Beranda > Artikel > Kloning Hewan untuk Bahan Pangan?

Kloning Hewan untuk Bahan Pangan?

Jumat, 10 Oktober, 2008 oleh Merry Magdalena

Kloning hewan, untuk apa kita membutuhkannya? Sebagian besar orang Eropa menerima kloning untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan. Sebanyak 67% beralasan kloning bermanfaat melindungi spesies yang langka. Survei yang dilakukan Eurobarometer ini juga menyatakan bahwa 84% orang tak tahu apa dampak jangka panjang dari kloning.

Hasil polling ini akan membantu para pengambil kebijakan Uni Eropa memahami lebih banyak tentang sikap masyarakat. Mereka juga mempertimbangkan masukan dari European Food Safety Authority (EFSA) tentang keamanan pangan dan European Group of Ethics (EGE) tentang etika.

“Komisi tengah memproses semua analisa tersebut sebelum memutuskan tindakan penting apa yang akan diambil,” jelas Androulla Vassiliou, komisioner kesehatan Uni Eropa. Kloning hewan adalah teknologi menantang di AS dan Eropa untuk meningkatkan kebutuhan pangan. Bahan pangan dari hewan kloning bisa masuk dalam rantai makanan di seluruh dunia. Sampai kini sudah ratusan hewan dikloning. Jerman dan Inggris termasuk negara yang mendukung tindakan kloning.

Masih berdasarkan survei, sebanyak 57% responden berpendapat bahwa kloning hewan akan menghindarkan hewan ternak dari penyakit. Sedangkan 86% mengatakan bahwa industri makanan akan mendapat keuntungan dari teknologi kloning.

Tapi rencana melakukan kloning demi memenuhi kebutuhan pangan ini ditentang habis-habisan oleh kalangan aktivis lingkungan, Eurogroup for Animals. Mereka menyerukan agar Uni Eropa melarang kloning hewan sebagai sumber pangan manusia.

Diterjemahkan secara bebas dari Reuters.

Foto:.npr.org

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Merry Magdalena
Penulis: Merry Magdalena
Tanggal: Jumat, 10 Oktober, 2008
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Ia adalah moderator milis Technomedia yang membernya sejumlah pakar TI, pengamat Iptek, jurnalis, bahkan Menristek dan Menkominfo. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Konsennya terhadap dunia Iptek melahirkan Netsains.com yang dirintisnya bersama teman-teman. Kini ia sedang berusaha keras menyelesaikan beberapa buku lagi sembari terus menjadi jurnalis dan mengelola Netsains.com dan www.qbheadlines.com.

Tulisan Terkait:

Banner

6 Komentar untuk “Kloning Hewan untuk Bahan Pangan?”

  1. kloning hewan untuk mengatasi krisis pangan? apakah bukan menambah krisis? melihat berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan kloning, perlu diketahui Dr.Wilmut sebagai ketua tim kloning domba dolly memerlukan percobaan 277 kali untuk bisa menciptakan Dolly itupun sekarang sudah mati coba berapa klo dirupiahkan??daripada untuk kloning mendingan yang jelas-jelas aja nanem singkong ke, atau tanem jagung kan sudah pasti, ya Ngak…

  2. Keuntungan bila pangan menggunakan kloning tentu ada di segi pembiakan.
    Dengan kloning waktu pembiakan dapat ditekan (tidak perlu mengawinkan, menunggu masa hamil,dll), serta peternak tidak perlu repot2 mengawinkan ternaknya dan mengurusi lahiran ternaknya tersebut
    kalau memang biaya untuk kloning bisa ditutup oleh penghematan2 ini… kenapa tidak?

    *tapi kalau anak hewan hasil kloning yang menyusui siapa ya?*

  3. masa’ bisa sih? nanti ta tnya ke dosen q aja. biar lebih jelas.

  4. klo hubungannya kloning sama perkembangan tekhnologi?
    pa dengan perkembangan tekhnologi suatu saat nanti bisa mengkloning manusia?gimana caranya?

  5. kalau hasil kloning untuk bahan pangan di tentang oleh aktivis lingkungan,eurogroup for animals,kenapa di teruskan,emang apasih dampak lingkungan dari hasil kloning?

  6. klo hasil kloning untuk tanaman sih aku setuju tapi tuk hewan aku takut dalam agama gak boleh soalnya diambil dari bagian tubuhnya…

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>