Inflasi dan peningkatan harga kebutuhan pokok berimplikasi pada banyak sektor, dan diantaranya: sektor pendidikan. Berapa banyak orang tua siswa yang mengeluh mahalnya biaya pendidikan terutama di awal tahun ajaran baru? Berapa banyak anak yang terpaksa “menunda” masuk sekolah karena tidak ada biaya? Mengapa di tahun ke-63 Indonesia merdeka pendidikan masih menjadi barang mewah bagi banyak orang?
Adalah tanggung jawab generasi kita sekarang untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia. Untuk itu perhatian ke dunia pendidikan dalam rangka mencetak anak-anak bangsa yang berkualitas dan mampu membawa negeri ini terhadap kondisi yang lebih baik harus lebih diprioritaskan. Miris mendapati kenyataan bahwa di kota-kota besarpun kita masih menjumpai banyak anak yang kesulitan bersekolah.
Tulisan ini bertujuan sebagai saran dan masukan agar anak-anak Indonesia tidak perlu menangis demi mendapatkan sesuatu yang sudah selayaknya menjadi hak mereka yaitu: sekolah.
- Subsidi Pendidikan Lebih Besar
Terwujudnya sekolah murah adalah dengan memperkecil beban biaya orang tua siswa. Dalam hal ini dukungan pemerintah sangat penting. Sekolah pada era 80-90an banyak menggunakan buku diktat yang disediakan secara gratis oleh sekolah. Waktu itu buku-buku tersebut diterbitkan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan. Kemudian buku-buku tersebut semakin jarang, siswa harus membeli buku. Hal lain adalah infrastruktur fisik sekolah, seperti ruangan dan sarana prasarana penyelenggaraan sekolah tiap tahun juga banyak dibebankan kepada orang tua siswa.
- Tumbuh Suburkan Beasiswa
Beasiswa banyak menjadi banyak harapan dari siswa-siswa yang ingin terus bersekolah namun terganjal urusan biaya. Beasiswa dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi perlu ditumbuhsuburkan. Lembaga-lembaga sosial seperti lembaga orang tua asuh dan beasiswa dari perusahaan memberikan peran yang signifikan terhadap pemberian beasiswa.
- Sekolah Alternatif Lebih Didorong dan Dihargai
Bagi anak-anak yang berada di kawasan jauh dari pemukiman padat ataupun anak-anak dari golongan marjinal akan sangat membutuhkan sekolah alternatif. Bagi mereka ini seperti oase di padang pasir. Segala upaya dari lembaga pemerintahan ataupun non pemerintahan untuk hal ini harus lebih didukung dan dihargai karena kita masih memerlukan banyak sekolah alternatif untuk mewujudkan pendidikan yang meluas dan merata.
- Kurikulum yang Ringkas dan Tepat Sasaran
Tidak perlu menyusun kurikulum yang terlalu berat dan gemuk untuk mencetak siswa-siswa yang unggul. Adanya penjurusan SMA di tahun kedua mulai beberapa tahun yang lalu adalah perkembangan yang positif. Pemberian kurikulum yang ringkas dan tepat sasaran akan membantu siswa dan orang tua siswa. Kesadaran siswa terhadap apa yang didapatkannya dari pendidikan, kesadaran terhadap minat pada mata pelajaran tertentu perlu didukung lebih dini agar siswa tau apa yang akan dicapai lewat sekolah.
- Sistematika Bebas Tes dan Bebas Biaya Masuk Sekolah
Sistematikan bebas tes dan bebas biaya masuk sekolah sebaiknya dipertahankan. Porsi ini sepertinya mulai menyusut ketika perguruan tinggi memiliki sistematika sendiri dalam penerimaan mahasiswa. Akibatnya biaya pendidikan semakin mahal sehingga hanya kalangan berduit yang mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi incaran mereka. Padahal sistem bebas tes dan bebas biaya masuk sekolah masih menjadi harapan dan incaran bagi banyak siswa maupun orang tua siswa.
- Promosikan Profesi sebagai Guru
Profesi sebagai guru semakin tidak populer. Padahal guru besar pengaruhnya terhadap pendidikan generasi penerus. Paradigma ini perlu digeser sedikit demi sedikit. Guru adalah profesi yang mulia namun hanya sedikit mereka yang menjadikan guru sebagai pilihan profesi. Promosi terhadap posisi guru sebagai pendidik dan perhatian terhadap kesejahteraan mereka akan lebih membuka mata banyak orang untuk bersedia berprofesi sebagai guru.
- Minimalisir Ketimpangan Mutu dan Sarana Pendidikan
Besar sekali ketimpangan mutu dan sarana pendidikan. Ada sekolah dasar yang mewajibkan siswanya membuka internet sebagai pekerjaan rumah, ada banyak anak kecil yang membawa flash disk ke sekolah, namun masih lebih banyak sekolah yang sarana pendidikannya masih memprihatinkan. Jumlah guru yang terlalu sedikit, jumlah buku yang kurang, jumlah ruang kelas yang tidak mencukupi masih banyak kita jumpai.
- Sosialisasi Sektor Pendidikan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Sektor pendidikan merupakan tanggung jawab bersama warga Indonesia. Perlu adanya sosialisasi dan pemahaman terhadap hal ini sehingga akan mempermudah sinergi antara pihak pemerintah, penyelenggara sekolah, orang tua siswa, dan siswa itu sendiri.
Majunya pendidikan di Indonesia agar anak-anak generasi penerus menjadi generasi yang berkualitas dan mampu menghadapi tuntutan perkembangan zaman dengan mantap. Dan semoga semakin berkurang keberadaan Lintang-Lintang kecil seperti di film Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Semoga.
foto: Jakarta.go.id




Konsepsi yang bagus. Namun, sayangnya keadaan di Indonesia sering kali tidak mendukung bagi bagusnya suatu konsep, untuk dilaksanakan. Sudah berkali-kali dibahas di berbagai milis, dan berbagai forum, bahwa pendidikan kita terbentur satu masalah yang berat..Yaitu Politisasi pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa diknas adalah ajang rebutan posisi dirjen dan menteri, oleh partai politik. Sehingga, tidak mengherankan, jika yang duduk di posisi menteri atau dirjen belum tentu pakar pendidikan. Masalahnya lagi, mayoritas pakar pendidikan memilih menjauhi politik, karena menganggap itu bidang yang kotor. In the end, akhirnya orang yang tidak kompeten menduduki jabatan itu, karena yang kompeten memilih tidak berpolitik, dan hanya bisa berteriak di luar sistim, tanpa bisa berbuat apa-apa juga. Hal ini yang harus dibereskan pertama kali….Sejauh mana politisasi pendidikan diperbolehkan? Dan jika tidak boleh, apakah profesional murni bisa jadi dirjen atau menteri? Dan jika boleh, apakah harus politisi yang pakar pendidikan menduduki jabatan itu, atau siapa saja yang dekat dengan kekuasaan (walaupun tidak tahu apa-apa) boleh juga menjabat. Kalo opsi terakhir yang diambil, sudah jelas rakyat akan jadi korban kebijakan pihak yang tidak tahu apa-apa. Orang buta memimpin orang buta masuk ke jurang. Semoga opsi-opsi awal yang terjadi di masa depan..:-)
Iya Mas Arli, itu masalah klise..orang yang bukan di bidangnya banyak yang memimpin suatu departemen yang asing baginya karena pengaruh kekuasaan, jadinya kacau. Sama seperti sekarang orang menjauhi politik karena dianggap kotor, pakar2 dan orang2 yang berprestasi terbaik di bidangnya menjauhi politik akibatnya kan kita malah tidak dipimpin orang2 itu. Itu karena kepercayaan terhadap sistem di negara ini masih rendah. Moga2 dengan perbaikan di sana sini, lama2 kepercayaan itu akan pulih kembali ya..
Menarik sekali dan saya setuju dengan strategi yang dipaparkan
Ada beberapa faktor yg berperan disni..yaitu..pemerinth (dinas terkait)dlm hal ini pembuat sistem,subyek dlm hal ini adlah anggota sekolah,obyek yaitu siswa,dn masyarkt(lingkungan). Semua slng berkaitan..dan mendukung satu sama lain..contohnya..formal education harus didukung dengan informal education.
Dan morality education yng bersl dari informal eduction tk cukup digodog di formal education..
Sekarang ini adl bukti bgaimana rendahnya morality education: bagaimana mencptakn para kuruptor,manusia2 yg tk th aturan,tk adny kepedulian,bertingkah semaunya,saling menjatuhkan…
Menjadi Urgen/dangarous ketika morality education terlupakan..mungkin tu base..knapa ko negara ini jadi kacau balau….
Salam,Sekolah murah hanyalah impian karena orang2^ kaya disini mementingkan perutnya saja.Kesadaran membantu sesama sangat minim meskipun putra2^ bangsa memiliki potensial besar disana.Mengapa orang kaya takut bangkrut hanya untuk menyelamatkan 1 anak saja
Bangsa indonesia dengan pola pemikiran seperti itu selamanya tak berkembang.Mengenaskan sekali bangsa kita punya catatan kriminal tertinggi dibanding negara eropa yang hampir tidak ada,semuanya itu produk dari orang2^ kaya tak peduli dengan sekitarnya
@Satriya: Eropa sebelum mencapai kemakmuran yang mereka nikmati selama ini, harus menumpahkan darah dan mengorbankan sekian juta nyawa manusia dulu. Mereka telah melampaui horor Perang dunia I dan II, dimana puluhan juta manusia tewas. Horor perang dunia tersebut, yang akhirnya menyadarkan mereka untuk membangun ‘welfare state’, dimana keadilan sosial dibangun untuk seluruh eropa.Pembangunan negara kesejahteraan adalah upaya mereka, supaya eropa selalu penuh perdamaian, melihat kedepan, dan meninggalkan masa lalu kelam mereka dengan horor perang dunia. Sebelum ‘welfare state’ digulirkan, di eropa juga hanya orang kaya saja yang bisa sekolah, terutama kaum bangsawan atau saudagar. Ini hanyalah sekedar insight, terutama untuk mengingatkan saya sendiri, bahwa sejarah Indonesia dan Eropa sangatlah berbeda.
Tidak semua negara maju catatan kriminalnya rendah. Amerika Serikat, di kota tertentu, memiliki catatan kriminal yang termasuk tertinggi di dunia. Agen FBI paling benci kalau ditugaskan di New York, sebab itu adalah kota dengan catatan kriminal yg termasuk paling parah di dunia. Uang kuliah di US, juga sangat mahal dan hanya bisa dijangkau orang kaya. Sementara jumlah beasiswa terbatas.
Biarpun negara kita tertinggal 100tahun Evolusinya dengan negara maju tapi semua itu dibypass dengan pendidikan,penegakan hukum yang jelas,lihatlah jepang jamannya kaisar meiji dan kalah PD2 cepat pulih,apalagi cina hanya 1malam menjadi raja ekonomi baru
Di negara kita jumlah orang kaya lebih banyak dibanding orang miskin maka jika sikaya banyak membantu simiskin negara sebagai fasilitator mungkin dalam 1malam negara kita seperti Cina.Lihatlah sikaya uangnya trilyunan dan simiskin cari makan aja susah
China melakukan sangat banyak pengorbanan untuk menjadi raja ekonomi baru. Apa yang mereka capai sekarang, merupakan pengorbanan dari nyawa jutaan orang. Sebelum mendapatkan kemakmuran seperti sekarang, pada tahun 50an, puluhan juta rakyat China meninggal karena kelaparan. Saat itu ada kesalahan mengenai perencanaan pembangunan pertanian mereka. China pernah mengalami horor revolusi kebudayaan, antara 1966-1976, dimana banyak intelektual dieksekusi, karena dituduh melawan Mao Tse Tung. Selengkapnya, Mengenai China, pernah dibahas di netsains, pada artikel:
http://netsains.com/2008/08/kepemimpinan-indonesia-masa-depan-perpaduan-timur-dan-barat-gaya-china/
http://netsains.com/2008/08/belajar-dari-jatuh-bangun-politik-dan-ekonomi-china/
Sementara, sebelum Jepang mengulirkan restorasi meiji, terjadi perang saudara antara pendukung modernisasi dan pendukung shogun. Pernah diabadikan di film ‘last samurai’ yg dibintangi Tom Cruise. Jepang memiliki pendidikan dan supremasi hukum yang sangat bagus, karena mereka melakukan konsolidasi terhadap kedua bidang itu pada jaman Tokugawa (Dari abad 16 masehi sampai restorasi Meiji di abad 19), ketika pengaruh barat dibatasi. Karena bebas dari pengaruh barat, mereka bisa mengembangkan kedua hal itu secara independen. Sementara Jepang mengalami keemasan kebudayaan di jaman Tokugawa, Indonesia mengalami penidasan dan perbudakan habis-habisan oleh imperialisme Belanda. Jepang sudah memulai pembangunan landasan hukum dan pendidikannya, ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka.
Di cina tanah,air,kekayaan alam milik negara jadi monopoli disana tidak ada dan kita pernah menjadi macan asia loh sebelum tikus makan uang negara dan mengapa kita tidak bisa bangkit lagi dan sikaya bantu simiskin masalah akan selesei menurut sunnah rasul