Siapa paling menderita jika krisis ekonomi mendera? Kalau versi Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick, krisis ekonomi global dapat sangat merugikan penduduk miskin di negara-negara berkembang. Bank Dunia menaksir harga pangan dan energi yang tinggi telah mendorong 100 juta orang lagi ke lembah kemiskinan tahun ini saja.
Agaknya Zoellick tak pernah turun ke lapangan seperti saya, sesama rakyat jelata Indonesia, negara yang katanya berkembang tapi kerap disandingkan dengan sejumlah negara miskin Afrika dalam sejumlah literatur yang saya baca. Sebab nyatanya, orang miskin itu tak kena dampak apapun atas krisis ekonomi global. Siapa rakyat miskin yang saya maksud? Mereka adalah gelandangan, pengemis, pengamen, anak jalanan, yang tak punya tempat tinggal, tak sekolah, dan entah bagaimana masa depannya.
Adakah artinya nilai rupiah anjlok atau bahkan terjadi devaluasi sekalipun bagi mereka? Apakah jika dolar turun maka mereka akan bisa kuliah dan berbelanja di butik mahal? Apakah jika rupiah anjlok, mereka akan mati bunuh diri? Tidak. Bagi kalangan orang seperti mereka, krisis atau tidak krisis sama sekali tak ada artinya.
Siapa Si Miskin?
Justru yang kena dampak paling heboh dalam situasi krisis adalah kalangan menengah. Kalangan yang dibilang kaya tapi masih naik turun bis kota dan tersiksa macet, terancam copet dan penodong. Tapi tak bisa disebut miskin, sebab mereka bisa mengecap pendidikan tinggi, memiliki laptop dan ponsel, sesekali menikmati Starbucks. Ini yang saya sebut sebagai kalangan “nanggung”.
“Kalau orang kaya, saat krisis begini gampang saja, tinggal alokasikan kekayaannya ke properti atau emas atau dolar, agar bisa selamat. Nah kita, tabungan cuma beberapa juta doang, boro-boro mau beli properti atau emas, diambil sekarang juga langsung habis,” keluh seorang teman yang masuk golongan nanggung itu.
Mungkin kita perlu lebih menjelaskan apa yang dimaksud dengan “orang miskin”. Pada pidato kenegaraan 18 Agustus lalu, Presiden SBY dengan bangga mengatakan bahwa populasi rakyat miskin sudah bisa ditekan. Saya kok seperti mendengar lawakan Srimulat, sebab faktanya anak-anak jalanan yang berkeliaran mengamen di jam sekolah kian membludak. Copet, preman, pengangguran, berita kriminal, kian marak menghiasi hidup keseharian.
Saya tertawa geli membaca tulisan di bawah ini.
Bank Dunia dan Bappenas mencatat, penduduk miskin turun separuh sejak 1997, sampai 2003. Pada 2003, Bappenas mencatat, jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan tinggal 17,4% dari total orang miskin sebanyak 37,3 juta orang. Survei Bappenas ini memakai standar internasional, yaitu penduduk yang mempunyai pendapatan kurang dari US$ 1 per hari, dan patokan harga-harga yang dipakai adalah saat krisis pada 1998.(Tempo).
Kenali “Musuhmu”
Jadi, siapa saja yang berpendapatan lebih dari 1 dolar AS sehari adalah orang kaya? Hei, 1 dolar AS itu kini hanya sekitar Rp. 9000-10.000. Ok, kita bulatkan saja jadi Rp.10.000. Jika dikalikan 30 hari artinya Rp.300.000. Berarti Bappenas mengategorikan mereka yang berpenghasilan Rp.301.000 per bulan adalah orang kaya? Apakah orang Bappenas tahu bahwa untuk mengontrak rumah sederhana saja paling tidak butuh Rp.250.000. Sisanya Rp.50.000 harus cukup untuk makan sebulan dan itu artinya dia sudah kaya? Apakah orang Bappenas mau digaji Rp.310.000 dan dianggap sudah kaya??? Serendah itukah kualitas hidup manusia Indonesia?
Bagaimana pemerintah bisa memperbaiki kondisi rakyat kita, jika mendefinisikan orang miskin saja tidak sanggup? Lalu bagaimana dengan gelandangan dan pengemis di kolong jembatan yang bahkan bisa jadi penghasilannya lebih dari Rp.300.000 sebulan tapi tetap tidak masuk kategori miskin versi pemerintah?
Kabarnya kemiskinan adalah musuh bersama yang layak diperangi. Tapi untuk mengenali musuh itu sendiri saja pemerintah tidak mampu. Ironis!
referensi:
www.voanews.com/indonesian/2008-10-13-voa7.cfm
www.tempointeraktif.com
Foto:arydwantara.files.wordpress.com
Artikel ini merupakan bentuk partisipasi Netsains.com dalam Blog Action Day 15 Oktober 2008 bertemakan: Stand Against Poverty. Untuk mengetahui info kegiatan ini lebih lanjut, silakan kunjungi http://www.standagainstpoverty.org/ atau http://blogactionday.org



(2 suara, nilai: 4,50 ⁄ 5)

ya, aku ingin bertanya tentang itu. aku membaca bahwa Bank Dunia menetapkan pada tahun 2008 bahwa disebut di bawah garis kemiskinan kalau pengeluaran sehari < $1.25. Darimana dia dapat angka itu ya? Setelah melihat-lihat situs cara menghitung kemiskinan, malah tambah heran, karena hasilnya kecil-kecil.
Ha ?
Ternyata tolok ukurnya kayak gitu ya ? Wah, saya orang kaya donk
Hmm, kalo yang miskin pengeluaran sehari-hari $1 sama dengan orang kaya. Ini kok gak masuk akal blas… Apa mungkin ada hitungan lain yang menyusul. Misal UMR atau gimana ?
siapa sebenarnya yang miskin????? Pemerintah INDONESIA atau rakyatnya?????
sudah saatnya pemerintah untuk meninjau langsung realitas di lapangan, jangan selalu berdasar pada data di atas kertas, kemiskinan bukan sekedar di atas kertas bung!, kemiskinan adalah realitas yang menjadi musuh bersama. idealitas tak selalu sama dengan realitas, pertarungan das sein versus das sollen akan selalu terjadi….
miris juga y
mungkin pak presiden bisa ngomong kek gtu gara2 tiap hari jalan yg dilewatin bebas dari pengamen dan anak2 jalanan
ato mungkin juga pak presiden blm pernah tau biaya kontrak rumah dan biaya makan sebulan berapa
belom ditambahi biaya pendidikan
jd yg hrs diberesin dulu yang mana ini
yang menyebabkan kemiskinan itu apa sich? kalaw g ada orang miskin apakah pejabat negara itu mampu melakukan segala hal yang menyangkut kebutuhanya sehari-hari. DARI MAHASISWA JURUSAN USHULUDDIN/FILSAFAT/III.PALU SULTENG .
yup, setuju dengan judul, sebenarnya sih ini bukannya krisis kaum miskin, tapi menengah dan atas, kenapa kaum kaya juga krisis? karena keuntungan berkurang dan resiko bertambah.
BAPENAS kan kerja untuk kepentingan pemerintah, maka gak heran kalau mereka menetapkan angka > 300rb udah ga masuk miskin, karena pemerintah mau dinilai berhasil kan? supaya bisa dipilih lagi dalam PEMILU khan…(JAHAT YA !)
Mereka memang pemerintahan yang tidak beruntung, baru lunasi utang ke IMF, sekarang dalam ancaman untuk “terpaksa” minjem lagi, mengingat kita adalah bangsa pengecut yg rakus & gampang dipecah belah, maka pasti menghutang lagi untuk menyelamatkan kaum kaya & menggembungkan kantong dari para pembuat keputusan untuk hutang, karena dari setiap hutang/kredit pasti ada komisi.
ALUMNI FAKULTAS HUKUM NOMMENSEN-MEDAN
wah bingung juga ya menetapkan batas miskin atau nggak miskin masalahnya saat ini kebanyakan pejabat pun ketika di katakan kaya kok masih kurang saja, buktinya banyak yang tertangkap korupsi.sebaliknya anak jalanan dan pengamen yang di katakan miskin buktinya mereka cukup puas dengan penghasilannya yang hanya 20.000 per hari.kalau tolak ukurnya penghasilan minimal 310.00 coba kita kalkulasikan penghasilan anak jalanan yuk!!!.20.000 x 30 = 600.000, wah keren mereka termasuk klasifikasi kaya.oh jadi ini alasan pejabat melakukan korupsi…pasti mereka memandang bahwa anak jalanan sudah kaya.so uang bantuannya mending buat kantong pribadi aja.
angka pertumbuhan ekonomi & pendapatan nasional bruto tidak dapat lagi dipakai sebagai ukuran untuk kesejahteraan rakyat, sebab tidak dapat mencerminkan pemerataan pendapatan, buktinya hanya segelintir orang/ perusahaan yang bangkrut, menyeret seluruh dunia ke dalam kebangkrutan berjamaah (massal).
Teori “tetesan ekonomi” tidak efektif dipakai sebagai acuan, sebab yang “disedot” & di miskinkan (menjadi korban dalam pembangunan ekonomi yang dinikmati sedikit orang) jauh lebih besar daripada yang “menetes” kembali.
PANCASILA : 1. Keadilan sosial bagi rakyat Indonesia
2,3,4,5. idem (mengacu pada situasi kekinian yang tidak berkeadilan sosial).
miskin…..tergantung darimana kita melihatnya, miskin adalah mereka yang selalu merasa kurang dan terus meminta!
kalo menurutku orang kaya adalah mereka yang bisa membagikan
sesuatu kepada lingkungannya, bisa berupa ide,tips yang membantu orang lain, jasa, bantuan tenaga,
maupun pertolongan yang bersifat fisik (uang/barang)
jadi kalo ada pejabat korupsi ya memang mereka pada dasarnya
miskin……..miskin berkali-kali ! mereka biasa meminta-minta dari orang-orang yang berpotensi dari pengurusan KTP sampai project yang nilainya triliyun rupiah
…….miskin…..miskin berkali-kali
berbahagialah mereka yang bekerja keras mencari nafkah secara halal dengan berpeluh keringat, bukan dari meminta-minta, meskipun pendapatanper harinya tidak segede pengemis jalanan, namun bisa mensyukuri rezeki yang dilimpahkan Allah swt
ah, tolak ukur bapenas ttg pengertian kemiskinan itu salah, seharus nya perbandingan antara Pendapatan dan pengeluaran dalam satu bulan.apa bila $1 perhari itu hanya bisa beli nasi bungkus 1 buah,tuk makan pagi
jadi kbutuhan lain nya