Beranda > Artikel > Sertifikasi: Pemasung Kreatifitas dan Pembunuh Usaha Kecil

Sertifikasi: Pemasung Kreatifitas dan Pembunuh Usaha Kecil

Rabu, 17 September, 2008 oleh Onno W. Purbo

Pernahkah Anda bayangkan bahwa mouse bluetooth, keyboard bluetooth, handsfree bluetooth yang Anda gunakan ternyata dinyatakan baik, tidak memenuhi standard hanya karena alasan belum di sertifikasi? Yang lebih seru lagi, tampaknya, antena Wajanbolic e-goen dan RT/RW-net yang merupakan kreatifitas bangsa Indonesia sebagai jawaban solusi untuk memperoleh Internet murah tampaknya harus di bunuh di Republik Indonesia karena alasan sederhana, tidak miliki sertifikasi dan tidak memiliki lisensi, entah kalau di Republik tetangga kita, Republik BBM. Sedihnya, tidak ada solusi yang diberikan oleh pemerintah agar bangsa Indonesia dapat mengakses pengetahuan melalui Internet secara murah, sementara solusi rakyat di “Munir”-kan.

Sertifikasi yang Menghambat?

Sejak beberapa tahun lalu, dan terakhir beberapa minggu lalu, sweeping lumayan sering dilakukan, berbekal aturan tertulis yang mengharuskan menggunakan manual bahasa Indonesia; sertifikasi semua peralatan telekomunikasi dam wireless termasuk Bluetooth, WiFi, modem; belum lagi lisensi jasa telekomunikasi, cukup banyak toko-toko komputer, distributor peralatan elektronik, di kota besar, Surabaya, Makassar dan lain-lain harus gigit jari karena banyak barang-nya yang berupa laptop, handycam, modem dan lain-lain. ambil, di sita untuk “menyelamatkan” barang bukti . Janganlah terlalu berharap barang akan kembali setelah di “selamat” kan. Tidak heran keresahan ini akhirnya menutup beberapa Mall elektronik dan mematikan perputaran uang dunia ICT.

Belakangan, keresahan masyarakat ICT Indonesia mulai timbul lagi karena urusan sertifikasi alat. Bayangkan Wajanbolic e-goen yang harganya hanya Rp. 250-350.000,-, dengan keuntungan yang hanya Rp. 10-20.000 / wajanbolic tampaknya mulai harus di sertifikasi ke pemerintah dengan biaya Rp. 4-5 juta / model. Apa tidak pusing orang-orang kreatif IT & usaha kecil IT yang ada di bawah sana. Mana mungkin keuntungan yang hanya Rp. 10-20.000,- / alat dipakai untuk sertifikasi alat ke pemerintah. Untuk ojek saja sudah habis, belum ongkos ke Jakarta.

Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa proses penyebaran pengetahuan, memberikan ilmu tentang Wajanbolic dan Internet murah menggunakan teknologi Wireless dan RT/RW-net kepada masyarakat walaupun tampak sederhana, semua membutuhkan banyak waktu, effort yang lamanya bertahun-tahun, tidak kurang dari 10 tahun untuk menyebarkan ilmu ini kepada masyarakat. Sampai tumbuh industri-industri kecil pendukung kebutuhan RT/RW-net yang menggunakan investasi rakyat kecil membuka lapangan kerja, tanpa utangan IMF, apalagi Bank Dunia, bahkan tanpa melalui BLBI yang bermasalah.

Membunuh Rakyat Kecil

Hanya di republik ini, usaha rakyat kecil yang tampaknya kumuh, harus mati dalam waktu beberapa hari saja, dengan alasan penegakan hukum yang entah berpihak pada siapa. Memang sih, rakyat kecil tidak mampu lah untuk mengikuti standard dunia yang harus mensertifikasi semua produknya dengan biaya Rp. 4-5 juta / model.

Secara filosofis sebetulnya agak aneh, filosofi pengaturan frekuensi dilakukan agar tidak terjadi interferensi & pemakaian bersama yang sehat. Lha ini peralatan bluetooth jelas-jelas hanya mampu untuk jarak 10 meter, sementara USB Wifi yang digunakan untuk wajanbolic hanya 60-an miliWatt, apakah ini masih perlu di atur padahal jelas-jelas sangat kecil dayanya? Jelas-jelas tidak menimbulkan interferensi, apa masih perlu di sertifikasi? Kalaupun karena aturan tertulis yang ada mengharuskan, apakah tidak mungkin ada skema bantuan untuk sertifikasi bagi usaha kecil? Atau memang industri rakyat yang kumuh harus di tindas? Entahlah.

Naga-naganya pemerintah juga jauh lebih tahu yang baik dan buruk bagi rakyat? Bukan mustahil akan ada sertifikasi halal, bebas pornografi, bebas SARA, bebas Asusila, bebas pencemaran nama baik bagi content Internet di Indonesia. Jangan main-main situs anda akan di bredel, juga WARNET anda, juga ISP anda, juga jasa hosting anda, juga RT/RW-net anda, juga sekolah, juga kampus, jika tidak halal, jika tidak bebas pornografi! Memang sih, semua orang tua yang mempunyai anak di bawah umur akan suka akan hal tersebut. Yah, semoga tidak salah bredel, dan yang lebih penting tidak salah blokir.

Peran Tuhan

Semoga pemerintah tidak kebablasan dalam melakukan sertifikasi baik dan buruk, tidak kebablasan dalam menggunakan wewenang yang ada di UU ITE yang baru di sertifikasi. Walaupun, rasanya sih tidak ada tulisan di UU ITE yang menyatakan bahwa Pemerintah mempunyai hak untuk memblokir situs, entahlah saya hanya rakyat biasa, kemungkinan pemerintah yang lebih tahu. Seperti kita tahu bersama, kesalahan blokir yang baru lalu berakibat fatal, bukan pujian tapi makian, cercaan, hinaan yang akan berhamburan di dunia maya. Silahkan dicek di Google dengan keyword “blokir situs”. Memang, mengambil peran “Tuhan” menentukan mana yang baik, mana yang buruk tidak gampang, salah-salah tergelincir menjadi “Firaun”.

Perlu kita sadari bersama bahwa masyarakat Internet rata-rata berpendidikan tinggi, umumnya bukan orang yang bodoh atau mudah di bodohi. Jangan salahkan masyarakat Internet jika rakyat / masyarakat Internet tidak berpihak pada pemerinta karena pemerintah mengambil keputusan yang salah. Kesalahan yang mungkin menzolimi rakyat-nya sendiri, yang mungkin berakibat tidak baik, misalnya, memblokir situs yang baik, memasung kreatifitas, membunuh usaha kecil.

Ada baiknya kita merenungkan bersama – sebetulnya rakyat butuh pemerintah? atau pemerintah butuh rakyat?

Hati-hati 2009 sudah dekat, suara rakyat yang tertindas biasanya akan dahsyat effek-nya. Walaupun pasti akan kalah dahsyat dengan pembalasan di hari akhir nanti.

Hidup Wajanbolic e-goen! Hidup RT/RW-net! Hidup Rakyat! Mari kita lanjutkan perjuangan untuk memandaikan bangsa ini. Merdeka!

Pernah dimuat juga di http://opensource.telkomspeedy.com

foto: searchenginecollege.com

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(1 suara, nilai: 5⁄5)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Onno W. Purbo
Tanggal: Rabu, 17 September, 2008
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori: ,

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Siapa yang ngga tau siapa Onno? Ayo angkat tangan! Nah yang angkat tangan adalah korban kesenjangan digital yang layak dikasihani. Hehehe. Duh googling aja nama Onno W Purbo. Pasti segambreng deh informasi tentang lelaki kocak yang ulangtahunnya kita rayakan bersama dengan Hari Kemerdekaan Indonesia ini.

Tulisan Terkait:

Banner

6 Komentar untuk “Sertifikasi: Pemasung Kreatifitas dan Pembunuh Usaha Kecil”

  1. Pak sanya sangat setuju bapak memihak rakyat IT
    Namun banyak juga orang tua yang Butek yang khawatir ttg masa depan anaknya yg Meltek kena pengaruh kemajuan teknologi.
    dengan adanya blokir yg se bajubun banyaknya memang tentu ada kesalahan.
    yang penting bagi pemerintah adalah bagaimana caranya bisa duduk bersama memecahkan kekawatiran rakyatnya.

  2. Wah tambah ngak jelas aja dong, pa Onno P apa sih gunanya sertifikasi ? apakah dengan setifikasi ada jaminan untuk melindungi suatu produk di dunia perdagangan yang keras dan kejam kalau benar disinyalir seperti itu berarti tidak membunuh kreatifitas, bahkan memperkuat kaum lemah.
    Kalau sebaliknya, saya setuju itu akan membunuh kreatifitas dan ide inovatif dari masyarakat kebanyakan.
    Sebenarnya apa sih definisi sertifikasi itu sendiri, serta apa tujuan sertifikasi itu sendiri ?
    Kenapa pemerintah terlalu jauh mencampuri dunia kreatif dan inovatif, baru saja digalakkan kepada masyarakat dengan susah payah dilakukan sosialisasi apa itu kreatif dan inovasi, kemudian transfer pengetahuan yaitu berupa menggalakkan paten teknologi yang kadaluwarsa ke kalangan UKM, eh sekarang justru mulai akan dicegat dengan sertifikasi untuk memasung kreatifitas masyarakat kecil.
    Pa Onno apakah ini bukan grand-design negara2 maju untuk menghambat negara2 yang sedang berkembang ? apa takut lahir kekuatan ekonomi dan teknologi baru, jika kita menguasai pengetahuan maka kita akan unggul dalam persaingan global yang akan datang.

    salam
    bambang setiarso

  3. Memang sertifikasi merupakan pedang bermata dua.
    Di satu sisi untuk menjamin sebuah kualitas.
    Di sisi lain, konsekuensi sebuah sertifikasi & akreditasi adalah mempersempit ruang untuk berkreasi & berinovasi.

    Sayangnya birokrasi lebih suka untuk bertahan / memfokuskan dengan sebuah standard kualitas. Konsekuensi yang akan di tanggung adalah mematikan kreatifitas & innovasi.

    Dalam persaingan global saya lihat justru yang non-standard yang akan menang :) … saya sendiri banyak di undang ke Thailand, Malaysia, Afrika justru untuk mengajari mereka hal-hal yang tidak standard
    misalnya 4G, NGN, VoIP :) .. yang di negara-nya di pasung juga oleh pemerintah .. nah tinggal sekarang pemerintah Indonesia berani mengambil sikap aja .. mau ngotot dengan standard atau berani melindungi rakyat-nya untuk berkreasi ..

  4. disini dikatakan bahwa trends nya kearah non-standard kemudian anda diundang beberapa negara untuk mengajari hal2 yang tidak standard ==> sebenarnya gerakan apa dibalik ini ? apakah sudah ada kejenuhan di negara2 berkembang atas penjajahan gaya baru yaitu berupa standard atau suatu gerakan anti standard ?
    juga pernah terdengar dulu, juga anda salah satu pelopornya copy-left vs copy-right kalau ngak salah.
    sedangkan penggalangan di Indonesia yang akan anda lakukan apa kedepan ?, jika pemerintah Indonesia tetap ngotot dengan standard yang menurut anda sangat memasung kreatifitas dan inovasi di kalangan masyarakt.

  5. dengan perjalanan waktu biasanya akan di temukan cara yang lebih effisien & lebih murah .. tapi dalam perioda tersebut cara / metoda tersebut biasanya tidak standard, tidak mengikuti pakem, tidak mengikuti aturan .. itu barangkali gambaran sederhana dari pertanyaan “sebenarnya gerakan apa dibalik ini?”

    untuk pertanyaan “penggalangan di Indonesia yang akan saya lakukan?” Saya mungkin gak terlalu menggalang apa-apa :) .. saya seorang engineer, seorang peneliti .. kebetulan tahu bahwa ada metoda / cara / solusi murah dalam teknologi informasi. Saya hanya memposisikan diri saya untuk menulis & menyebarkan ilmu tersebut kepada masyarakat melalui tulisan & buku-buku saya .. sesederhana itu.

    Kalau masyarakat bisa menerima, bisa membangun & bisa merasakan manfaatnya .. ya syukur Alhamdullillah ..
    Kalau banyak negara tetangga yang bisa merasakan manfaatnya ya syukur alhamdullillah .
    Kalau nanti pemerintah juga mau mengadopsi teknologi tersebut
    ya syukur alhamdullillah ..

  6. terima kasih pa Onno atas pencerahannya, selamat berjuang untuk mencari solusi TI yang paling murah sehingga terjangkau pada masyarakat yang terbawah, sehingga masyarakat yang tidak sekolah karena bayar mahal, bisa memanfaatkan e-learning utnuk memperdalam pengetahuan mereka. semoga

    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1429 H
    Mohon Maaf Lahir dan Batin

    B.Setiarso @ Kel.

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>