Beranda > Artikel > Salah Kaprah dalam Pelafalan Bahasa Indonesia

Salah Kaprah dalam Pelafalan Bahasa Indonesia

Selasa, 30 September, 2008 oleh M. Purna Dewansyah Saputra

Sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia mengalami tahap-tahap yang sangat penting dalam sejarah perkembangannya. Dimulai dari 1901, disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. Van Ophuysen dalam Kitab Logat Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia. Pada 1928 Bahasa Indonesia diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan. Kemudian tahun 1942 kedudukan bahasa Indonesia semakin kokoh akibat kekalahan belanda terhadap Jepang, yang secara otomatis bahasa Belanda tidak boleh dipergunakan lagi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam situasi resmi. Tahun 1945 Bahasa Indonesia memperoleh kedudukannya yang lebih pasti sebagai bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa kesatuan dan bahasa negara. Kemudian, dengan penetapan pemakaian ejaan baru oleh Presiden RI tanggal 16 Agustus tahun 1972, selangkah bahasa Indonesia maju menuju kesempurnaannya. (Lihat J.S Badudu.1985)

Melihat sejarah perkembangan bahasa Indonesia yang hampir mencapai satu abad, ternyata bukanlah hal yang mudah untuk menyempurnakannya dan menjaga dari pengaruh-pengaruh bahasa-bahasa lain (asing). Bahasa Indonesia masih belum cukup dewasa menahan gempuran dari bahasa-bahasa asing yang selalu mempengaruhinya. Selain ketidakmampuaannya dalam menahan gempuran, bahasa Indonesia juga masih ada yang terjadi salah kaprah penggunaanya, yang kali ini penulis coba mengangkat kesalahkaprahan bahasa Indonesia, dari segi cara pelafalan membaca akrostik dan akronim.

Bahasa Indonesia dari segi pembacaan kata akrostik dan akronim masih banyak-apakah karena sengaja atau karena sudah menjadi kebiasaan- yang salah kaprah. Ada beberapa kata yang pelafalannya kita menyesuaikan dengan lidah melayu, namun ada juga yang sedikit menggilitik lidah kita pelafalannya mengikuti dari kata aslinya –maksudnya bahasa asing- yang secara tidak sadar kita menganggap bahwa itu adalah pelafalan lidah orang melayu, khususnya orang Indonesia. Berikut akan penulis coba berikan contoh, mudah-mudahan menggugah hati anda.

Antara TV dan TVRI

Dalam pengucapannya, kita mengucapkannya dengan gaya pelafalan ejaan bahasa Inggris. TV (baca: tivi) mengapa kita tidak melafalkannya ‘teve’. Bukankah dalam bahasa Indonesia fonem t dibaca ‘te’ dan fonem v dibaca ‘ve’? Mungkin jika ingin membeli TV dan melafalkannya dengan ‘teve’ sudah pasti kita akan ditertawakan. Namun, ketika melafalkan nama stasiun TV pemerintah ‘TVRI’, kita melafalkannya dengan te-ve-er-i- bukan ti-vi-ar-ei-. Bagaimana menurut Anda, apakah benar? Hal ini sudah memasyarakat pada pengguna Bahasa Indonesia, suatu kesalahan yang sudah menjadi anggapan benar.

KFC dan A&W

Begitu juga dengan pelafalan dua merek dagang makanan dari luar negeri ini. KFC dan A&W. Kita melafalkan KFC dengan ka-ef-ci sesuai dengan pelafalan bahasa Inggris. Namun, ketika bertemu dengan merk dagang yang berbeda namun asalnya sama kita melafalkan A&W dengan pelafalan lidah melayu -a- dan –w-. Mengapa kita tidak melafalkannya sama seperti melafalkan KFC. Baca saja A&W dengan (Ei and doble yuu). Kini gilirannya, jika melafalkan demikian –ei and doubleyuu-, bisa jadi kita dibilang katrok oleh orang yang mendengarnya.

DVD dan VCD

Pelafalan DVD dan VCD Orang indonesia melafalkannya bukan (de-ve-de) tetapi (di-vi-di) Mengikuti pelafalan bahasa inggris. Begitu juga dengan VCD dilafalkan dengan vi-ci-di.

Handphone (HP)
Pada alat elektronnik yang satu ini pun kita juga salah kaprah. Mengapa pada pelafalannya kita tidak melafalkan dengan lidah Inggris. HP dibaca (eitch-pi). Tapi dalam kesehariannya kita melafalkan HP (hape). Bagaimana menurut Anda?

Tetapi walaupun demikian, tidak semua pelafalan dalam bahasa indonesia yang diserap dari bahasa asing menjadi salah kaprah. Satu contoh yang tepat, computer yang dalam bahasa Inggris dibaca –kompiyuterr-, tetapi dalam bahasa Indonesia diserap komputer, pelafalannya pun menjadi komputer. Sesuai dengan lidah orang Melayu bukan?

Melihat adanya kesalah kaprahan yang terjadi, semoga kita tidak semakin manambah kesalahan yang sudah ada. Belajarlah dari kesalahan. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga, badan, departemen atau sejenisnya yang menangani masalah kebahasaan, tetapi ini juga menjadi masalah kita sebagai masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Untuk ke depannya semoga dalam proses penyerapan bahasa asing kita tidak salah kaprah lagi.

Foto: extremusmilitis.files.wordpress.com

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Banner

18 Komentar untuk “Salah Kaprah dalam Pelafalan Bahasa Indonesia”

  1. Orang Belanda juga gitu, bilang DVD ya De-Ve-De, bilang CD ya Se-De.
    Orang kita aja yang malu bilang gitu, takut dikira ga fasih berbahasa Inggris.

  2. Bahasa adalah bunyi yang diberi arti…makna bahasa adalah tersampaikannya suatu maksud…mengenai pelafalan…mana yang enak untuk diucapkan ya itu yang dipergunakan…

  3. Fenomena ‘pencampuran bahasa’ tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal demikian juga terjadi di negara maju, contohnya Denmark. Rata2 orang Denmark menguasai bahasa Inggris dan Jerman sekaligus, namun kadang suka mereka campur aduk. Contohnya, kalau orang Denmark mau minum, mereka suka berkata, ‘I want to trink beer’. Ini pencampuran bahasa, sebab kata ‘trink’ adalah bahasa jerman, namun seharusnya ‘drink’ dalam bahasa Inggris. ‘Trink’ dan ‘Drink’ memiliki arti yang sama. Jangan salah..Orang Inggris sendiri juga suka mencampurkan bahasa mereka. Kata-kata seperti ‘coup d’etat’, ‘raison d’etre’ dan ‘rendez-vous’ sering mereka gunakan secara mentah-mentah tanpa ekivalensinya di bahasa mereka sendiri, apalagi Bahasa Perancis adalah bahasa asing yang paling populer di Inggris.

  4. kita tidak sharusnya menggembar gemborkan bagaimana fenomena pencampuran,kesalah kaprahan ato ntah apa lah itu,,,
    tujuan kita umummya berbahasa kan untuk menyampaikan sesuatu dengan tujuan kita saling mengerti n tujuan berbahasa itu tercapai,,,,,
    nah bahasa yang telah d pakai d masyarakat itu secara tidak langsung udah jadi ksepakatan untuk d pakai,
    apa kita harus berkiblat ama bangsa barat terus ?>
    toh menurut saia bangsa barat juga banyak bahasa nya yang mengandung pencampuran k bahasa lain,,,

  5. Bahasa Melayu sendiri sebagai bahasa awal dari Bahasa Indonesia menyerap banyak kosa kata dari Jawa dan Arab. Dan, bahasa ya bener memang sebagai alat untuk menyampaikan buah fikir. Tapi kita tau ada kaidah dan rambu yang sepatutnya dihargai dan ditaati. Dalam bahasa tulis misalnya, satu kata yang berasal dari unsur serapan dan kata itu belum sangat populer ditulis menggunakan huruf miring. Dan bila kata itu ingin diserap ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Indonesia diupayakan penulisannya sama dengan cara membacanya.

    Janagan baca drumban (drum band) untuk dramben. atau sebaliknya!

  6. saya pernah dengar dari temen yang kerja di BPK, akibat sering nya mencampur adukkan bahsa serta minimnya pengetahuan tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar akibatnya laporan kerja anggota BPK sering menggunakan kaidah bahasa yang tidak baku Ketua BPK sampai “nyindir setengah ngomel kalo anggotanya” mau dikursuskan bahasa Indonesia yg baik dan benar, jadi memang baiknya dari sekarang dibiasakan berbicara sesuai kaidah yang benar supaya kalo sudah masuk instansi pemrintahan gak kena sindir sama atasan…kan malu. gelar saja sarjana tapi bahasa Indonsianya minus.

  7. Saya bukannya mengharapkan Indonesia meniru barat. Itu juga salah. Tapi mengambil kebijakan chauvinistik, seperti yang dilakukan Perancis dengan polisi bahasanya, menurut saya juga kurang tepat. Mungkin lebih baik kita nonton bersama film ‘last samurai’ saja. Disitu digambarkan, bagaimana sejarah Jepang modern melakukan westernisasi, dengan tetap mempertahankan budaya dan bahasanya. Kaisar Meiji habis habisan belajar bahasa Inggris, dan mengimpor sains/teknologi barat. Namun disisi lain, dia mengarang 10.000 bait puisi jepang tradisional. Juga, kalau kita perhatikan pidato-pidato Bung Karno, beliau kan sangat sering menggunakan istilah asing, mulai bahasa Belanda, Jerman, Perancis, atau Inggris, yang memang beliau kuasai. Bukan berarti kalau Bung Karno melakukan pencampuran bahasa, beliau tidak nasionalis kan? Beliau adalah proklamator kita lho!…Hehehe

  8. menurut saya bahasa itu tergantung penggunanya…
    kalau pengguna maunya menyebut dividi ya jadi dividi lah bahasa itu…
    dan kalau tidak salah yang termasuk bahasa indonesia itu kan yang masuk KBBI bukan… kan disana ada cara pembacaannya tuh…
    sedangkan DVD, VCD, USB, KFC, dan lain-lain kan tidak masuk KBBI, berarti itu bukan bahasa Indonesia, melainkan kita menyampur bahasa inggris ke bahasa Indonesia
    jadi kalau itu bahasa inggris… ya ga salah dong kalau menyebutnya dengan lafal inggris…

  9. Maklumlah, dari dulu kan orang Indonesia memang begitu . Biar dibilang keren, mengikuti perkembangan, dan tidak kampungan. Sehingga kesalahan itu terus saja terjadi dan malah terus berkembang. Singkatnya, sulit sekali untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan itu. Dan semuanya kembali kepada orangnya, sejauh mana ia memahami dan menghargai bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional. Ingat, “Nasionalisku, bahasaku. Bahasa Indonesia, cermin pribadiku.”

  10. huhuhu….
    sedikit menggelitik tentang fenomena bahasa yang satu ini..
    sebelumnya saya ingin memberikan informasi tentang penggunaan bahasa..setahun saya, bahasa merupakan sebuah kode atau tanda yang disepakati sebuah kelompok masyarakat tertentu untuk saling berkomunikasi..pemaknaan dari tiap kata yang adapun tergantung kesepakatan bersama.saya setuju dengan pendapat arfian, bahwa pemerintah juga telah menetapkan bahasa indonesia yang baku melalui KBBI. kita juga tidak bisa melepas penyerapan kata kata asing yang dijadikan bahasa indonesia, seperti halnya yang dilakukan negara-negara lain.setahu saya lagi, bahasa jepang sekalipun yang notabene berhurufkan kanji dan hiragana, harus menambah satu jenis huruf lagi yaitu katakana untuk menuliskan kata kata serapan dari bahasa asing.contoh; menuliskan nama kita sendiri ke dalam bahasa jepang.memang benar juga kita harus memjaga kemurnian bahasa nasional kita, yang secara langsun menjadi identitas bangsa kita.tapi bahasa adalah hal yang bersifat dinamis dan selalu berubah-ubah serta mengalami perkembangan dari waktu ke waktu..tidak ada yang bisa disalahkan untuk itu..terimakasih
    04985032 - English Department - Andalas University - Padang

  11. Ngomong aja se suka lo…..wkakakakakak

  12. yah namanya juga bahasa! penggunanya berasal dari berbagai macam tingkat umur,sosial,pendidikan,dan masih banyak tingkat tingkat yang lainnya.dan perlu kita ketahui bahwa tidak semua pengguna bahasa,mempelajari atau menggunakan bahasa indonesia secara ilmiah. jadiiii yaaa wajarlah bila contoh contoh kesalahan di atas terjadi. karna tujuan utama bahasa digunakan untuk berkomunikasi,jadi yang lebih kita utamakan adalah pemahaman lawan bicara,bukan bahasanya.

  13. Bahasa itu memiliki berbagai ragam, jika bukan ragam resmi, memang terserah pada peserta percakapan itu menggunakan bahasa apapun sekalipun campuraduk asalkan maksud hati bisa tersampaikan.

    Jika untuk ragam resmi seperti laporan keuangan, laporan medis, laporan teknis dll, sudah pasti harus mematuhi sesuatu yang baku. Tanpa acuan yang baku akan timbul salah pengertian yang tidak perlu dan membuang waktu (ingat waktu itu sangat berharga dan tidak mungkin kembali lagi).

  14. “Gunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar.” Itulah slogan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Nah, yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah bahasa Indonesia yang baik? dan bagaimanakah bahasa Indonesia yang benar?
    1. Pemakaian Bahasa Indonesia yang baik,
    adalah pemakaian bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dengan mengutamakan ketepatan informasi yang disampaikan, dan penangkapan informasi oleh pendengar/pembaca. Dalam hal ini, bahasa Indonesia tidak harus menggunakan ragam bahasa resmi/baku; contoh ketika ibu-ibu akan berbelanja sayur, dia memanggil tukang sayur dengan “Bang sayur!” Tukang sayur berhenti karena Abang tukang sayur mengerti maksud “Bang sayur”, yaitu ada ibu yang memanggil dirinya untuk membeli sayur. Jadi tidak usah mengunakan panggilan, ” Abang tukang sayur, saya akan membeli sayur. Silakan Abang berhenti sebentar di situ…………..”

    2. Penggunaan bahasa Indonesia yang benar,
    adalah pemakaian bahasa Indonesia berdasarkan kaidah bahasa Indonesia. Pemakaiannya biasa dilakukan dalam kedinasan dan dalam suasana resmi, misalnya dalam seminar, belajar mengajar di sekolah, di kantor-kantor pemerintah/swasta pada jam tugas,pidato kenegaraan dan lain sebagainya baik bahasa lisan/verbal maupun bahasa tulis.

    Kedua pemakaian bahasa itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal itu disebabkan oleh situasi pemakaiannya, misalnya bila kita memanggil tukang sayur dengan menggunakan bahasa yang benar berdasarkan kaidah bahasa Indonesia betapa merepotkan. Atau sebaliknya, untuk suasana resmi seminar, laporan pertanggungjawaban, dan pidato kenegaraaan menggunakan bahasa baik (tidak resmi).

    Itu sedikit pengetahuanku, maaf kalau ada yang salah.Tapi aku pernah nulis buku bahasa Indonesia lho!

  15. Bahasa Indonesia yang sekarang kita pakai berdasarkan bahasa Melayu. Tetapi sekarang dari bahasa Melayu sudah berkembang sedemikian rupa menjadi bahasa Indonesia dengan berbagai kata serapan dari bahasa asing (Inggris, Arab, Belanda dsb.) dan bahasa daerah (Jawa, Sunda, dsb.). Semua kata serapan itu penulisan dan pengucapan/pelafalannya disesuai dengan kaidah bahasa Indonesia/EYD. Bila ada kata asing yang masih belum di-Indonesiakan, penulisannya dicetak miring (untuk komputer) atau digarisbawahi(untuk tulisan tangan dan tulisan mesin ketik).

    Coba perhatikan kata-kata berikut yang sudah di-Indonesiakan: sekolah, gelas, pensil, buku, bola, komputer, lemari, tunarungu, tunanetra, Pancasila, dsb. Pokoknya, banyak sekali kata dalam bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa asing dan daerah.

  16. penggunaan bahasa indonesia yang di ucap kan oleh masyarakat memang cenderung mengalami beberapa kesalahan namun sebenar nya kesalahan tersebut karena disesuaikan dengan mengungkap kan arti yang dimaksud.Jadi,pada dasarnya kesalahan itu merupakan penyesuaian penggunaan bahasa,yang kemudian berkembang sampai sekarang.Jadi untuk berbahasa yang baik khususnya dalam acara resmi harus berpegang pada KBBI saja.Untuk kelanjutannya masyarakat luas harus benar-benar memahami bahasa indonesia.

  17. berbahasa mencerminkan penuturnya. ketaatan asas merupakan refleksi ketaatan diri pada aturan. jika ada kambing makan tanaman, bukan tanaman yang dipindah, melainkan kambingnya yang harus dikekang. kalau manusia, haruskah diperlakukan seperti kambing? aturan jangan ditawar karena peraturan ditetapkan untuk menuntun peradaban. terima kasih.

  18. penggunaa bahasa indonesia yang baik dan benar memang susah setengah mati!
    apalagi penggunaany dalam bahasa tulis!
    bener-bener susah!
    memang bener kalo temen-temenku itu pada sebel sama bahasa.
    karena bahasa penggunaanya memang tidak ada patokanya.
    lha wong antara guru SMA dengan DOSEN saja dah berbeda pendapat! bikin makhluk bingung!

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>