Simetri Otak Homoseksual Sangat Mirip dengan Lawan Jenis
Peneliti Swedia telah menemukan atribut fisis dari otak pria homoseksual, ternyata sangat mirip dengan yang ditemukan pada perempuan. Demikian menurut artikel yang diterbitkan secara online (Juni 16) di Proceedings of the National Academy of Sciences.
Beberapa tes psikologis telah menunjukkan perbedaan antara pria dan perempuan, sejauh mana mereka menggunakan belahan otak mereka dalam tugas-tugas verbal. Penelitian lain telah menunjukkan bahwa homoseksual bertendensi untuk terjadinya aktivitas otak seperti lawan jenis, namun tidak berhubungan dengan aktivitas seksual.
Asimetris
Ivanka Savic dan Per Lindstrom dari Departemen Neurosains klinis pada institut Karolinska di Stockholm, Swedia, sekarang melaporkan bahwa otak dari pria heterosexual dan perempuan homoseksual adalah sedikit asimetris. Belahan kanan lebih besar dari kiri. Namun otak dari pria gay dan perempuan tidak demikian.
Foto Positron emission tomography (PET) yang diambil oleh peneliti juga menunjukkan bahwa pada konektivitas amigdala (Bagian otak yang sangat penting untuk pembelajaran emosional), lesbian menunjukkan foto seperti pria, dan pria gay menunjukkan foto seperti perempuan.
Penelitian menganalisa otak dari 90 sampel, menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) untuk mengetahui volume otak dan data PET yang diperoleh dari studi sebelumnya. Salah satu penafsiran yang mungkin pada pola keterhubungan antara pria dan lesbian adalah amigdala digunakan untuk respon yang bersifat kerja fisik (’fight or fight’), demikian kata pengarang.
Diterjemahkan dari:
http://www.sciencedaily.com/releases/2008/06/080617151845.htm
foto:pemikiranislam.files.wordpress.com












Kalo Ryan Jombang gimana keadaan otaknya?
NO COMENT GITHU LOH………………………………………………………………………………………………………..
.da ga yang lebih jelas ttg heteroseksual????
aquu btuh banget tentang itu,soalnya aq ngrasaseperti itu!!!!!!!!!!!!!!!!!
penelitian seperti itu dilakukan dilakukan oleh researcher dari
spesifikasi keilmuan apa ya? apakah kedokteran psikologi(jika memang ada), ahli syaraf otak(atau apapun namanya yang berkaitan dengan analisis kerja otak..)
atau kolaborasi berbagai bidang keilmuan?
saya pikir riset spt diatas menarik karena selain melbatkan sains, aspek sosial juga dominan dibutuhkan. sy minim pengalaman riset namun tertarik dengan aspek pengolaborasian ilmu sains dan sosial dalam kasus ini.