Alam Pengaruhi Jatuh Bangun Dinasti
Jatuh bangunnya kerajaan dan dinasti ternyata sangat terkait dengan kondisi alam. Mengapa bisa begitu?Temuan stalagmit di sebuah gua di China menjadi petunjuk berakhirnya sejumlah dinasti bersejarah China. Stalagmit tersebut terbentuk dari mineral tetesan air selama 1.810 tahun. Kandungan kimia di dalam batu itu mewakili kisah siklus monsoon yang memenuhi kebutuhan air jutaan orang.
Dari temuan ini bisa diprediksikan bahwa peiode kekeringan yang melanda telah melenyapkan Dinasti Tang, Yuan dan Ming. Demikian seperti yang dipublikasikan di jurnal Science teranyar.
Tim ilmuwan yang dipimpin Pingzhong Zhang dari Lanzhou University , China, ini menyebutkan bagwa perubahan siklus di sekitar tahun 1960 mengindikasikan gas rumah kaca yang dilpicu aktivitas manusia telah mempengaruhi monsoon secara dominan.
Jatuh Bangun
Gua Wanxiang yang ditemukan berada di provinsi Gansu, dimana 80% curah hujannya terjadi antara Mei dan September. Konsentrasi kimiawi di stalagmitnya mengindikasikan serangkaian fluktuasi yang terjadi dari satu abad ke abad selanjutnya, mirip dengan rekaman yang ada di Zaman Es di Eropa.
Ada fluktuasi panjang selama tahun 190 dan 530, saat dinasti Han berakhir. Sedangkan dari tahun 530 hingga 850 terjadi penurunan monsoon yang diperkirakan adalah penyebab berakhirnya Era Disunity, Dinasti Sui dan Dinasti Tang. Ilmuwan menemukan bahwa setelah tahun 1020, monsoon cenderung menguat hingga kembali drop di tahu 1340 dan 1360.
Periode musim kering di abad ke-9 sangat berkotribusi pada melemahkan Dinasti Tang dan suku bangsa Maya di Mesoamerika. Kondisi yang sama juga dialami lima dinasti lain dan 10 kerajaan. Kuatnya monsoon juga berkontribusi pada percepatan masa panen padi, populasi dan stabilitas yang terjadi pada Dinasti Song di bagian utara.
Diterjemahkan secara bebas dari Associated Press.
Foto:archrecord.construction.com












Beri Komentar