelah membaca ayat-ayat Astronomi dalam Alquran, Avicena menemukan kaidah-kaidah pengobatan berdasar konsep dari Alquran. Bahkan, para pengkaji Alquran kontemporer telah mengindeks lebih dari ratusan ayat dari 6666 ayat Alquran yang menyinggung tentang sains. Jadi, sejarah telah membuktikan metode dualisis telah berhasil dalam peradaban Islam abad pertengahan (tentang metode dualisis silakan baca artikel “Pembuktian Keimanan dengan Metode Sains” yang sudah diterbitkan mbak Merry).
    Saya mengambil satu ayat dari Alquran sebagai postulat berdasarkan Tafsir Al-Misybah yang ditulis Dr. Quraisy Shihab, yakni keberpasangan (QS. 36:36). Sebagai pengujiannya, saya mengambil satu bidang, yakni fisika. Meskipun dengan bahasa yang ala kadarnya, saya sudah menulis tesisnya (tulisan-tulisan saya ada di mbak Merry, belum diterbitkan). Maksud saya, kalau Mas Mukaonta mau menyanggah keberpasangan, silakan tulis antitesis dan ajukan ke netsains untuk diterbitkan. Jadi, diskusi kita tidak “ngalor-ngidul”. Kalau memang istilah “tesis” atau “antitesis” terlalu tinggi, bolehlah tulisan-tulisan itu disebut “essai” saja, sekedar pemikiran. OK…!!

  26. ***Buat yang bernama mukaonta***
    1.Sebaiknya Anda baca artikelnya mas jaki sampai benar2 menggerti dan kalau memang kurang jelas bilang sama mas jaki ( kalimat…maksudnya apa yah mas…? ).
    2.Jangan menyalahkan isi artikelnya mas jaki sebelum Anda sendiri punya dasar2 yang kuat untuk meyakinkan pembaca bahwa Artikelnya mas jaki tidak benar.
    3.Mas jaki sudah membuktikan dan menjelaskan tentang keberpasangan dlm artikelnya.Dan kalau menurut Anda artikelnya mas jaki tidak bisa dipertanggung jawabkan.coba jelaskan kesalahanya dimana?
    4.Menurut saya,mas jaki sudah membuktikan berkali-kali bahkan dalam komentar untuk”keberpasangan” yaitu dengan adanya (tanya-jawab) sudah membuktikan adanya keberpasangan,Anda bayangkan seandainya tidak ada “pertanyaan” apakah ada “jawaban”?.

    Buat mas Jaki: salam sukses !

  27. 2.Jangan menyalahkan isi artikelnya mas jaki sebelum Anda sendiri punya dasar2 yang kuat untuk meyakinkan pembaca bahwa Artikelnya mas jaki tidak benar.
    —-
    ya amuba itu, tidak perlu ada jantan-betina untuk reproduksi.

    4.Menurut saya,mas jaki sudah membuktikan berkali-kali bahkan dalam komentar untuk”keberpasangan” yaitu dengan adanya (tanya-jawab) sudah membuktikan adanya keberpasangan,Anda bayangkan seandainya tidak ada “pertanyaan” apakah ada “jawaban”?.
    ——

    kan tidak semua pertanyaan ada jawaban nya. Misalnya pertanyaan “kapan dunia ini kiamat?” apakah jawaban “saya tidak tahu” itu pasangan dari pertanyaan tersebut?

    baiknya jangan buru2 setuju karena kesamaan dasar pemikiran, kritis sedikit itu perlu.

  28. —Bagi saya dan orang Islam pada umumnya, Alquran adalah kitab agama dan rujukan sains yang tertinggi. Alkhwarizmi menemukan kaidah-kaidah aritmatika setelah membaca ayat-ayat tentang perhitungan dalam hukum waris, Ibnu Al Shatir mengungkapkan Heliosentrisme jauh sebelum Copernicus setelah membaca ayat-ayat Astronomi dalam Alquran, Avicena menemukan kaidah-kaidah pengobatan berdasar konsep dari Alquran. —

    mas umam,
    copernicus tidak baca quran tapi bisa menemukan heliosentrisme, Einstein tanpa quran bisa munculkan teori relativitas dan E=MC kuadrat dll..dsb… Sebenarnya kalau mau di bikin daftar, ternyata lebih banyak ilmuwan yang bisa datang dengan temuan2 ilmiah tanpa perlu di ilhami quran atau kitab2 suci lain nya, malahan saya temukan kebanyakan peraih nobel adalah orang2 yahudi. Kalau saya lebih suka menalarkan fakta ini sebagai “sains tidak perlu kitab suci agama”, “hanya” di perlukan kemampuan penalaran dan kemauan untuk objektif yang cukup. Isi kitab suci itu sifatnya interpretatif, tergantung penuh kepada subjek yang mendalami. Dan apakah bisa di buktikan secara ilmiah kalau manusia di ciptakan dari cairan yang terpancar dari antara tulang sulbi dan tulang dada seperti di sebutkan dalam surat AT-TAARIQ?

    menurut saya, kalau memang benar2 mau di kaitkan sains dengan agama itu lebih tepat bila “apakah ajaran dalam kitab suci itu sesuai dengan fakta ilmiah”, bukan sebaliknya tapi ya resiko di tanggung sendiri :)

    menurut saya belum perlu di buatkan anti tesis untuk teori keberpasangan punya mas umam ini, soalnya, maaf ya mas, untuk jadi tesis saja sebenarnya teori mas ini juga kurang kuat.

  29. Kalau boleh saya mengkritik, dari pembicaraan2 sebelumnya, saya melihat bahwa Anda masih mengadopsi sentimen agama tradisional, dimana itu sama sekali tidak dibutuhkan dalam konteks ini. Thanks

  30. ya amuba itu, tidak perlu ada jantan-betina untuk reproduksi.
    Keberpasangan dalam reproduksi
    ……..

    -Harus ada jantan-betina contoh manusia.cara reproduksi:mas mukaonta tentunya sudah tahu.
    -Tidak harus ada jantan_betina karena mahluk itu beda cara bereproduksinya dgn manusia akan tetapi dia (mahluk tidak jantan-betina) butuh pasangannya contoh amuba.cara reproduksi:penjelasanya sudah diterangkan sama mas…arli.

    Amuba memang tidak bereproduksi secara normal seperti manusia. Tapi Amuba memiliki cara lain untuk reporduksi, yaitu menggunakan ‘fusi protoplas’. Dengan fusi protoplas, amuba dapat melakukan pertukaran informasi genetik dengan amuba lain, sehingga tercipta strain baru. Kemudian mereka membelah diri secara mandiri, menggunakan informasi genetik baru itu. Tentu saja, fusi protoplas juga memerlukan pasangan amuba lain. Pada dasarnya, prinsip utama reporduksi adalah pertukaran informasi genetik, yang diturunkan kepada progeni. Pada mikroorganisme, jika progeni sudah memiliki informasi genetik baru, karena fusi protoplas, maka sudah menjadi individu unik. Fenomena pertukaran informasi genetik ini sudah menjadi fenomena umum pada mikroorganisme. Fenomena jantan dan betina tidak relevan pada amoba, karena mereka memang tidak memiliki kromosom seks. Namun mereka bisa melakukan pertukaran informasi genetik dengan amuba lain. Dan fenomena ini cukup umum. Menganalogikan reproduksi manusia dengan mikroorganisme jelas tidak mungkin, karena memang berbeda.
    ………..
    4.Menurut saya,mas jaki sudah membuktikan berkali-kali bahkan dalam komentar untuk”keberpasangan” yaitu dengan adanya (tanya-jawab) sudah membuktikan adanya keberpasangan,Anda bayangkan seandainya tidak ada “pertanyaan” apakah ada “jawaban”?.
    ——

    kan tidak semua pertanyaan ada jawaban nya. Misalnya pertanyaan “kapan dunia ini kiamat?” apakah jawaban “saya tidak tahu” itu pasangan dari pertanyaan tersebut?

    baiknya jangan buru2 setuju karena kesamaan dasar pemikiran, kritis sedikit itu perlu.
    ……..
    ya… mas mukaonta,itu salah satunya jawabannya dari pertanyaan “kapan dunia ini kiamat?” karena memang kita tidak tahu kapan dunia ini kiamat yang tahu jawabannya adalah sang pencipta alam semesta serta isinya (Tidak ada seseorangpun yang tahu terjadinya Takdir karena ini rahasia illahi).

    Bayangkan saja apa yg terjadi seandainya kita semua sudah tahu jawaban dari pertannyaan yang diberikan oleh guru kita disaat sekolah? apakah ada kegiatan belajar dan mengajar sedangkan kita sudah tahu apa yg diterangkan itu?

    Apakah ada seorang guru menyarankan pertanyaannya tidak usah dijawab karena tidak ada jawabanya?.Menurut saya semua pertanyaan itu ada jawabanya kalau tidak ada jawabanya itu dinamakan bukan pertanyaan.

  31. –Kalau boleh saya mengkritik, dari pembicaraan2 sebelumnya, saya melihat bahwa Anda masih mengadopsi sentimen agama tradisional, dimana itu sama sekali tidak dibutuhkan dalam konteks ini. Thanks

    Mas Umam,
    saya kan sampaikan kepada mas diatas, agama itu bukan sumber pengetahuan ilmiah (sains) dan upaya memperoleh pengetahuan lalu sentimen agama tradisional mana yang saya bawa mas? saya malah menganjurkan usaha2 untuk mengejar sains harus di lepaskan dari sentimen terhadap agama, kalau mau obyektif.

  32. Sebaiknya kita baca dulu link debat Richard Dawkins versus Francis Collins di sini http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1555132,00.html
    Di artikel Times tersebut, paham evolusionis Dawkins diperdebatkan dengan paham religius Collins. Collins, walau dia religius, tapi tetap seorang ilmuwan penting yang berperan dalam Human Genome Project. Bahkan dia sudah menerbitkan buku yang memanifestasikan pandangan religiusnya. Adapun Dawkins memang dikenal sebagai ‘humanis sekuler’, yang sudah sangat kritis dengan agama atau sistim spiritual apapun. Buku2 karangannya pun menuduh agama tak lebih dari sekedar ‘virus’. Melihat bahwa Collins tetap bisa menjadi ilmiah, walau religius, rasanya tidak ada masalah. Pemikiran Dawkins pun sebenarnya memang mewakili sebagian kecenderungan di barat, dimana sebagian intelektualnya sudah sangat skeptis dengan agama. Saya bukannya membela Collins, namun jelas dari interview itu, dia masih memegang keyakinan religiusnya. Menarik juga perkataan Dawkins: ‘If there is a God, it’s going to be a whole lot bigger and a whole lot more incomprehensible than anything that any theologian of any religion has ever proposed’. Paling tidak masih ada sesuatu yang dia yakini, walau itu berbeda dengan religi atau theologi agama mapan.

  33. Maaf mas2, saya sama sekali tidak melihat means of keberpasangan dimaksud pada anda berdua,lalu disembunyikan dimana sinergi tersebut.

  34. Silakan bagi Anda semua yang telah membaca tulisan tentang keberpasangan untuk menulis essai atau artikel untuk mendukung atau menyanggah tulisan tersebut. Itu akan memperluas perspektif diskusi ini. Saya juga berharap tulisan-tulisan saya mengenai keberpasangan yang lain segera diterbitkan redaksi.

  35. …………. menurut saya ajaran kitab-kitab lebih berpacu dalam ajaran alam tentang keduniawian, namun selebihnya mengacu ke alam akhirat yang mana adalah alam yang harus dilewati setiap umat manusia. kejadian teori fisika yang telah di uraikan oleh manusia-manusia hebat di jaman dahulu adalah suatu unsur dugaan yang mungkin terjadi di dunia fana.

  36. Saya sudah baca tulisan mas Jaki tentang keberpasangan, berikut komentara komentar yang cukup ramai dan beragam.
    Saya salut dengan kesungguha mas jaki untuk memadukan antara ayat tanziliah (wahyu) dan ayat kauniah (fenomena alam), “alam terkembang jadi guru” kedua dua nya adalah ayat ayat Allah pencipta,pengatur dan pemilik serta penguasa alam semesta ini.Saya berhusnuzhan semoa mas zaki termasuk dalam barisan ulul albab yang memadukan zikir dan fikir (QS.3:190) yang akirnya berkesimpulan: “Ya Tuhan Kami sungguh tidak sia sia semua Ciptaan-Mu”.Salut juga dengan banyaknya tanggapan yang beragam, semoga semua itu akan menambah semangat mas Jaki untuk mengharungi lautan ilmu yang tiada tepinya ini.Semoga semua itu akan memantapkan iptek dan imtaq.dengan hidayah dan taufiqNya.amiin.terima kasih.

  37. Penciptaan berpasang-pasangan pada manusia pada hakikatnya disamping menunjukkan ketidak sempurnaan makhluk sebagai hamba juga menggambarkan bahwa hanya Allah swt yang memiliki kesempurnaan itu.

    Kemudian dengan adanya ciptaan yang berpasangan juga memberi peluang atau Allah swt membukakan satu celah kepada makhluk yang berakal untuk mempelajari sisi yang lain dari satu sisi sebelahnya atau dengan berpasangan Allah memudahkan akal untuk memahami satu bagian saja karena ibarat siang dengan malam, siang adalah kebalikan dari malam ( maklum sekarang lagi tegah malam )

    Demikian salam kenal dari http://myrazano.com
    mohon kunjungan dan dukungannya ( maklum masih sepi mengunjung )

    terimakasih
    Semoga Allah swt Merahmati kita semua. amin

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>